Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Tugas baru Alena


Andrew kembali mendaratkan tubuhnya untuk duduk kembali di kursinya.Dengan gamang dia meraih kembali kartu undangan yang diberikan oleh Clara. Dia tidak menyangka, kalau kisah cintanya akan layu sebelum berkembang.


Andrew meremas kartu undangan itu dengan sangat kencang, lalu sepersekian detik kemudian, kartu undangan itu sudah mendarat dengan selamat di dalam keranjang sampah. Walaupun perasaan Andrew terasa sakit, tapi, tak bisa dipungkiri ada sedikit rasa syukur yang muncul tiba-tiba di dalam hatinya. Andrew bersyukur, setidaknya dia masih dijauhkan dari seorang wanita yang memandang segalanya berdasarkan materi saja.


Andrew mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Setelah itu, dia meraih ponselnya dari atas meja dan menghubungi Daven.


********


Sementara itu, Setelah Andrew pergi dan Daven naik ke atas, Alena mengambil Snack dan minuman kaleng dari dalam kulkas. Dia mengayunkan kakinya ke ruang TV untuk menonton drama romantis kesukaannya.


Tengah asyik menonton, dan adegan yang sedang dimainkan sedang sedih-sedihnya, tiba-tiba tangan usil langsung mengganti chanel ke chanel yang menayangkan film action.


"Tuan, kok di ganti chanelnya?!" Seru Alena dengan sedikit menekan rasa kesalnya.


"Suka-suka ku lah! Ini televisi punya siapa? punya ku kan? jadi terserah aku mau nonton apa !. Daven berucap dengan sangat santai seraya mendaratkan tubuhnya untuk duduk atas sofa sebelah Alena.


Alena mendengus, perasaannya kini dipenuhi dengan rasa geram.Ingin sekali dia mengacak-acak wajah Daven, menarik rambutnya dan menendangnya keluar. Akan tetapi dia tidak cukup berani untuk melakukannya.


"Tuan, bukannya di kamar anda , ada Televisi juga? gimana kalau Tuan nonton di kamar saja? Dan aku di sini." tawar Alena dengan menyematkan seulas senyuman manis di bibirnya.


"Kalau aku maunya di sini kenapa? Ini kan rumah ku, Jadi terserah aku juga mau nonton dimana." sahut Daven tanpa melepaskan pandangannya dari televisi.


Daven meraih ponselnya dari atas meja untuk melihat siapa yang sedang melakukan panggilan. Setelah melihat nama Andrew yang tertera di layar ponselnya, Daven langsung menjawab.Kelihatan Kening Daven berkerut lalu manggut-manggut mendengar ucapan Andrew dari sebrang telpon.


"Ya udah! kalau begitu kamu tolong suruh devisi keuangan untuk memberikan pesangon untuknya. Setelah itu suruh pihak HRD untuk mencari sekretaris baru yang handal dan sudah berpengalaman! " Daven langsung memutuskan sambungan telepon setelah di-iyakan oleh Andrew dari sana.


Alena yang dari tadi mendengar percakapan Daven dan Andrew, berdehem dan menarik ekor matanya melirik ke arah Daven. Dari lirikannya,sepertinya dia mempunyai sesuatu untuk diungkapkan.


"Kalau kamu mau mengatakan sesuatu, katakan saja! gak usah pakai lirik-lirik. " cetus Daven yang menyadari arti lirikan Alena.


Alena akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Daven. Sebelum mengutarakan hal yang mau diucapkannya, terlebih dahulu ,Alena menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan.


"Tuan, tadi aku dengar kalian butuh sekretaris untuk menggantikan Nona Clara. Bagaimana kalau Jenny saja yang mengantikannya Tuan?" Alena, menggigit bibir bawahnya, lalu memicingkan matanya saat mengutarakan apa yang dari tadi ada dikepalanya.


"Apa?! Jenny? Apa kamu sudah tidak waras menawarkan temanmu yang hanya seorang cleaning service itu menjadi sekretarisku? Apa kamu kira tugas sekretaris itu bersih-bersih? " sentak Daven kesal.


"Bu-bukan begitu Tuan. Jenny sebenarnya lulusan sekretaris. Hanya saja, lamarannya selalu ditolak karena penampilannya.Dia tidak punya pakaian bagus, dan tidak punya cukup uang untuk membeli alat make-up. Padahal nilai akademisnya sangat bagus.Apa salahnya kalau Tuan mencobanya dulu. Aku berani jamin kalau Jenny itu mampu jadi sekretaris anda Tuan! " tutur Alena tegas.Entah dari mana dia punya cukup keberanian untuk berbicara tegas.


