
Dean berlari menyambut Daven yang baru saja turun dari mobil, dan Daven pun langsung membawa Daven kedalam pelukannya.
"Mommy mana sayang?" tanya Daven, yang benar-benar merindukan istrinya itu. Mendengar Daven yang langsung bertanya dimana Alena, membuat Andrew berdecih,lalu langsung berjalan masuk sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mommy lagi buat kue, Dad! sekalian ngajarin Bibi Jenni buat kue." Sahut Dean dengan wajah polosnya.
"Oh, ayo kita masuk!" Daven melangkah masuk sembari menggandeng tangan Dean.
"Dean, Daddy ke kamar dulu ya! Daddy mau istirahat sebentar. Biar nanti malam Daddy bisa bawa Mommy dan Dean jalan-jalan," Daven terlihat mengacak-acak rambut putra kecilnya itu.
"Dean, tolong panggilin Mommy ya! bilang saja Badan Daddy sakit semua."
"Daddy sakit? mau Dean pijitin Dad?" tanya Dean dengan wajah paniknya.
"Gak usah Dean, panggilin Mommy saja!" ucap Daven.
"Apa kalau udah ada Mommy, sakitnya langsung sembuh Dad?"
"Iya, sayang!" sahut Daven berusaha untuk sabar.
"Tapi,kok bisa? Mommy kan bukan dokter? Mommy itu cuma tukang bikin kue Dad, jadi gak bisa buat menyembuhkan penyakit." Dean masih tetap bertanya dengan wajah polosnya yang tampak sedang bingung.
Mendengar ucapan demi ucapan dari mulut Dean,membuat Daven menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi, guna menahan kesabarannya. Daven melakukannya secara berulang-ulang.
"Dad, apa Daddy susah untuk bernafas?" tanya Dean dengan wajah panik sambil mengelus-elus dada Daven.
" Daddy tunggu di sini aja! Dean mau panggilin Mommy. " Dean beranjak berlari ke arah dapur untuk memanggil Mommynya. Sedangkan Daven langsung beranjak menuju kamar, menghindar dari pertanyaan-pertanyaan Dean yang membuatnya semakin pusing.
"Mom, Mommyyy ...! Daddy lagi sakit, sampai susah untuk bernafas. tolongin Daddy Mom!"teriak Dean, dengan panikdengan air mata yang sudah merembes keluar dari pipinya.
Mendengar teriakan anaknya, Alena langsung panik dan berlari meninggalkan dapur, tanpa mengindahkan, Jenni yang memanggilnya. Dia langsung menemui Daven di ruangan tamu. Akan tetapi dia tidak menemukan keberadaan suaminya itu disana. Alena pun sedikit berlari ke atas, karena dia yakin kalau suaminya itu pasti ada di dalam kamar sekarang.
Alena masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa, dan langsung mencari keberadaan Daven.
"Ka ..., Ka Daven, kamu dimana?" teriak Alena dengan panik.
"Kamu kenapa Alena? kok teriak-teriak?" tanya Daven yang baru saja keluar dari kamar mandi, yang begitu masuk ke kamar tadi, langsung berniat membersihkan tubuhnya sejenak.
"Aaaaaaa!" teriak Alena sembari menutup matanya, karena melihat Daven yang keluar dari kamar mandi, tanpa sehelai benangpun yang menempel pada tubuhnya.Satu-satunya yang menempel adalah,busa sabun yang tidak sempat dia bersihkan karena kaget mendengar Alena berteriak tadi.
Daven yang tidak menyadari keadaannya sama sekali, semakin panik dan sontak mendekati Alena."Kamu kenapa Alena? tenang, jangan takut! aku ada di sini," ucap Daven sembari mendekap tubuh Alena.Dalam pikirannya sekarang, dia yakin kalau Alena sekarang sedang trauma.
"Ka, Daven kenapa kaka gak pakai baju? " tanya Alena yang tetap setia menutup matanya.
Mendengar ucapan Alena, Daven sontak melihat ke tubuhnya, dan langsung tersenyum penuh maksud. "Kaka, panik dengar kamu teriak tadi, aku kira ada apa-apa yang terjadi padamu. Tapi, sekarang kamu harus tanggung jawab, karena kamu sudah membuatnya bangun." Daven mengangkat Alena dan membawanya ke dalam kamar mandi dan langsung menguncinya.
"K-Kaka mau apa?" tanya Alena dengan wajah yang memerah.
"Aku mau kamu sayang!" sahut Daven sembari menatap Alena penuh hasrat.
"K-Ka ini masih siang. A-aku___" belum sempat Alena melanjutkan ucapannya, bibir Daven sudah mendarat di atas bibir Alena.Dengan lembut Daven memagut bibir merah alami milik istrinya itu,yang kini sudah menjadi candu buatnya.
