
Alena berjalan keluar dan melihat anak buah James sudah terkapar pingsan kena peluru bius yang ditembakkan oleh anak buah Daven dari jauh. Mereka sengaja menggunakan alat peredam suara pada senjatanya, sehingga suara tembakan tidak terdengar sampai ke dalam dan menimbulkan kecurigaan James.
Andrew yang memang diperintahkan oleh Daven menunggu diluar, menampilkan senyumannya menyambut kehadiran Alena di luar. Alena berlari, hendak memeluk Andrew, kakak yang sangat dirindukannya selain Daven.
"Stop!" seru Andrew sebelum Alena benar-benar memeluknya.Sehingga menimbulkan kerutan di kening Alena.
"Kenapa Ka Andrew? " tanya Alena. " Kakak gak mau memelukku? apa Kakak tidak merindukanku?" sambungnya lagi.
"Hmm, bukan begitu Alena, tentu saja aku merindukanmu dan ingin memelukmu.Tapi, aku masih sayang sama nyawaku." bisik Andrew pada dirinya sendiri sembari melirik ke arah Daven yang menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin, mengalahkan dinginnya salju yang menyelimuti tanah di halaman kediaman James.
"Hmm, Kakak bukannya gak merindukanmu. Cuma tubuh Kaka sangat kotor, nanti kamu ikutan kotor," Andrew berusaha menjauhkan jaraknya dari Alena.
"Aku gak perduli Kaka, aku sangat merindukanmu.Aku mau memelukmu," Alena kembali mendekati Andrew. Tapi, sebelum dia berhasil memeluk tubuh Andrew, tangan besar milik Daven langsung menyambar tangan Alena dan membawanya pergi dari hadapan Andrew menuju mobil. " Enak aja ,mau peluk-peluk Andrew duluan.Aku aja belum kamu peluk." gerutu Daven di dalam hatinya.
Jantung Alena berdetak dengan sangat kencang, ketika melihat tangan Daven terpaut ke tangannya. Ingin rasanya dia menepis tangan Daven, tapi keinginan itu, sangat berlawanan dengan kata hatinya dan kali ini yang menang itu kata hatinya. Sehingga dia tetap membiarkan tangan Daven menggenggam tangannya.
Bukan hanya Alena yang merasa gugup. Daven juga merasakan hal yang sama. Peluh kini sudah menetes di keningnya serta jantung Daven juga kini berdetak 3 kali lebih cepat dari biasanya, seperti habis lari maraton.Dia ingin sekali membawa Alena ke dalam dadanya dan mendekapnya dengan erat. Tapi Daven masih berusaha untuk menahan keinginan hatinya.
Suasana di dalam mobil kini sangat canggung. Baik Daven maupun Alena tidak ada yang mau memulai percakapan terlebih dahulu. Andrew yang sedang mengemudikan mobil, menarik ekor matanya melirik melalui kaca spion,melihat kecanggungan yang tercipta antara Daven dan Alena.
Andrew menghela nafasnya, dan dengan sengaja memutar lagu a thousand years dari Katty perry. Dia sengaja mengeraskan suara pada saat lagu itu ada di refren
I have died every day waiting for you
Darling, don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Daven merasa tersindir dengan lagu yang diputar oleh Andrew. Dia menatap tajam ke arah Andrew lewat kaca spion. Saat Andrew kembali melirik ke kaca spion, matanya langsung bersiborok dengan tatapan dingin Daven. Andrew meneguk ludahnya dan buru-buru mematikan musik itu.
"K-Ka Daven, putra ku dimana? dia baik-baik saja kan?" Alena memberanikan diri, membuka mulutnya untuk memulai percakapan dengan Daven.
"Ya, dia baik-baik saja. Dean sekarang ada bersama mommy dan daddy." Sahut Daven.
"Mommy, Daddy? mereka ada di sini?"Alena kembali bertanya. Tidak bisa dipungkiri, Alena juga sangat merindukan kedua mertuanya itu.
"Iya, mereka ada di sini,"
"Aku sangat merindukan mereka," gumam Alena, tapi masih bisa didengar oleh Daven.
