
Daven berjalan memasuki kantornya dengan raut wajah yang sangat gelap. Sehingga para karyawan tidak ada yang berani untuk menyapanya.
"Andrew kamu masuk ke ruanganku!" titah Daven dari line telepon yang terhubung ke ruangan Andrew.
"Ada apa Tuan? " tanya Andrew setelah dipersilahkan masuk oleh Daven.
"Bagaimana dengan penyelidikanmu? kenapa sampai 3 bulan, kamu belum bisa juga menemukan gadis itu? " Daven menatap Andrew dengan tatapan yang sangat dingin.
Andrew merasa tersentak dengan pertanyaan Daven. Jujur, Andrew dalam 2 bulan ini memang benar-benar menghentikan pencariannya. Dia ingin Daven benar-benar bersatu dengan Alena. " Apakah Tuan Daven,benar-benar belum bisa menerima Alena seutuhnya? Apakah yang aku lakukan selama ini, untuk menyatukan mereka berdua itu salah? batin Andrew.
"Kamu ditanya kok malah diam Drew?.Apa selama ini kamu melaksanakan apa yang aku perintahkan dengan baik? atau jangan-jangan kamu tidak melaksanakannya sama sekali? ucap Daven tepat sasaran seraya menyipitkan kedua matanya ke arah Andrew.
"Maaf Tuan! apa Tuan belum bisa menerima Alena sebagai istri anda? " Andrew mengatur nafasnya dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Sepertinya dugaan ku benar.Dari caramu bertanya aku tahu kalau kamu tidak melaksanakan tugas yang kuberikan dengan baik. Jangan bilang kamu mengharapkan aku benar-benar bisa menerima Alena jadi istriku! " Daven menyeringai sinis ke arah Andrew yang merasa tertohok dengan ucapan Daven.
"Asal kamu tahu Andrew perjanjian adalah perjanjian. Dan janji itu harus ditepati. Dan kamu juga tahu isi dari kesepakatan yang sudah disepakati bersama, sebelum aku menikah dengan Alena. Jadi sekarang aku mau kamu melanjutkan pencarian mu lagi. Kamu mengerti Andrew! " suara Daven terkesan sangat dingin saata mengucapkan kata-katanya.
"Baik Tuan! " Andrew menyahuti ucapan Daven dengan suara yang pelan.
"Bagaimana dengan penanganan proyek di daerah County? Apakah semua berjalan dengan lancar? " Daven mencoba mengalihkan pembicaraan dari masalah pribadi ke masalah pekerjaan.
"Semua berjalan dengan lancar Tuan! Dua minggu lagi sudah bisa dilaksanakan pembangunannya." Andrew sudah kembali kepada sikap profesionalnya.
"Baiklah! Dua minggu lagi aku mau kamu pergi sendiri untuk memantau semua perkembangannya di sana! "
"Baik Tuan Daven.Kalau begitu boleh kah aku keluar sekarang? atau adakah yang ingin anda bicarakan lagi?"
"Tidak ada!. Kamu boleh keluar sekarang!" ujar Daven tanpa melihat Andrew.
Andrew keluar dari ruangan Daven dengan wajah yang ditekuk. Dia tidak membalas senyuman manis yang tersungging dari bibir Jenny.
Jenny menghela nafasnya dengan cepat. "Sabar Jenni! bukannya dia memang selalu bersikap dingin padamu? jadi jangan berharap lebih! " Jenni berbicara pada dirinya sendiri untuk sekedar menyemangati dirinya sendiri.
Ya sesuai dengan yang di ucapkan oleh Alena. Jenni memang ternyata sangat berkompeten menjadi seorang sekretaris. Daven tidak menyesali keputusannya untuk menerima Jenny sebagai sekretarisnya.
Andrew masuk kedalam ruangannya sendiri. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa gagal untuk memberikan kebahagiaan buat Alena.
Selama ini Andrew merasa kalau Daven sudah jatuh cinta pada Alena dan demikian juga dengan Alena.Andrew bisa melihat dari sorot mata Daven yang selalu memandang Alena dengan perasaan penuh cinta." Tapi kenapa Tuan Daven masih berniat mencari gadis itu?, apa aku salah menilai perasaan Tuan Daven selama ini? huft... ternyata aku sangat bodoh dalam menilai perasaan seseorang." Gumam Daven yang hanya bisa didengarnya sendiri.
Sejak kejadian terakhir sekali antara Daven dan Alena, Komunikasi di antara mereka berdua benar-benar hampir tidak ada sama sekali. Daven kerap sekali pulang apabila sudah larut malam, dan berangkat kembali pagi-pagi sekali sebelum Alena bangun. Kadang Daven juga tidak pulang sama sekali. Dia lebih memilih untuk menginap di apartemennya.
