
Malam terasa semakin dingin, di bumi lain negara eropa bagian selatan yaitu kota Madrid, Spanyol. Dinginnya malam itu, hampir menyerupai dinginnya hati seorang wanita setengah baya, yang masih terlihat sangat cantik. Wanita itu tengah duduk bersandar di sandaran kasurnya yang empuk dengan sebuah buku di tangannya.
Dia sudah cukup lama berkutat dengan buku yang ada di tangannya, sampai dia sekarang berada pada titik kebosan yang amat sangat. Wanita itu menutup bukunya,meletakkannya kembali di atas nakas dan beranjak turun untuk mengambil minum ke bawah.
"Hmm, kayanya Hansel sedang sibuk di ruang kerjanya. Aku lebih baik buatkan dia kopi dulu." gumam wanita itu dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.
Setelah selesai membuat kopi, wanita itu mengayunkan langkahnya menuju ruangan kerja kakak kembarnya, yang dapat dipastikan pasti berada di dalam.
Wanita itu melihat pintu ruangan kerja itu sedikit terbuka, dia nyaris melangkah masuk, tapi tiba-tiba diurungkannya karena mendengar bentakan Hansel pada seseorang yang berada di ujung telepon. Dia memutuskan untuk memasang telinganya baik-baik untuk mendengar ucapan Hansel.
"Jadi, kamu belum bisa menemukan dimana keponakan-keponakanku berada sekarang?" suara Hansel terdengar meninggi dari dalam ruangan.
"......"
"Aku tidak perduli, mereka sudah pindah! kamu harus tetap cari mereka secepatnya, dan pastikan kalau mereka baik-baik saja dan mendapatkan hidup yang layak." kembali suara Hansel terdengar.
"......"
"Aku mau secepatnya mendapat kabar baik darimu! Karena aku mau berterus terang pada adikku kalau kedua anaknya masih hidup selama ini."
Pyarrr ... gelas berisi kopi yang ada di tangan wanita itu, kini sudah mendarat dengan keadan pecah berkeping-keping.
"H-Hanna!" kedua netra Hansel membesar melihat kehadiran Hanna adiknya yang kini sudah berdiri di pintu dan pastinya sudah mendengar semua ucapannya.
"Oh, s_hit! kenapa aku tidak menutup pintu tadi? " bisik Hansel pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu berbohong selama ini? kenapa kamu bilang kalau anakku sudah meninggal?" pekik Hanna dengan mata yang sudah berkilat-kilat karena amarah dan rasa ingin menangis bercampur menjadi satu.
"Kamu sudah mendengarnya semua Hanna?"
"Kamu jahat! Kamu tega memisahkanku dengan anak-anakku sebelum aku melihat wajah mereka lebih dulu. Bahkan kamu tega mengatakan kalau mereka sudah meninggal? K-amu benar-benar jahat Hansel!" tangis Hanna histeris.
"Tapi ini semua demi kebaikanmu Hanna! Aku mau kamu benar-benar bisa melupakan si brengsek yang tidak tahu diri itu! Aku tidak mau dengan kehadiran kedua anak itu, kamu tidak bisa melupakan si brengsek itu."
"Jadi, apa kamu bisa melihat kalau aku baik-baik saja dengan semua tindakanmu? Aku justru semakin terpuruk Hans. Kamu sendiri tahu, aku hampir gila,begitu mengatahui kalau kedua anak yang aku lahirkan sudah meninggal. Tapi kenapa kamu masih tega menyembunyikan mereka? Dan sekarang kamu justru tidak tahu dimana keberadaan mereka? bagaimana bisa Hans?" suara Hanna sudah sangat tinggi sekarang.
"Emm, Selama ini aku hanya mengirimkan uang untuk semua kebutuhan keduanya. Aku hanya bertemu mereka di rumah sakit tempat kamu melahirkan, ketika putra mereka sedang sakit. Mereka kekurangan biaya, dan aku menawarkan bantuan. Aku lalu meminta mereka untuk merawat anak-anak kamu Hanna. Salahnya, aku tidak tahu alamat mereka. Aku sudah mencari informasi dimana dia tinggal, ternyata mereka sudah pindah cukup lama Hanna, dan sekarang aku belum tahu dimana mereka tinggal." Hansel berucap dengan nada suara penuh penyesalan.
"Sekarang aku mau kembali ke Irlandia. Aku mau mencari sendiri kedua anakku." Hanna berputar dan nyaris beranjak pergi,tapi seketika terhenti ketika Hansel menyebutkan nama yang selama ini berusaha untuk dia lupakan, walaupun sama sekali tetap tidak bisa.
"Bagaimana kalau kamu ketemu sama Charles, Hanna? apa kamu benar-benar sudah bisa melupakannya?" tanya Hansel.
