
Mobil yang membawa rombongan Daven, kini sudah tiba tepat di depan Villa Ayana. Setelah dia menunjukkan bukti pemesanannya, dia tidak lupa untuk membooking kamar buat Carlos dan istrinya Cathleen.
Setelah itu, ke 3 pasangan itu masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat setelah perjalanan jauh,apa lagi buat kedua bumil yang, benar-benar memerlukan istirahat.
"Wow,indah sekali pantainya sayang! kita berenang yuk!" Alena berdecak dan tidak berhenti menatap kagum pemandangan pantai, dari jendela kamar mereka.
"Sayang, nanti saja ya! kamu istirahat dulu! kali ini tolong kamu dengarkan aku! aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan anak-anak kita." Daven berucap sangat lembut, tapi tegas.
"Iya deh!" Walaupun sedikit kecewa, tapi Alena tetap menuruti permintaan Daven,karena dia sadar,semua demi keyakinannya dan calon anak-anak mereka.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama akhirnya Alena pun terlelap,demikian juga dengan Daven.Pemandangan yang sama juga terjadi di kamar Andrew dan Jenni.Keduanya juga kini tampak sudah terlelap dengan saling mendekap.
Berbeda dengan Daven dan Andrew, kamar Carlos justru penuh dengan suara-suara horor bagi orang-orang yang belum menikah.
"Sayang aku sudah capek, kita istirahat saja dulu ya?" pinta Cathleen, dengan nafas yang tersengal-sengal setelah mereka berdua baru saja mengeluarkan pelepasan.
"Kok gitu sih sayang? padahal aku masih mau lagi. Sekali lagi ya?" Carlos kembali mengendus-endus leher Cathleen.
"Sayang, aku benar-benar lelah.Aku mau tidur dulu sebentar." Cathleen tidak memperdulikan Carlos, dia memutar tubuhnya memunggungi suaminya itu.
"Kamu gak kasihan padaku Sayang?Aku benar-benar menginginkanmu sekarang!" Carlos memasang wajah memelas,berharap Cathleen kasihan padanya dan merubah pikirannya untuk kembali mau memenuhi hasratnya.
"Baiklah!" Carlos bersorak dan langsung menindih tubuh polos istrinya.
"Tapi, ini yang terakhir. Tidak ada lagi untuk nanti malam dan malam-malam berikutnya." Carlos kembali turun dari atas tubuh Cathleen, mendengar ancaman Cathleen yang lebih menakutkan dari ancaman membunuhnya.
"Iya, iya kita istirahat sekarang! tapi nanti malam kamu harus janji buat membayarnya." Carlos tersenyum setelah, Cathleen menganggukkan kepalanya, sebagai tanda, kalau dia menyetujui permintaannya.
...----------------...
"Sayang, bangun! kalau kamu tidak bangun, kamu akan kehilangan momen untuk melihat sunset." Daven menepuk-nepuk pipi Alena yang mulai terlihat chubby
Mendengar kata sunset, Alena sontak terbangun dan langsung duduk. " Sunset sayang? ayo kita keluar melihatnya!" Alena menarik lengan besar milik Daven dengan kuat, seakan tenaganya sudah tercharger penuh.
"Kita lihatnya dari sini saja sayang!" Daven membuka tirai, agar bisa leluasa melihat sunset dari dalam kamar.
"Aku tidak mau! aku mau melihatnya dari luar!" rengek Alena dengan bibir yang mengerucut.
Daven menghela napasnya, dan mengelus dadanya,untuk bersabar dengan perubahan mood Alena.
"Baiklah, kita melihatnya dari balkon saja ya? nanti malam aku akan bawa kamu jalan-jalan sekalian makan malam." Daven tersenyum,melihat Alena yang kembali tersenyum, mendengar kata jalan-jalan.
Di kamar yang berbeda juga, tidak jauh berbeda dengan situasi di kamar Daven dan Alena.Bahkan Andrew dan Jenni sudah lebih dulu ada di balkon untuk melihat sunset.
"Hai, Alena! baru keluar ya? Sayang sekali! tadi sunsetnya lebih indah lho dari yang sekarang!" Jenni tersenyum meledek Alena, sehingga Alena kembali mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Sayang,kamu bisa diam tidak? kamu lihat mata Daven sekarang! dia sekarang lebih menakutkan dari setan." bisik Andrew, yang merasa tidak enak hati melihat sorot mata Daven yang tampak sudah memerah.
