
"Alena ... tolong buka pintunya! aku mau mandi juga. Apa kamu tidur lagi di dalam?" suara Daven terdengar dari luar sembari mengetuk- ngetuk pintu.
"Aduh, aku harus rahasiain dulu ini dari Daven. 3 hari lagi kan Anniversary pernikahan yang ke 6. Jadi, aku mau kasih ini sebagai hadiah kejutan." gumam Alena sembari sibuk mengedarkan matanya untuk melihat tempat, dimana dia bisa menyembunyikan alat tes kehamilan itu.
"Alenaa, tolong buka pintunya! jangan bilang kamu tidur lagi di dalam?" ketukan di pintu kini berubah menjadi gedoran yang sangat keras.
"Iya,sebentar sayang!" teriak Alena dari dalam.
"Oh, aku simpan di sini saja," Alena meletakkan tes kehamilannya di tempat yang dia rasa benar-benar aman dari radar Daven.
Alena membuka pintu sembari memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Kamu kok lama sekali membuka pintunya?" wajah Daven terlihat kecut dan tidak membalas senyuman Alena.
Alena nyaris melangkah keluar dari pintu, tapi tangan besar milik Daven dengan sigap langsung menahannya.
"Tunggu Alena! jangan bilang kamu tidak mandi lagi hari ini." seru Daven yang melihat Alena masih seperti, ketika dia masuk ke kamar mandi tadi.
"Hehehe! iya Sayang! aku malas mandi, soalnya airnya dingin." Alena cengengesan.
"Astaga, sayang! tadi malam kamu juga tidak mandi, masa kamu juga tidak mandi hari ini?__ Tidak! sekarang kamu harus mandi, air dingin bukan alasan, kan kamu bisa mandi pakai air hangat? sekarang ayo masuk lagi! biar aku yang mandikan kamu." Daven menarik tangan Alena masuk kembali ke dalam dan mulai mengguyur Alena dengan air dari shower.
"Sayaaang, kamu kok maksa sih? aku kan udah bilang aku tak mau mandi." Alena berusaha untuk memberontak.
"Sayang, bagaimanpun kamu harus mandi, tadi malam kamu tidak mandi, ditambah kita berolah raga sepanjang malam. Apa kamu tidak merasa aneh dengan keringat yang menempel di tubuhmu?" Daven berusaha membujuk Alena.
"Hmm, ya udah deh! tapi bagaimana sebelum mandi kita lakukan sekali di sini?" Alena membelai-belai dada bidang Daven.
"Oh, no, sayang! nanti aku bisa telat ketemu cliennya." tolak Daven.
"Jadi kamu tidak mau? ya udah, kalau kamu tidak mau, sampai kapanpun aku tidak akan mau kamu sentuh lagi." Alena mengerucutkan bibirnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, mau menangis.
Daven sontak ketakutan dan buru-buru memeluk Alena. "Bukan tidak mau sayang,tapi apa kamu tidak kasihan pada Dean. Mungkin hari ini dia tidak ke sekolah lagi." kedua mata Alena sontak membesar, ketika mengingat putranya Dean.
"Cepat mandinya Sayang! mungkin Dean sudah marah dan kecewa padaku.Belakangan ini, aku selalu lupa buat sarapan untuknya." Alena buru-buru menyabuni tubuhnya, meyiramnya kembali, segera meraih handuk dan melilitkannya pada tubuhnya.
"Aku duluan ya sayang!" Alena mengecup bibir Daven dan melangkah keluar dari kamar mandi.
"Huft, selamat!" Daven menarik nafas lega, setelah yang tersisa sekarang hanya jejak-jejak bayangan Alena, yang lambat laun pun ikut menghilang.
**********
Daven dan Alena turun dari atas dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan putranya Dean.
"Bi Emma, dimana Dean?" tanya Alena tanpa berhenti mengedar matanya ke seluruh ruangan.
"Tuan Muda Dean sudah berangkat ke sekolah dari tadi Nona! diantar oleh Tuan Carlos." mata Alena seketima berhenti mengedar begitu mendengar jawaban Bibi Emma.
"Oh, apakah tadi dia mencari saya Bi?" Daven buka suara, sembari meraih roti lapis yang sudah tersedia di atas meja.
"Tidak sama sekali Tuan! justru tadi tuan Dean, malah mencari Tuan Carlos." sahut Bibi Emma, berterus terang tanpa memikirkan bagaimana reaksi Daven mendengarnya.
"Apa?! dia tidak mencariku sama sekali, dan justru mencari Carlos?" Bibi Emme menganggukkan kepalanya, mulai bergidik ngeri melihat perubahan wajah Daven.
"Hahahaha! sepertinya pesonamu sudah berkurang di mata putra kita sayang!" bukannya menghibur, Alena justru meledek Daven.
Daven melanjutkan suapan demi suapan roti ke dalam mulutnya dengan perasaan yang dongkol.
"Roti ini tidak enak sama sekali! aku berangkat sekarang!" Daven meletakkan roti ke atas piring dengan keras, dan langsung berdiri serta beranjak tanpa menoleh ke arah Alena sama sekali.
