Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Jaga dia untukku


"Udah kita berhenti di sini aja!" ujar Sheela setelah mereka tiba di sebuah rumah kecil dan sederhana.


"Ini rumah kamu?" tanya James sembari melirik ke arah rumah kecil Sheela.


"Iya, James! Kecil ya? bukan seperti rumah kamu pastinya." sahut Sheela tersenyum tipis.


"Ya, udah aku turun dulu ya! sampai jumpa!" Sheela pamit tanpa mengajak James untuk mampir, karena dia yakin, kalau James pasti akan menolak.


Sheela melangkah meninggalkan James dan masuk ke dalam rumahnya.James sengaja belum pergi sampai Sheela benar-benar sudah masuk kedalam.


Baru saja dia hendak pergi, tiba-tiba dia melihat Sheela berlari keluar dengan wajah yang sangat panik."James, tolong adik saya James! please tolong!" Sheela mengetuk-ngetuk jendela mobil James dengan air mata yang sudah merembes membasahi pipinya.


James sontak turun dari mobilnya dan menghambur mendekati Sheela. "Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya James.


"Adiku tidak sadarkan diri di lantai, tolong bantu aku membawanya ke rumah sakit! " Sheela memohon sambil tetap terisak-isak.


James berlari ke dalam rumah Sheela dan langsung membawa adik laki-laki Sheela ke dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Dengan kecepatan yang terbilang cepat, James mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sepanjang jalan Sheela tidak berhenti menangis, dan James pun tidak bertanya apa-apa,walaupun rasa ingin tahunya sangat kuat. Dia tetap fokus pada jalanan agar mereka cepat sampai ke rumah sakit.


Adik laki-laki Sheela langsung dibawa ke ruangan IGD untuk segera mendapatkan pertolongan.


"Sakit apa adikmu?" tanya James akhirnya sembari menunggu adik Sheela di luar, yang lagi diperiksa oleh dokter.


"Dia___"


"Nona Sheela! boleh kita bicara sebentar?" Seorang dokter yang sudah mengenal Sheela tiba-tiba menyela pembicaraan Sheela dan James.


" Iya, Dok! " Sheela menghampiri dokter itu.


"Gimana dengan adik ku Dok?" tanya Sheela begitu jaraknya sudah dekat dengan sang dokter.


"Hmm, seperti yang aku katakan dulu, Nona Sheela, kalau adik anda harus segera di operasi. Karena tumor di otaknya semakin membesar dan mulai menjalar kemana-mana. Kalau tidak, adik anda tidak akan tertolong lagi.Obat yang dikonsumsinya selama inipun tidak akan mampu menolong lagi." terang dokter itu dengan pelan, tapi masih bisa di dengar oleh James.


"Tapi, dok, uang yang aku kumpulkan masih jauh dari kata cukup.Bagaimana kalau dia dioperasi dulu, dan nanti aku janji akan bekerja siang dan malam agar bisa segera melunasi biayanya."


"Bagaimana ya Nona? Selama ini obat-obatan adik anda juga sudah aku bantu, jujur aku tidak bisa membantu lebih jauh lagi." dokter itu menatap Sheela dengan tatapan penuh kasihan.


"Lakukan saja operasinya! biayanya biar aku yang tanggung." Sheela sontak menoleh ke arah James, yang kini sudah berdiri di dekatnya.


"Tidak usah James! aku tidak tahu, bagaimana caranya nanti aku membayarnya." ucap Sheela.


"Untuk saat ini kamu tidak punya pilihan lain lagi Sheela. Urusan membayarnya nanti saja dipikirkan, yang penting sekarang itu, kesembuhan adikmu." Tegas James.


Sheela tercenung, tidak tahu mau mengatakan apa lagi, karena yang diucapkan James itu memang benar adanya.


"Bagaimana Nona Sheela? apakah operasi adik anda bisa kita lakukan sekarang?" tanya dokter itu tiba-tiba hingga Sheela sedikit tersentakndan seketika tersadar.


"Baiklah, Dok, jika memang itu yang terbaik__, tapi apa dengan operasi adik saya bisa sembuh seperti sedia kala, Dok?" terlihat raut wajah khawatir masih melekat pada wajah Sheela.


"Kalau operasinya berhasil, adik anda akan sembuh Nona. Anda berdoa saja, mudah-mudahan operasinya berjalan dengan lancar." dokter itu tersenyum ke arah Sheela seraya memberikan tepukan pelan di bahu Sheela untuk memberikan ketenangan.


"Kalau begitu,saya masuk dulu Nona, Tuan." Dokter itu kembali masuk setelah Sheela dan James menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih James! aku tidak tahu lagi, seandainya kamu tidak menolongku. Mungkin aku akan kehilangan adikku untuk selama-lamanya." ucap Sheela dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.


