
Matahari kini sudah mulai memancarkan sinarnya. Daven terlihat menggeliat dan mulai membuka matanya perlahan-lahan. Dia memijat keningnya yang masih merasakan sedikit pusing akibat mabuk tadi malam.
Dia menggerrakan kakinya untuk beranjak ke kamar mandi. Tiba-tiba dia merasa kalau kakinya menyentuh sesuatu. Dia merasa seperti menyentuh kaki,tapi yang pasti itu bukan kakinya.
Dengan jantung yang berdebar kencang, dia memberanikan diri menoleh ke samping dan begitu dia melihat siapa yang ada di atas ranjangnya, matanya membesar karena kaget melihat Alena yang sedang tertidur dengan lelapnya. Dan yang lebih kagetnya dia melihat Alena tertidur tanpa sehelai benangpun yang melekat pada tubuhnya.
Daven sontak menyingkap selimut yang menutup tubuhnya. Dia terkesiap melihat kenyataan, kalau keadaannya sama dengan Alena,yang tidak memakai apapun pada tubuhnya.
Daven menggusak rambutnya dengan gusar. Dia kembali menoleh ke arah Alena. Dia melihat tubuh Alena sekarang sudah seperti sisik ikan. Banyak tanda-tanda kepemilikan yang dibuat olehnya pada tubuh Alena.
Alena terlihat menggeliat dan tanpa sengaja selimut yang tadinya menutupi tubuhnya tersingkap sehingga dadanya tersembul manja keluar dari balik selimut. Daven meneguk ludahnya sendirk berkali-kali melihat pemandangan indah yang ada di depannya. Tanpa di sadarinya ada yang menggeliat di bawah sana. Sebelum gairahnya mengambil alih pikirannya, Daven langsung menutup kembali dada Alena dengan selimut. Dia langsung beranjak turun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang masih berbau alkohol yang sangat menyengat.
Sementara itu, sepeninggal Daven ke kamar mandi, Alena membuka matanya perlahan-lahan dan mengucek kedua matanya, agar matanya bisa ber-adaptasi dengan cahaya yang masuk ke matanya.
Dia melihat ke sampingnya dan melihat kalau ranjang itu telah kosong.Suara gemericik air dari kamar mandi,menyadarkan Alena kalau Daven kini tengah mandi. Alena merasa sedih, karena Daven tidak membangunkannya, seakan-akan tidak ada yang terjadi diantara mereka berdua.
Dengan menahan rasa sakit di area pangkal pahanya, Alena bangkit dari ranjang,lalu memungut pakaiannya dari lantai.Dia mengenakan pakaiannya asal dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Daven membuka pintu kamar mandi perlahan dan mengintip sekilas untuk melihat apakah Alena masih tidur atau sudah bangun. " Hmm, mana dia? " gumamnya setelah tidak melihat adanya Alena di atas ranjangnya. Dia melihat ada noda darah yang menempel di atas sprei ranjangnya,yang menandakan kalau kejadian yang dia alami itu kenyataan. Padahal tadi dia sempat berharap kalau itu hanya sebuah mimpi.
*******
Alena kini sudah selesai membersihkan tubuhnya. Walaupun area pangkal pahanya masih terasa sakit, Alena tetap melangkah turun menuju dapur, untuk menyiapkan sarapan seperti biasanya.Hari ini Alena sengaja memakai pakaian dengan leher yang tinggi untuk menutupi bekas ciuman Daven di lehernya.
Hari ini Alena membuat sarapan yang sangat sederhana. Dia hanya membuat ikan tuna sandwich sebagai sarapan dan tidak lupa menyajikan kopi buat Daven seperti biasanya.
Daven terlihat sudah rapi dengan kemeja serta jas saat turun dari atas. Dia mendaratkan tubuhnya duduk di kursi tanpa menyapa Alena sama sekali. Dia melihat sarapan sudah tersaji di atas meja. Akan tetapi, dia tidak menyentuhnya sama sekali. Dia hanya menyeruput kopi buatan Alena tanpa menoleh sedikitpun pada Alena, sehingga timbul kesedihan di mata Alena yang merasa seperti sampah, setelah semuanya dia serahkan pada Daven.
