
"Apa ini, akal-akalan James Tuan?" Andrew akhirnya mengungkapkan kecurigaannya.
"Aku juga tidak tahu Ndrew! tapi kemungkinan itu tetap ada." sahut Daven, yang ternyata belum sepenuhnya percaya.
"Kalau begitu kita bergerak saja sekarang Tuan! aku tidak mau sesuatu terjadi pada putriku."
"Aku juga tidak mau terjadi apa-apa pada putraku Ndrew. Kamu arahkan anak buah kita sekarang!" Andrew menganggukan kepalanya, mendengar perintah Daven.
Daven dan yang lainnya, berjalan sembari mengendap-endap mendekati gedung di depannya. Kening Daven berkrenyit, heran melihat gedung yang terlihat sangat sepi itu.Tidak terlihat satupun ada penjaga yang berjaga-jaga.
"Ndrew, kenapa tempat itu sepi? apa kita salah tempat?" Daven menoleh ke arah Andrew yang juga terlihat lebih tenang.
"Hmm, kita jangan langsung senang dulu Tuan! kayanya mereka sudah mencium kedatangan kita.Dan aku semakin yakin kalau ini ulah James. Dia sengaja mengarahkan kita untuk datang kesini. Mom, Dad, kalian juga harus lebih hati-hati, karena mungkin ada jebakan dimana-mana." ujar Andrew yang sudah pintar membaca situasi.
Mereka kembali semakin dekat dengan gedung, dan perjalan mereka benar-benar mulus, sehingga mematahkan dugaan Andrew, kalau pihak lawan sudah memasang jebakan buat mereka.
"Ndrew, kemana anak buah kita semua? kenapa mereka tidak terlihat satupun?" Karena terlalu fokus ke depan, mereka tidak menyadari kalau ternyata anak buah mereka menghilang tanpa jejak semua.
"Oh, sial! sepertinya kita benar-benar dijebak Tuan." umpat Andrew.
"Ya, benar sekali! kalian semua sudah masuk dalam jebakan kami!" Daven dan yang lainnya sontak menoleh ke belakang,untuk melihat sosok yang baru saja berbicara.
"Siapa Kamu?!" Daven menautkan kedua alisnya ke arah pria yang berpostur tinggi, seperti dirinya, yang didampingi dengan pria-pria bertubuh besar, yang menodongkan pistol ke arah Daven dan yang lainnya.
Pria yang tak lain Carlos, menatap Harold, Ellen dan Daven dengan tatapan sukar terbaca. Tanpa disadarinya, kedua netranya sudah terlihat berkilat-kilat seperti ingin menangis. Carlos sontak memalingkan wajahnya, dan seperti terlihat mengusap sesuatu yang jatuh dari sudut matanya.
Detak jantung Ellen, seketika berdetak kencang,melihat sosok Pria di depannya. Ada rasa ingin mendekap sosok itu dengan erat. Ellen sendiri bingung dengan perasaan yang dia rasakan saat ini.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Kalian akan tahu dengan sendirinya nanti." sahut Carlos yang sudah bisa menguasai keadaan.
"Kalian semua, bawa mereka ke dalam! dan ingat pesanku tadi! jangan sampai kalian____" Carlos tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya menatap anak buahnya dengan tatapan mengintimidasi. Semua anak buahnya seketika mengerti maksud tatapan dari Carlos.
Daven dan Andrew kini hanya bisa pasrah digiring masuk ke dalam gedung, karena untuk melawan pun percuma, mereka tetap tidak akan bisa menang, justru akan membahayakan nyawa orang-orang yang mereka sayangi. Hanya yang Daven bingungkan, siapa pria tadi? dan kenapa dia melakukan hal ini pada keluarganya, sedangkan dia tidak mengenal pria itu sama sekali.
Daven dan yang lainnya kini sudah terikat di dalam gedung. Ellen sudah mulai menangis sesunggukan dan raut wajahnya terlihat sangat ketakutan. Tapi, entah kenapa tidak ada satupun yang berani membentak Ellen untuk berhenti menangis. Carlos justru terlihat memejamkan matanya sembari duduk menyender di sebuah kursi dengan tangan yang bersedekap. Entah dia benaran tertidur atau tidak kuat melihat tangisan Ellen, hanya dia yang tahu.
