Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Cerita Jenni.


"Sayang, kamu jangan bercanda. Aku serius bertanya ini!" Alena memasang wajah ketidaksukaanya pada apa yang baru dilontarkan oleh Daven.


"Aku tidak bercanda,sayang! apa Jenni tidak pernah bercerita ke kamu,kalau Jeslyn bukan putri kandungnya dan Andrew?" Daven tersentak kaget, melihat Alena menggelengkan kepalanya.


"Jeslyn,memang putri angkat Andrew dan Jenni, Alena." celetuk Ellen menimpali ucapan Daven.


"Jadi,Mommy dan Daddy pun tahu?" Ellen dan Harrold menganggukkan kepala, untuk menjawab semua kebingungan Alena.


"Tapi,kenapa tidak ada yang memberitahukanku sama sekali? dan bagaimana bisa ?" Alena menggeleng-gelengkan kepalanya, susah untuk mempercayai kenyataan yang baru saja di dengar.


"Kamu dekat dengan Jenni, aku mengira dia sudah memberitahukanmu, sayang."ucap Deven.


"Hmm, dia tidak pernah memberitahukanku sama sekali. Aku tidak terima, aku mau meneleponnya lagi." Alena meraih ponselnya dan langsung menghubungi Jenni.


Hanya butuh 3 kali berdering, panggilan Alena langsung mendapat respon.Jenni menyapa Alena dengan sangat ceria dan semangat, seperti biasanya.


"Jen, apa disana ada Jeslyn?" Alena memastikan terlebih dulu sebelum meminta penjelasan.


"Tidak! dia tadi keluar sama mamah! katanya mamah mau bawa dia ke toko mainan, Jeslyn minta boneka lagi. Kenapa Alena? Kening Jeslyn berkerut,walaupun Alena tidak bisa melihat kerutan di kening Jeslyn.


Setelah mendengar Jeslyn tidak ada di ruangan itu, Alena langsung mengeluarka sisi singanya, mengutarakan semua kemarahannya dan meminta penjelasan.


Jenni menghela nafasnya panjang, diam sejenak, bingung mau memulai dari mana.


"Maaf, Alena! kenapa aku tidak menceritakannya padamu,bukan karena aku tidak menganggapmu sahabat, tapi itu karena aku tidak pernah menganggap Jeslyn sebagai putri angkatku.Tapi, kalau kamu mau tahu, Baik__ aku akan ceritakan padamu."


Flashback on


Jenni keluar dari kamar mandi dengan wajah yang begitu gembira dengan membawa sesuatu di tangannya. Setelah 4 bulan menikah dengan Andrew, akhirnya Tuhan memberikan dia kesempatan untuk menjadi seorang ibu.


"Drew ... Drew!" Jenni berteriak memanggil suaminya. Akan tetapi dia tidak menemukan keberadaan suaminya di dalam kamar mereka.


"Hmm, kemana dia? bukannya dia tadi masih tidur?" batin Jenni sembari mengedarkan matanya, memindai setiap sudut ruangan, tapi tetapa saja dia tidak menemukan suaminya.


"Hmm, apa dia nanti akan bisa mencintaiku,kalau tahu aku hamil? pasti bisa!" Jenni tersenyum simpul, sembari mengelus perutnya yang masih rata. Selama menikah 4 bulan ini, Jenni masih selalu ragu,kalau Andrew tidak mencintainya,karena suaminya itu belum pernah mengatakan kalau dia mencintainya atau tidak.


Jenni memutuskan untuk mencari Andrew ke bawah. Dengan sedikit berlari menuruni tangga, dia meneriaki nama suaminya itu lagi.


"Ada apa Jen?" Andrew muncul dari kamar sebelah kamar mereka. Ya ... ketika bangun dari tidur, dia merasa perutnya melilit dan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari sana. Dia mendengar suara gemericik air, yang menandakan kalau Jenni sedang mandi, dia pun memutuskan untuk menggunakan kamar mandi di kamar sebelah.


