
Operasi Felix memang sudah selesai dilaksanakan, dan kata dokter semuanya berjalan dengan lancar.Akan tetapi entah kenapa sudah 3 hari pasca operasi Felix belum juga sadarkan diri hingga membuat Sheela merasa sangat takut kehilangan. James juga tidak pernah datang lagi ke rumah sakit semenjak pertemuan terakhirnya dengan Sheela di malam itu.
Sheela ingin sekali menghubungi James. Akan tetapi, dia tidak tau alasan apa yang akan dia katakan bila dia menelepon James nantinya, karena komanya, Felix bukan urusan James.
"Dok, kenapa Felix, tidak sadar-sadar sampai sekarang? dia tidak apa-apa kan Dok?" tanya Sheela beruntun.
"Tenang Nona Sheela! aku mau memeriksanya dulu. Anda tunggu di sini! " dokter itu berusaha menenangkan Sheela.
Setelah melalukan pemeriksaan sekitar 10 menit, dokter kembali mendatangi Sheela dengan raut wajah yang sukar dibaca.
"Nona Sheela, kita duduk sebentar dulu ya!"dokter itu, menuntun Sheela untuk duduk di sofa.
"Ada apa sih Dok? Adik saya gak papa kan?" wajah Sheela semakin panik melihat raut wajah dokter yang mengisyaratkan kalau ada hal yang terjadi pada Felix.
"Begini, Nona Sheela, sepertinya tumor otak adik anda mengalami infeksi dan pembengkakan di otak sehingga menyebabkan kesadaran adik anda menurun. Sehingga kalau dia sadarpun bisa menyebabkan ganguan ingatan. Jadi, aku harap Nona Sheela bersabar dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa nanti pada adik anda. Untuk saat ini mungkin dia tidak akan sadarkan diri untuk waktu yang aku juga tidak tahu." papar dokter itu.
Sheela terpaku, tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.Sepersekian detik kemudian, Sheela tersadar dan mulai menangis.
******
"Mah kenapa sih, masalah itu yang selalu dibahas? Kan aku sudah bilang kalau aku tidak akan menikah untuk saat ini!" tegas James, pada Helena Mamahnya yang dari kemarin sibuk memohon agar James segera menikah.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau menikah, Mamah lebih baik mati saja." Hellena meraih pisau dari atas meja makan, yang biasanya dipakai untuk memotong buah. Lalu dia meletakkan pisau itu pada pergelangan tangannya.
"Mah, tolong jangan begini! letakkan kembali pisaunya Mah!" James terlihat panik dan berusaha membujuk Hellena untuk menghentikan niatnya itu.
"Tidak! mamah tidak akan meletakkan pisau ini sebelum kamu setuju untuk menikah!" ancam Alena.
James menghela nafasnya dengan kasar." Baik Mah! aku akan menikah, tapi biarkan aku menentukan sendiri siapa calon istriku dan mamah tidak boleh melarangnya." Tegas James akhirnya.
"Baiklah! sekarang Mamah tidak perduli lagi, mau gadis darimana pun yang ingin kamu nikahi, mamah terima. yang penting kamu menikah." Hellena menerbitkan senyuman yang lebar setelah mendengar kesediaan putranya itu untuk menikah.
"Kalau begitu aku pamit dulu Mah!" ucap James seraya berdiri dan beranjak meninggalkan Hellena.
" Huft, haruskah aku menikah?tapi dengan siapa? aku tidak memiliki cinta untuk siapapun kecuali Alena." gumam James sembari mengemudikan mobilnya.
"Arghhhhh! Kenapa harus menikah sih? kita tidak akan mati kalau tidak menikah kan?" geram James sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Entah kenapa, kaki James sepertinya menuntun langkahnya ke arah rumah sakit. Dia ingin mengetahui keadaan Felix apakah operasinya berjalan lancar atau tidak.
Sebelum kakinya benar-benar menapak di lantai rumah sakit, matanya menangkap sosok Sheela yang berjalan dengan tatapan kosong melewatinya begitu saja, dan bahkan tidak menggubris sapaannya. Sehingga menimbulkan kerutan di kening James.
James memilih untuk mengikuti Sheela, untuk mengetahui apa yang tengah terjadi padanya. James sekaligus was-was takut kalau sesuatu benar-benar terjadi pada Felix, karena itu berarti dia harus memenuhi permintaan adik laki-laki Sheela itu.
