
"Kalau begitu aku pamit, Tuan, Nona." ucap laki-laki itu seraya membungkukan tubuhnya di depan Daven dan Alena.
"Tunggu! kamu tidak boleh keluar dari tempat ini, kecuali kamu memberitahukan kami, siapa orang yang menyuruh kamu melakukan itu semua!" tukas Daven dengan sorot mata yang tajam.
"T-tapi Tuan, aku sudah berjanji tidak akan memberitahukan pada anda berdua. Kalau tidak, nanti aku akan kena murka sama tuan itu." Laki-laki itu terlihat sangat ketakutan.
"Ok, kamu tinggal pilih, kamu kasih tahu dia siapa, kamu bebas, atau kamu tidak mau kasih tahu, kamu habis di tanganku." gertak Daven dengan raut wajah yang serius.
"M-maaf Tuan aku tidak bisa!" sahut laki-laki itu,gemetaran. Nasibnya kini bagai buah simalakama. Kalau dia kasih tahu, orang yang menyuruhnya akan murka.Tapi, kalau tidak dikasih tahu, Daven yang murka.
"Ok baiklah, kalau memang itu kemauanmu. Aku akan suruh anak buahku untuk menguliti tubuhmu sampai kamu mau mengakuinya." Daven pura-pura ingin melakukan panggilan, dengan meletakkan ponselnya ke telinganya.
"B-baik Tuan, aku akan memberi tahukannya. Dia, bos saya Tuan, namanya Tuan James." sahut laki-laki itu pasrah pada nasibnya.
Daven dan Alena terkesiap dengan mata yang membesar, begitu mendengar nama yang sempat menjadi rivalnya itu disebut oleh laki-laki suruhan itu.
"Kamu jangan bercanda! aku tidak ada waktu untuk bercanda saat ini. cepat katakan siapa yang membayarmu?" bentak Daven yang merasa tidak percaya atas pengakuan laki-laki itu.
" Aku tidak bercanda Tuan. Memang benar Tuan James lah yang benar-benar merencanakan, untuk menjebak Nona Brianna.
"Apa maksud dia melakukan ini semua? apa dia mempunyai maksud lain? Tapi, kalau dia punya maksud tertentu, seharusnya dia mengambil kesempatan ini untuk bekerja sama denga Brianna. Tapi, kenapa dia tidak melakukannya?" batin Daven merasa bimbang.
"Bawa aku pada Tuan mu itu sekarang!" perintah Daven dengan tegas.
"T-tapi Tuan, bagaimana kalau tuan James marah dan membunuhku? a-aku takut Tuan." wajah laki-laki itu sudah terlihat semakin pucat sekarang.
"Tuan Daven, aku butuh pertolonganmu sekarang!" seru seseorang yang tiba-tiba datang dengan wajah yang panik.
"hmm, bagus! kebetulan kamu datang Ndrew, sekarang kamu ikut aku ke tempat James bersama laki-laki ini!" ucap Daven pada seseorang yang baru datang yang ternyata Andrew.
"Tapi, Tuan aku juga punya hal yang sangat penting yang harus aku selesaikan dengan cepat. Ini menyangkut hidup dan matiku Tuan.Jadi maaf, kali ini aku benar-benar tidak bisa membantumu, karena aku juga memiliki masalh yang sangat berat." Andrew dengan tegas menolak Daven kali ini.
"Masalah berat apa yang harus kamu hadapi? apa itu masalah kelangsungan rumahtanggamu dengan Jenni?" tanya Daven yang sudah bisa menduga dari awal.
"Darimana anda tahu Tuan?" Andrew menautkan kedua alisnya, menatap Daven dengan ekspresi bingung.
"Apa Jenni tidak memberitahukanmu, kalau dia sudah tahu dari awal kalau kamu itu sedang dijebak oleh Clara?" Daven, balik bertanya.
"Maksud anda apa Tuan?" Andrew semakin terlihat bingung.
"Kamu tidak lihat photo yang berserakan di lantai itu? bukan hanya kamu yang dijebak, tapi juga Alena.Clara bekerjasama dengan Brianna untuk memisahkan kita dengan istri kita masing-masing.Dan Jenni sudah tahu dari awal rencana mereka dari seseorang." tukas Daven yang membuat Andrew semakin terlihat bingung.
Melihat Andrew yanh masih terlihat tidak mengerti, Alena pun membuka suaranya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi sebenarnya.
"Sialan! Jadi aku dibohongin sama Jenni?" umpat Andrew kesal sekaligus merasa tenang.
"Dibohongin bagaimana?" Alena bertanya dengan kening yang berkerut.
Andrew pun bercerita, kalau tadi Jenni sempat mengucapkan perpisahan, karena selama ini dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Jenni yang disebabkan kalau dirinya mencintai Clara.
Seketika tawa Alena pecah mendengar penuturan Andrew. " Jadi selama ini, baru tadi kamu ngungkapin perasaan mu pada Jenni? wah , Jenni sangat pintar memanfaatkan situasi." ucap Alena di sela-sela tawanya.
"Hmm, sepertinya, Jenni masih berniat pura-pura marah padaku.Ok, aku ladeni permainanmu Jenni. Sampai batas mana kamu sanggup bertahan dengan permainan yang kamu buat?" Seringaian tipis dan licik terbit di sudut bibir Andrew yang terangkat ,saat dia berbisik pada hatinya sendiri.