"Aduh maaf Alena! Sunset yang tadi, gak ada bedanya kok sama sunset yang sekarang!" Jenni bergidik dan menyangkal ucapannya tadi.
"Kalau begitu kami masuk dulu ya! Di sini,auranya sangat dingin soalnya." Jenni menarik tangan Andrew masuk kembali kedalam kamarnya.
Sementara itu, di luar Alena sama sekali tidak seceria awalnya.
"Sayang, kamu tidak perlu mendengarkan kata-kata Jenny. Dia hanya bercanda supaya kamu kesal.Tidak ada bedanya sunset yang tadi dengan sunset yang sekarang!' bujuk Daven,berusaha mengembalikan keceriaan Alena.
"Ini semua salah kamu! kenapa kamu lama sekali membangunkanku? aku jadi kalahkan sama Jenni! Harusnya aku yang lebih dulu lihat sunset dari Jenni.Kenapa jadi dia yang duluan sih?" Alena menghentak-hentakkan kakinya, kesal.
Daven merasa surprise dengan tingkah absurd Alena. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jadi yang kamu kesalkan bukan kata-kata Jenni, tapi karena dia yang duluan melihatnya?" Alena mengangukkan kepalanya dengan wajah yang masih seperti ingin menangis.
"Iya, tadi kami, buat tantangan, siapa duluan yang berhasil melihat sunset, makan malamnya dan pasangannya akan ditanggung sama yang kalah. Itu berarti kita harus bayar makan mereka sayang!"Kali ini Alena benar-benar menangis,seperti ketakutan akan dimarahi oleh Daven.
Daven, mengeleng-gelengkan kepalanya, ingin tertawa melihat wajah Alena.Tapi, dia berusaha menahan tawanya agar Alena tidak marah.
"Ya udah, tidak apa-apa! Kita akan bayar makan malam mereka! kamu jangan menangis lagi ya!" bujuk Daven, sama halnya seperti membujuk anak kecil yang sedang merajuk.
Alena tersenyum dan mengusap air matanya.
"Ayo kita masuk! kita siap-siap buat makan malam! Kamu pasti sudah lapar kan?" Alena menganggukkan kepalanya dan menyambut uluran tangan Daven yang mengajaknya masuk.
Sementara itu dikamar Carlos dan Cathleen,terjadi adu mulut antara keduanya. Itu disebabkan karena keduanya baru saja bangun, sehingga Cathleen tidak bisa melihat sunset sama sekali.
"Ini semua gara-gara kamu.Baru sampai harusnya kita langsung istirahat,bukannya langsung berolahraga." Cathleen menggerutu dengan wajah yang sangat kesal.
"Tapi, kamu juga kan menikmatinya tadi sayang!__ lagian besok kan sunsetnya masih ada. sunset sekarang tidak berbeda dengan sunset besok sayang!" Carlos memeluk Cathleen dari belakang dan mengecup punggung Cathleen yang masih polos. Akan tetapi, Cathleen tetap saja cemberut dan melepaskan tangan Carlos dari pinggangnya.
Cathleen mengayunkan langkahnya, masuk ke dalam kamar mandi, tidak menggubris sama sekali panggilan Carlos.
Carlos menghembuskan napasnya dengan sekali hentakan, seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Wajah Carlos kini terlihat frustasi, bingung memikirkan bagaimana caranya membujuk Cathleen.
...----------------...
Daven dan Alena beserta Andrew dan Jenni kini sudah duduk di restoran untuk makan malam.Sedangkan Carlos dan Cathleen, katanya akan menyusul sebentar lagi.
"Alena sesuai kesepakatan kita tadi, kamu sudah bilang pada Daven kan?" bisik Jenni ke telinga Alena.
"Kamu tenang saja,Jen! aku akan bayar semuanya." Daven langsung menjawab, karena dia yakin, kalau Jenni pasti menanyakan tentang taruhan mereka.
Jenni langsung terkekeh, begitu mendengar celetukan Daven.Sedangkan Andrew menautkan kedua alisnya, ke arah Jenni,menuntut penjelasan.
Kedua mata Alena tiba-tiba membesar, melihat orang yang sangat dikenalnya sedang berjalan menggandeng tangan seorang wanita, dengan mata yang mengedar, mencari tempat duduk.
"Ada apa sayang?" Daven menoleh ke arah pandangan Alena, diikuti oleh Andrew dan Jenni. Sekarang giliran mata mereka yang membesar.
"B-bukannya itu Ka James?" celetuk Alena.
tbc
Jangan lupa like, vote dan komennya ya gais.Thank you