Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Kamu mandi di kamar Daven.


Daven merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah di atas ranjang king sizenya. Dia mendesah kesal, karena merasa seperti makhluk transparan sewaktu berada di luar tadi. Matanya menerawang memandang langit-langit kamarnya. Dia membayangkan wajah Alena yang menurutnya semakin cantik.Rasa rindunya ingin memeluk Alena sekarang juga semakin membuncah. Tidak berselang lama dan mungkin karena terlalu lelah akhirnya Daven pun terlelap dengan senyuman di bibirnya.


Sementara itu, Alena digiring masuk ke dalam rumah oleh Ellen dan Jenni. Harold dan Andrew menyusul dari belakang.


"Duduk dulu sayang! Kamu mungkin sudah lelah." ucap Ellen sambil menuntun Alena untuk duduk.


"Madam Brendaaa, tolong buatkan minum buat Alena ya! " Ellen sedikit berteriak agar suaranya dapat didengar oleh Brenda.


Alena duduk dengan mata yang mengedar ke seluruh ruangan. Di dalam benaknya kini timbul banyak pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya menjadi sedikit pusing.


Alena kembali mengalihkan tatapannya ke arah Jenni dan Jeslyn. " Apakah Jenni perempuan yang Ka Daven cari selama ini? mereka berdua sudah menikah dan apa itu putri mereka? batin Alena bertanya-tanya.


"Ada apa Alena? kenapa kamu menatapku seperti itu? Jenni menyipitkan kedua matanya ke arah Alena.Dia menyadari kalau manik mata Alena mengandung banyak hal yang ingin dia tanyakan.


"Hmmm, tidak apa-apa Jen! aku hanya merasa kamu semakin cantik saja." ucap Alena untuk menutupi kegundahannya


" Kamu bisa aja Alena," pipi Jenni merona merah mendengar pujian Alena. Ekor matanya melirik ke arah Andrew,untuk melihat reaksi suaminya itu, ketika ada orang yang memujinya cantik. Jenni mencebikkan bibirnya, ketika melihat Andrew tidan menunjukkan reaksi apa pun.


"Mah, Jeslyn main ke kamar aja ya! Jeslyn bosan di sini!" celetuk Jeslyn tiba-tiba.


"Lho, kenapa? kan Jeslyn bisa main sama Dean di sana," Jenni menunjuk ke arah Dean yang kini tengah asik bermain sendiri.


"Gak seru ah, Mah! Ka Dean galak. Tadi aku ajak main boneka dia malah melotot sama Jeslyn. Dan dia bilang ' Dasar anak manja' " ujar Jeslyn sambil mencebikkan bibirnya.


" Kamu sih, Ka Dean kan laki-laki sayang ..., masa mau kamu ajak main boneka! ya pastilah dia gak bakalan mau! " Jenni tersenyum sambil mengelus-elus rambut putrinya.


"Jeslyn bawa boneka nya saja ke sana! bilang sama Ka Dean , begini, ' Ka Dean, Barbie boleh gak naik mobilan Kaka?' pasti Ka Deannya mau. Jadi, kalian berdua bisa main mobilan sekaligus boneka," Andrew memberikan saran.


"Gak ah, Pah! Ka Dean masih marah sama Jeslyn, karena baju Jeslyn yang dia pakai itu tadi pagi. Padahal Jeslyn udah minta maaf, tapi Ka Dean diam aja, dan matanya menakutkan, sama seperti mata Paman Daven kalau lagi marah!"


"Pah? Mah?, kalian berdua____?" Alena menatap Jenni dan Andrew bergantian.


"Iya, Alena, Kami sudah menikah dan ini putri kami." ucap Andrew untuk menghentikan kebingungan Alena.


"Ja-jadi, istri Ka Daven dimana?" Alena kini tidak dapat lagi menahan rasa ingin tahunya.


Semua orang yang ada disana saling silang pandang seraya mengrenyitkan kening, bingung dengan yang baru saja Alena tanyakan.


" Kok pertanyaanmu aneh sayang? istri Daven ya kamu Alena!" Ellen menyahut.


"Ta-tapi bukannya Ka Daven akan menikahi wanita yang telah menyelamatkan nyawanya dulu?" Alena benar-benar bingung.


Ellen menghembuskan nafasnya dengan cepat.