Sikap dingin dan apatis yang ditunjukkan Daven selama sebulan ini, membuat perasaan Alena semakin sedih. Beberapa hari belakangan ini ,tubuh Alena selalu lemas. Dia hanya ingin berbaring saja.Bahkan selera makannya juga menghilang. Wajah Alena terlihat sangat pucat seperti tidak pernah ter-aliri darah sama sekali. Indra penciumannya juga makin kesini makin sensitif.
" Apa yang terjadi padaku? apakah aku hamil? Tapi itu tidak mungkin. Masa secepat itu? aku kan cuma sekali melakukannya dengan Daven." gumam Alena bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Dengan menahan rasa pusingnya, Alena beranjak dari kasurnya. Dia berniat keluar sebentar untuk membeli alat tes kehamilan instan di apotik dekat kediamannya.
30 menit kemudian, Alena sudah kembali lagi ke rumah dengan membawa kantong yang berisi alat test kehamilan. Dia berencana akan melakukan testnya esok pagi-pagi sekali.Seperti biasa malam ini kayanya Daven tidak akan pulang sama sekali karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam.
Jam 6 pagi, Alena bangun dan masuk ke kamar mandi.Dia pun langsung melakukan test kehamilan dengan alat yang dia beli tadi malam. Dengan perasaan was-was Alena mencelupkan strip testpack itu ke dalam gelas kecil yang sudah di isi dengan urinenya.
Mulut Alena, ternganga dengan mata yang terbuka lebar begitu melihat hasil test pack yang menunjukkan dua garis merah.Itu berarti Alena benar-benar positif hamil.
Alena menyender di tembok kamar mandi, seraya memegang perutnya, Alena menangis sesunggukan.Dia tidak menyangka ada makhluk yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya kini, disaat hubungannya dengan ayah sang janin tidak jelas.
"Bagaimanapun nantinya hubungan mommy dengan Daddy mu nak, Mommy akan tetap menyayangimu. Yang sehat ya sayang di dalam sana!" gumam Alena sambil mengelus-elus perutnya yang masih ramping.
******
Alena sedang berusaha menikmati sarapan paginya demi si buah hati, ketika seseorang masuk ke dalam rumah. Alena yakin kalau yang baru datang itu adalah Daven.
Alena berdiri menyambut Daven dengan seulas senyuman di bibir pucatnya.Tapi senyumnya itu langsung surut ketika dia tidak mendapat balasan dari Daven.
"Ka Daven, untung kamu pulang. Aku mau ngasih tahu sesuatu padamu. " ucap Alena yang berniat memberitahukan kehamilannya pada Daven. Dia berharap, bila sudah mendengar kabar kehamilannya, Daven bisa berpikir ulang untuk tidak menceraikannya.
"Hmm, Biar aku dulu yang bicara ke kamu!" Daven meletakkan sebuah kunci yang dipastikan itu sebuah kunci rumah. Lalu dia meletakkan sebuah surat yang Alena baca tertera kata sertifikat di atasnya.
"Ini, aku sudah membelikan rumah untukmu.Dan aku juga sudah membelikan sebuah butik dan restoran untuk kamu kelola, setelah kita bercerai nanti. Pernikahan kita sampai disini saja.Karena gadis yang aku cari sudah mulai jelas keberadaannya. Dan aku tidak mau,setelah aku membawanya bersamaku, dia tidak mau menikah dengan ku.Karena aku tahu, kalau dia pasti wanita yang sangat baik. Dia pasti tidak mau hidup bersamaku, kalau dia tahu aku sudah menikah.Jadi sebelum dia aku bawa,aku harap kamu sudah meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah yang sudah aku beli untukmu. Untuk surat perceraian aku akan segera kirimkan ke rumahmu nantinya" Daven berucap tanpa menatap Alena sama sekali, karena jujur hatinya sangat terluka ketika di mengucapkan setiap perkataannya.
Tanpa sadar, cairan bening sudah merembes turun, membasahi pipi Alena.Dia tidak menyangka kalau pernikahannya akan segera berakhir. " Kamu sangat kejam ka Daven. Kamu tidak punya hati" suara lirih Alena akhirnya keluar dari mulutnya.
Tbc
Jangan lupa buat like,vote dan komen ya gais.
Sambil nunggu ini up. mampir juga ke karya ku yang satu lagi ya gais🙏 Klik aja profile ku, kalian akan langsung dapat melihat karya kontribute ku yang lain.Thank you