Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Kabar gembira.


Alena mengayunkan langkah, masuk ke dalam rumah sakit, dan langsung mengambil nomor antrian. Dia tidak menggunakan nama besar Daven untuk menyerobot antrian.


"Alena apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tiba-tiba suara cempreng yang sangat dikenalinya terdengar memekakkan di telinganya.


"Aduh Jenni, bisa tidak kamu berbicara pelan? ini rumah sakit!" Alena menyebikkan bibirnya sembari mengusap-usap telinganya yang berdengung.


"Hehehe, maaf! aku hanya sedikit surprise saja lihat kamu ada di sini. Kamu hamil ya?" bisik suara Jenni kembali.


"Tadi pagi aku cek sih iya, Jen. Makanya aku ingin memeriksanya sekarang biar lebih jelas.Kalau kamu,lagi apa di sini? apa kamu mau periksa kehamilan juga?"ekor mata Alena menyipit,penasaran.


"Hmm, iya Alena! belakangan ini keinginanku untuk melakukan hal begituan sangat tinggi.Aku tidak mengalami morning sickness parah,seperti hamil Jeslyn dulu.Tapi aku jadi lebih suka makan makanan kesukaan Andrew." tutur Jenni,yang membuat Alena tertawa.


"Kamu kok tertawa? memangnya ada yang lucu?" Jenny menautkan kedua alisnya.


"Aku tertawa, karena merasa lucu, apa yang kamu rasakan, itu juga yang aku alami sekarang!" tawa Jenni pecah seketika, bahkan lebih keras dari Alena. Sehingga Alena menutup wajahnya merasa malu,karena semua mata mengarah pada mereka berdua dengan sorot mata kesal.


"Nona Alena!" akhirnya nama Alena dipanggil.Bukan hanya Alena yang masuk, tapi Jenni juga ikut masuk.


"Kenapa kamu ikut masuk?" bisik Alena.


"Biar sekalian aja Alena.Nomorku masih jauh soalnya." Jenni kembali berbisik sembari cengengesan.


Alena menghela nafasnya, menggeleng-gelengkan kepalanya, jengah melihat tingkah wanita yang baru saja naik pangkat itu, dari seorang sahabat, menjadi Kakak ipar.


Setelah berbasa-basi sebentar dengan dokter, dengan menanyakan semua keluhan,yang Alena dan Jenni rasakan, akhirnya Alena dipersilahkan terlebih dulu untuk berbaring di atas ranjang.Lalu dokter itupun meletakan probe di bagian bawah perut Alena yang sudah lebih dulu diolesi dengan cream.


"Hmm, anda benar-benar sudah hamil Nona Alena, dan usia kehamilan anda sekarang masih sangat muda, 4 minggu." jelas dokter itu sembari tetap, menggerakkan alat probe di perut Alena.


"Emm, sepertinya anda mengalami kehamilan ganda Nona, karena ada 2 kantung yang muncul di sini." sambung dokter itu kembali, tanpa menaggalkan senyuman di bibirnya.


"A-aku hamil kembar Dok?" Alena bertanya,berusaha meyakinkan pendengarannya.


"Iya,Nona! lihat! di sini sangat jelas terlihat, kalau anda benar-benar mengandung anak kembar."dokter kembali menegaskan dengan sangat yakin.


Senyum tersungging menghiasi wajahnya yang kini tampak sangat bahagia, ditambah dengan manik matanya yang kini berbinar-binar.


"Apa ada sesuatu larangan atau hal tidak boleh aku lakukan Dok? misalnya melakukan itu dengan suami?" tanya Alena malu-malu.


Dokter itu tersenyum, dan sudah menduga akan muncul pertanyaan seperti itu. Akan tetapi,pertanyaan seperti itu biasanya ditanyakan oleh suami, kalau kali ini si wanitanya yang bertanya.


"Hmm, tidak masalah Nona, yang penting jangan berlebihan dan tetap hati-hati, mengingat usia kandungan anda masih sangat muda."


"Oh, ok, Dok! terima kasih!"


"Iya, Nona, sama-sama! nanti saya akan kasih resep vitamin dan asam folat, yang harus anda konsumsi setiap hari,untuk perkembangan kedua janin anda Nona!


"Selamat ya Alena!" Jenni mengelus pundak Alena dengan lembut, dan Alena hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Sekarang giliran anda Nona Jenni!" Jenni pun melangkah ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang itu.


