Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
The First night .


Cathleen kini sudah selesai membersihkan tubuhnya setelah acara pernikahannya selesai.


Sekarang dia duduk dengan jantung yang berdetak hebat, sedikit merasa takut dengan apa yang akan terjadi malam ini.


"Apa malam ini dia akan langsung melakukannya? aku harus bagaimana? aku gak ngerti sama sekali,bagaimana melakukannya.Bagaimana kalau dia kecewa, melihat aku yang masih kaku? dengar-dengar juga akan terasa sakit. Bagaiman ini ya Tuhan?" Cathleen berjalan mondar-mandir,dengan mengigit-gigit ujung jari jempolnya. Ekor matanya berkali-kali melirik ke arah pintu, untuk memastikan,kalau Carlos belum masuk dan masih berbicara dengan rekan-rekan bisnisnya di bawah.


"Oh, aku ada ide! gimana kalau aku mempelajarinya dulu?" Cathleen meraih ponselnya dan mencari situs yang menyajikan tontonan adegan,yang dilakukan oleh pria dan wanita, adegan yang biasa dilakukan oleh suami istri.


"Astaga! haruskah aku melakukan hal itu? menjijikan sekali." Cathleen menatap jijik pada layar ponselnya dimana si wanita sedang melakukan oral pada tongkat sakti milik si pria.


Cklek ...


Cathleen sontak menyembunyikan ponselnya di bawah bantal tanpa mematikan terlebih dulu, ketika tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh seseorang dan menutupnya kembali.


"Hai, sayang! kamu sudah mandi ya?" senyum Carlos terbit dengan manisnya menyapa Cathleen yang raut wajahnya terlihat sangat tegang.


"U-udah! sekarang giliran kamu yang mandi!" Cathleen berusaha menetralkan intonasi suaranya, supaya Carlos tidak menyadari kegugupannya.


"Hmm, sepertinya aku mandinya nanti saja.Soalnya nanti juga bakal berkeringat lagi!" Carlos mengerlingkan matanya ke arah Cathleen, sehingga Cathleen semakin merasa gugup.


"T-tidak boleh! kamu harus tetap mandi sekarang! badanmu pasti sangat lengket sekarang." Cathleen menghunuskan tatapannya, untuk membuat Carlos takut. Akan tetapi, bukannya takut, Carlos justru tertawa, melihat wajah Cathleen yang justru makin menggemaskan baginya.


"Ya,udah aku mandi. Kamu tunggu aku dan jangan tidur!" Carlos nyaris mengayunkan langkahnya untuk masuk kedalam kamar mandi. Tapi, tiba-tiba dia mengurungkan langkahnya ketika terdengar suara desahan bercampur teriakan dari bawah bantal.Sehingga membuat kedua netra Cathleen membesar dan peluh menetes dari pelipisnya.


"Suara apa itu?" Carlos mengayunkan langkahnya sambil menajamkan pendengarannya ke arah sumber suara. Cathleen yang panik langsung berusaha menekan bantal,agar suara dari dalam ponsel tidak terdengar keluar.


Tapi sepertinya, usaha Cathleen sia-sia, suara itu tetap bisa didengar,dan justru sekarang suara kedua manusia yang sedang bermain di dalam ponsel itu, semakin keras.


"Apa itu sayang,yang kamu sembunyikan?" Carlos menautkan kedua alisnya.


"Hmm,gak ada, S-sayang." Cathleen terlihat gelagapan.


"Hmm,kamu kira aku percaya?" Carlos berusaha menyingkirkan tubuh Cathleen, yang tetap berusaha diam pada tempatnya.


Akan tetapi,tenaganya kalah dengan tenaga Carlos,sehingga tubuhnyanpun tidak bisa lagi menghalagi Carlos untuk mendekat ke arah bantal.


"Hahahahaha! ternyata kamu lagi melihat video begituan!" sekarang wajah Cathleen sudah sangat merah,ketika ponselnya yang menayangkan adegan syur itu, sudah ada di tangan Carlos.Seandainya bisa, ingin sekali dia membenamkan wajahnya,ke kedalaman tanah yang paling dalam,agar Carlos tidak bisa lagi melihat wajahnya.


"Itu berarti sekarang kamu sudah siap, untuk mempraktekkan apa yang sudah kamu pelajari barusan." Carlos tersenyum licik sembari mengedipkan matanya seraya menghampiri Cathleen yang tanpa aba-aba melangkah mundur.


