Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Dor


"Nona ... aku benar-benar ingin bertemu dengan Tuan Daven! ada hal yang benar-benar penting, yang harus dia tahu!" seru Fredrick, pada resepsionis di perusahaan Daven, yang dari tadi menolak untuk memberikan izin pada pria yang sering disapa Fred itu.


"Tapi, maaf Tuan! anda sama sekali belum membuat janji dengan Tuan Daven,jadi kami tidak bisa mengizinkan anda untuk bertemu dengannya." resepsionis itu tetap bersikeras pada pendiriannya.


"Ada apa ini?" terdengar suara seorang laki-laki yang tiba-tiba sudah ada di dekat meja resepsionis.


"Eh, Maaf Tuan Andrew! Tuan ini katanya ingin bertemu dengan Tuan Daven. Tapi, dia sama sekali belum membuat janji, makanya kami tidak memberikan izin padanya."


"Jadi, anda yang bernama Andrew? Kenalkan saya Fredrick, asisten dari tuan James Reynald William." Fredrick mengulurkan tanganya ke arah Andrew dan Andrew pun menyambutnya seraya menyebutkan namanya juga.


"Tuan Fredrick, kamu ikut saya saja keatas!" Andrew mengayunkan langkahnya, meninggalkan meja resepsionis, diikuti oleh Fredrick dari belakang.


"Ada apa kamu mau bertemu dengan Tuan Daven?" tanya Andrew to the point.


" Aku cuma mau kasih tahu sama Tuan Daven, kalau putranya diculik." Andrew, menyurutkan langkahnya seketika, dan sontak menoleh ke belakang.


"Anda jangan bercanda!" Andrew menatap tajam ke arah Fredrick.


"Saya tidak bercanda Tuan Andrew. Ini benaran terjadi, dan sekarang Tuan James sedang mengejar si penculik itu." tegas Fredrick.


" Tapi,itu tidak mungkin, karena kami sudah menugaskan bodyguard-bodyguard yang tangguh buat menjaga mereka." Setelah berbicara demikian, Andrew meraih ponselnya,hendak melakukan panggilan pada Bodyguard suruhannya. Perasaan Andrew seketika tidak enak begitu dia melihat ada panggilan beberapa kali dari guru putrinya dan Dean. Ketika Andrew hendak melakukan panggilan, saat itu juga ada panggilan yang datang dari salah satu bodyguard suruhannya.


"Halo, ada apa?" tanya Andrew berharap apa yang baru saja dilaporkan oleh Fredrick tidak benar.


"....."


"Apa?! jadi apa yang kalian kerjakan? kenapa menjaga begitu saja kalian tidak becus? HAH?! Andrew terlihat sangat marah.


"......."


"Sekarang kalian semua Stanby, tunggu instruksi saya berikutnya, dan pastikan batrai ponsel kalian jangan sampai mati!" Andrew memutuskan panggilan, setelah dijawab siap dari ujung telepon.


"Boleh tidak saya, tahu nomor ponsel James Tuan Fredrick? aku ingin menghubunginya untuk mengetahui posisinya sekarang!"


"Tentu saja boleh Tuan! ini nomornya." Fredrick menyebutkan nomor ponsel James.


Andrew kembali melanjutkan langkahnya,menuju ruangan Daven diikuti oleh Fredrik dari belakang.


"Ada apa Ndrew?" tanya Daven kaget, ketika Andrew membuka pintu dengan sangat keras.


Andrew dengan wajah yang panik memberitahukan bahwa Dean dan Jeslyn diculik.Dan Andrew memberitahukan juga apa yang dia dengar dari Fredrick dan anak buahnya tadi.


"Ini sudah dipastikan ulah Clara. Tapi saya yakin ada orang yang tidak biasa, yang sudah membantunya. Karena tidak mungkin Clara dapat membayar orang-orang itu untuk melakukannya." Andrew berucap dengan sangat yakin.


" Sekarang hubungi James! tanya dimana sekarang posisinya, dan kita susul dia!" Daven bangkit berdiri dengan sorot mata yang penuh amarah dan rahang yang mengeras.


******


James, masih setia mengikuti kemana mobii di depannya membawa, Dean dan dua orang wanita berbeda usia itu. Dia meraih ponselnya dari dalam sakunya dan melihat ada nomor yang tidak dikenal sedang memanggil yang dia yakini, kalau bukan Daven pasti Andrew.


Setelah dia memberitahukan dimana posisinya, dan setelah Andrew memutuskan panggilanya,James memasukkan kembali ponselnya kedalam sakunya.


Mobil hitam di depannya kini berhenti di sebuah bangunan lama yang sepertinya sudah lama tidak dihuni. Mereka membawa paksa Dean, Jeslyn dan Cathleen yang kini sudah terlepas dari pengaruh obat bius.