"Ya udah kita berangkat sekarang ke sana Tuan!" ucap Andrew kali ini yang sudah terlihat bersemangat.
James terlihat mondar-mandir di apartemennya, dan berkali-kali melihat ke arah pintu. Dia benar-benar tidak sabar mendengar dari anak buahnya, apakah rencananya berhasil atau tidak.
James, langsung bergerak dengan cepat, ketika dia mendengar bunyi bel dari arah pintu apartemennya. Dia langsung membuka pintu,yang dia yakini adalah anak buahnya, tanpa mengintip dari lobang pintu terlebih dahulu.
Kedua netranya langsung membesar begitu melihat kehadiran 4 orang di depan pintu apartemennya. Satu diantara ke empat orang itu adalan anak buah yang dinantikan kehadirannya dan yang tiga lagi, Daven, Alena dan Andrew.
"Apa maksud anda, merencanakan ini semua Tuan James?" tanya Daven tanpa berbasa-basi terlebih dahulu dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Melakukan apa? aku tidak mengerti dengan apa yang anda maksud Tuan Daven." James bertanya balik,pura-pura tidak mengerti.
" Anda tidak usah mengelak lagi Tuan! kami sudah tahu dari orang suruhan anda ini." Kali ini Andrew yang membuka suara.
James menghela nafasnya. Dia tidak ada punya alasan lagi untuk mengelak.
"Baiklah! itu memang aku, dan aku tidak punya maksud tujuan apa-apa. Aku hanya menginginkan kebahagiaan Alena saja. Dan ini hanya sebagai ungkapan rasa bersalahku pada Alena." tukas James tanpa menatap Alena, yang sekarang tengah menatapnya.Walaupun hati kecilnya ingin sekali menatap Alena sekarang.
"Apa ucapan anda, bisa dipercaya Tuan James?" Daven masih tetap menatap James denga tatapan penuh curiga.
"Anda bisa memegang kata-kataku Tuan Daven. Dan anda tidak perlu khawatir lagi, kalau aku aku akan berusaha merebut Alena kembali darimu. Aku benar-benar sudah merelakannya." James berusaha untuk tersenyum ke arah Daven. "Kebetulan sekarang aku juga sudah menikah Tuan Daven. Dan aku sangat mencintai istriku." tukas James, dengan wajah yang serius dan dibumbui dengan kebohongan.
Alena, Daven dan Andrew terkesiap dengan Mata yang terbuka lebar,kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut James barusan.
"Menikah? kapan? kenapa tidak ada yang tahu dengan pernikahan anda?" Daven tampak masih belum bisa sepenuhnya percaya pada James.
"Itu karena kami belum mengadakan resepsinya.Kami masih hanya mendaftarkannya saja ke catatan sipil." ucap James.
"Maaf, kami belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang baru anda ucapkan." ucap Daven.
" Aku tidak memaksa anda untuk percaya, tapi memang itulah kenyataannya. Untuk sekarang aku memang belum bisa menunjukkan surat nikah saya, karena saya tidak mungkin membawanya dari London ke sini. Tapi aku akan menelepon istri ku di depan kalian." ujar James sembari meraih ponsel dari dalam sakunya dan melakukan panggilan pada Sheela istrinya. Dan dia sengaja mengaktifkan speaker, agar semuanya bisa mendengar.
"Halo," sapa suara wanita dari ujung telepon dengan nada suara yang riang.
"Hallo, sayang! kamu baik-baik saja kan disana?" tanya James, dengan nada yang romantis, supaya Daven dan yang lainnya percaya dengan ucapannya.
Sheela yang berada di ujung telepon terdiam, sejenak, merasa bingung sekaligus senang mendengar James yang memanggilnya sayang. Jantungnya kini sudah berdetak dua kali lebih cepat dari detak jantung normal pada umumnya.
"Halo, sayang, kamu masih di sana?" suara James kembali terdengar hingga membuat Sheela tersentak kaget.
"I-iya aku masih ada di sini.dan aku baik-baik saja!" sahut Sheela dengan seyuman yang mengembang, walaupun dia sadar kalau James, tidak bisa melihat senyumannya.
s"Ya udah, teleponnya aku tutup kembali ya! jaga kesehatan kamu!" James memutuskan panggilannya, setelah Sheela menjawab iya dari ujung telepon. Setelah itu, dia mengetikkan pesan kembali pada Sheela.
"Kamu jangan salah paham! tadi aku memanggil kamu sayang, agar kolega-kolega saya percaya kalau saya sudah menikah saja.Saya tidak punya maksud lain.
Sheela di negri sebrang, menitikkan air mata ketika membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh James. Padahal tadi, dia sudab sempat merasa bahagia, ternyata kebahagiaanya hanya kebahagiaan semu belaka.
"Ok baiklah James, kami percaya.Dan kami mengucapkan terima kasib atas bantuanmu. Tapi bagaimana kamu bisa tahu rencana Brianna dan Clara?" tanya Daven mengungkapkan rasa penasarannya.
James menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sekali hentakan. "Baiklah! akan aku jelaskan."
Tbc
Jangan lupa like, vote dan komen ya gais.Thank you