
"Apa kami, sudah ketinggalan berita yang begitu menggembirakan di sini?" Semua mata, kini beralih ke arah pintu untuk melihat si pemilik suara yang baru saja datang.
"Eh, Mommy, Daddy, sejak kapan ada di sana?"
"Sejak kamu mengatakan kalau mamah dan Papahmu akan mendapat cucu lagi. Sepertinya kita tidak dianggap lagi sayang!" Ellen pura-pura menunjukkan wajah sedih.
"B-bukan begitu Mom! aku saja baru tahu tadi pagi dan langsung periksa ke rumah sakit tadi." mungkin karena hormon ibu hamil, Alena langsung sensitif dan merasa sedih mendengar ucapan mertuanya.Bahkan dia hampir saja menangis, itu terlihat dari manik matanya yang sudah berembun.
Manyadari hal itu, Ellen langsung memeluk Alena dengan lembut. "Gak usah sedih sayang, Mommy tadi hanya bercanda.Selamat ya! usaha kalian,memberikan Dean adik, langsung membuahkan hasil, bukan hanya satu tapi dua sekaligus."
"Terima kasih Mommy!" Alena kembali tersenyum.
"Apa aku tidak mendapat ucapan selamat juga Mom?" Jenni menyebikkan bibirnya, sehingga mengundang tawa semuanya.
"Oh iya, selamat ya Jenni! Ellen menghampiri Jenni dan memeluknya, seperti dia memeluk Alena tadi.
"Terima kasih Mom!" senyum Jenni terbit menghiasi bibirnya.
"Oh,ya apa Daven dan Andrew sudah tahu kabar gembira ini?" Charles buka suara.
"Belum! sahut Alena dan Jenni hampir bersamaan.
"Lho, kenapa meraka belum dikasih tahu?" kening Harold mengrenyit diikuti oleh yang lainnya.
"Aku mau kasih kejutan di Anniversary kami 3 hari lagi Dad! jadi aku mohon, kalian semua jangan ada yang beritahukan Daven dulu." Semua menganggukan kepala mendengar permintaan Alena.
"Kalau kamu Jenni, kamu juga mau buat kejutan buat Andrew?" tanya Hanna.
"Nggak, Mah! mau buat kejutan dalam rangka apa? anniversary kami, 4 bulan lagi.Ulang tahun Andrew 1 bulan lagi, masa aku harus rahasiain sampai satu bulan? Kalau ulang tahunku sih satu minggu lagi, tapi kan harusnya aku yang dikasih kejutan, bukan malah aku yang kasih kejutan. Nanti malam aku akan langsung kasih tahu dia Mah!" Jenni merasa sedikit jengkel, karena gak punya momen seperti Alena untuk memberikan kejutan buat suaminya Andrew.
Suara tawa dari semua orang yang ada di ruangan itu, seketika pecah melihat ekspresi Jenni yang sedang cemberut.
...----------------...
Sudah dua hari semenjak James kembali dari Irlandia, dan sudah dua hari juga dia berjanji akan membuka hati pada Sheela, dan mencoba untuk melupakan rasa cintanya pada Alena.Walupun sulit, dia berjanji akan terus mencoba.
Luka bekas peluru di bagian perut James pun,berangsur-angsur mulai kering, hanya tinggal nyeri-nyeri sedikit saja.Sheela merawat luka James dengan telaten dan lembut, sehingga menimbulkan sedikit penyesalan pada hati James, karena sudah mengabaikan Sheela semenjak mereka menikah.
"James, kenapa kamu melihat aku seperti itu? apa ada yang salah padaku?" Sheela menyentuh wajahnya, melihat pakaiannya, untuk mencari apa yang salah pada dirinya sehingga James tidak berhenti menatapnya dari tadi.
James tersenyum dan merasa lucu melihat ekspresi kebingungan, yang terlihat di wajah Sheela.
"Sudah, kamu tidak perlu mencari lagi! tidak ada yang salah pada dirimu.Mataku yang salah,tidak mau, aku perintahkan untuk berhenti menatapmu. Ternyata istriku itu sangat cantik."
Semburat merah langsung muncul di wajah Sheela, ketika mendengar pujian dari mulut James. Dia heran kenapa James tiba-tiba berubah romantis seperti itu.
"Kamu kemarilah! duduk di samping ku!" James menepuk-nepuk ranjang kosong di sampingnya.
Sheela menggigit bibirnya, dengan perlahan dia melangkah menghampiri James. Jantungnya sudah mulai berdendang lagu syalala di dalam sana,dengan iringan musik disco, seperti yang sering dia dengar dulu sewaktu dia bekerja sebagai waitress di club malam.
"Kamu kenapa Sheel? wajahmu kok tegang seperti itu?" James menatap Sheela dengan alis yang bertaut tajam.
"Ah, n-nggak pa-pa! cuma aku khawatir, apa kamu baik-baik saja?" Sheela membalas tatapan James dengan kening yang berkerut.
