Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Rencana James


Pagi kini kembali datang menyapa. Alena terbangun karena perutnya merasa diaduk-aduk dari dalam. Dia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu, yang sekarang sepertinya sudah memenuhi tenggorokannya.


Suara ketukan pintu dari luar, tidak diperdulikan oleh Alena sama sekali.Wajahnya sudah terlihat sangat pucat seperti tidak teraliri darah sama sekali.


James yang merasa tidak mendapat respon dari Alena, memberanikan diri untuk membuka pintu, yang ternyata tidak terkunci dari dalam.Dia sedikit mengintip terlebih dahulu sebelum dia benar-benar membuka pintu itu lebar-lebar. "Alena ... apa aku boleh masuk?" suara James memanggil dengan lembut.


Suara Alena yang muntah-muntah dari arah kamar mandi, sontak membuat James panik. Dengan setengah berlari dia menerobos masuk ke dalam kamar mandi, dan melihat Alena yang terduduk lemas di lantai kamar mandi.


James dengan cekatan langsung menggendong Alena dan meletakannya di atas kasur. " Kamu kenapa Alena? Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya james,seraya menyentuh dahi Alena. "Badan kamu tidak panas sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? desak James menuntut penjelasan.


"Aku tidak apa-apa Ka James! Aku cuma masuk angin saja!" Alena masih berusaha menutupi kehamilannya.


"Kamu bohong Alena! Kamu lagi hamil kan?! " tanya James to the point.


"Kakak kok bisa tahu,kalau aku lagi hamil? " Alena balik bertanya,penasaran darimana James tahu kalau dia tengah hamil.


"Jadi, benar kalau kamu lagi hamil?. Padahal tadi aku cuma asal menebak saja. " James mundur beberapa langkah menjauh dari Alena.Hatinya begitu sakit seperti teriris oleh sembilu, begitu mengetahui kenyataan yang baru saja didengarnya.


"Apakah itu anak bajingan itu?! .James meninggikan nada suaranya saat bertanya ke Alena.


"Siapa maksud kamu bajingan? Ka Daven bukan bajingan" Alena sangat tidak terima, ketika James menyebut Daven bajingan.


"Kamu masih membelanya Alena, dengan semua yang telah dia perbuat?Kalau dia bukan bajingan, jadi sebutan apa yang pantas buat dia? hah?!" Apa orang seperti dia, harus di panggil malaikat?!" James sangat geram ketika Alena masih saja membela laki-laki yang sudah mencampakkannya.


Alena sama sekali tidak menjawab James. Dia menundukkan wajahnya tidak berani memandang wajah James, yang sudah memerah menahan amarah.


"Alena sekarang aku mau tanya, apa kamu akan tetap mempertahankan bayi itu? " James masih saja menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Alena.


"Iya, Ka! " Alena menjawab dengan tegas dan yakin.


"Kenapa? Apa karna kamu mencintainya, hingga anaknya pun harus kamu bawa-bawa? "


"Anak ini tidak berdosa,Ka! bagaimanapun caranya aku akan tetap mempertahankannya ".


James memijat keningnya, nafasnya terlihat memburu dan wajahnya terlihat sangat gusar.Dia merasa kesal saat membayangkan tubuh Alena dijamah oleh laki-laki lain dan bahkan sampai meninggalkan janin di perut Alena. " Kalau janin itu nanti lahir, Alena pasti akan lebih susah untuk melupakan si brengsek itu. " James membatin seraya mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras.


James melangkah keluar dari kamar Alena. Dia membanting pintu dengan sangat keras hingga membuat Alena terlonjak kaget. Diluar kamar James menyenderkan tubuhnya ke pintu kamar Alena.Dia menarik nafas dalam-dalam,lalu menghembuskannya dengan cepat. "Aku harus cepat-cepat membawa Alena jauh dari negara ini. Kalau dia masih di negara ini bisa saja dia bertemu dengan Daven lagi " gumam James,seraya manggut-manggut.


James masuk ke dalam kamarnya sendiri dan meraih ponselnya dari atas nakas. Lalu dia terlihay sedang menghubungi seseorang.


" Halo! Gimana apa kamu udah awasi pergerakan Daven?"


"Sudah, Tuan! Kemarin mereka pergi ke panti, untuk menyalurkan sumbangan " sahut orang suruhan James dari sebrang telpon.


"Cih, itu pasti hanya Alibinya saja! Dia kesana pasti mencari Alena. Aku tidak akan membiarkanmu menemukan Alena lagi Daven." James berbisik pada dirinya sendiri dengan seringaian sinis di sudur bibirnya.


"Ok, baik! Sekarang kamu siapkan pesawat pribadi kita!. Aku akan menggunakannya untuk berangkat ke London sekarang juga! "James,memutuskan panggilannya setelah mendapatkan jawaban siap dari bawahannya.