"Sama-sama! kamu tidak perlu membahasnya lagi!" sahut James,yang raut wajahnya tetap seperti biasa, tanpa senyuman.


*******


"Dok, apa aku kembali menyusahkan Kakaku? dia pasti menangis lagi sekarang kan Dok?" tanya Felix dengan raut wajah sedih.


"Kakak kamu memang menangis, tapi tangisannya, melambangkan kekuatannya. Kamu tenang saja! kakakmu itu orang yang hebat."


"Iya, Dok! dia memang hebat. Tapi aku tahu Dok, kalau kakakku itu sudah banyak mengeluarkan airmata dan sudah sangat lelah bekerja, demi melihat kesembuhanku. Aku mohon jangan berikan aku lagi obat Dok, biarkan aku pergi dari dunia ini, agar aku tidak lagi menyusahkan Kakaku." Felix memohon dengan berurai air mata.


"Apa kamu yakin, kalau kamu pergi, Kakakmu akan bisa bahagia? justru dia akan semakin terpuruk. Sekarang justru kamu harus yakin, kalau kamu akan bisa sembuh.Jangan sia-sia kan kepercayaan Kakakmu, yang percaya kalau kamu pasti bisa sembuh." dokter itu berusaha memberikan motivasi, agar Felix kembali memiliki semangat untuk sembuh.


"Oh, ya Felix, sebentar lagi kamu akan dioperasi! Kamu siapkan?"


"Operasi, Dok? tapi bagaimana dengan biayanya? aku tahu, kalau Kakakku tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu." Felix menyipitkan kedua matanya meminta penjelasan dari dokter itu.


"Ada seorang pemuda baik, yang bersedia menanggung biaya operasimu."


"Pemuda baik? apa dia juga ada di depan sekarang Dok?" tanya Felix.


"Iya, dia sekarang ada di depan bersama dengan kakakmu. Kenapa kamu menanyakan hal itu Felix?" tanya Dokter.


"Sebelum aku operasi, boleh tidak dokter memanggil Tuan itu, masuk ke sini? tapi hanya tuan itu, Kak Sheela tidak perlu ikut." Felix menatap dokter itu dengan raut muka yang penuh harap.


"Ya, udah, kamu tunggu di sini!" Dokter itu melangkah, keluar untuk melakukan hal yang dipinta oleh Felix.


Tidak berselang lama, dokter itu kembali masuk, bersama dengan James.


"Hai, Tuan, kenalkan saya Felix! terima kasih sudah mau membantu melunasi biaya operasiku.Tapi kalau boleh tahu, apa hubungan Tuan dengan Kakakku? Kakak tidak menjual dirinya kan pada Tuan, demi, mendapatkan biaya operasiku?" tanya Felix menyelidik.


James tersenyum mendengar ucapan Felix yang terlihat sangat menyayangi kakaknya itu.


"Apa wajahku terlihat seperti orang yang suka melakukan hal seperti itu?" James balik bertanya.


"Hmm, tidak sih! tapi, sekarang kita tidak bisa melihat sifat seseorang berdasarkan wajah Tuan.!Bisa saja wajah seseorang itu seperti orang baik, tapi ternyata sifatnya sangat bertolak belakang dengan wajahnya, yang menghalalkan segala cara demi bisa mendapatkan apa yang dia mau, dan demikian juga sebaliknya. Ada yang wajahnya terlihat seperti orang jahat, tapi ternyata dia berhati baik." Tutur Felix, yang membuat hati James tersentil, karena dia hampir saja seperti yang dikatakan oleh Felix.


James menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dalam sekali hentakan.


Lalu dia menerbitkan kembali senyuman di bibirnya "Kamu tenang saja, Kakak kamu tidak melakukan hal itu, dan aku tulus membantumu.Sekarang kamu jangan berpikiran yang macam-macam, dan kamu fokus saja pada kesembuhanmu!" ujar James.


Felix melihat ketulusan di manik mata James saat mengucapkan ucapannya. " Tuan, kalau boleh tahu, siapa nama anda?"


"Aku James! Kamu bisa memanggilku Ka James!" sahut James.


"Ka James, bisa tidak aku meminta sesuatu pada anda?"


"Boleh! Kamu mau minta apa?" tanya James sembari menautkan kedua alisnya.


"Aku tahu Tuan, kalau operasiku ini kemungkina berhasil hanya sedikit. Kalau nanti operasiku tidak berjalan lancar, aku mau menitip Kakak ku pada Ka James.Tolong Jaga dia untukku! karena walaupun dia terlihat tegar di luar, tapi aku tahu kalau dia sangat rapuh."


Tbc


Jangan lupa buat tetap like, vote dan komen ya gais. Thank You


Cheryl Ann Tweedy as Sheela