Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Kamu bukan adik kandungku


"D-darimana kamu tahu nama itu?!" seru Andrew, penasaran kenapa pria itu mengetahui namanya dulu. Nama yang sudah dia lupakan sejak lama.Nama yang dia tidak mau pakai semenjak dia dibuang dijalanan oleh orangtuanya.


"Aku Darren, kakak kamu! aku sudah mencarimu kemana-mana tapi kamu seperti hilang ditelan bumi." sahut Darren atau steve sembari memeluk Andrew dengan erat.Andrew pun membalas pelukan Steve dengan tak kalah erat. Steve atau Darren adalah kakak yang selalu membelanya, melindunginya dulu,kala orangtuanya menghukumnya.


"Kenapa namamu jadi Andrew?" Steve memicingkan kedua netranya.


"Hei, kamu juga kenapa berubah jadi Steve?" Andrew balik bertanya.


"Hmm, Mamah yang mengubahnya, padahal aku lebih suka nama Darren. Kalau kamu kenapa mengubahnya?


"Itu karena aku,menganggap kalau Aland sudah mati semenjak aku ditinggalkan mamah di tengah jalan.Jadi, pada setiap orang yang bertanya siapa namaku, aku selalu jawab 'Andrew'. Aku juga tidak tahu kenapa aku memilih nama itu. Tapi, setelah aku cukup besar, aku tidak menyesal memilih nama Andrew,karena memiliki arti yang sangat bagus, yaitu kuat, berani dan jantan." otot mulut Andrew membentuk garis lengkung, tersenyum simpul ke arah Steve.


"Seandainya kamu datang ke acara pernikahanku dulu, mungkin kita tidak akan bertemu dalam situasi seperti ini. Dan mungkin perusahaan yang aku bangun akan sukses di tanganmu!" raut wajah Steve berubah sendu.


"Kenapa bisa begitu? itukan perusahaanmu? harusnya sukses di tanganmu bukan di tanganku." Andrew menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Steve.


"Itu bukan milikku,tapi milikmu." ucapan Steve membuat semua orang yang ada di ruangan itu,terkesiap bingung. kecuali Carlos yang sudah tahu semua cerita di balik itu semua.


"Apa, maksudmu itu milikku? aku dengar, Holmes group adalah perusahaan yang kamu bangun sendiri, dan semua orang tahu kalau aku tidak punya andil dalam pengembangan perusahaan itu."


"Perusahaan itu aku bangun, memang khusus buatmu. Aku membangunnya dari uang yang selama ini dikirimkan oleh keluarga aslimu, yang sebenarnya untuk semua biaya kebutuhan dan pendidikanmu. Mamah menggunakan semua uang yang diberikan keluargamu setiap bulan untuk kepentingan diri sendiri." tutur Steve, yang membuat semuanya semakin terpengarah.


"Apa maksudmu dengan keluarga asli?!" Andrew mencengkram bahu Steve dan menguncangnya dengan keras.


Steve memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafasnya dengan sedikit lambat.


"Sebenarnya kamu buka adik kandungku.Kamu dititipkan oleh seseorang untuk mamah dan papah rawat, karena Mamahmu mengalami depresi yang sangat parah.Seseorang itu, berjanji akan mengirimkan semua biaya hidup dan pendidikanmu, dan akan datang kembali menjemputmu, kalau mamahmu sembuh. Tapi, Mamah justru memanfaatkanmu. Dia selalu mengatasnamakan kebutuhanmu untuk mendapatkan uang dari keluargamu itu. Walaupun kamu sudah ditinggalkan di jalanan, mamah tetap saja menerima kiriman dari keluargamu setiap bulannya." Steve berhenti sejenak untuk mengambil jeda sekalian untuk meraup udara kembali.


"Awalnya aku tidak percaya, kalau kamu bukan adik kandungku, tapi aku mendengar sendiri pembicaraan mamah ke papah, yang berniat meminta uang yang lebih banyak dari orang itu. Aku dan papah protes saat itu, tapi mamah mengancam akan pergi meninggalkan aku dan papah. Akhirnya aku berniat merintis usaha, dan berusaha untuk memajukannya, dengan tujuan akan aku serahkan padamu, saat kita dipertemukan lagi, untuk mengembalikan hakmu yang selama ini diambil oleh mamah. Tapi ..."


"Tapi semuanya hancur, karena tindakan bodohnya yang terbuai dengan duo wanita ular. Saya yakin, kalau kamu pasti tahu siapa duo wanita ular itu." Carlos menyela ucapan Steve, dengan menarik sedikit sudut bibir ke atas, meledek kebodohan Steve.