"Hei, pengecut! siapa kamu sebenarnya? dan kenapa kamu melakukan ini semua pada keluargaku? apa salah kami? Hah?! Dimana kamu sekap putraku dan putrinya? Apa kamu suruhan James?" Daven bertanya beruntun,tapi tak satupun dijawab oleh Carlos.Dia masih setia memejamkan matanya.
"Dimana James bosmu? Apa dia juga terlalu pengecut untuk menampakan wajahnya?" kali ini Andrew yang buka suara.
Carlos sontak berdiri dan mengayunkan kakinya untuk mendekati Daven dan Andrew.
"Dengar! Putra dan putri serta gurunya sekarang baik-baik saja. Satu lagi, ini semua tidak ada kaitannya dengan orang yang kalian panggil James itu.Dan asal kalian tahu, dia sudah mengorbankan nyawanya untuk menolong putramu yang hampir tertembak oleh anak buahku."
Daven dan yang lainnya, terkesiap dengan netra yang membesar, mendengar penuturan Carlos.
"Kamu jangan bercanda, bajingan! James tidak mungkin mati." intonasi suara Daven semakin meninggi.Ada rasa penyesalan dalam hatinya, karena sempat menuduh James, dalang dari semua yang terjadi.
"Kalian tenang saja, James masih hidup.Peluru yang bersarang di tubuhnya, sudah bisa dikeluarkan.Tapi, dia belum sadarkan diri sampai sekarang." jelas Carlos dengan santai.
"Siapa kamu sebenarnya? kamu menyekap kami di sini, tanpa melakukan apapun pada kami? kamu juga bahkan menolong James? apa niat kamu sebenarnya?" kali ini nada suara Daven sudah merendah.Ada desiran aneh yang timbul di dalam hatinya saat matanya bersirobok dengan manik mata Carlos.
"Kamu akan tahu sebentar lagi." Carlos beranjak meninggalkan Daven dan kembali mendaratkan tubuhnya,duduk di kursinya tadi.
Dari arah atap terdengar suara helikopter melintas di atas gedung tempat mereka berada, dan mendarat di hamparan kosong dekat gedung itu.
Pria setengah baya seumuran dengan Harold dan Ellen terlihat turun bersama dengan seorang pria muda, seumuran dengan Daven.
Mereka berjalan dengan gagah menuju gedung tempat Daven dan yang lainnya disekap.
"Apa kabar Harold, Ellen? lama kita tidak bertemu." pria setengah baya itu, menyapa dengan seringai sinis disudut bibirnya.
"C-Charles!" seru Harold dan Ellen bersamaan dengan netra yang terbeliak kaget melihat sosok yang sudah sangat lama tidak mereka lihat. Sosok yang dulu pernah menjadi sahabat dekat mereka berdua.
"Ternyata ingatan kalian berdua masih bagus ya!" Charles menatap sinis ke arah Harrold dan Ellen.
"Apa ini semua ulah kamu? tanya Harold.
" Menurutmu bagaimana? asal kamu tahu, dia yang duduk di sana itu adalah putraku. Rasa sakit hatiku,pada kalian berdua tidak akan pernah pudar sebelum kalian berdua merasakan kesedihan seperti yang aku rasakan. Selama ini, aku sudah menunggu saat dimana kalian kehilangan orang yang kalian cintai, seperti aku yang kehilangan Hanna. Dan sekarang di depan mata kalian berdua, aku akan menghilangkan nyawa putra kalian satu-satunya itu!" Charles menunjuk ke arah Daven yang terlihat bingung dengan raut wajah yang penasaran.
"Apa maksudmu dengan kehilangan Hanna? dimana Hanna sekarang?" Kali ini Ellen yang buka suara, ingin tahu keadaan sahabat yang sudah sangat dirindukannya itu.
Tbc.