"Sepertinya Daven belum memberitahukanmu apa-apa. Jadi, biarlah Daven nanti yang akan memberitahukanmu semuanya sayang." ujar Ellen sambil menyematkan seulas senyuman di bibirnya.


"Dan yang jelas Daven sudah membatalkan perceraian kalian berdua, dan tidak pernah menikah dengan siapa pun." Harold menimpali ucapan istrinya.


" Mom,apakah Ka Daven tidak jadi menikahi wanita itu, karena mengetahui aku hamil? Maaf Ya Mom karena kalian mengetahui aku hamil, Ka Daven tidak jadi menikahi wanita itu." ucap Alena merasa bersalah.


"Alena, ini bukan salah kamu! Mommy tadi udah bilang, biarlah Daven yang menjelaskan ke kamu semuanya,"ujar Ellen, berusaha untuk menahan dirinya agar tidak mendahului putranya Daven, untuk menjelaskan pada Alena, walaupun keinginannya untuk menjelaskan semuanya sekarang, itu sangat besar.


"Yang jelas Alena, setelah kamu menghilang, Daven sempat depresi dan kehilangan semangat hidup," Harrold diam sejenak, lalu meraup oksigen, kemudian menghembuskannya kembali. " Butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan semangat hidup Daven. Satu-satunya cara yang membuat dia bisa kembali bersemangat untuk hidup itu adalah kamu dan anak kalian." sambung Harrold lagi.


"Apa efek dari kepergianku sampai separah itu Dad? Alena melihat Harold menganggukkan kepalanya diikuti oleh Ellen dan semua semua yang ada di ruangan itu.


"Tapi kok bisa? Bukannya Ka Daven sendiri yang mau aku pergi?" Alena kembali bertanya dengan raut wajah yang masih terlihat bingung.


"Kamu tanyakan saja nanti sama suamimu ya sayang?" ucap Ellen tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.


Hati Alena terasa menghangat mendengar kata suami dari mulut ibu mertuanya itu.


"Suami? apa benar aku masih jadi istri Daven?" batin Alena. Tanpa di sadarinya setitik cairan bening sudah menetes di sudut matanya.


"Ya udah, hari sudah mulai malam. Kamu mandi dulu ya sayang! Setelah itu kita makan malam sama-sama. Mommy juga mau mandi dulu." Ellen berdiri dan beranjak hendak berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Tapi, aku tidak punya baju ganti, Mom! " seru Alena.


"Kamu pakai baju ku aja dulu! Kamu tunggu di sini ya!" Jenni berdiri dan berlalu menuju kamarnya untuk mengambil pakaian ganti untuk Alena.


5 menit kemudian, Jenni terlihat datang dengan membawa pakaian ganti lengkap dengan daleman yang masih baru.


"Nih kamu pakai ini dulu!" Jenni menyerahkan pakaian ke tangan Alena. " Pakaian dalamnya ada di tengah baju ini. Kamu tenang aja, itu masih baru, " bisik Jenni di telingan Alena.


"Terima kasih Jen! " ucap Alena. " Tapi ..., aku mandi dimana?" tanya Alena bingung.


"Kamu mandi, di kamar kamu dan Daven dong sayang! masa dikamar Mommy maupun Jenni!" sahut Ellen kembali menyunggingkan senyumannya.


Alena terkesiap, dan seperti ada yang tercekat di dalam tenggorokannya, saat mendengar ucapan ibu mertuanya itu.


"T-tapi Mom, aku gak ...,"


"Ayo, Mommy antar!" Ellen dengan semangat membawa Alena, menuju kamar Daven.


"Mom, Alena mandi di kamar Dean aja ya! " Alena mencoba bernegosiasi.


"Kamar mandi, di kamar Dean lagi rusak. Jadi, kamu memang harus mandi di kamar Daven.Lagian Kamar Daven kan kamar kamu juga. " Ellen berhenti tepat di depan pintu, yang dapat di pastikan kalau itu kamar Daven. Dia membuka pintu, yang kebetulan tidak terkunci.


"Ya udah, kamu masuk dan mandi! mommy tinggal dulu ya! " Ellen mengayunkan langkahnya, meninggalkan Alena yang termagu di depan pintu kamar Daven.


Tbc


Jangan lupa buat like, vote,rate dan komen.Thank you🙏🤗🤗