"Lihat dirimu! sudah berpuluh tahun, kamu belum bisa melupakannya.Padahal dia sudah cukup lama melupakanmu.Dia sudah menikah, dan bahkan sudah memiliki seorang putra dengan wanita itu Hanna!" Sedangkan kamu? kamu sudah berulang kali aku kenalkan dengan banyak pria,tapi satupun tidak kamu indahkan. Apa itu cukup adil buatmu? sebagai kakak laki-laki, aku hanya mau melihat kebahagiaanmu Hanna!" ucap Hansel panjang lebar dengan nafas yang memburu.
"Apa yang kamu anggap baik belum tentu baik untukku Hans! dan asal kamu tahu, Charles juga korban dari semuanya. Dia merasa terhianati oleh Ellen dan Harold, yang ternyata menikah demi, agar aku bisa menikah dengan Charles. Seandainya aku tahu, kalau Ellen dan Charles saling mencintai, aku tidak mungkin menikah dengan Charles. Akulah penyebab dari semua yang terjadi Hans. Aku pergi, berharap Charles dan Ellen bisa bersatu lagi, sehingga aku tidak terus-terusan hidup dalam perasaan bersalah."
"Apa kamu tahu, pengorbananmu sia-sia Hanna! Charles sama sekali tidak menikah dengan Ellen. Ellen dan Harold tetap hidup bersama dan bahkan sudah memiliki putra bernama Daven. Sedangkan Charles, dia mungkin sudah menikah dengan wanita lain, karena dia juga sudah memiliki seorang putra." tutur Harold.
"Aku tahu! aku tahu, kalau mereka tidak bersatu, karena aku juga tetap mengikuti perkembangan Ellen dan Harold. Tapi setidaknya, aku bebas dari rasa bersalah, sekalipun Charles menikah dengan wanita lain. sekarang keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap berangkat ke Irlandia besok dan aku akan mencari anak-anakku sendiri." tegas Hanna sambil berlalu pergi.
*********
Malam sudah semakin larut, tapi Daven sama sekali belum beranjak dari ruang kerjanya.Seharian ini dia sangat sibuk sekali dengan pekerjaan yang benar-benar harus diselesaikan malam ini juga. Karena besok, keluarga Murpy akan mengadakan konfrensi pers untuk mengumumkan dan mengenalkan Carlos sebagai putra dari Harold dan adik dari Daven
Seharian ini dia terpaksa bekerja sendiri, karena Andrew sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Tapi, Daven cukup maklum dengan hal itu, karena memang tidak mudah untuk Andrew bisa menerima kenyataan bahwa dirinya masih punya keluarga kandung yang dia tidak tahu siapa.
"Sayang, kamu belum mau tidur?" tiba-tiba kepala Alena nongol dari balik pintu dengan air muka yang ditekuk.
"Sebentar lagi sayang! kamu kok belum tidur? kamu tidur aja duluan ya, nanti aku nyusul." Daven tetap tak mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang ada di depannya.
Bukannya pergi, Alena justru masuk ke dalam dan menutup pintu kembali. Lalu dia menghampiri Daven yang masih terlihat sangat fokus dengan pekerjaannya.
"Aku tidak bisa tidur sayang! aku mau dipeluk sama kamu!" Alena bergelayut manja di pundak Daven.
Daven mengalihkan tatapannya dari layar monitor untuk menatap istrinya yang belakangan ini sangat manja. Daven menerbitkan senyuman manis di bibirnya dan mengecup bibir istrinya itu dengan sangat lembut
Daven nyaris menarik bibirnya untuk menjauh dari bibir Alena, tapi Alena menahan kepala Daven dan memperdalam ciumannya, sehingga Daven terbuai dan hasratnya terpancing. Alena kini sudah duduk di pangkuan Daven dan menggesek-gesekkan bagian bawah tubuhnya, yang berada persis di area senstif Daven yang kini sudah tegak berdiri.
Daven yang sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi, berdiri dengan kaki Alena yang menjepit tubuhnya. Daven membawa Alena ke aras sofa dengan bibir yang masih setia menyesap bibir sang istri.
Tidak lama kemudian, mereka kini sudah polos tanpa sehelai benang yang menempel pada tubuh mereka, dan entah kenapa, kali ini Alena bertindak lebih dominan dari Daven. Dan Daven benar-benar menyukainya.
Pergumulan mereka berlangsung cukup lama sampai mereka mendapatkan pelepasan yang benar-benar terasa sangat nikmat. Kini mereka berdua terkulai lemas dengan sisa-sisa kenikmatan yang masih terasa.
"Sayang, aku mau lagi!" ucap Alena, manja
Tbc
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak ya Gais.please like, vote dan komen Thank you