Alena tersentak kaget, dan bingung dengan apa yang terjadi pada Daven. Dia pun ikut berdiri dan beranjak untuk mengejar Daven. Tapi dia kalah cepat, karena Daven sudah melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Alena kembali melangkah ke dalam, menemui Bibi Emma. "Bi, ada apa dengan Daven? kenapa dia tiba-tiba marah?" tanya Alena dengan alis yang bertaut.
"Itu karena Tuan Daven cemburu, Nona! anda tadi sudah memuji Tuan Carlos di depannya!"
"Astaga! Carlos kan adiknya Bi. Kenapa dia harus semarah itu?"
"Hahaha! Non, walaupun tuan Carlos adik tuan Daven, tapi tetap saja tuan Carlos itu laki-laki lain kan Non! Coba seandainya Nona Alena punya adik perempuan, dan Tuan Daven memujinya cantik, apa Nona Alena terima?"
"Tentu tidak Bi!" sahut Alena cepat dan langsung menyadari kesalahannya.
"Aku harus meminta maaf padanya nanti Bi! aku naik ke atas dulu buat ambil tas. Oh ya Bi, hari ini aku mau keluar sebentar, nanti kalau ada yang cari, bilang saja aku hanya sebentar saja." ucap Alena yang berniat mau langsung ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya.
*********
Daven berjalan memasuki perusahaannya dengan wajah yang nyaris tanpa senyum. Dia sama sekali tidak menggubris sapaan para karyawan yang berpapasan dengannya.Untungnya dia sudah biasa seperti itu, jadi para karyawan tidak merasa heran lagi.
Daven menghempaskan tubuhnya duduk di kursinya masih dengan raut wajah yang tidak bersahabat.Sehingga menimbulkan kerutan di kening Andrew yang sapaannya tidak berbalas sama sekali dari Daven.
"Tuan Daven, anda kenapa? apa anda ada masalah?" Andrew mencoba kembali bertanya, dan kali ini dengan suara yang lebih keras.
"Kamu, sejak kapan kamu ada di sini?" bukannya menjawab, Daven malah balik bertanya.
"Aku sudah dari tadi ada di sini,dan bahkan sudah menyapa anda. Tapi anda sama sekali tidak menjawab sapaan saya Tuan!"
"Hei, stop manggil aku Tuan! kamu itu sudah jadi kakak iparku." ujar Daven yang dibalas senyuman oleh Andrew.
"Jadi aku harus panggil anda apa?" Andrew masih saja bersikap formal.
"Andrew, please, berhenti bersikap formal! panggil saja namaku, tanpa adanya embel-embel Tuan!" wajah Daven masih tetal seperti baru masuk tadi.
"Baiklah, D-Daven! kanapa dengan wajahmu? sepertinya kamu sedang kesal?" kening Andrew kembali mengrenyit dengan ekor mata yang tertarik ke atas menatap Daven penasaran.
"Bagaimana tidak kesal, semalaman adikmu menguasaiku, hingga aku bangun kesiangan.ketika aku mencari putraku,ternyata dia sudah ke sekolah dengan Carlos,dan bahkan Dean tidak menanyakan aku sama sekali, dia justru menanyakan Carlos.Setelah itu adikmu, malah memuji ketampanan Carlos. Aku kesal Ndrew!" Daven, sibuk menggerutu,mengeluarkan semua uneg-unegnya, hingga tanpa sadar tangannya sudah meremas-remas berkas laporan yang baru saja diletakkan oleh Andrew di atas meja.
"Astaga Daven, berkasnya sudah hancur!" seru Andrew sembari berdecak,lalu menghela nafas, pasrah.
"Sorry, sorry, aku tidak sengaja."
" Ya udah, tidak apa-apa. Aku bisa membuatnya lagi nanti." Andrew berusaha tersenyum. Tapi, senyumannya sekarang, tampak terpaksa.
"Kenapa kamu, masih mau bekerja di sini Ndrew? bukannya kamu sudah disuruh sama Papah Charles untuk mengelola perusahaannya?" Daven kini sudah kembali bersikap biasa.
"Aku, mau menyelesaikan dulu semua pekerjaanku di sini Dave, dan Carlos juga sama." Daven mangut-mangut mendengar penuturan Andrew.
"Sekarang aku bingung Ndrew, kalau kamu sudah ke Canada, mengurus C.A group. Aku tidak tahu apa aku bisa menemukan asisten handal seperti kamu, sedangkan Carlos akan mengelola perusahaan Papah yang di sini dan aku memutuskan untuk mengelola yang di London." baru kali ini Andrew melihat wajah Daven yang terlihat sedih.
"Steve,pasti bisa menggantikan aku, Dave. Dia sebenarnya sangat pintar, cekatan dan handal.Pengalaman buruknya sudah menjadi pelajaran baginya. Aku dapat pastikan itu. Lagian kita semua masih sama-sama di benua Eropa, jadi kalau mau bertemu kembali dan menemukan kesulitan, kita pasti akan cepat datang membantu." ucap Andrew diplomatis tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.
Tbc
Sudah hari Senin saja gais. Please kalau berkenan,voucher vote recomendasinya di hadiahkan ke karya ini dong gais, biar aku semakin semagat buag upnya. Jangan lupa buat tetap like, dan komen serya kasih hadiah juga boleh๐๐๐ฅฐ๐ค