Sheela berhenti di taman belakang rumah sakit.Dia mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi besi dengan pandangan mata yang masih kosong. Dia tidak menyadari kalau sekarang James juga sudah duduk di sampingnya.
James akhirnya memberanikan diri menyentuh pundak Sheela, sehingga Sheela terjengkit kaget. " J-James sejak kapan kamu di sini?" tanya Sheela gugup bercampur senang.
"Sudah sejak tadi, sejak aku menyapamu di pintu rumah sakit dan kamu tidak menggubrisnya sama sekali. Kamu kenapa? apa ada yang terjadi pada Felix?" tanya James dengan was-was, berharap mendapat jawaban, kalau Felix baik-baik saja.
Tangis Sheela seketika pecah, begitu mendengar pertanyaan James. " Otak Felix mengalami infeksi dan pembengkakan James. Dan sekarang dia sedang koma dan dokter mengatakan, dia tidak tahu kapan Felix akan sadar.Dan kalau seandainya dia sadarpun, dia mungkin akan mengalami gangguan ingatan."
James terhenyak dengan penjelasan Sheela.Dia menggusak rambutnya dengan kasar. "Apakah ini berarti kalau aku harus memenuhi permintaan Felix?" batin James gusar.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi James.Selama Felix koma, otomatis dia harus tetap di rumah sakit ini. Itu berarti akan membutuhkan banyak biaya, belum lagi aku harus mengembalikan uangmu." ujar Sheela dengan wajah yang frustasi.
James menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dalam sekali hentakan. Dia kini sudah menetapkan keputusannya.
"Sheela, kamu tidak perlu membayar uang untuk operasi Felix___" ucap James.
"Kamu serius James?" wajah Sheela sedikit berbinar, setidaknya bebannya agak berkurang sedikit.
"Tapi, dengan satu syarat. Kamu harus menikah dengan ku!" Seru James.
Sheela terkesiap mendengar syarat yang diajukan oleh James. Sebenarnya ada rasa bahagia yang menerobos masuk kedalam hati Sheela.Akan tetapi, dia harus tetap bertanya apa alasan James, mengajaknya untuk menikah.Dan Sheela benar-benar berharap, James mengajaknya menikah, karena James sudah jatuh cinta padanya.
"T-tapi kenapa harus menikah James?" tanya Sheela gugup.
"Karena Mamahku ingin aku segera menikah.Kalau boleh memilih, aku sama sekali tidak ingin menikah.Ini semua semata-mata demi mamah." sahut James, yang menimbulkan kekecewaan pada Sheela begitu dia mendengar ucapan James.
"T-tapi kenapa harus aku yang kamu pilih? bukannya masih banyak gadis lain yang sebih sesuai untukmu?"
"Karena aku tahu, kalau kamu pasti tidak gila akan harta.Sedangkan wanita-wanita yang lain pasti karena gila harta. Lagian aku harus memenuhi permintaan adikmu sebelum dia dioperasi. Dia memintaku untuk menjagamu,bila terjadi sesuatu padanya." tutur James panjang lebar.
"Felix berkata seperti itu?" air mata Sheela menetes ketika James membenarkan lewat anggukan di kepalanya.
"Bagaimana, kamu bersedia?" tanya James memastikan.
"Baiklah! aku bersedia." ucap Sheela yakin.Karena hati Sheela juga sebenarnya sudah terpaut pada James.
"Terima kasih! Tapi kamu harus ingat, kamu jangan pernah berharap kalau aku akan mencintaimu dan bersikap romantis padamu. Tapi, aku juga tidak akan nenceraikanmu sampai kamu yang meminta duluan.Jika kamu nanti sudah tidak kuat bersamaku, kamu bisa mengatakanya padaku, dan aku akan bersedia melepasmu." ucapan James, seperti ribuan jarum yang menghujam Jantung Sheela, sangat sakit.
"Bagaimana, kamu tidak keberatan kan pada semua yang aku ucapkan tadi? tanya James memastikan
" Baiklah! mana yang terbaik saja menurut Kamu!" pasrah Sheela.
"Ok, kalau begitu besok kita sama-sama mendaftarkan pernikahan ke kantor sipil. Karena lusa aku akan ke Irlandia, karena ada pekerjaan yang mendesak di sana." ucap James seraya beranjak meninggalkan Sheela.
TBC