"Aku harap kamu melupakan kejadian semalam! Itu di luar kendaliku dan aku sama sekali tidak sadar sudah melakukan itu padamu. Itu murni ketidak-sengajaan. Jadi, kamu jangan berharap lebih,kalau aku akan tetap mempertahankanmu kelak.Aku akan tetap menceraikanmu kalau aku sudah menemukan wanita yang selama ini aku cari " ucap Daven tanpa menatap Alena sama sekali.
"Baik! Aku mengerti. Aku juga tidak akan menuntutmu dengan apa yang sudah terjadi. Karena itu murni kecelakaan seperti yang kamu katakan tadi.Mudah-mudahan kamu segera menemukan wanita yang kamu cari, agar aku bisa segera lepas darimu " ucap Alena berusaha tegar.
Daven mengepalkan kedua tangannya, mendengar kata-kata Alena, yang menyiratkan kalau dia seakan-akan ingin cepat-cepat berpisah dengannya. " Cih, sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk berpisah dengan ku Alena!. Apa kamu sudah tidak sabar untuk kembali bersama dengam Kaka James mu itu?" sindir Daven sarkasme.
"Bukannya kamu yang tidak sabar untuk segera berpisah denganku? jangan memutar-balikan kata-kata! " Alena membalas ucapan sarkas Daven dengan ucapan yang sarkas juga. Entah dari mana Alena memiliki keberanian untuk mengucapkan kata-kata itu.
Daven mendengus melihat Alena yang sudah semakin berani untuk membalas semua ucapannya. Dengan kesal dia berdiri dan menghunuskan tatapan yang sangat tajam kepada Alena.
"Sepertinya, selama ini aku sudah bersikap terlalu lembut pada mu Alena.Sehingga kamu semakin berani melawanku " ucap Daven
Alena sedikit ketakutan melihat sorot mata Daven yang kini sudah berkilat--kilat, karena kemarahan Daven, sudah sampai ke ubun-ubun. Dia tidak mejawab sama sekali ucapan Daven.
"Tenang saja, kamu akan segera mendapatkan keinginanmu" ucap Daven lagi ,sambil beranjak meninggalkan Alena.
Cairan bening kembali berhasil lolos keluar dari kedua mata Alena. "Aku memang bodoh! aku tidak bisa menahan diriku, untuk tidak jatuh cinta padamu Ka Daven. Harusnya aku sadar, kalau aku tidak ada artinya dalam hidupmu.Aku telah salah mengartikan kebaikanmu selama ini. Aku bodoh .... bodoh!" Alena merutuki kebodohannya sendiri sambil membentur-benturkan kepalanya ke atas meja makan.
Sementara itu, Daven memukul-mukul kemudi mobilnya dengan sangat kesal. Dia bahkan membenturkan kepalanya, ke alat kemudi mobilnya berkali-kali. Sehingga keningnya sedikit memar. Dia merasa dirinya saat ini sudah seperti pecundang dan sangat bejat. Dia dengan tega mengatakan pada Alena untuk melupakan semua yang sudah terjadi. "Laki-laki seperti apa aku ini? apa aku masih pantas disebut manusia? " Tanpa sadar dari kedua matanya, kini cairan bening sudah membasahi pipinya.
"Aku sudah mengambil paksa kesucian dari dirinya. Tapi aku masih tega mengatakan perpisahan.Aku memang tidak pantas disebut manusia lagi " Lagi-lagi Daven merutuki kesalahannya.
"Tapi kenapa, kenapa dia juga sepertinya sangat ingin berpisah denganku? Apakah dia benar-benar mencintai si brengsek James itu?" ucap Daven kesal sambil mencengkram alat kemudi itu kuat-kuat. Entah kenapa, rasanya dia tidak sanggup membayangkan Alena hidup bahagia bersama James.
"Arghhh! " teriak Daven di dalam mobilnya. Untungnya mobil Daven kedap suara sehingga tidak ada yang satu pun yang mendengar teriakan Daven.
Tbc
Please tetap mendukung karya dari Author remahan ini ya gais.Please like, rate vote dan komen.Thank you