
Langit kota Dublin, sudah mulai berubah warna dari yang tadi masih terang,kini sudah berubah jingga,pertanda malam akan segera datang untuk menyapa.
Alena terlihat sudah mulai bersiap-siap di dalam kamarnya dan dia terlihat sangat cantik.
Daven yang baru saja keluar dari kamar Mandi, langsung terpaku melihat penampilan Alena yang menurutnya luar biasa cantik.
"Sayang kamu cantik sekali! kalau begini, aku tidak akan bisa tenang, membiarkanmu nanti di sana." Daven menyusuri tubuh Alena dari atas sampai ke bawah. Hingga membuat wajah Alena bersemu, malu, sekaligus senang mendengar pujian suaminya.
"Kamu bisa saja memujinya. Hanya sederhana begini saja kamu bilang cantik." Alena memutar badannya, untuk melihat pantulan dirinya lagi ke dalam cermin.
"Hei,apa-apa an gaun kamu seperti itu?! ganti!" pekik Daven, tiba-tiba tidak suka dengan gaun yang di pakai Alena.
"Hah? Kenapa? bukannya tadi kamu bilang cantik? jadi,kenapa harus diganti?" Alena mengrenyitkan keningnya.
"Iya, dari depan aku suka.Tapi, dari belakang kok berlobang begitu? kamu mau pamer tubuh kamu ya?" Daven membolak-balikkan tubuh Alena dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.
Tampilan Depan dan belakang gaun Alena.
"Tapi Sayang! aku sudah malas buat ganti lagi. Gak usah diganti ya?" mohon Alena dengan wajah memelas.
"Gak mau, pokoknya kamu harus ganti! aku gak rela ,ada laki-laki lain yang melihat tubuhmu." Daven tetap bersikeras dengan keputusannya.
Dengan bibir yang mengerucut, akhirnya Alena kembali berjalan ke arah lemari untuk menganti gaunnya. Akhirnya pilihannya jatuh pada gaun panjang berwana baby pink.
"Kalau ini bagaimana sayang?" Alena menunjukkan penampilannya.
"Hmm boleh deh! tapi kenapa kamu makin terlihat cantik sih sayang?" Daven terlihat kembali gusar melihat penampilan istrinya.
"Sayaaangg ... kalau kamu nyuruh aku ganti lagi, kamu pergi aja sendiri!" Alena mencebikkkan bibirnya, sembari mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.
"Iya ... iya, aku tidak akan suruh kamu untuk ganti lagi." Daven mencubit pelan pipi Alena,karena ekspresi Alena yang terlihat menggemaskan di matanya.Lalu dia memberikan kecupan singkat di bibir istrinya itu.
Wajah Alena kembali sumringah mendengar ucapan suaminya. "Kalau begitu ayo kita berangkat!" Alena langsung berdiri, dan dengan senyuman yang tak pernah tanggal dari bibirnya,Alena beranjak mendahului Daven.
"Maksud kamu, kita berangkat dengan penampilanku, yang tubuhku hanya terlilit dengan handuk ya?" ucapan Daven, seketika menyurutkan langkah Alena.
Alena sontak memutar kembali tubuhnya sembari memamerkan deretan giginya, ke arah Daven. " Maaf sayang, aku lupa!" Alena lalu memberikan pakaian buat Daven,lalu memasangkan dasi buat suaminya itu.
"Udah! kamu sudah terlihat sangat tampan sekarang." ucap Alena sembari menepuk-nepuk pelan dada suaminya itu.
Tangan Daven,langsung merangkul pinggang Alena dan berbisik di telinga istrinya itu. "Lebih tampan mana, aku tidak pakai apapun, atau pakai pakaian?" bisik Daven dengan nada yang sensual, hingga membuat tubuh Alena meremang.
Alena segera mendorong tubuh Daven, sebelum sesuatu benar-benar terjadi. "Kamu jangan macam-macam! kita harus berangkat sekarang! nanti kita bisa telat.Jenni mungkin sudah menunggu di bawah." Alena mengunuskan tatapannya ke arah Daven,berharap suaminya itu takut. Tapi, bukannya takut, Daven malah tertawa. Karena menggoda Alena merupakan kesenangan buatannya.
"Ya udah, kita turun sekarang! tapi kamu harus pakai mantel kamu dulu. Di luar masih turun salju sayang! kulitmu tidak setebal itu, untuk bisa menahan dinginnya salju kan?" Daven meraih mantel panjang milik Alena dan membalutkannya di tubuh istrinya itu. Lalu dia juga meraih mantel untuk dirinya sendiri dan membalutkannnya di tubuhnya.
"Alena ... kenapa kamu tidak pakai gaun yang tadi?" tanya Jenni ketika dia melihat tampilan Alena.
"Hmm, kamu tanya aja sama Daven! dia melarang aku untuk pakai, karna punggungnya yang berlobang." sahut Alena dengan pipi yang menggembung kesal.