Karena terlalu gembira, Jenni tidak memperhatikan langkahnya sehingga dia terpeleset dan jatuh cukup keras dari dua anak tangga terakhir ke lantai.


Jenni menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Dari area pangkal pahanya terlihat darah mengalir dengan deras.Melihat itu, Andrew sontak lari ke bawah dengan wajah panik.


"Andrew,sakit! tolong selamatkan anak kita!" ucap Jenni di sela-sela rintihan kesakitannya


"A-anak?" Andrew tidak bergeming untuk sepersekian detik. Detik berikutnya, dia pun langsung tersadar dan langsung mengangkat tubuh istrinya, dan membawanya ke rumah sakit.


Andrew mondar-mandir di depan ruangan, dimana Jenni sedang diperiksa.Wajahnya kini terlihat sangat khawatir, berharap istri dan calon anaknya selamat.


"Bagaimana keadaan istriku Dok?" tanpa basa-basi Andrew langsung menghambur ke arah dokter, yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan Jenni.


" Emm, istri anda baik-baik saja Tuan Andrew." Andrew menghela nafas lega, begitu mendengar Jenni baik-baik saja. Akan tetapi,rasa leganya hanya bertahan beberapa detik saja, dan langsung berubah hancur ketika mendengar dokter itu kembali berucap.


" Tapi, maaf Tuan! janin yang ada di dalam perut Nona Jenni tidak bisa kami selamatkan,karena benturan yang sangat kuat. Setelah dia sadar nanti, kita akan mengadakan pemeriksaan USG, apakah ada akibat lain lagi dari benturan itu." Papar dokter itu, yang membuat semuanya terasa gelap bagi Andrew. Dia juga merasakan susah untuk bernafas seakan volume udara yang ada di ruangan itu tidak cukup untuk mengisi setiap ronga di paru-parunya.


...----------------...


Andrew membuka pintu ruangan Jenni dengan sangat pelan,lalu menutupnya kembali. Tidak terasa, air matanya merembes keluar melihat keadaan Jenni yang masih belum sadarkan diri.


Andrew duduk di kursi kecil dekat ranjang Jenni.Dia mengelus rambut Jenni,lalu mengecupnya dengan lembut dan cukup lama.


"Drew, apa anak kita baik-baik saja?"begitu matanya terbuka, dan kesadarannya kembali,Jenni langsung menayakan keadaan janinnya.


"Hmm, maaf Jen.Anak kita tidak bisa diselamatkan!" lirih Andrew.


Jenni histeris sambil memukul-mukul dadanya.


"Ini semua salahku, aku tidak hati-hati.Aku yang membunuh anak kita Drew. Aku jahat, aku jahat! Jenni tidak berhenti memukul-mukul dadanya.


"Tenang, Jen ... kamu tenang dulu! ini bukan salahmu,tapi ini memang sudah takdir. Aku juga sedih, tapi dalam hal ini tidak ada yang bisa disalahkan.Nanti kita pasti bisa punya anak lagi." Hibur Andrew sambil merangkul Jenni


"Apa kamu tidak akan meninggalkanku Ndrew? karena kecerobohanku, aku sudah menyebabkan calon anak kita pergi." Jenni masih menangis sesunggukan.


"Itu tidak akan terjadi Jen,kamu tenang saja!" ucap Andrew.


Suara pintu terbuka, dan telihat dokter yang tadi memeriksa Jenni masuk kembali. Dan seperti yang dia katakan sebelumnya, dia akan melakukan pemeriksaan kembali, dengan melakukan pemeriksaan USG. Kening dokter itu berkrenyit saat melihat layar monitor, yang memperlihatkan hasil USG yang hanya dia tahu apa yang tertera di layar itu. Tanpa menunggu lama, Dokter itu kembali melakukan USG,  Histerosalpingografi (HSG) atau pemeriksaan endoskopi pada tuba falopi.


