Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Mari kita sama-sama mencari Alena


Ellen mengayunkan langkahnya menghampiri Daven. Dia mengelus lembut kepala Daven yang masih duduk menyender ke tembok.


"Sayang, sebenarnya Mommy ingin sekali marah ke kamu.Berkali-kali sudah Mommy bilang, terlepas dari dia yang sudah menolongmu atau tidak, jangan meninggalkan Alena. Karena kamu bisa membalas budi dengan cara lain, tidak harus menikahinya.Karena selama ini, dari tatapan mu dan perlakuanmu ke Alena, Mommy tahu kalau kamu sudah mencintainya. Tapi sekarang tidak ada gunanya kamu menangisinya.Yang harus kamu lakukan sekarang, cari dia dan bawa kembali ke rumah kita. " ucap Mommy Ellen bijak.


Andrew menghela nafas nya dengan kasar. Ingin rasanya dia marah dan memberikan pukulan di wajah Daven. Akan tetapi dia meng-ingat kalau ini juga merupakan salahnya sendiri. "Coba aku tadi, langsung bertindak sendiri untuk mendatangi Dokter Hans dan melihat video itu terlebih dahulu. Baru memberitahukannya ke Daven, pasti Alena sekarang masih ada disini. Aku memang bodoh!" Andrew membatin seraya merutuki kebodohannya.


Mommy Ellen berdiri dan melangkah masuk ke dalam toilet,.karena ada sesuatu yang menyesak ingin segera dikeluarkan dari dalam tubuhnya. Setelah selesai menuntaskan hajatnya, Mommy Ellen mencuci tangan dan membuang tissu ke keranjang sampah, yang terletak di bawah westafel. Kedua netranya langsung menangkap sesuatu benda yang berbentu pipih. Mommy Ellen tahu betul benda apa itu.


Dengan tangan gemetar, Mommy Ellen mengambil benda pipih itu dari dalam keranjang sampah menggunakan tissu yang masih bersih. kedua netranya membulat dengan sempurna melihat garis dua yang ada di benda pipih itu.


Mommy Ellen sontak, keluar dari kamar mandi dengan sedikit tergesa-gesa.


"Apa maksudnya ini Daven?" Mommy Ellen memeberikan benda pipih itu ke tangan putranya.


Daven yang tidak mengerti apa maksud dari benda pipih itu, menatap Mommy nya dengan bingung. "Apa maksudnya ini Mom? Kenapa Mommy kasih aku sampah? Aku memang sudah seperti sampah. Jadi Mommy tidak perlu mengingatkan aku lagi. " ucap Daven lesu, tidak semangat sama sekali.


Mommy Ellen geram dengan kebodohan putranya. Dengan kesal dia memukul kepala Daven. " Bodoh! ini itu test kehamilan. Di situ bisa kita lihat ada dua garis merah, dan itu berarti positif hamil! Paham kamu? !"


Mata Daven terbeliak membesar karena terkesiap dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Mommy-nya itu. "Mommy tidak sedang bercanda kan?" Daven sontak berdiri dan menatap Mommy-nya dengan tatapan yang serius.


"Apa kamu lihat Mommy lagi bercanda? Justru Mommy mau tanya, Apa kamu pernah menyentuh Alena? " tanya Mommy Ellen dengan nafas yang naik turun.


Daven tidak bergeming, dan mulutnya seakan terkunci. Dia tidak menjawab sama sekali pertanyaan Mommy-nya. Hingga membuat Mommy Ellen sangat kesal.


"Davennn, Jawab!" bentak Mommy Ellen.


"Iya, Mom. Tepatnya sebulan yang lalu, dan saat itu aku sedang mabuk Mom. " sahut Daven menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah kembali merembes.


Mommy Ellen refleks mengayunkan tangannya menampar pipi Daven- putranya. Bukan hanya itu saja, Andrew pun yang dari tadi sudah berusaha menahan amarahnya,kini sudah tidak sanggup lagi menahan.Dia seakan tidak perduli lagi dengan posisinya.Dia dengan geram melayangkan pukulannya ke wajah Daven, hingga darah segar keluar dari sudut bibir Daven.


