Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Aku juga penasaran sih!


Detik demi detik, menit demi menit serta jam demi jam pum berlalu.Tidak terasa langit sudah mulai berganti warna menjadi jingga, sebagai pertanda hari sudah sore dan sebentar lagi, malam akan datang menyapa.


Setelah peristiwa mengharukan sekaligus membahagiakan selesai, mereka semua pun mengakhiri pertemuan untuk hari ini.Hansel, Charles dan Hanna ikut ke kediaman Andrew dan Jenni karena mereka bertiga ingin sekali bertemu dengan Jeslyn cucu mereka yang hari ini tidak ikut ke acara. Sedangkan Ellen dan Harold harus pulang berdua saja ke rumah pribadi mereka, karena Carlos ingin menginap di rumah Daven karena permintaan Dean.


"Sayang nanti kita singgah sebentar di toko obat dulu ya!" Daven tiba-tiba menghentikan mobilnya ketika mendengar ucapan Alena.


"Kamu sakit ya sayang? kita langsung ke rumah sakit saja! konsumsi obat tanpa saran dari dokter itu gak baik," air muka Daven sontak berubah khawatir.


"Aku gak sakit sayang! aku cuma mau beli vitamin buat penambah nafsu makan buat Dean.Belakangan ini nafsu makannya sepertinya berkurang." Alena tersenyum menenangkan Daven suaminya.


"Tapi sepertinya nafsu makan Dean masih seperti biasa sayang. Aku lihat dia fine-fine saja!" ekor mata Daven menyipit sedikit curiga.


"Kamu gimana sih? apa salahnya kalau mau beli vitamin saja? gak salah kan? Vitamin itu kan bukan cuma untuk nafsu makan,tapi juga untuk otak dan untuk daya tahan tubuh." Alena memakai jurus terakhir, yang biasa dilakukan oleh kebanyakan wanita, yaitu marah-marah, kalau sudah mulai sulit untuk menjawab pertanyaaan suami.


"Iya, iya nanti kita singgah." Daven akhirnya pasrah,dari pada Alena kembali bernyannyi.


"Nah gitu dong dari tadi!" senyum Alena mengembang, merasa menang. Sedangkan Daven hanya bisa menghena nafasnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Itu, itu ada toko obat! cepat berhenti nanti terlewat!" seru Alena sedikit heboh sembari menepuk-nepuk lengan Daven.


Daven kembali, menghembuskan nafasnya dan mau tidak mau menepikan mobilnya lalu berhenti tepat di depan toko obat yang dimaksud oleh Alena.


"Kamu mau apa?! seru Alena ketika melihat Daven, membuka sabuk pengamannya.


"Lho aku mau turun. Apa nama vitamin yang mau kamu beli, biar aku saja yang belikan dan kamu tunggu di sini!"


"Gak usah! biar aku saja yang beli! nanti kamu gak bakal tahu." Alena buru-buru keluar dari mobil dana berjalan masuk ke dalam toko obat.


10 menit kemudian, Alena tanpak keluar dari dalam membawa bungkusan plastik kecil di tangannya. Alena sengaja membeli vitamin benaran di samping test kehamilan yang langsung dia masukkan kedalam tasnya.


"Udah?" Daven kembali memasang sabuk pengamannya dan menunggu Alena untuk melakukan hal yang sama.


"Udah! yuk jalan!" ujar Alena sembari membenarkan duduknya,menyender di sandaran mobil.


Baru 5 menit mobil melaju, Alena kini sudah terlelap,padahal tadi dia sudah tidur dari pukul 9 sampai pukul 2 siang. Daven melirik ke arah jam di pergelangan tangannya dan melihat kalau sekarang baru pukul 6 sore.


"Astaga! Alena kenapa sih? kok jam segini udah tidur saja? tadi dia kan sudah tidur lama?" Daven berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sayang, bangun sayang! kita sudah sampai di rumah!"Daven menepuk-nepuk pipi Alena dengab lembut. Akan tetapi, Alena tidak bergeming sama sekali seakan tak mendengar Daven yang membangunkannya.


"Ya ampun, ini berarti, aku harus menggendong dia lagi ke dalam." Daven menggerutu tidak jelas.


Daven mengayunkan langkahnya dengan Alena yang seakan tak terganggu sama sekali saat Daven menggendongnya.


"Lho, kenapa dengan Alena? dia sakit ya? Carlos mengerinyitkan keningnya saat melihat Daven berjalan masuk dengan Alena yang ada di gendongannya.


"Alena tidak apa-apa! dia hanya tidur saja!"Daven terlihat tidak bersemangat dan lelah.


"Kakak sepertinya lelah. Apa kakak mau aku menggantikanmu, untuk menggendong Alena ke atas?" Carlos berniat baik menawarkan bantuan.


"Apa kamu mau tanganmu aku patahkan? Daven menghunuskan sorot mata yang sangat dingin.Hingga membuat Carlos seketika bergidik ngeri.


