
James dengan sengaja membawa Alena menyusuri jalan yang berlawanan dengan jalan dimana dia menurunkan Dean.
Salju semakin banyak turun menutupi jalanan yang dilalui oleh mobil yang dikendarai oleh James.Sehingga membuat wajah Alena semakin khawatir. Matanya dari tadi tidak pernah lepas dari jalanan, baik sebelah kiri maupun sebelah kanan. James yang dari tadi mengajaknya mengobrol pun tidak digubrisnya sama sekali. Dia tetap fokus menatap jalanan. Hal itu membuat James semakin merasa kesal.
"Alena kita pulang sekarang ya! cuaca semakin dingin,dan ini sudah sangat gelap. Aku tidak mau kalau kamu sampai sakit. Besok pagi-pagi sekali, aku sudah buat janji untuk fitting baju pengantin soalnya! " Ucap James yang masih saja memikirkan tentang kelangsungan pernikahannya.
"Ka James! Kamu bisa tidak, berhenti ngomongin soal pernikahan? keadaan seperti ini kamu masih lebih mementingkan pernikahan! Yang hilang itu anak ku Ka,bukan anak orang lain!, Tolong pakai sedikit hati nuranimu" ucap Alena dengan meninggikan suaranya.
"Alena, aku hanya tidak mau, karena hilangnya Dean, rencana pernikahan kita jadi gagal! "
"Ka, James, kalau Dean tidak ditemukan,maaf rencana pernikahan kita harus dibatalkan! Aku tidak mau menikah di saat anakku belum di temukan! ucap Alena tegas.
James tiba-tiba berhenti mendadak, hingga kepala Alena hampir terbentur ke dashboard mobil. "Apa kamu bilang?! Kamu jangan seenaknya membatalkan pernikahan kita Alena! Kalau kamu membatalkannya, kamu akan terima akibatnya! " ancam James, seraya mencengkram kuat bahu Alena.
"Sekarang, kamu tidak bisa menolak lagi, Kita pulang sekarang! "James melajukan kembali mobilnya dan memutar balik mobilnya di depan.
"Kak James,please jangan pulang! Kalau Kakak mau pulang, Kakak pulang aja sendiri! aku akan cari Putra ku sendiri. " Alena tidak berhenti memukul badan James dan memegang kemudi mobil itu, untuk kembali mencari Dean.
"DIAM ALENA! bukankah aku sudah mengatakan kalau kamu tidak bisa menolak lagi hah?! James tiba-tiba mengambil sesuatu dari dalam laci dashboard dan langsung menyemprotkannya ke wajah Alena yang ternyata semprotan yang berisi obat bius. Sehingga tidak perlu menunggu lama, Alena langsung terkulai tidak sadarkan diri.
Sudut bibir James tertarik membentuk seringai sinis dalam senyumannya. " Maaf Alena, aku harus melakukan hal ini padamu. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi." Batin James sambil membelai wajah tidak sadarkan diri Alena.
********
"Ndrew kita pulang sekarang! penyelidikannya, kita lanjutkan besok saja. Jenni mungkin sudah sangat khawatir dan merindukanmu! " ucap Daven sedikit bercanda ke arah Andrew yang tersenyum mendengar ucapan Daven.
"Tuan bisa aja! Tadi aku sudah mengabari Jenni Tuan kalau kita akan lambat pulang malam ini, dan dia cukup mengerti kok Tuan! " sahut Andrew tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.
"Tapi kita memang harus pulang Drew! di luar salju sudah semakin tebal. Mantel ku kurang cukup tebal untuk menghangatkan tubuhku.Lagian hari ini kita cukup lelah.Aku mau istirahat dulu!"
"Baiklah kalau begitu Tuan!" sahut Andrew seraya meraih mantelnya dan tidak lupa meraih kunci mobilnya. Daven melangkah keluar terlebih dahulu dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana. Setalah itu Andrew terlihat sudah menyusul dari belakang.
Semenjak kepergian Alena dari hidup Daven, perubahan Daven sangat signifikan terlihat. Dulu dia yang selalu hidup serba dilayani, kini sedikit demi sedikit berubah. Seperti saat ini, dia yang biasanya menunggu Andrew untuk sekedar menekan tombol open pada lift, sekarang dia sudah melakukanya sendiri dan bahkan dia dengan sabar menunggu Andrew masuk.
Mobil yang dikemudikan Andrew kini melaju dengan kecepatan sedang. Benar kata Daven, kalau salju sudah semakin menutupi jalan.
