Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Mereka memerlukan Psikiater.


"Ka Steve, aku mau bertemu dengan papah dan mamah! aku mau bertanya asal-usulku." celetuk Andrew, mengalihkan tatapannya dari Charles.


"Kamu hanya bisa bertemu dengan papah, karena mamah sudah meninggal karena kecelakaan 2 tahun yang lalu." raut wajah Steve berubah muram.


Andrew menghela nafasnya, memejamkan matanya sejenak. Ada rasa sedih yang tiba-tiba menyelinap ke dalam hatinya, mendengar kematian wanita yang dia anggap mamahnya dulu. "Baiklah! aku minta maaf kerena sudah membuatmu sedih." Andrew memasang senyum getirnya.


"Tidak apa-apa! besok aku akan atur pertemuanmu dengan papah. Karena sejujurnya aku pun penasaran siapa keluargamu sebenarnya. Aku rasa keluargamu bukan orang sembarangan." sahut Steve.


"Ya, udah, mari kita keluar dari tempat ini! Alena sudah bising di rumah." tukas Daven yang dari tadi, selalu mendapat pesan dari Alena, yang makin hari, makin menyebalkan sekaligus menggemaskan bagi Daven.


"Apa kita tidak ke rumah sakit dulu buat lihat keadaan James?" Ellen buka suara.


"Hmm, sebaiknya nanti saja,Mom! setelah kami pulang lebih dulu ke rumah.Aku akan kesana bersama Alena." Daven melangkah keluar dengan tangan yang menggandeng Dean.disusul yang lainnya.


Setelah sampai di luar, Daven melihat mobil James yang masih terparkir. Dia mencoba membuka pintunya, ternyata tidak terkunci sama sekali, dan kuncinya juga kebetulan masih tergantung di dalam mobil.


"Andrew kamu bawa mobilku saja bersama Steve. Sedangkan aku, aku akan bawa mobil James."Daven melemparkan kunci mobilnya ke arah Andrew.


"Charles, kamu ikut kami saja dulu ke rumah.masih banyak hal yang perlu kita bicarakan."ucap Harold.


" Kamu tidak takut kalau aku merebut Ellen darimu?" Charles mencoba menggoda Harold.


"Nggak! karena aku yakin, kalau hatimu sudah sepenuhnya milik Hanna, dan hati Ellen sudah sepenuhnya milikku"


"Percaya diri sekali kamu! aku belum saja menunjukkan pesonaku lagi. Aku yakin kalau aku tunjukkan, Ellen akan terpesona lagi padaku."


"Coba saja! Kalau Ellen terpesona, aku akan mencari Hanna sampai ketemu dan berusaha untuk membuat dia mencintaiku." Harold balik menggoda.


"Hei, aku potong juniormu,kalau kamu berani melakukan itu." sembur Charles kesal.


"Sudah, sudah, kalian berdua sudah tua, masih aja bekata seperti itu." Sela Ellen menghentikan perdebatan dua pria tua itu.


" Hei, jangan salah, usia kami boleh sudah berumur tapi junior kami masih berumur 17 tahun. emangnya dirimu?" sergah Charles sembari merangkul pundak Harold.


"Hei, kalian kok jadi menyerangku?" Ellen menghunuskan tatapan tidak suka pada kedua pria yang baru saja berdamai itu sembari mengerucutkan bibirnya.


Bukanya takut, Harold dan Charles justru menertawakan ekspresi Ellen. "Udah kamu gak usah cemberut seperti itu.sudah tidak sesuai sama umur. Kalau dulu terlihat menggemaskan kalau sekarang terlihat bagaimana Charles?"


"Terlihat menggelikan!" sahut Charles yang dibalas dengan tawa yang pecah dari semua orang.


5 menit kemudian Semua sudah masuk dalam mobil, kecuali Cathleen yang masih bingung mau ikut mobil siapa.


Carlos yang melihat Cathleen yang masih kebingungan, membuka jendela mobilnya dan mengeluarkan kepalanya.


"Hei, ayo masuk ke dalam mobilku! mau berapa lama kamu berdiri di sana,Nona?!"


"Tadi, anda tidak mengajakku sama sekali Tuan.Bagaimana mungkin aku bisa tahu kalau aku bisa menompang dalam mobilmu." cetus Catleen dengan ekspresi kesal sambil membuka pintu mobil di belakang kemudi.


"Hei, kamu duduk di depan! kamu kira aku supirmu. Cepat!"