Daven, menyipitkan matanya menatap ke arah Alena. Seketika dia menyeringai sinis dan menatap Alena dengan penuh maksud.


"Ok, akan aku pertimbangkan. Tapi ...."


"Yang benar Tuan?! " Alena tersenyum dengan mata yang berbinar-binar, sehingga tampak menggemaskan di mata Daven.


"Tunggu dulu! Aku belum selesai bicara. Aku akan mencoba mengikuti saranmu, tapi selama sebulan, dimulai hari ini, kamu harus pijitin aku, dan menuruti semua kemauanku, bagaimana? "


Kedua netra Alena membesar dengan sempurna mendengar permintaan Daven yang absurd. "Hah?! mijitin Tuan sebulan?"


Alena terdiam sejenak, seperti memikirkan sesuatu. Setelah itu dia kembali menoleh ke arah Daven seraya mengerucutkan Bibirnya.


"Baiklah,aku setuju!" Alena mendesah pasrah.


"Bagus! " Daven menarik sudut bibirnya,tersenyum penuh kemenangan.


"Daven memutar badannya membelakangi Alena "Ayo, lakukan tugas pertamamu! "serunya sambil menepuk-nepuk pundaknya.


Alena mendengus,lalu bergerak mendekati Daven.Dia meletakkan tangannya di atas bahu Daven, dengan sedikit gemetar. Setelah itu dia mulai memijit bahu Daven perlahan-lahan.


"Kamu bisa mijat gak sih? yang kamu lakukan sekarang ini bukan mijat tapi ngelus-ngelus pundakku. Atau kamu sengaja buat godain aku?! Itu gak akan mempan!"


Alena sontak memijat Bahu Daven dengan sangat kuat,karena sangat kesal dengan ucapan Daven.


" Ouhh! Bisa tidak kamu pelanin sedikit? kamu mau bunuh aku ya?!" bentak Daven dengan nada yang sangat kesal.


"maunya nih orang apa sih?! tadi pelan, aku dibilang mau godain dia, giliran di kencangin, aku dibilang mau bunuh dia. Kucekik juga lehermu nanti., biar anda mati sekalian" umpat Alena dalam hati sambil mencebikkan bibirnya.


"Udah cukup segini Tuan?" tanya Alena dengan menurunkan sedikit tenagannya.


"Hmmm! " hanya deheman singkat yang keluar dari mulut Daven.Dia terlalu asik memejamkan kedua matanya untuk menikmati pijatan Alena.


Alena berdecih dan mendengus kesal, mendengar Daven yang hanya berdehem manjawab pertanyaannya.


"Apakah sudah cukup Tuan? tangan ku sudah cukup pegal Tuan" Alena terlihat menghentak-hentakkan tangannya, untuk sekedar mengurangi rasa pegal di lengannya.


"Ya udah, kamu istrirahat sebentar, setelah itu nanti kamu lanjutkan memijat kakiku! ujar Daven, seraya meraih ponselnya kembali, lalu menghubungi Andrew,untuk memenuhi permintaan Alena.


Sementara itu Alena meyender kesandaran sofa dengan tangan bersedekap seraya mengembungkan kan pipinya.Dia sangat kesal karena dia tidak hanya memijat bahu saja, tapi kaki Daven juga.


Kedua netra Alena seketika membulat,ketika tiba-tiba Daven sudah berbaring dengan meletakkan kepalanya di atas paha Alena. Alena terjingkat kaget dan sontak menahan nafasnya.


"Kamu bernafas aja seperti biasa, Aku gak mau nanti kamu mati karena lupa bernafas" ucap Daven santai, sambil menyurukkan wajahnya ke perut Alena dan menghirup aroma tubuh Alena. Hingga membuat Alena semakin sulit untuk bernafas.


"Bukankah aku udah bilang kamu bernafas seperti biasa saja? Apa ini baru pertama kali ada laki-laki yang berbaring di paha kamu?!"


"Bu-bukan Tuan! Ka James udah sering kok tidur di atas pahaku " Sahut Alena jujur. Hingga membuat membuat Kepala Daven keluar asap dan wajahnya memerah seperti terbakar api.


"Hal apa lagi yang sering kalian berdua lakukan? Apakah dia pernah menciummu?"


Tbc


Jangan lupa like,rate,vote dan komen.Thank you