Jenni mendengus seraya berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa jengah dengan keposesifan Daven yang berlebihan.
"Kamu terlihat sangat cantik Jenni, dengan gaun itu! seandainya Ka Andrew melihatmu berpenampilan begini, dia pasti terpukau dan tidak akan membiarkanmu jauh darinya." puji Alena sembari menatap Jenni dengan tatapan kagum.
"Kamu bisa aja! aku juga berharap seperti itu Al." Jenni kembali terlihat tidak bersemangat.
"Oh ya Alena, apa kamu yakin aku tidak akan kedinginan dengan gaun ini nanti?" wajah Jenni terlihat khawatir.
"Dari sini kita kan pakai mantel Jen, kalau di dalam gedung kan ada pengatur suhu ruangan. Jadi, kita tidak akan kedinginan di sana." sahut Alena.
"Oh iya, aku lupa! mungkin karena aku terlalu gugup Al." Jenni terkekeh,merasa geli dengan diri sendiri.
"Ayo kita berangkat sekarang! anak-anak mana?" Daven mengedarkan tatapannya, ke segala penjuru ruangan, untuk mencari keberadaan Dean dan Jeslyn.
"Oh, mereka sudah ada di depan, dan sudah tidak sabar dari tadi." sahut Jenni. " Oh ya, di depan juga ada 4 orang laki-laki berbadan besar, siapa mereka?" Jenni bertanya sembari menatap Daven.
"Mereka bodyguard yang akan menjaga Dean dan Jeslyn.Masing-masing mereka punya 2 bodyguard.Karena aku dengar dari Alena,kalau Clara berhasil kabur." sahut Daven sembari menggandeng tangan Alena,dan beranjak menuju keluar.
"Terimakasih Tuan Daven! kamu juga menyiapkan bodyguard buat Jeslyn." Jenni merasa terharu dengan perlakuan dan perhatian Daven pada Jeslyn.
"Dad, apa kita akan ada dalam satu mobil bersama dia?" Dean menunjuk ke arah Jeslyn dengan tatapan dan nada tidak senang.
"Iya, sayang! memangnya kenapa?" Daven menyahut sembari berjongkok di depan Dean.
"Tidak apa-apa! hanya saja, aku tidak mau dia nanti berisik di dalam mobil." Dean melirik tajam ke arah Jeslyn.
"Hush, kamu tidak boleh begitu! ayo kita berangkat!" celetuk Alena.
Tidak berselang lama,mobil yang dikemudikan Daven pun melaju dengan kecepatan sedang, disusul dengan mobil yang dikemudikan oleh para bodyguard suruhan Daven dan Andrew.
30 menit kemudian, merekapun tiba di hotel milik keluarga Murpy. Setelah memarkirkan mobil, Daven dan yang lainnya mengayunkan langkah mereka menuju ballroom tempat dimana pesta akan diadakan.
"Jenni, kamu masuk duluan ya! aku mau ke toilet dulu!" Alena menghentikan langkahnya.
"Dean juga mau ke toilet Mom!" celetuk Dean.
"Ya udah, Dean sama Daddy aja ke toiletnya." ucap Daven sambil menggandeng tangan Dean,beranjak menuju toilet laki-laki.
"Mah, Jeslyn mau ikut Bibi Alena ke toiletnya ya?" izin Jeslyn.
"Hmm, apa tidak apa-apa Alena? Jeslyn meminta kebenaran dari Alena.
"Tentu saja tidak apa-apa, Jen. Kamu masuk aja dulu, nanti kita ketemu di dalam!" Alena melangkah dengan menggandeng tangan Jeslyn,setelah Jenni mengiyakan.
Kedua netra Jenni langsung terpukau dengan dekorasi ballroom yang menurutnya sangat indah itu. Tapi, yang paling membuatnya membeku di tempatnya, ketika dia melihat layar besar yang ada di depan yang berisi foto-foto dirinya yang dijadikan, menjadi sebuah video dengan sound lagu 'nothing's gonna change my love for you, by George Benson, dan di akhiri dengan tulisan kalimat ' I Love You Jenni, More than You know"
Kedua netra Jenni seketika berkilat-kilat karena sudah penuh dengan cairan bening yang sudah siap di tumpahkan dari peraduannya. Terlebih, ketika dia melihat Andrew suaminya berdiri di depan layar sembari menatapnya penuh dengan cinta.
Ekspresi Andrew saat menatap Jenni
Jenni, saat memasuki Ballroom
Tbc
Bagi yang tahu lagu Nothing gonna change my love for you.Pasti langsung baper, karena setiap lirik dalam lagu ini, benar-benar romantis habis. Dan ini sangat sesuai buat Andrew untuk mengungkapkan how much He loves Jenni.
Jangan lupa buat like, vote dan komen ya gais.