Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Brianna dan Clara mulai beraksi.


James dan Sheela akhirnya sudah resmi menjadi suami istri, setelah baru saja mereka mendaftarkan pernikahan mereka ke catatan sipil.


Awalnya Hellena, tidak setuju kalau pernikahab mereka cuma didaftarkan saja tanpa adanya resepsi. Tapi kalau James sudah memutuskan, tidak ada satupun yang bisa membantahnya.


"Mah,kami pulang dulu ya! soalnya besok pagi-pagi sekali aku harus berangkat ke Irlandia. Ada pekerjaan yang sangat penting, yang harus segera aku selesaikan!" Ucap James di saat mereka baru saja selesai makan malam di rumah utama.


James lebih memilih untuk tinggal terpisah dengab kedua orangtuanya, karena dia tidak mau mamahnya nanti akan meminta mereka hal yang benar-benar tidak mau dilakukannya pada orang yang tidak dicintainya sama sekali.


"Kok buru-buru James? bukannya lebih baik kalian menginap di sini untuk malam ini aja?" Hellena mengungkapkan keinginannya.


"Nggak, Mah! lagian Sheela mau kembali ke rumah sakit untuk menjaga adiknya. Iyakan sayang?" ucap James, berpura-pura untuk berlaku romantis di depan orangtuanya, hingga membuat pipi Sheela merona dan hatinya menghangat mendengar panggilan James padanya. Tapi, begitu dia ingat kalau James hanya bersandiwara, senyum Sheela seketika surut.


Hellena tersenyum bahagia, melihat James yang sepertinya sudah bisa melupakan Alena. Semenjak melihat keadaan James yang kacau karena ditinggalkan Alena, membuat Hellena tidak mau lagi memaksakan kehendaknya pada putranya James. Dia bahkan sempat berjanji dalam hatinya, siapapun nanti atau dari golongan manapun nanti wanita yang dinikahi oleh James putranya, dia akan menyayanginya seperti putrinya sendiri.


"Ya udah, gak pa-pa. Tapi, Sheela kalau kamu ada waktu, sering-seringlah datang kemari!" ucap Hellena sembari menyunggingkan seulas senyuman di bibirnya.


"Iya, Mah! nanti aku akan usahakan buat sering-sering datang kesini." Sahut Sheela yang merasa bahagia, karena diterima dengan baik oleh keluarga James.


"Kalau begitu kami pamit dulu Mah!" James berdiri dan beranjak meninggalkan kedua orangtuanyan, disusul oleh Sheela di belakangnya.


*******


"Jadi ini rumah yang kamu berikan dulu untukku?" tanya Alena yang merasa takjub melihat sebuah rumah yang tidak kalah besar dengan rumah yang mereka tempati sekarang.


"Iya, rumah yang kamu tolak dulu, tapi sekarang dicariin." terselip nada meledek pada ucapan Daven.


"Aku cuma sempat berpikir aja, kalau masih ada, kita jual aja dan meyumbangkannya ke panti asuhan daripada mubazir tidak dihuni," ucap Alena.


"Kamu tenang saja, setiap bulan, Murpy group tetap memberikan donasi. Apa kamu merindukan panti?"


Alena menganggukkan kepalanya, mendengar pertanyaan Daven. "Tapi, aku tidak tahu mau jawab apa, kalau nanti ibu panti bertanya kemana aku selama ini." ucap Alena sembari menghela nafasnya.


"Kamu tenang saja, selama ini Andrew mengatakan kalau kamu lagi mengambil pendidikan tentang fashion di Paris pada ibu panti, jadi dia tidak merasa curiga sama sekali. Dan asal kamu tahu, Andrew juga selalu menyuruh Jenni untuk menelepon ibu panti mengatas namakan dirimu."


"Hah?! jadi selama ini kalian sudah membohongi ibu panti?" ucap Alena sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi, mau gimana lagi? hanya itu cara satu-satunya." sahut Daven sembari terkekeh.


Alena diam, tidak menyahut ucapan Daven lagi. Karena ucapan Daven benar adanya.