"Andrew,.stop di depan situ! Lihat, di sana sepertinya ada anak kecil yang meringkuk kedinginan " teriak Daven ,sebelum Andrew benar-benar melewati anak kecil itu.
Begitu Andrew menghentikan mobilnya, Daven langsung turun dan menghampiri anak kecil itu. Dia melihat wajah anak itu sudah sangat pucat, dan bibirnya sudah membiru. Daven sontak mengangkat anak kecil itu, masuk kedalam mobil. Ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya, ketika dia melihat wajah anak itu untuk pertama kali. Ada perasaan ingin menjaga dan melindungi yang muncul di dalam hatinya.
"Mommy, Dean mau pulang Mommy! Dean lapar, Dingin sekali Mommy! "suara rintihan yang keluar dari mulut kecil itu membuat hati Daven tiba-tiba terasa sakit seperti ditusuk sembilu. Ya.... anak kecil yang hampir mati kedinginan dan kelaparan itu, Dean. Anak kecil yang diturunkan paksa oleh James di jalanan.
Melihat anak kecil itu semakin mengigil kedinginan, tanpa berpikir panjang, Daven membuka pakaiannnya sendiri, lalu dia membuka pakaian Dean yang sudah basah. Daven memakaikan pakaiannya ke tubuh kecil Dean, dan membalutkan mantelnya ke tubuh itu, dan membawa tubuh Dean kedalam pelukannya. Rasa dingin yang menusuk kulitnya benar-benar tidak diperdulikannya lagi. Yang paling dia inginkan saat ini adalah keselamatan anak yang sama sekali tidak dia kenal.
Melihat perhatian Daven terhadap anak kecil itu, membuat keninh Andrew berkerut.Dia baru kali ini melihat Daven seperti itu.Biasanya Daven akan bersikap apatis pada orang yang yang sama sekali tidak di kenalnya.
"Andrew, bisa tidak, laju mobil ini kamu tambah kecepatannya? aku ingin segera tiba dirumah untuk menghangatkan tubuh anak ini! " Daven sedikit berteriak disela-sela rasa dingin yang kini sudah sangat menusuk di kulitnya.
"Baik, Tuan! " Andrew menambah kecepatan mobil yang dikemudikannya sambil berusaha membuka mantel yang dipakainya.
"Tuan, ambil mantel saya! Tuan lebih membutuhkanya sekarang! Saya masih memakai kemeja dan Jas, jadi masih cukup untuk menahan dingin! " ujar Andrew melemparkan mantelnya dengan satu tangan, setelah dia berhasil membukanya.
"Mommy, lapar!" terdengar kembali rintihan dari bibir yang membiru milik bocah kecil bernama Dean itu.
"Ndrew apa kamu masih punya roti, yang kamu beli tadi pagi?" tanya Daven.
"Oh iya Tuan, ada! aku tadi tidak jadi memakannya karena kita langsung bekerja! ini dia Tuan! "Andrew meraih sebuah kantong berisi roti dan air mineral,dari bawah kursi nya menggunakan tangan kirinya.
"Boy, ayo kamu buka mulut! ini makan dulu rotinya! " Daven berusaha memasukkan roti ke dalam mulut Dean yang sedikit susah untuk dibuka. Daven benar telaten dan sabar memasukkan roti itu sedikit demi sedikit ke dalam mulut Dean. Hal itu tidak luput dari perhatian Andrew. Dia semakin merasa heran dan bertanya-tanya kenapa Daven bisa seperhatian itu.
20 Menit kemudian, mobil yang dikendarai, Andrew tiba di sebuah rumah besar.Daven turun dengan tergesa-gesa seraya membawa Dean dalam gendongannya.Dia langsung membawa Dean kedekat perapian untuk menghangatkan tubuh kecil itu.
Seluruh penghuni rumah, kaget melihat Daven membawa anak kecil.Mereka memandang Andrew untuk meminta penjelasan ada apa? dan siapa anak kecil itu.
Andrew pun menceritakan apa yang terjadi pada bocah kecil itu. Semua langsung memandang bocah kecil itu, dengan rasa kasihan.Andrew sekaligus meminta Jenni istrinya untuk memberikan piyama hangat milik Jeslyn, yang bisa dipakai oleh anak laki-laki maupun perempuan.
Tbc
Jangan lupa dukungannya ya Gais.Please like, Vote dan komen. Bagi yang belum mampir ke karyaku yang satu lagi, kalau berkenan mampir ya! klik aja profile ku, pasti akan langsung ketemu judulnya😀🥰🤗