James menggunakan pesawat pribadi bukan tanpa alasan.Kalau dia menggunakan pesawat komersil, Daven akan mudah mengetahui keberadaan Alena,dengan mengecek daftar manifest pesawat penerbangan ke luar negri.


********


"Jenni tolong kamu masuk ke ruanganku! " titah Andrew seraya meletakkan kembali telponnya di atas meja.


"Masuk! " Andrew sedikit meninggikan suaranya. Dia yakin kalau yang datang itu pasti Jenni.


"Ada apa Tuan memanggil saya?" Jenni kini sudah berdiri tepat di depan meja kerja Andrew.


"Kamu duduk dulu di situ! ada yang mau aku tanyakan ke kamu! Andrew kini sudah menatap Jenni.


Jantung Jenni sekarang sudah berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya dan lututnya sedikit bergetar. " Apakah dia mau menanyakan , apa aku bersedia menikah dengannya? " bati Jenni seraya menggigit bibirnya.


"Jenni apa kamu....."


"Ya, aku mau, Tuan! " Jenni langsung menjawab sebelum Andrew menyelesaikan pertanyaannya.


"Kamu mau apa?!" Andrew memiringkan sedikit kepalanya seraya menyipitkan matanya ke arah Jenni.


"Eh, ma-maaf, Tuan! tadi Tuan mau menanyakan apa?" Jenni terlihat gelagapan dengan wajah yang memerah seperti terbakar api.


"Aku mau tanya, apa kamu kemarin ada berkomunikasi dengan Alena?" Andrew mengulangi pertanyaan yang sempat tertunda tadi.


Jenni mengerucutkan bibirnya, mendengar pertanyaan Andrew yang di luar ekspektasinya.


"Tidak sama sekali, Tuan!. Aku memang mencoba menghubunginya beberapa kali,tapi ponselnya tidak aktif sama sekali, Tuan!" Jenni tetap berusaha untuk menjawab, walaupun hatinya merasa kesal.


"Apa kamu tidak sedang berbohong, Nona Jenni? "Andrew menatap Jenni dengan tajam, hingga membuat Jenni sedikit blingsatan.


"Aku tidak berbohong, Tuan! dari kemarin sampai tadi pagi aku berusaha menghubungi Alena, tapi tetap tidak ada jawaban ".


Andrew mencoba menatap manik mata milik Jenni, untuk melihat apakah ada kebohongan di dalam sana.Sayangnya, dia tidak menemukan kebohongan sama sekali.


"Apakah ada sesuatu, yang terjadi pada Alena, Tuan? " Jenni memberanikan diri untuk bertanya.


"Itu bukan urusanmu! Kamu boleh keluar sekarang! " Andrew mengibaskan tangannya, lalu kembali menatap layar monitor di depannya.


"Apa cuma itu saja yang ingin anda tanyakan, Tuan? apa gak ada yang lain? "Jenni bertanya seraya menggigit bibirnya.Dia masih berharap, laki-laki di depannya itu, menanyakan, apa yang dia harapkan dari dulu.


"Andrew sontak menoleh ke arah Jenni dengan kening yang mengrenyit "Maksud kamu apa? "


"Gak ada, Tuan! lupakan! saya permisi dulu!." Jenni membalikkan tubuhnya dengan bibir yang mengerucut. Dia mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar.


" Nona Jenni, tunggu dulu!" Andrew kembali memanggil Jenni ,sebelum tubuh Jenni benar-benar hilang di balik pintu.


Nafas Jenni seketika seperti berhenti mendengar panggilan Andrew. Dia berulang kali menghembuskan nafas dari mulutnya, seraya memegang dadanya sebelum dia berbalik dengan menyunggingkan senyuman termanis yang dia punya.


"Kalau Alena ada menghubungi kamu, tolong kamu segera kabari ke saya! " ucap Andrew yang membuat senyum di bibir Jenni surut seketika.


"Baik, Tuan! " Jenni memutar tubuhnya seraya menggerutu " Tadi bilangnya bukan urusanku, sekarang minta aku selalu mengabari dia kalau Alena menghubungi ku.huh!" gumam Jenni kesal, tapi gumaman Jenni masih bisa tertangkap oleh telinga Andrew.


"Aku masih bisa mendengarnya, Nona Jenni! "


"Maaf, Tuan" Jenni segera menutup pintu ruangan Andrew dengan buru-buru. "Ternyata bukan cuma matanya aja yang tajam, tapi telinganya juga.Apakah benda di bawah sana juga tajam? " batin Jenni sambil bergidik.


Tbc


Jangan lupa ritualnya gais. Like, rate, vote dan komen.Thank you