Alena yang mendapat sentuhan lembut dari Daven, langsung terbuai dan mulai membalas ciuman Daven yang benar-benar memabukkan itu.
"Davenn ..., sayangggg, kamu dimana?" teriak Ellen dan Harold tiba-tiba, yang panik dan khawatir, ketika mendengar Daven susah untuk bernafas dari cucunya Dean. Dia langsung saja masuk bersama Harrold, dan yang lainya, untuk melihat keadaan Daven.
Mendengar teriakan Mommy dan daddynya dari luar, aksi Daven sontak terhenti dan kaget.
"Sayang kenapa mereka bisa masuk? kamu tidak mengunci pintu ya?" tanya Daven sangat pelan, seperti berbisik.
"Aku lupa Ka! Aku tadi terlalu panik, karena kata Dean, kamu susah untuk bernafas." sahut Alena , tidak kalah pelan dari Daven.
Suara teriakan dari luar kamar mandi, masih saja terus terdengar bersahut-sahutan, bukan hanya dua suara lagi, tapi sekarang sudah bertambah dengan suara Dean, Andrew dan Jenni.
"Mereka ngapain sih, rame-rame masuk ke kamar kita?" tanya Daven dengan nada kesal yang terselip pada pertanyaannya.
"Mereka pasti sama sepertiku Ka, yang panik mendengar Kaka susah bernafas tadi." sahut Alena berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat raut wajah Daven yang sangat kesal.
"Tadi aku,memang merasa susah untuk bernafas Alena, karena aku terlalu merindukanmu. Tapi sekarang, yang sesak itu, yang di bawah ini. Jadi, biarkan saja mereka teriak-teriak! kita lanjutkan aja yang tadi," ujar Daven, kembali merangkul pinggang Alena dengan mata yang mengerling, menggoda Alena.
"Ka, kasihan mereka. nanti saja ya?" Alena berusaha menahan dada Daven, agar tidak kembali melanjutkan aksinya.
"Arghhhhh, dasar pengacau!" umpat Daven, lalu meraih handuk nya, lalu melilitkannya di pinggangnya.Dia melangkah ke arah pintu, dan menyembulkan kepalanya keluar.
"Ada apa kalian teriak-teriak di kamarku?" tanya Daven, berusaha menekan kekesalannya.
"Loh, sayang kata Dean, kamu sakit dan bahkan sampai susah untuk bernafas, tapi kok sekarang kamu terlihat baik-baik saja?" tanya Ellen dengan alis yang bertaut.
"Aku tidak apa-apa, Mom! Kalian bisa keluar sekarang! aku mau mandi." tukas Daven.
"Daddy sudah sembuh? Apa Mommy benar-benar bisa menyembuhkan Daddy? Wah, Mommy memang hebat!" celetuk Dean tiba-tiba dengan wajah polosnya.Membuat orang-orang yang ada diruangan itu, berusaha menahan tawa. Sedangkan wajah Daven kini sudah sangat memerah seperti kepiting rebus yang baru dikeluarkan dari pemanas. Bukan hanya Daven, wajah Alena juga sudah sangat memerah di dalam sana.
"Ya, Mommy kamu memang hebat sayang! sekarang kita keluar aja ya!" ujar Ellen sambil membelai kepala Dean.
"Tapi ,sekarang Mommy dimana Nek?" tanya Dean sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan itu.
"Mommy sekarang, sedang bertapa sayang, untuk memulihkan tenaganya, karena sudah lelah mengobati Daddy tadi." sahut Ellen lagi, yang di balas dengan anggukan kepala Dean.
"Sekarang kita keluar ya! karena Mommy mu masih ada tugas untuk menjinakkan singa lapar." Ellen, meraih tangan Dean,dan beranjak untuk meninggalkan kamar Daven.Di ikuti oleh yang lainnya dari belakang. Sedangkan wajah Alena di dalam sana, sudah sangat merona mendengar ucapan ibu mertuanya itu.
"Tunggu dulu Nek! memang di sini ada singa lapar? mana Nek?, aku mau bantu Mommy buat mengusir singa itu!" ucap Dean, sembari memutar badannya hendak kembali kedalam kamar Daddy dan Mommynya.
"Gak usah, sayang! hanya Mommy mu yang bisa mengatasinya!" Ellen menahan Dean untuk kembali ke kamar Daven.
"Wah, Mommy teryata hebat, seperti pahlawan super! " ucap Dean dengan semangat.
Tanpa mereka sadari, Andrew dan Jennipun sudah menghilang dari tadi, entah kemana mereka berdua menghilang.Mungkin mereka berdua punya ilmu menghilangkan diri, Author pun tak tahu.
Tbc
Maaf telat up. Entah kenapa, di sela-sela menulis tadi, di pertengahan aku tertidur. Bangun-bagun ternyata udah jam 2 pagi😁😁.
Jangan lupa like, vote dan komen ya gais. Thank you🙏🤗