
Jenni sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Semua orang tidak sabar untuk melihat bayi kembar jenni, khususnya Jeslyn. Bocah berusia 4 tahun itu, sangat excited ingin melihat adik-adik yang sangat diinginkannya selama ini.
"Pah, kenapa adik-adikku belum dibawa kesini? apa mereka berdua sangat tampan seperti Papah?" Seperti biasa, Jeslyn yang cerewet, akan selalu bertanya,dan tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban.
Andrew tersenyum dan berjongkok di depan Jeslyn, agar lebih leluasa melihat wajah cantik putrinya itu.
"Tentu saja mereka tampan seperti papah, Sayang. Apa Jeslyn senang sudah jadi kakak?" tanya Andrew sembari mengelus lembut kepala Jeslyn.
"Tentu saja aku senang, Papah! Jeslyn nanti akan ada teman main.Sebenarnya Jeslyn mau adik perempuan,biar bisa diajak main boneka. Tapi punya adik laki-laki juga sepertinya tidak buruk,yang penting mereka tidak galak kaya Dean." celetukan Jeslyn membuat tawa semua orang yang di dalam sana pecah.
"Memang Dean itu galak ya? tapi kalau yang Papah lihat nggak ya?" Andrew memasang wajah bingung di depan Jeslyn.
"Dean galak, Pah! tapi, walaupun Dean galak, dia selalu jagain Jeslyn dari teman-teman yang jahat sama Jeslyn." papar Jeslyn dengan ekspresi imutnya.
"Apa Jeslyn, rindu sama Dean?" Kali ini Jenni buka suara dari atas kasur. Jeslyn menganggukkan kepalanya,membenarkan.
"Katanya Dean galak, tapi kenapa masih dirindukan?" ledek Charles yang dari tadi hanya diam mendengarkan.
"Haish ,kakek gak mengerti, kalau mulut saja bilang tidak suka,kalau kata hati beda lagi." Hanna menimpali ledekan Charles. Tawa semua orang kembali pecah memenuhi ruangan itu, kecuali Jenni yang belum bisa tertawa besar,karena jahitan di perutnya belum kering.
Suara pintu yang dibuka dari luar, mengalihkan semua perhatian mereka ke arah pintu. Tampak dua orang perawat masuk,dengan membawa bayi di tangan masing-masing.
Jeslyn terlihat melompat kegirangan, melihat kedatangan adik-adiknya. "Pah, boleh Jeslyn gendong adiknya?" Jeslyn menengadahkan tangannya, agar Andrew memberikan bayi yang sudah ada dalam gendongannya ke tangan Jeslyn.
"Hmm, nanti kalau adiknya sudah besar baru Jeslyn bisa gendong ya! Sekarang Jeslyn belum bisa gendong," ucap Andrew.
"Kenapa?" Jeslyn memiringkan sedikit kepalanya, sembari mengerjap-erjapkan matanya.
"Karena adiknya masih terlalu kecil, Sayang!" sahut Andrew,sabar.
"Boneka Jeslyn lebih kecil dari adik, tapi kenapa bisa Jeslyn gendong,Pah?" Jeslyn merasa tidak puas atas jawaban Andrew.
"Hmm, Boneka berbeda dengan adik kamu, Sayang! Boneka itu akan bukan makhluk hidup, sedangkan Adik-adik kamu ini, makhluk hidup, sama seperti Jeslyn." walaupun Andrew sudah mulai kewalahan mendengar pertanyaan Jeslyn, dia tetap berusaha untuk selalu sabar.
"Oh, begitu?" Jeslyn mangut- mangut. " Pah, kalau begitu, Papah letakkan adiknya di box ini! nenek juga!" Jeslyn menunjuk box bayi yang berada dekat dengan ranjang Jenni.
"Kenapa, harus diletakkan sayang? " Andrew mengrenyitkan keningnya,saling silang pandang dengan Hanna,mamahnya yang juga merasa bingung.
"Papah,kan tadi bilang,kalau adiknya masih terlalu kecil untuk digendong, jadi kenapa papah dan nenek menggendong mereka?"
"Astaga! huft, mau jawab apa lagi aku?" Andrew bergumam sembari menggaruk-garuk kepalanya.
Jenni berusaha menahan tawanya,melihat Andrew yang kesulitan menjawab pertanyaan putrinya. " Jeslyn, tangan papah, dan tangan Nenek, bahkan tangan mamah dan kakek sudah cukup besar untuk menggendong adik-adik kamu, sayang. Kenapa Jeslyn belum boleh menggendong adik-adik kamu, karena menggendong bayi yang baru lahir, berbeda dengan menggendong boneka yang selalu Jeslyn mainkan. Menggendong bayi yang baru lahir itu,ada cara khususnya, dan Jeslyn sudah besar pasti akan tahu sendiri." tutur Jenni,memberikan penjelasan dengan cara yang mudah dimengerti oleh anak kecil, dan sepertinya,penjelasan Jenni cukup memuaskan bagi Jeslyn, itu terlihat ketika Jeslyn sudah berhenti bertanya.
"Oh ya siapa nama putra-putramu ini, Drew?" celetuk Charles.
"Yang pertama aku mau kasih nama Arthur Abraham, dan yang ke dua Aaron Abraham. ujar Andrew mantap.
"Apa kamu tidak mau kasih nama tengahnya?" Tanya Jenni sepertinya kurang puas.