"S-siapa bilang kalau aku lagi belajar? A-aku cuma___"


Carlos tiba-tiba menangkap tubuh Cathleen dan membenamkan bibirnya ke bibir Cathleen.


"Kamu tenang saja,kamu tidak perlu belajar,karena kamu akan tahu dengan sendirinya,bila sudah dipraktekkan." bisik Carlos sembari memberikan gigitan lembut di telinga Cathleen.


Tubuh Cathleen kini sudah mulai merespon permainan Carlos. Tanpa disadarinya, dia mendesah ketika jari-jari Carlos sudah berhasil masuk ke bagian intinya di bawah sana yang sudah basah.


Bibir Carlos kini mulai merambah ke bagian-bagian tubuh lain Cathleeen, dengan tangan yang bergerak aktif membuka kancing piyama yang masih melekat di tubuhnya.


"Sayang kenapa kamu tidak memakai lingeri,hadiah dari Alena, hem?" Bisik Carlos sembari kembali menggigit telinga Cathleen serta meraup bibir manis Cathleen yang dia yakin akan menjadi candu baginya.


"A-aku malu sayang.___" Cathleen tiba-tiba berhenti berbicara,dan mendesah ketika tiba-tiba mulut Carlos sudah berada di puncak bukit merah muda miliknya.


Carlos cukup lama memberikan setruman-setruman nikmat pada istrinya itu, dan sekarang dia sudah bersiap mengarahkan senjatanya yang sudah siap dari tadi,ke bagian inti istrinya yang sepertinya sudah siap untuk menerima serangannya.


Tidak lama kemudian rintihan kesakitan Cathleen sudah berubah menjadi erangan nikmat,apalagi ketika dia akan mengalami pelepasan yang bersamaan dengan suaminya Carlos.


...----------------...


Dikamar yang berbeda, dua insan juga tengah memadu kasih, bahkan ini sudah yang kedua kalinya. Siapa lagi mereka kalau bukan Daven dan Alena, yang sudah 6 tahun menikah, tapi berpuasa 5 tahun.


"Sayang,udah dulu ya! sekarang kita istirahat dulu, karena besok kita akan melakukan perjalanan jauh, ke Bali. Aku takut nanti kamu kecapean." ucap Daven yang terkulai lemas, di ranjang setelah pertempuran hebat mereka.


"Iya, aku juga sepertinya cukup lelah." Alena merebahkan tubuhnya di samping Daven.


"Syukurlah, akhirnya dia merasa lelah juga." batin Daven lega.


"Tapi, sebelum berangkat ke sana, kondisi kamu benar-benar baik dan memang bisa terbang jauh kan Sayang?" wajah Daven terlihat khawatir, karena dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan calon anak-anaknya.


"Aku sudah cek, dan kata dokter tidak ada masalah sayang, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dokter juga sudah memberikan obat penguat kandungan tadi." sahut Alena menenangkan Daven.


"Kalau begitu, aku lega sekarang!" Daven menerbitkan seulas senyuman di bibirnya.


"Besok kita berangkatnya, jam berapa sayang?" tanya Alena.


"Hmm, kita berangkatnya siang. Karena kalau pagi takutnya kita telat ke bandara. Kamu kan sangat susah bangunnya sekarang!" ledek Daven, yang membuat Alena mencebikkan bibirnya.


"Jadi, Carlos langsung bekerja besok sayang? apa kamu tidak kasihan sama dia?"


"Itu sudah perjanjian sayang.Aku sudah memberikan dia cukup banyak waktu, untuk mempersiapkan pernikahannya, jadi mau tidak mau dia harus menggantikan aku di perusahaan besok." ujar Daven, dan Alena hanya manggut-manggut mendengarkan.


"Ya udah, sekarang kita tidur saja! biar tenaga kita pulih, dan bisa berangkat dengan tubuh yang bugar." Daven mendekap tubuh Alena dan meninggalkan kecupan di puncak kepala Alena berkali-kali.Setelah itu mereka pun memejamkan mata, dan tidak membutuhkan waktu yang lama,kini keduanya sudah terlelap dengan senyuman di bibir masing-masing.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya gais.Untuk votenya disimpan untuk besok saja kalau boleh๐Ÿ˜๐Ÿ˜