Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
James kembali ke London


Sheela kembali menangis histeris melihat peti yang berisi tubuh kaku adiknya, saat akan dimasukan kedalam tanah untuk dimakamkan.


Kini dia merasa hidup sebatang kara di dunia ini.Walaupun dia sudah menikah, dia sama sekali tetap sama seperti orang yang tidak memiliki suami. Bahkan dalam keadaan berduka seperti ini, James suaminya sama sekali tidak mendampinginya, bahkan juga tidak menjawab panggilan. Memang, kedua mertuanya turut menghadiri pemakaman tapi tetap saja rasanya berbeda.


Sementara itu, James yang baru saja tiba di kediamannya di London,tidak bisa menemukan Sheela dimana-mana. Dia mencoba untuk menghubungi nomor ponselnya,pun tetap sama. James mencoba menghubungi Hellena, tapi tidak dijawab sama sekali.


"Kemana dia pergi? apa sekarang dia ada di rumah sakit?" James membatin sembari berdesis karena masih merasakan nyeri pada bekas peluru yang mendarat di perutnya.


"Hmm, kenapa aku harus mencari dia? nanti dia bisa salah paham dan bisa berharap lebih kalau aku terlihat mencarinya.Biarkan aja lah dia! Nanti juga dia bakal pulang sendiri." James kembali membatin. Dia mendaratkan tubuhnya di atas sofa, lalu menyender dengan kaki yang diangkat ke atas meja.


"Fred, Sheela sepertinya tidak ada di rumah, kamu bisa tolongin ambil minum untukku?!"


"Baiklah,Tuan!" Fredrick beranjak menuju dapur untuk melaksanakan perintah James.


Disaat Fredrick datang membawakan minuman untuk James, Sheela terlihat masuk dengan wajah yang masih terlihat muram. Dia sedikit terjengkit kaget dan terpengarah melihat James yang ternyata sudah pulang.


"Kamu, sudah pulang? kamu dari rumah sakit ya?" James mencoba berbasa-basi pada Sheela. Akan tetapi Sheela membisu, tidak menjawab sama sekali. Sheela tetap melangkah, melewati James untuk menuju kamarnya.


"Hei, kenapa kamu tidak menjawab?"


Sheela hanya menoleh sesaat, habis itu kembali melangkah naik ke atas.


"Kamu stop di sana! apa kamu sudah tuli sekarang? kenapa kamu tidak mau menjawabku sama sekali, Hah?!" James mulai tersulut emosi. Sedangkan Fred sudah merasa tidak enak hati, melihat drama yang akan terjadi pada Tuan dan istrinya.


James melihat bahu Sheela sudah turun naik pertanda kalau kini dia sedang menagis. James memperhatikan penampilan Sheela yang memakai kemeja hitam seperti orang yang sedang berkabung.Tiba-tiba perasaan James, merasa tidak enak.


"Kamu kok berpakain seperti itu? kamu sebenarnya darimana?" suara James sudah kembali melunak,tapi terselip perasaan was-was pada pertanyaannya.


"Kalau aku kasih tahu kamu pun, kamu pasti tidak akan perduli! karena aku sama sekali tidak pernah kamu anggap.Jadi, tidak ada gunanya juga aku kasih tahu kamu, aku dari mana!" ucap Sheela tanpa mau memandang James sama sekali.


"Apa maksud kamu? selama kamu masih jadi istriku, kamu itu masih jadi tanggung jawabku.Jadi, aku berhak tahu kamu darimana!" emosi James kembali tersulut.


Sheela terlihat mengepalkan tangannya dengan nafas yang memburu.Dia lalu berbalik dan menatap James, dengan mata yang sudah berlinang dengan air mata.


"Kalau begitu mari kita akhiri pernikahan ini James! supaya kamu tidak perlu bertanggung jawab lagi pada diriku." ucap Sheela dengan nafas yang masih memburu.


James tersentak dengan apa yang baru saja terucap dari mulut Sheela.


"Apa yang kamu katakan Sheela? Kamu jangan pernah gegabah mengucapkan perpisahan saat hati sedang diselimuti oleh emosi.


