
"Kenapa anda tidak menjawab Tuan Gerald?" tampak ketidak sabaran di wajah Hansel.
"Emm, begini Tuan__" Steve ingin membuka suara melihat papahnya yang masih bungkam.Akan tetapi, dia mengurungkannya, ketika melihat manik mata serta gelengan kepala dari papahnya.
"Begini Tuan Hansel, ponakan anda baru saja keluar dari gedung ini bersama istrinya. Akan tetapi,__"
" Apa pria yang anda katakan itu, memakai kemeja maroon dan jas hitam, sedangkan istrinya memakai long dress berwarna maroon juga?" Hanna buka suara, menyela ucapan Gerlad, sebelum Gerald menyelesaikan ucapanya.
"Iya! apakah Nyonya melihat mereka tadi?" Gerald membenarkan ucapan Hanna.
"J-jadi, dia benar putraku? pantas aku merasa ingin memeluknya tadi." gumam Hanna, tidak menjawab pertanyaan Gerald. Kedua netranya, kini sudah berkilat-kilat karena sudah dipenuhi dengan cairan bening yang siap untuk ditumpahkan kapan saja.
Gerald dan Steve terkesiap, mendengar gumaman wanita itu. "A-ap anda adalah wanita yang melahirkan Andrew?" tanya Gerald.
"Apa nama pria tadi Andrew?" Hanna menatap Gerald dan Gerald menggangukkan kepalanya, membenarkan.
"Iya, aku wanita yang melahirkannya! Aku mau tanya, jika dia putraku, sekarang dimana putriku?" Hanna bertanya dengan penuh harap.
Gerald menghela nafasnya, menatap Steve putranya yang terlihat mengangukkan kepalanya.
"Maaf Nyoya, ini tadi yang mau aku katakan,kalau dengan sangat menyesal, aku benar-benar tidak tahu, dimana keberadaan putri anda sekarang."
"Bagaimana bisa?" Hansel menggebrak meja, dengan intonasi suara yang menggelegar.
" Bukannya keduanya aku berikan padamu bersamaan? bagaimana bisa, kamu tidak tahu dimana keberadaan yang satu lagi? hah?! Intonasi Hansel semakin meninggi, sehingga menarik perhatian orang-orang yang berada di ruangan itu.Sedangkan Hanna tersungkur hampir jatuh mendengar ucapan Gerald.Untungnya Steve dengan sigap menangkap tubuh Hanna sebelum benar-benar jatuh.
"M-maaf Tuan Hansel, aku benar-benar tidak tahu, pada siapa istriku menyerahkan keponakan anda." Gerald susah payah menelah ludahnya sendiri,melihat sorot mata Hansel, yang sudah dipenuhi dengan amarah, seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Tangan Hansel terkepal dengan kuat, sedangkan nafasnya terlihat memburu. Hansel yang sudah tersulut amarahnya, tanpa berpikir panjang langsung mengayunkan tangannya, memberikan pukulan telak di wajah Gerald.
"Brengsek! Jadi selama ini uang yang aku kirimkan kalian apakan? Hah?!" pukulan kembali mendarat di wajah Gerald. "Setiap bulan aku mengirimkan uang untuk dua keponakanku, tapi teganya kalian memberikan salah satu keponakanku pada orang lain? brengsek!" hansel melayangkan tinjunya kembali ke wajah Gerald.
"Tuan, tolong jangan pukul lagi Papahku! Papah tidak bersalah Tuan, ini salah mamah!" Steve berusaha menahan agar Hansel jangan memukul papahnya yang kini sudah tidak berdaya.
"Siapa kamu berani memerintahku, hah?! atau kamu juga mau aku pukul sekarang? pasti semua uang yang aku kirimkan habis untukmu kan?" Hansel memberikan pukulan ke wajah Steve. Setelah itu, dia kembali mendekati Gerald untuk kembali memberikan pukulan.
Steve langsung meraih ponselnya dan menghubungi Andrew agar segera kembali ke hotel.
"Iya, Steve, ada apa?" terdengar suara Andrew dari ujung telepon.
"Ndrew, tolong kamu kembali ke hotel! Tuan Hansel, memukuli Papah sampai babak belur, hanya kamu yang bisa menghentikannya memukul Papah."
"Kok bisa?" Andrew mengrenyitkan keningnya, walaupun Steve tidak bisa melihat kernyitan di kening Andrew itu.
"Kamu akan temukan jawabanya di sini! please cepat Ndrew, untuk sementara aku akan berusaha menahan Tuan Hansel memukul Papah lagi." Steve memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, setelah panggilan terputus dan Andrew menyanggupi untuk kembali ke hotel.