"Anda, brengsek Tuan! Setelah apa yang anda lakukan, anda masih tega mengatakan perpisahan dengan Alena? Laki-laki macam apa Tuan? Anda mau bertanggung jawab dengan janji yang anda buat, tapi anda tidak mau bertanggung jawab dengan perbuatan bejat anda. Apakah anda masih layak disebut manusia? Hah?! " Suara Andrew terdengar mengelegar di ruangan itu. Dan jujur baru kali ini Daven melihat Andrew semarah itu.Tapi, entah kenapa kali ini Daven tidak berkutik sama sekali. Dia tidak marah atas keberanian Andrew yang membentak dan bahkan sampai memukulnya.Karena Daven sadar kalau ini semua mutlak kesalahannya.


"Sudah, Cukup! Daven, Daddy memang mengajarkan kamu untuk memegah teguh janji yang pernah kita ucapkan. Tapi, Ayah juga pernah mengajarkan, agar kamu bertanggung jawab atas semua perbuatanmu.Daddy kecewa padamu Dave. Harusnya kamu sudah cukup pintar untuk mengetahui, mana yang lebih penting antara janji dengan tanggung jawab yang harus segera kamu penuhi. Dan untuk kasus ini, seharusnya kamu harus harus lebih memilih tanggung jawab, karena sengaja tidak sengaja, kamu telah merenggut sesuatu yang berharga buat seorang wanita baik-baik seperti Alena. Sedangkan untuk janji mu, kamu bisa memenuhinya dengan memberikan sesuatu yang membuatnya bahagia" Harold diam sejenak untuk mengambil jeda. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dalam satu hentakan sebelum dia kembali melanjutkan ucapannya.


"Sekarang yang terjadi, Kamu bukan hanya tidak bisa memenuhi janjimu. Kamu bahkan tidak bisa memenuhi tanggung jawabmu.Sekarang tidak ada gunanya lagi kamu menangis, menyesali semuanya.Sekarang yang lebih penting, kamu harus cari Alena dan bawa dia pulang bersama cucu ku !" terselip ketegasan dalam setiap ucapan Daddy Harold.


Daven menganggukkan kepalanya. Memejamkan matanya singkat, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia kini membangun tekad yang kuat untuk menemukan Alena segera dan membawanya pulang.


Daven mengayunkan langkahnya menghampiri Mommy-nya yang mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Mom, Aku minta maaf, belum bisa menjadi putra yang membanggakan buat mu.Aku janji aku akan berusaha menemukan menantumu dan cucumu.Dan aku akan membawa mereka kembali." Suara Daven, terdengar lirih, tapi terselip ketegasan di dalamnya.


Mommy Ellen terdengar terisak, begitu mendengar putranya memelas meminta maaf. Baru kali ini dia mendengar putranya meminta maaf dengan cara yang meyedihkan seperti itu.


Mommy Ellen akhirnya mengalihkan kembali tatapannya, untuk melihat wajah putranya yang sudah sembab. Dia meraih Daven kedalam pelukannya. "Sayang, Mommy memaafkan mu. Tapi, Mommy minta kamu harus segera membawa menantu dan Cucu mommy kembali." ujar Mommy Ellen dengan cairan bening yang kini sudah merembes membasahi pipinya.


Daven menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Mommynya. Setelah itu dia melangkah mendekati Andrew, yang sudah tersungkur menyender di tembok.


"Ndrew, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu, walaupun Alena bukan adik kandungmu, Tapi kamu sangat menyayanginya. Aku berjanji padamu, aku akan berusaha untuk menemukannya kembali dan tidak akan pernah menyakitinya " ucap Daven, yang baru kali ini merendahkan dirinya untuk minta maaf pada orang lain, yang merupakan bawahanya.


Andrew menghela nafasnya dan menoleh ke arah Daven. " Iya Tuan! Mari kita sama-sama berjuang untuk bisa menemukan Alena.Aku akan tetap membantu mu untuk bisa menemukannya. Maaf juga, tadi aku telah memukul anda dengan sangat keras "


"Aku memang pantas mendapatkannya. Terima kasih masih setia membantuku" Daven memeluk Andrew seraya menepuk-nepuk pundak Andrew dengan pelan.