"Awalnya iya, tapi setelah aku pertimbangkan matang-matang. Nama mereka sudah sangat bagus dan aku rasa tidak perlu ditambah lagi. Nama itu sudah mengandung arti yang sangat bagus. Arthur yang berarti Pengambil Keputusan, Berani, Berjiwa Petualang. Memiliki Kekuatan Dari Dalam. Dinamis, Penuh Kesibukan, Tidak Bergantung Pada Orang Lain, Sukses. Menarik Dan Beruntung sedangkan Aaron , yang berarti Pemimpin Yang Berambisi, Penuh Visi. Memiliki Tujuan Hidup. Lembut, Baik, Pekerja Keras. Memiliki Jiwa Pembimbing Dan Penyembuh. Intuitif Dan Kreatif. Akan tetapi, bila kamu mau menambahnya, ya tidak apa-apa!" papar Andrew, dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.
"Aku rasa tidak perlu lagi! aku sudah puas dengan nama yang kamu kasih."Jenni tersenyum puas,begitu mendengar arti nama dari kedua anaknya
"Hello, baby Arthur, baby Aaron." kedua bayi yang baru lahir itu, seperti merespon sapaan Jenni.Itu terlihat dari bibir mereka yang tersenyum.
Andrew meraih ponselnya yang sedang berbunyi dari dalam sakunya. Di layar ponselnya tertera nama Alena yang sedang melakukan panggilan video. Tanpa berpikir panjang lagi, Andrew menerima panggilan video dari Alena.Kini tampak di sana wajah chubby Alena dan Daven di sampingnya.
"Semuanya baik-baik saja Alena, baik Jenni maupun kedua putra kami.Apa kabar di sana?"
"Kami semua baik-baik saja Ka.Oh ya aku mau melihat keponakan-keponakanku, dimana mereka?" Suara Alena terdengar sangat antusias dan tidak sabar untuk melihat kedua keponakannya.
"Nih, mereka sedang tidur." Andrew mengarahkan layar ponselnya ke arah kedua bayi kembarnya.
Dari sudut mata Alena terlihat menetes cairan bening melihat kedua keponakannya yang sedang tidur dengan lelapnya. Seandainya dia ada di sana, dapat dipastikan kalau Alena pasti akan mencubit pipi keduanya karena sangat gemas.
"Hei, Alena! apa kamu hanya ingin melihat kedua keponakanmu? kamu tidak ingin melihatku?" celetuk Jenni sedikit meninggikan suaranya dari arah ranjang, yang membuat Alena terkekeh dari ujung sana.
"Iya, iya aku mau melihat Jenni juga, boleh aku melihatnya, Kak?" tanya Alena.
"Boleh! ini dia ...." Andrew mengarahkan kembali ponselnya ke arah Jenni yang mencebikkan bibirnya.
"Hai, Jenni bagaimana kabarmu?" Sapa Alena, melemparkan basa-basinya.
"Seperti yang kamu lihat, kalau aku sedang kesal padamu." sahut Jenni dengan bibir yang masih mengerucut.
"Oh, sepertinya waktuku kurang tepat. Kalau kamu sudah tidak kesal lagi, aku akan menghubungimu lagi. Bye Jenni!"
"Eh, tunggu Alena! aku sudah tidak kesal lagi." ucap Jenni buru-buru, yang membuat Alena terkekeh.
"Oh,ya Dimana Dean? ada yang sangat merindukannya?" tanya Jenny.
"Oh,ini dia." Alena mengarahkan ponsel ke arah Dean. " Dean, Ayo bilang hallo sama Bibi Jenni!" titah Alena.
"Hallo Bibi, selamat ya!" Dean, melambaikan tangannya ke arah kamera, lalu kembali fokus ke mainannya.
"Udah? gitu aja?" Jenni menggeleng-gelengkan kepalanya,melihat sifat dingin Daven turun pada Dean.
"Dean apa kamu tidak merindukan Jeslyn, dan kamu tidak mau melihatnya?" tanya Jenni.
Dean terlihat menghela napasnya dan kembali menatap ke kamera. " Ok, Bibi! Mana dia?" ucap Dean.
"Ini dia!" Jenni mengarahkan ponsel ke arah Jeslyn yang dari tadi sudah tersenyum-senyum.
"Udah Bi, aku sudah melihatnya. Sekarang Dean mau mengerjakan tugas rumah dulu ya!" Dean mengayunkan langkahnya, menuju kamarnya,tanpa meninggalkan sepatah katapun pada Jeslyn, yang membuat air muka Jeslyn berubah kecewa.
"Pah, Jeslyn mau es Cream.Kita pergi beli yuk!" Jeslyn menarik tangan Andrew, setelah panggilan video sudah terputus.
"Ya,udah ayo!" Andrew menggandeng tangan Jeslyn,melangkah keluar dari ruangan itu.
Jenny menatap jejak bayangan Andrew dan Jeslyn dengan tatapan sendu.
"Kamu kenapa Jen? apa kamu merasa khawatir, kalau Andrew akan berubah dan tidak menyayangi Jeslyn setelah putra kalian berdua lahir?" Jenni terdiam,tidak menjawab ucapan mertuanya, seakan dia membenarkan ucapan ibu mertuanya itu.
"Kami sudah tahu,Jen kalau Jeslyn bukan putri kandung kalian berdua.Tapi kami tidak akan mempermasalahkan itu. Jeslyn akan tetap membawa nama Abraham di belakangnya dan aku yakin perasaan sayang Andrew juga tidak akan berubah pada Jeslyn. Jadi kamu tidak perlu merasa risau ya!" Hanna mengelus kepala Jenni menantunya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tbc
Bagi readers yang tersayang, sambil menunggu yang ini Up. Kalau berkenan boleh mampir ke karya temanku yang satu ini.Cerita ini sedikit berbeda dari novel2 yang lain. Ini lebih ke realita hidup sekarang dimana pelakor tidak tahu malu lagi dan menghalalkan berbagai cara untuk merebut suami orang. Penulisan sangat rapi dan sesuai dengan PUEBI. Monggo cus mampir ke sana.