James mencengkram kemudi mobilnya ketika melihat wanita yang juga ikut turun dari mobil itu, yang tak lain adalah Clara.


"Sepertinya wanita ular itu masih bebas berkeliaran. Brengsek!" umpat James geram.


Setelah semuanya masuk kedalam gedung, James mengirimkan lokasi penyekapan pada Andrew dan Daven.Lalu dia turun dari dalam mobil, dan mengendap-endap untuk mengintai apa yang akan dilakukan oleh orang-orang di dalam sana.


"Paman, kenapa Kami semua dibawa kesini? apa salah kami?" Dean bertanya dengan raut wajah yang sudah ketakutan. Sedangkan Jeslyn sudah menangis ketakutan dipelukan Cathleen.


"Diam! jangan berisik! kalau tidak aku robek mulutmu!" bentak seorang laki-laki berkepala plontos sembari mencengkram kuat pipi Dean.


James menggeram dan mengepalkan tangannya, mendengar bentakan pria itu, yang membuat Dean semakin ketakutan.


James melihat Clara sepertinya sedang melakukan panggilan dengan seseorang yang dia tidak tahu siapa, tapi yang James yakin kalau orang yang sedang berada pada panggilan bersama Clara itu,pasti orang yang bekerja sama dengan Clara.


"Paman, Dean lapar! Jeslyn sama Miss Cathleen juga!" Dean mencoba untuk meminta makanan.


"Hei, Kamu bisa diam gak sih?! dari tadi kamu berisik! tidak ada makanan buat kalian!" salah seorang berdiri dan menghampiri Dean, lalu memberikan tamparan yang lumayan keras ke wajah anak kecil itu. Sehingga meninggalkan bekas cap lima jari di pipi Dean.


"Paman, Dean minta maaf,kalau Dean berisik dan mengganggu. Tapi,kalau makanan tidak ada, tolong berikan minuman pada dia dan Miss Cathleen. Kasihan dia Paman." Dean menunjuk ke arah Jeslyn,yang bibirnya sudah terlihat sangat kering karena kehausan.


"Diam!" salah satu dari para pria penyekap itu, melemparkan kursi kayu yang didudukinya ke lantai, hingga kursi kayu itu hancur. Hingga membuat Jeslyn kaget dan menangis histeris. Cathleen sontak memeluk Jeslyn dengan erat.


"Tuan-tuan semua, apa kalian tidak punya hati? apa kalian juga tidak punya anak? bagaimana kalau anak-anak ada yang diperlakukan seperti ini?" Cathleen memberanikan diri membuka suara, dengan nada yang tinggi. "Kalian seharusnya tidak memperlakukan anak kecil seperti ini, mereka ini hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa!" Sambung Cathleen kembali.


Pria berkepala plontos itu, menghampiri Cathleen dengan tatapan tajam, lalu menarik rambut Cathleen dengan kuat.


"Kamu bisa diam gak! kalau kamu masih buka suara, aku akan tidak segan-segan menghabisimu.Tapi sepertinya, kamu cantik. Sebelum kamu dihabisi,mungkin tidak ada salahnya,kalau kami semua menikmati tubuhmu." pria itu membelai lembut wajah Cathleen, yang terlihat sudah mulai ketakutan.


Dean sontak berdiri dan menarik tangan pria itu, agar tidak menyakiti guru kesayangannya itu, hingga menimbulkan kemarahan pria itu. Dia menahan tangan Dean, dan hendak melayangkan pukulan ke wajah anak kecil itu. Tapi, tangannya berhenti di udara, ketika terdengar bentakan dari arah pintu masuk.


"Hentikan! dasar pengecut! beraninya sama anak kecil. Sekali saja tanganmu menyentuh anak itu, aku patahkan tanganmu!" Bentak James, yang tidak sabaran lagi menunggu kedatangan Daven dan Andrew.


"Siapa kamu berani mengancamku seperti itu? asal kamu tahu, sebelum kamu melakukan itu, kamu akan lenyap terlebih dulu!" pria berkepala plontos yang sepertinya pimpinan dari para penyekap itu, menggerakkan ekor matanya, ke arah para anak buahnya, agar menghajar James.


James yang kalah jumlah tidak sanggup untuk menghadapi para penyekap itu. Tubuhnya kini sudah terlihat babak belur dan terlihat sudah tidak mampu untuk melawan lagi.


Clara terlihat menghampiri, pria berkepala plontos itu,dan membisikkan sesuatu ke telinga pria itu. Setelah Clara selesai berbisik, pria berkepala plontos itu terlihat menyeringai sinis, sembari mengeluarkan pistol dari saku jasnya dan mengarahkannya ke arah Dean. Pria itu menarik pelatuknya dan___


Dor ...


tbc


Jangan lupa like,vote dan komen ya gais. Thank you😁😁