James terkesiap dengan kedua netra yang sudah membesar, mendengar kabar yang baru saja diucapkan oleh Sheela. "J-jadi Felix sudah meninggal?" ujar James terbata-bata.


"Ya Tuhan, apakah ini sebagai pertanda kalau aku harus benar-benar menerima Sheela sebagai istriku? untuk memenuhi, pesan Felix dulu?" batin James sembari menahan sakit, menghampiri Sheela yang terisak-isak.


"Maaf! Maafkan aku Sheela! Kemarin aku benar-benar sangat sibuk sampai tidak sempat melihat ponsel sama sekali.Sekarang aku berjanji, akan berusaha untuk menerimamu dan menjadi suami yang sebenarnya, walaupun akan sulit bagiku untuk bisa mencintaimu, tapi setidaknya aku akan berusaha untuk itu." James berusaha menahan sakit di perutnya ketika dia berusaha untuk duduk di samping Sheela.


Sheela merasa sedikit menghangat dalam hatinya begitu mendengar setiap ucapan-ucapan yang keluar dari mulut James.Walaupun James belum bisa mencintainya, setidaknya dia akan mencobanya.Sheela sontak memeluk James dengan erat karena merasa terharu mendengar ucapan suaminya itu.


"Auw!" pekik James yang tidak bisa menahan lagi rasa sakitnya.


"K-kamu kenapa James? K-kenapa perutmu berdarah?" Sheela seketika panik melihat pakaian James di bagian perut sudah berubah menjadi merah, karena kebetulan James memakai kemeja berwarna abu-abu, jadi warna merahnya darah masih bisa terlihat dengan jelas.


"Kemarin, Tuan James tertembak di perut Nona! Jadi, Tuan gak sadarkan diri seharian." celetuk Fredrick , yang membuat James seketika menghunuskan tatapannya ke arah Fredrick.Padahal tadi dia sudah mewanti-wanti agar dia jangan memberitahukan Sheela insiden yang terjadi padanya.


"Hah, tertembak? J-jadi gara-gara itu kamu gak menjawab panggilanku dan panggilan mamah James? Kenapa kamu harus menyembunyikannya?" Sheela kembali menangis sesungghkan sembari memukul-mukul dada James.


"Ini semua gara-gara kamu! lihat dia jadi menangis lagi!" bentak James sembari menatap marah pada Fredrick.


"Maaf Tuan! aku tidak sengaja!" Fredrick menundukkan kepalanya, tidak berani menatap sorot manik mata berwarna perak milik James.


"Kenapa kamu jadi marahin Tuan Fred? jadi kamu menyembunyikannya sampai kapan?" Sheela mengerucutkan bibirnya sembari membuang mukanya ke arah lain.


James menggaruk-garuk kepalanya, yang tidak gatal.Dia sekarang menjadi bingung bagaimana caranya membujuk Sheela. Tiba-tiba James menjerit kesakitan. "Auw, kok perutku makin sakit? Fred tolongin aku!" rintih James sambil tetap memegangi perutnya.


"James, sakit ya? Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Sheela kembali panik, hingga membuat seulas senyuman yang sangat tipis terbit di sudut bibir James.


"Oh tidak usah Sheel! aku cukup berbaring saja, di kamar dan makan obat, nanti pasti akan baik sendiri." tukas James menenangkan Sheela.


"Oh, kalau gitu, aku bantu bawa kamu ke kamar! dan aku akan membantu membersihkan lukamu nanti." Sheela mencengkram lengan James dan membantunya berdiri.


"Tuan Fred, anda bisa istirahat di kamar tamu sekarang! biar aku saja yang membawa James ke atas. Tuan mungkin sudah sangat lelah sekarang." Ucap Sheela sebelum dia membawa suaminya ke atas.


"Terimakasi Nona Sheela!" Fredrick melangkah menuju kamar tamu, untuk mengistirahatkan tubuhnya,karena memang tubuhnya benar-benar merasa lelah mulai dari kemarin.


Tbc


Jangan lupa like, vote dan komen ya gais. Thank you