Cathleen menutup kembali pintu mobil itu, dengan ekspresi yang sangat kesal. Dia berjalan mengitari mobil terlebih dulu sebelum membuka pintu depan mobil. Lalu dia mendaratkan tubuhnya duduk di samping Carlos.


Carlos melajukan mobilnya,menyusul yang lainnya setelah Cathleen benar-benar sudah duduk dengan nyaman.


"Hmm, kenapa dari tadi kamu melirik-lirik aku? kalau ada hal yang ingin kamu sampaikan, silahkan sampaikan!" ujar Carlos tanpa mengurangi konsentrasinya,pada jalanan.


Cathleen memperbaiki duduknya, untuk menghadap ke Carlos. Dian menarim nafas sejenak, lalu menghembuskannya dalam sekali hentakan, untuk mengurangi rasa was-wasnya.


" Ngomong-ngomong Tuan, aku tidak senang dengan cara anda,yang menculik anak-anak seusia Dean dan Jeslyn.Itu benar-benar bisa meninggalkan trauma dan ketakutan yang besar pada kedua anak itu, dan tentu saja itu sangat berpengaruh buat mental mereka berdua. Terlebih tadi, Tuan James tertembak di depan Dean." Catleen yang notabene seorang guru akhirnya memberanikan diri mengungkapkan pendapatnya.


Carlos, tersenyum miring mendengar ucapan Catleen, yang terkesan mengguruinya.


"Oh ya? jadi bagaimana caranya untuk memulihkan rasa traumanya mereka ya? aku jadi merasa sangat bersalah Nona." Carlos memasang wajah pura-pura menyesal dan merasa sangat bersalah.


"Ya, anda harus memanggil psikiater untuk memulihkan trauma mereka! masa hal seperti itu saja anda tidak tahu!"


"Aku benar-benar tidak tahu Nona__," Carlos melirik kearah Cathleen sebentar.


"Cathleen! kamu panggil saja Cathleen." Sahut Cathleen yang mengerti makna lirikan Carlos.


"Oh iya, Nona Cathleen.Aku benar-benar tidak tahu.Bagaimana kalau anda saja yang jadi psikiater buat kedua anak itu?Anda kan seorang guru, dan setahu saya kalau guru itu juga belajar psikologi walaupun gak sepenuhnya. Dan aku rasa mereka berdua akan lebih nyaman bila bersama anda." usul Carlos dengan senyum simpul.


"Tapi aku bukan ahlinya Tuan__"


"Panggil aku Carlos!"


"Iya, Tuan Carlos." Cathleen menyambung ucapannya yang sempat terpotong tadi.


"Bukannya kenyamanan yang lebih utama Nona Cathleen? Aku rasa dengan pendidikan psikologi dasar yang anda terima, sudah lebih dari cukup, bila digabung dengan rasa nyaman yang didapat oleh kedua bocah itu."


"Anda memang keras kepala, Tuan Carlos! aku sudah bilang aku bukan ahlinya. Anda mengerti tidak?!" Cathleen mendengus,sembari mengembungkan pipinya dengan kedua tangan yang bersedekap di dadanya.


Carlos, tiba-tiba menghentikan mobilanya, dan menatap Tajam ke arah Cathleen. " Apa anda mau aku turunkan di tengah jalan ini Nona? Anda sudah cukup berani membentakku."Carlos berpura-pura marah.Entah kenapa, dia merasa tertarik untuk menggoda Cathleen, dan dia merasa senang melihat raut wajah ketakutan yang terpancar dari wajah Cathleen.


"Ma-maaf Tuan! bukan maksud aku begitu. A-aku tadi cuma___" Cathleen terdiam, bingung mau mengucapkan apa lagi.


"Cuma apa? lagian bukan kepala namanya kalau bukan keras Nona Cathleen! Lihat kepala anda saja keras." Carlos menyentil jidat Cathleen tanpa melepaskan tatapannya pada manik mata Cathleen yang mengerjap-erjap, dan menatap bibir Cathleen yang kini sudah digigit oleh pemiliknya sendiri.


Carlos buru-buru menarik mundur kepalanya sendiri. Dia takut kebablasan dan bisa saja benar-benar mencium bibir Cathleen.


"Sial! padahal aku mau menakutinya saja, kok jadi aku yang terpancing." Carlos mengumpat pada dirinya sendiri.


Carlos kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.Keheningan terjeda cukup lama, kembali tercipta diantara keduanya. Carlos buru-buru memutar musik, untuk menutupi kegugupannya. Sedangkan Cathleen mengalihkan tatapannya menatap jalanan diluar.


Tbc


Please like, vote dan komen. Thank you😀😀


Liza Soberano as Cathleen