Dokter itu menghela nafasnya panjang, dia lalu menatap Andrew, yang balas menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Tuan Andrew, ada sesuatu yang harus aku beritahu pada anda, bisakah kita berbicara di ruanganku?" Andrew menganggukkan kepalanya dan mengikuti dokter itu keluar, dan dia meminta Jenni agar istirahat dulu sembari mengecup kembali kening Jenni.


...----------------...


"Ada apa Dok? kenapa kita harus membicarakannya di sini?" tanya Andrew sembari mendaratkan tubuhnya di kursi depan meja dokter.


Dokter itu kembali menghela nafasnya.


"Begini,Tuan Andrew. Sepertinya tuba falopi Nona Jenni tersumbat dan itu akan menyebabkan Nona Jenni, akan sulit hamil.


"Maksudnya dokter?" Andrew mengerutkan keningnya.


"Tuba falopi adalah saluran yang menghubungkan antara indung telur (ovarium) dan rahim. Saluran ini berfungsi sebagai tempat berjalannya sel telur dari ovarium menuju rahim saat Ovolusi dan sebagai tempat pertemuan sel telur dengan ****** saat proses pembuatan. Jika tuba falopi tersumbat, maka perjalanan sel telur menuju rahim akan terhambat, Tuan Andrew." papar dokter,menjelasakan.


"Jadi maksud dokter istriku tidak bisa hamil lagi?!"


" Sulit hamil bukan berarti tidak bisa hamil Tuan Andrew.Kita bisa melakukan pengobatan untuk Nona Jenni. Jadi anda tenang saja. Sebenarnya kita bisa melakukan pembedahan . Akan tetapi, pembedahan biasanya dilakukan jika tuba falopi sudah hampir rusak. Sedangkan Nona Jenni belum sampai pada tahap itu. Terkadang, ini bukan metode yang paling baik karena dapat mengganggu aliran darah serta mengurangi keberhasilan peluang hamil lewat bayi tabung.


Namun, metode ini akan diambil jika menjadi satu-satunya cara untuk menghilangkan sumbatan dan menyelamatkan tuba falopi Nona Jenni." Tutur dokter itu kembali menjelaskan.


Setelah itu, dokter kembali menjelaskan pengobatan-pengobatan lain, selain operasi, beserta akibat-akibatnya.Andrew menganguk-anggukan kepalanya,tanda sudah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh dokter itu.


Tanpa mereka sadari, Jenni yang merasa curiga dan penasaran, menyusul dari belakang dan mendengar semua penjelasan dokter. Dia berbalik dan berjalan gontai untuk kembali ke ruangannya.


Setelah keluar dari ruangan dokter, Andrew memasang wajah biasa, seakan semuanya baik-baik saja, agar Jenni tidak terlalu kepikiran.


." Kamu kenapa masih bisa bertingkah biasa Ndrew? padahal kamu tahu,kalau aku akan sulit hamil." Jenni berucap dengan sangat lirih,dengan air mata yang kembali menetes dari sudut matanya.


"Apa kamu tadi menguping pembicaraanku dan dokter?"Andrew menyipitkan matanya ke arah Jenni. Dia mendesah,melihat Jenni menganggukkan kepalanya,membenarkan.


"Sulit hamil, bukan berarti tidak bisa hamil kan? kamu tenang saja, seandainya kamu tidak bisa hamil sekalipun, aku tidak akan meninggalkanmu.Lagian kita juga bisa punya anak melalui program bayi tabung." hibur Andrew menenangkan Jenni.


"Tidak! aku yakin kalau aku akan bisa hamil kembali, tanpa program itu. Aku akan melakukan pengobatan." tekad Jenni.


Andrew tersenyum dan mengelus puncak kepala Jenni. "Dan aku akan mendampingimu dan mendukungmu selalu." ucap Andrew tegas.


"Oh ya, kamu istrirahat dulu di sini. Aku akan membelikan makanan, soalnya kita belum makan dari tadi pagi." Andrew melangkah keluar, setelah Jenni mengiyakan.


Tbc


Sumber mengenai, tuba falopi tersumbat dari Alo dokter. Maaf bila ada kesalahan.