"Ya udah,terima kasih ya sayang!" Alena menerbitkan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Kalau begitu, kita ke panti aja sekarang!" ujar Alena tidak sabar.


"Kok buru-buru amat sih sayang? kamu tidak mau, kalau kita mencoba buat memberikan si Dean adik di sini?" Daven menahan tangan Alena dan menatap Alena dengan tatapan mendamba.


" Kamu kenapa sih pikirannya tidak jauh-jauh dari hal itu? kamu gak capek ya?" cetus Alena sembari mencebikkan bibirnya.


"Gak ah! aku sudah tidak sabar ke panti sayang. Aku sudah merindukan mereka semua. Anak-anak pasti sudah besar semua." mata Alena terlihat berbinar-binar, menandakan kalau dia benar-benar sudah tidak sabar lagi untuk ke panti.


Melihat wajah Alena yang sudah tidak sabaran untuk bertemu penghuni panti, membuat Daven tidak tega untuk menyerang Alena saat ini.


"Baikah, kita ke sana sekarang! setelah dari sana, baru kita ke restoran dan toko kuemu yang baru." ucap Daven akhirnya.


"Tapi, apa kita perlu menjemput Dean dulu ke rumah Mommy, agar dia ikut juga ke panti?" tanya Alena.


" Seharusnya sih Iya.Tapi itu akan memakan banyak waktu. Kapan-kapan saja kita mengajak Dean ke sana." Daven memutuskan dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Alena.


*******


Setelah kesepakatan untuk bekerja sama mendapatkan kembali Daven dan Andrew, Brianna dan Clara akhirnya berjanji untuk bertemu di sebuah restoran, guna membahas apa yang sebenarnya direncanakan oleh Brianna.


" Kamu sudah lama menunggu?" tanya Brianna, sekedar basa-basi.


"Belum terlalu lama. Kamu duduklah!" sahut Clara sambil menujukkan kursi untuk diduduki oleh Brianna.


Brianna mendaratkan tubuhnya, duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Clara.Lalu dia memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan dan minuman.


"Kamu sudah pesan makananmu?" tanya Brianna sembari melihat daftar menu.


"Sudah! aku tadi sudah pesan steak sirloin yang medium cook dan sirup lemonade.Kalau kamu terserah!" sahut Clara.


"Oh, ya udah. Nona, tolong samakan saja pesananku dengan Nona ini!" ucap Brianna pada pelayan. Lalu pelayan itupun pergi setelah mencatat pesanan Brianna.


"Bagaimana? apa sebenarnya rencanamu, untuk mendapatkan kembali Daven dan Andrew?" Clara langsung bertanya to the point, karena dari kemarin dia sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui rencana Brianna.


" Kamu sepertinya sudah tidak sabar Clara. Kamu tenang saja, nanti aku akan mengatakan semuanya padamu! Dan aku pastikan, kali ini kita akan berhasil menyingkirkan, dua wanita bodoh itu." Brianna menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah seriangaian sinis di sana.


"Kenapa harus nanti? kenapa tidak sekarang saja?"Clara tidak puas atas jawaban Brianna.


"Kita makan dulu! aku sudah sangat lapar, dan kebetulan pesanan kita sudah datang."


Clara mendengus dengan kesal, melihat Brianna yang seperti berteka-teki. Tapi, dia tetap mengikuti kemauan Brianna. Dia pun akhirnya ikut makan seperti Brianna.


Setelah mereka menyudahi makan siangnya, Clara yang masih penasarab kembali bertanya, tentang rencana Brianna.


Karena Clara yang terlihat sudah tidak sabar, akhiran Brianna pun membeberkan semua rencananya pada Clara. Clara terlihat mengembangkan senyumnya seraya manggut-manggut mendengar rencana Brianna yang terdengar perfect di telinganya.


"Ok, aku setuju! tapi kapan kita akan menjalankan rencana ini" tanya Clara.


"Besok! kebetulan Daven dan Andrew akan mengadakan peresmian hotel mereka yang baru.Dan pasti semuanya akan hadir tak terkecuali Alena dan Jenni. Jadi, pada saat itu kita harus memerankan peran kita masing-masing dengan baik.