"Astaga! aku kan bermaksud baik, kalau gak mau, ya udah, tinggal bilang gak boleh." Carlos berdecak sembari berlalu meninggalkan Daven,menuju kamarnya Dean.


*********


"Aduh, sayang, aku ketiduran lagi ya? maaf ya udah buat kamu susah-susah buat gendong aku!" tukas Alena dengan raut muka tak bersalah.


"Astaga, Alena dari tadi aku sudah berusaha membangunkanmu,tapi kamu gak bangun-bangun. Aku udah capek-capek gendong dari bawah sampai ke atas, bahkan aku belum lagi meletakkan kamu di atas kasur, kamu sudah bangunnn?" Daven terlihat kesal dan frustasi.


"Jadi, kamu gak ikhlas menggendong aku? seharusnya kalau kamu keberatan menggendong aku, kamu biarkan saja aku tadi di dalam mobil!" bukannya merasa bersalah Alena justru balik marah-marah dan kesal pada Daven.


"Bu-bukan begitu sayang! aku ikhlas kok! nih lihat, aku tersenyum!" Daven memamerkan barisan giginya yang rapi di depan Alena yang kini sedang dalam pose bibir mengerucut.


Mendengar ucapan Daven dan melihat senyum Daven yang antara iklas dan tidak iklas, senyum Alena kembali terbit, hingga membuat Daven kembali bernafas lega.


"Ya udah! kalau begitu aku mau mandi dulu!" Alena berjalan masuk kedalam kamar mandi seperti tidak ada beban sama sekali.


"Astaga kenapa Alena sangat menyebalkan hari ini? ada apa dengannya?" Daven menghempaskan tubuh lelahnya ke atas ranjang, dan menerawang menatap langit-langit kamarnya.


Tiba-tiba Daven bangkit duduk di atas ranjangnya, dengan raut wajah penuh penasaran akan sesuatu.


"Hmmm, siapa Sunny ya? " ternyata yang membuat perubahan wajah Daven, bukan karena memikirkan tingkah Alena, yang berubah menyebalkan. Akan tetapi, dia penasaran siapa Sunny, wanita yang tadi siang berada di panggilan Carlos.


"Aku secepatnya harus cari tahu, kalau tidak aku bisa mati penasaran!" batin Daven gusar.


"Kamu kenapa sayang?sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu." Alena yang ternyata sudah selesai dari kamar mandi, bertanya sembari memicingkan kedua matanya menatap Daven dengan tatapan penasaran.


"Astaga, Alena! kamu mandi atau bagaimana sih?! kok cepat sekali keluar dari kamar mandi?" hidung Daven mengendus-endus tubuh istrinya dan tidak mencium bau sabun sama sekali.


"Hehehehe! aku tidak mandi. Aku cuma cuci muka, cuci ketiak, bersihkan ini dan ini." Alena menunjuk ke arah dada dan bagian vitalnya yang berada di antara kedua pahanya.


kedua netra Daven, membesar dengan mulut sedikit terbuka, benar-benar tidak mengerti dengan perubahan Alena yang terlalu signifikan. "Astaga Alena, tidak biasanya kamu seperti ini. Kamu biasanya sangat tidak bisa kalau tidak mandi, tapi kenapa___"


"Udah jangan banyak tanya! sekarang kamu jawab aku, apa yang sedang kamu pikirkan tadi?" sela Alena, sebelum Daven benar-benar menyelesaikan ucapannya.


"Hmm, aku cuma penasaran siapa Sunny?"


"Hah? Sunny? siapa Sunny,Hah?! Alena memukul-mukul tubuh Daven, lalu melemparkan bantal ke wajah Daven.


"Aku tidak tahu sayang! dia itu sepertinya kekasih Carlos." ucapan Daven seketika menghentikan aksi pukul memukul dan lempar melempar Alena.


"Kekasih Carlos? kamu serius Carlos punya kekasih?" Sekarang Alena pun ikut penasaran.


Daven pun menceritakan semua percakapan yang dia dengar tadi siang, antara Carlos dan wanita yang dipanggil Carlos Sunny itu.


"Apa kamu boleh cari tahu sayang siapa dia? aku sungguh benar-benar penasaran." tanya Daven, dengan wajah memelas, seakan-akan dia akan mati kalau tidak bisa mengetahui siapa Sunny.


"Sejak kapan kamu ingin tahu urusan orang lain? bukannha kamu biasanya selalu apatis dengan urusan orang?" ekor mata Alena mengecil, curiga.


"Hei, dia adikku bukan orang lain!" sergah Daven.


"Iya, iya nanti aku coba cari tahu.Aku juga soalnya penasaran juga sih!" Alena cengengesan.


Tbc


Jangan lupa buat ninggalin jejak ya gais. Please like,vote dan komen. Thank you.