"Wow, apa ini kebetulan atau bagaimana, aku tidak tahu! anda juga hamil anak kembar Nona Jenni, dan usia kandungan anda sudah 6 minggu."


Jenni tersentak kaget, mendengar penuturan dokter yang masih setia menggerakan probe di perutnya. " Anda tidak bercanda kan Dok?" Jenni bertanya, untuk meyakinkan kembali pendengarannya.


"Iya, Nona, saya tidak bercanda! di sini jelas terlihat ada dua kantung janin di dalam kandungan anda. Saya harap, anda juga melakukan seperti yang saya sarankan pada Nona Alena!"


"Siap Dok!" sahut Jenni cepat.


"Baikkah! sekali lagi selamat untuk kalian berdua, " dokter itu mengulurkan tangannya, dan di sambut dengan senyuma yang tidak pernah tanggal dari bibir kedua wanita itu.


*******


"Jen, tolong kamu jangan kasih tahu dulu sama Daven ya! aku mau buat kejutan untuknya sebagai kado buat hari Anniversary kami 3 hari lagi." ucap Alena, ketika mereka kini sudah keluar dari ruangan dokter dan kini berjan menuju tempat mereka mengambil vitamin dan asam folat yang sudah diresepkan oleh dokter tadi.


"Siap! habis mengambil vitaminnya, aku ikut ke rumahmu ya? soalnya Mamah Hanna dan Papah Charles katanya tadi mau ke rumahmu!"


"Kamu serius? kenapa kamu baru kasih tahu sekarang? kalau kamu kasih tahu dari tadi kan, aku bisa tidak harus mengambil nomor antrian agar bisa cepat pulang! kamu ini gimana sih?!" omel Alena kesal.


"Maaf aku lupa! hehehehe!"ujar Jenni, sembari mengangkat tangannya membentuk huruf V.


Alena dan Jenni segera bergegas melangkah keluar dari rumah sakit setelah mereka sudah mendapatkan apa yang mereka butuhkan.


Jarak rumah sakit ke rumah Alena tidak terlalu jauh, sehingga tidak perlu membutuhkan waktu yang lama mereka kini sudah tiba di rumah Alena dan Daven.


"Halo Mah,Pah kalian sudah menunggu lama?" sapa Alena sembari memeluk Hanna dan Charles bergantian.


"Lumayan! kamu darimana saja Sayang? kenapa ponsel kamu kami hubungi tidak kamu jawab?" tanya Hanna setelah pelukan mereka terlerai.


" Aku dari rumah sakit Mah, dan ketemu Jenni di sana?kebetulan ponselku ketinggalan di rumah" wajah Hanna sontak berubah panik dan khawatir mendengar ucapan Alena.


"Kenapa kalian ke rumah sakit? kalian tidak kenapa-napa kan?" cecar Hanna, sembari mengguncang-guncang pelan tubuh Alena dan Jenni.


"Kami baik-baik saja Mah! mamah tenang saja!" Jenni buka suara, menenagkan Hanna ibu mertuanya.


"Kalau kalian tidak sakit, jadi, buat apa kalian ke rumah sakit?" Hanna belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Jenni.


"Hmm, sebentar lagi, Mamah dan Papah akan mendapat cucu lagi dariku dan Jenni, makanya kami ke rumah sakit buat memeriksakannya Mah!" Alena menjelaskan dengan tidak lupa menyematkan seulas senyuman di bibirnya.


"Hah? kalian berdua tidak bercanda kan?" Hanna bertanya lagi untuk memastikan pendengarannya tidak salah dengar.


"Iya, Mah! bahkan cucu mamah nambahnya tidak tanggung-tanggung! Mamah dan Papah akan mendapat cucu 4 sekaligus.Dua dariku dan dua dari Jenni, karena kami sama-sama mengandung anak kembar." Alena kembali menjelaskan panjang lebar, dengan raut wajah yang sangat senang.


Hanna sontak menghambur memeluk Alena dan Jenni bergantian.Charles juga melakukan hal yang sama dengan senyuman yang tidak memudar dari wajah mereka.


"Apa kami, sudah ketinggalan berita yang begitu menggembirakan di sini?" Semua mata, kini beralih ke arah pintu untuk melihat si pemilik suara yang baru saja datang.


Tbc