"Carlos, bisa tidak kamu berhenti meledekku?" Cetus Steve sembari menghunuskan tatapannya ke arah Carlos.


"Hei, berani sekali kamu menatapku seperti itu? kamu mau aku hentikan bantuanku ke perusahaan kecilmu itu?Hah?!" Carlos balik menguhunuskan matanya ke Steve. Sehingga Steve langsung melunakkan tatapannya dan mendesahkan nafasnya.


"Dia benar-benar putraku! sikapnya sangat mirip sama Daven yang sangat suka mengintimidasi orang lain." celetuk Harold, sembari tertawa.


"Hei, kamu juga jangan lupa, sikap siapa yang mereka tiru, kalau bukan sikapmu." Ledek Charles, yang disambut dengat tawa oleh semua yang ada di sana, kecuali Andrew yang masih penasaran siapa sebenarnya keluarga aslinya.


"Dimana putraku Dean?" celetuk Daven tiba-tiba teringat akan putranya. Itupun karena dia mendapatkan pesan dari Alena yang menanyakan keberadaan Dean.


"Astaga! kenapa kita bisa melupakan mereka?" Ellen menepuk jidatnya dengan sedikit terkekeh.


"Ehem, apa aku boleh memanggilmu Kakak, Tuan Daven?" Carlos menatap Daven, yang juga menatapnya balik.


"T-tentu saja! kamu kan memang adikku, jadi, sudah seharusnya kamu panggil aku kakak." Sahut Daven, yang masih sedikit merasa canggung akan kehadiran Carlos sebagai adiknya.


"Jadi, bolehkah aku memelukmu sekarang, Ka?"


Daven tersenyum dan merentangkan tangannya.Sebenarnya dia sudah dari tadi menunggu momen untuk memeluk adik yang baru saja ditemukan itu.


Carlos menghampiri Daven dan masuk kedalam pelukan kakaknya itu.


"Kamu dari mana saja? kok baru muncul sekarang? kenapa kamu membiarkan aku bermain sendirian selama ini?" Daven melerai pelukannya, lalu menyentil jidat Carlos berkali-berkali.


"Kakak yang kemana saja? kenapa tidak mencariku, dan mengajakku bermain bersama?" Carlos membalas candaan Daven.


"Daddyyyy, ( Papaaaahh)" Dean dan Jeslyn berlari bersamaan dan melompat ke gendongan ayah masing-masing.


"Daddy, paman James terluka Daddy! paman James tadi lindungin Dean." Dean menangis histeris digendongan Daven.


"Tenang sayang, Paman James udah tidak apa-apa.Nanti kita lihat dia sama-sama." Carlos membelai lembut rambut Dean.


"Oh ya, bagaimana dengan Clara? dimana wanita Ja*la*ng itu?" Daven menurunkan Dean dari gendongannya sembari mengedarkan matanya untuk mencari keberadaan Clara.


"Dia sudah dilenyapkan oleh anak buahku." celetuk Carlos santai.


Harold mengalihkan tatapannya kearah Andrew yang masih tercenung. Lalu Harold menghampiri Andrew dan menyentuh pundaknya, sehingga Andrew terjengkit kaget.


"Kamu kenapa masih diam saja dari tadi Ndrew? kamu masih memikirkan siapa orangtua kandungmu ya?"


"Iya Dad! Aku bertanya-tanya, segitu tidak berharganya kah aku, sehingga mereka tidak mau merawatku dan justru menitipkan aku pada orang lain?


"Kamu pasti sangat berharga. Mereka pasti punya alasan sendiri melakukan seperti itu. Kamu dengar sendirikan, kalau mereka tetap memikirkan kebutuhanmu, walaupun disalahgunakan oleh mamah angkatmu."Harold memberi tepukan lembut di bahu Andrew, dengan senyuman yang tulus di bibirnya


"Kenapa dia memanggil kamu Daddy, Harold?" Charles mengerutkan keningnya menatap Harold dengan tatapan penasaran.


"Oh, dia anak angkatku. Aku menemukannya dijalanan dulu. Wajahnya mengingatkanku dan Ellen padamu, makanya kami merawat dan membesarkan dia. Ternyata semakin besar dia semakin mirip denganmu.Bukan hanya wajah, sikapnya juga mirip sama kamu." sahut Harold dengan senyuman yang tidak pernah memudar dari bibirnya.


Charles sontak menatap Andrew dalam-dalam. Demikian juga Andrew yang balas menatap Charles dalam-dalam.


Tbc