"Ya, seperti yang kamu lihat,aku baik- baik saja.Kenapa kamu menanyakan itu?"James balik bertanya, bingung dengan maksud pertanyaan istrinya.
"Hmm, aku cuma bingung,kenapa kamu berubah manis seperti ini? apa kamu benar-benar James atau orang yang menyamar jadi James?"
James sontak tertawa, dan menyentil kening Sheela. " Bodoh! tentu saja ini benaran aku! Apa kamu mau bukti?" James mengerlingkan ekor matanya,menggoda Sheela.
"Bukti apa?" Sheela benar-benar tidak mengerti maksud James.
James bangkit dari tempat dia duduk, berpindah ke depan Sheela. Lalu dia mencondongkan wajahnya ke wajah Sheela,sehingga Sheela memundurkan kepalanya, hingga terbentur ke sandaran ranjang mereka. "Aku rasa kamu belum bisa melupakan bagaimana rasanya bibirku mencium bibirmu. Kalau dengan mencium bibirmu, kamu bisa yakin kalau aku ini benar-benar James akan aku lakukan." bisik James dengan sensual,membuat Sheela kesulitan untuk bernafas dan tubuhnya meremang seketika.
"A-a-a____" bibir James seketika membungkam mulut Sheela dengan bibirnya. James me*lu**mat bibir Sheela dengan sangat lembut. Sehingga Sheela tercekat dan berhenti bernafas untuk beberapa detik.
"Kamu bernafas saja Sheela! aku tidak mau kamu mati,hanya karena aku cium." bisik James kembali, dan langsung membenamkan bibirnya kembali ke bibir Sheela, sebelum istrinya itu sempat menjawab.
Lambat laun, Sheela akhirnya terbuai dan mulai membalas ciuman James, walaupun masih kaku, tapi tidak terlalu buruk juga. Kini tubuh James sudah berada di atas tubuh Sheela dan mengungkungnya dengan ciuman yang semakin panas.
Mereka berciuman cukup lama, dan tangan James juga sudah ikut beraksi untuk meraba semua bagian-bagian sensitif di tubuh istrinya, sehingga Sheela tidak sadar sudah berulang kali mendesah.
"Apa kamu sudah siap Sheela? kita akan mengabulkan permintaan Mamah yang menginginkan cucu!" ucap James di sela-sela nafasnya yang sudah memburu dan manik mata yang sendu,menuntut lebih.
"Apa kamu menguping pembicaraanku sama mamah kemarin?" Sheela mengrenyitkan Keningnya, dan James menganggukkan kepalanya membenarkan. Kemarin dia melihat raut wajah sedih Sheela,ketika Hellena mamahnya mengatakan,menginginkan cucu dari Shella, dan entah kenapa, dia merasa tidak tega melihat kesedihan yang terpancar di wajah Sheela. Seketika dia merasa menjadi laki-laki yang sangat buruk.
"Hmm, bagaimana nanti kalau kamu tidak bisa mencintaiku,dan bahkan meninggalkanku?" jujur, Sheela masih sangat meragukan perkataan James yang akan mencoba menerima kehadiran Sheela di hidupnya dan akan belajar mencintainya.
"Apa kamu masih meragukanku? aku sudah berjanji kalau aku akan setia dan akan selalu melindungimu. Dan aku yakin, untuk bisa mencintaimu,tidak memerlukan waktu yang lama,karena aku sudah mulai merasakannya, walaupun belum sepenuhnya. Aku yakin sebentar lagi aku juga pasti akan mencintaimu." tegas James, dan Sheela melihat tidak ada keraguan di manik mata berwarna perak milik James, saat mengucapkan kata-kata itu.
Sheela menyunggingkan senyuman lebar dengan mata yang berkaca-kaca. Dia merasa kini sudah memiliki arti sebagai seorang istri.
"Kalau begitu,kamu tunggu apa lagi? aku ini istri kamu sekarang, dan aku sudah siap memberikan apa yang seharusnya menjadi hakmu!" Sahut Sheela yakin.
Mendengar ucapan Sheela, James pun kembali membenamkan bibirnya, kembali ke bibir Sheela, untuk menghidupkan kembali yang sempat redup,karena pembicaraan mereka.
James juga tidak lupa memberikan tanda-tanda kepemilikan di hampir seluruh tubuh Sheela.
dalam hitungan menit,kini tubuh mereka berdua sudah polos tanpa sehelai benangpun membalut di tubuh mereka.Sekarang kamar itu penuh dengan suara erangan dan desahan yang keluar dari mulut dua sejoli,pasangan suami istri itu, walaupun pada awalnya sempat terjadi sedikit drama,karena Sheela menjerit kesakitan.Tapi itu tidak bertahan lama,karena sekarang jerit kesakitan itu, sudah berganti menjadi erangan dan desahan nikmat.
James bahkan tidak merasakan nyeri bekas luka terkena peluru yang sepenuhnya belum kering.
Tbc
Jangan lupa buat ninggalin jejak ya gais.Please like vote dan komen.Kasih hadiah juga boleh😀🥰