Alena sangat gugup, saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Daven. Dia ingin sekali menjawab iya, tapi Alena sangat malu untuk mengatakannya. Hati Alena juga sekarang masih penuh tanya, darimana Daven tahu kalau Dean putranya.Sedangkan dia tidak pernah memberitahukan Daven, kalau dia meninggalkan rumah dalam keadaan hamil. Dan pertanyaan yang paling ingin dia tanyakan, apakah Daven sudah menikah kembali dengan wanita yang dicarinya selama ini.
"Kalau gak mau jawab, gak usah dijawab!" tukas Daven yang melihat Alena yang terdiam dan gugup untuk menjawab pertanyaannya tadi.
"Em..., em Ka, terima kasih sudah menolong putraku."Ucap Alena sambil menundukkan wajahnya dan meremas kedua tangannya.
"Dean juga putra ku Alena! Jadi, kamu tidak perlu berterima kasih." ucap Daven sedikit ketus, karena merasa kesal, Alena sepertinya menganggapnya seperti orang lain.
"D-dari mana Kakak tahu kalau Dean itu putramu? " Alena tidak bisa lagi untuk tidak menanyakan hal yang paling ingin ditanyakannnya itu.
"Naluri seorang ayah itu tidak bisa dibohongi Alena. Dari awal aku melihatnya, aku sudah merasa seperti memiliki kedekatan dengannya. Dan aku tahu, Kamu meninggalkan ku dalam keadaan hamil.Mommy menemukan alat tes kehamilanmu di ton sampah." Daven memaparkan dengan jelas.
Mobil tiba-tiba berhenti melaju dan berhenti di sebuah rumah yang besar.
"Mommyyyy," teriak seseorang yang berlari keluar dari dalam rumah, sesaat dia baru keluar dari dalam mobil.
Alena merentangkan kedua tangannya, menyambut bocah kecil yang membuat dia merasa khawatir semalaman. Alena memberian kecupan yang bertubi-tubi pada seluruh wajah Dean putranya.
"Mom, Dean minta maaf ya! gara -gara Dean, Daddy bisa menemukan Mommy. Mommy sama Daddy gak usah main hide and seek(petak umpet) lagi ya! Boleh main tapi Mommy jangan jauh-jauh lagi sembunyinya! Kasian Daddy capek nyarinya" Celoteh Dean yang keceriaannya sudah kembali.
"Hide and seek? siapa yang lagi main hide and seek? " Tanya Alena dalam hati sembari menarik ekor matanya melirik ke arah Daven yang kini berpura-pura tidak melihat.
"Welcome back sayang." ucap Ellen dengan seulas senyuman yang tersemat di bibir, sambil merentangkan kedua tangannya dan manik mata yang sudah penuh dengan cairan bening.
Alena yang memang sudah sangat merindukan Ellena, segera menghambur, memeluk ibu mertuanya itu.
"Kamu tidak mau memeluk Daddy? " celetuk Harrold yang muncul dari belakang Ellen.
Alena tersenyum,dan melerai pelukannya dari tubuh ibu mertuanya dan langsung memeluk ayah mertuanya itu.
"Hai, Alena...., aku merindukanmu." sapa Jenni dengan sebuah senyuman dan mata yang berkaca-kaca. Dia benar-benar sangat merindukan sahabatnya itu.
"Jenni? Kamu kok ada di sini?" tanya Alena dengan raut wajah yang bingung, apalagi ditambah dengan kemunculan gadis kecil yang imut bersamanya.
"Bertanyanya nanti saja! sini peluk aku, aku sangat merindukanmu."ujar Jenni sembari menarik Alena kedalam pelukannya.
Tanpa mereka sadari, dari tadi ada seseorang yang kepalanya sudah mengeluarkan asap dan wajah yang memerah, karena belum mendapatkan pelukan dari Alena. Dengan mendengus dan wajah yang dingin serta kaku, Daven berjalan masuk ke dalam rumah,melewati semuanya tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya.
"Enak aja kalian semua main peluk-peluk Alena,tanpa merperdulikanku?" Daven menggerutu didalam hati.
Semua yang ada disana, saling silang pandang., bingung dengan apa yang terjadi pada Daven.
Tbc
Jangan lupa dukungannya ya gais Please like, vote dan komen. Thank you😍🙏