*******
Sementara itu, di lantai atas di sebuah ruangan, Carlos menjauhkan dirinya dari keluarganya yang kini tengah sibuk bercengkrama dan bercanda.
Dia kini sedang duduk di sebuah kursi yang berada di balkon. Dia meraih ponselnya dan berniat melakukan panggilan pada seseorang, siapa lagi kalau bukan Cathleen.
"Hallo, Sunny. Kamu lagi ngapain sekarang?" Carlos menjawab sapaan Cathleen.
"Maaf, sepertinya anda salah sambung Tuan! nama saya bukan Sunny!" Cathleen masih bersikap ramah.
"Iya, aku tahu kalau nama kamu itu Cathleen, tapi aku lebih suka memanggilmu Sunny, karena kamu seperti matahari yang sudah menerangi hatiku yang gelap." Carlos mulai melancarkan kata-kata rayuan gombalnya.
"Hei, anda siapa? bagaimana anda tahu namaku dan apa mau anda?" Cathleen mulai sedikit kesal.
"Namaku Sky! karena tempat matahari berada adalah langit. Jadi, kamu itu, memang ditakdirkan untuk bersamaku." Carlos tidak berhenti menggombal.
Semburat merah kini muncul di pipi Cathleen, mendengar gombalan-gombalan receh yang baru saja didengarnya. Dari kedua sudut bibirnya, terbit seulas senyuman, seakan orang yang berada di panggilan sekarang ada di depannya.
"Kamu, kalau tersenyum sangat cantik!" suara Carlos kembali terdengar, hingga membuat Cathleen seketika mengedarkan tatapannya untuk melihat apakah si penelepon ada di sekitarnya atau tidak.
"S-siapa yang tersenyum? jangan sok tahu kamu." sangkal Cathleen, merasa malu.
"Hatiku, sudah terhubung ke hatimu.Jadi aku bisa tahu, kalau kamu tadi, lagi tersenyum dan sekarang kamu lagi cemberut."
Cathleen sontak mengembalikan posisi bibirnya, yang tadi memang sedang mengerucut ke posisi semula, dengan tubuh yang sudah merinding, merasa seperti sedang diawasi oleh seseorang.
"Hei, anda jangan sok tahu Tuan! kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku tutup teleponnya sekarang!" suara Cathleen mulai terdengar kesal.
"Hahahaha, kamu kalau marah-marah seperti sekarang, kok terlihat semakin menggemaskan ya?" Carlos masih tetap melancarkan godaanya, seakan Cathleen sekarang benar-benar ada di depannnya.Padahal dia hanya membayangkan wajah Cathleen yang sedang kesal.
"Tuan, please berhenti menggodaku, karena aku tak akan tergoda! aku matikan sekarang teleponnya, bye!" Cathleen, kali ini benar-benar memutuskan line telepon dengan hati yang dongkol. Dia ingin memblokir nomor yang baru saja menelponnya, tapi entah kenapa dia urung melakukannya.
Sementara itu, Carlos di seberang sana sudah tertawa terbahak-bahak. Dia sekarang merasa hidupnya semakin berwarna dan sepertinya dia akan terus menggoda Cathleen, karena menggoda gadis itu, memberikan kesenangan sendiri pada dirinya. Tanpa disadarinya, Daven dari tadi sudah menguping pembicaraannya.
"Hmm, hai Sky! apa Sunny baik-baik saja di sana?"ledek Devan, muncul dari dalam.
"Hei, kamu menguping pembicaraanku? itu tidak sopan tahu tidak?" Tukas Carlos kesal bercampur malu.
"Maaf, Sky! aku tidak sengaja!" ucap Daven, dengan wajah yang pura-pura menyesal.
"Hei, Stop manggil aku Sky!" Carlos mengunuskan tatapannya pada Daven yang sekarang sedang menertawakannya.
"Iya, Iya aku berhenti! tapi kalau boleh tahu, siapa Sunny?" tanya Daven setelah dia berhenti tertawa.
"Rahasia!" Carlos beranjak masuk melewati Daven yang tersenyum kecut, begitu saja.
Disaat dia ingin kembali bergabung dengan keluarganya, tiba-tiba seorang pegawai hotel juga masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah panik.
"Maaf Tuan di restoran bawah ada keributan. Tuan Gerald dipukuli oleh seseorang." lapor Pegawai itu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Semua tersentak kaget dan langsung beranjak keluat dari ruangan itu, menuju restoran hotel yang dimaksud pegawai itu.
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin jejak ya gais. please Like, vote dan Komen serta kalau berkenan, kasih hadiah juga bolehπππ. Thank you.