
Sampainya di depan pintu kamar itu, Reza segera membuka pintu dengan kunci yang dia ambil, dari salah seorang penjaga di lantai bawah. Setelah pintu terbuka, dia melihat ada seorang wanita yang sedang duduk, sambil menundukan kepalanya dan menangis di atas tempat tidur.
Reza yang masih berada di depan pintu, tiba-tiba merasa seperti ada sesuatu yang aneh, dia seperti pernah melihat wanita yang berpakaian sama dengan wanita yang ada di depannya itu. Dan tidak lama dia pun teringat, kalau pakaian wanita itu, sama dengan pakaian yang di pakai Melda sebelum dia menghilang. Dengan tatapan penuh curiga, Reza pun menyebut nama Melda dengan nada suara yang hampir tidak terdengar.
"Meldaa." Panggil Reza yang membuat wanita itu langsung mengangkat muka menatapnya.
Reza yang tadinya bingung seketika terkejut, setelah dia melihat Melda di depan matanya, dengan muka yang di penuhi air mata dan penampilan yang begitu berantakan. Belum sempat Reza membuka suara, Melda yang tidak kalah terkejut, langsung turun dari tempat tidur dan berlari memeluk Reza sambil menangis dan berkata.
"Tolong akuuu,," kata Melda sambil menangis.
Dengan segera Reza langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam, karena dia takut ada yang melihat mereka. Untung saja di kamar itu tidak terdapat cctv, begitupun di depan kamar, jadi tidak ada yang melihat mereka. Setelah pintu sudah terkunci, Reza dengan tampang yang masih kaget, buru-buru berbalik kemudian melepaskan pelukan Melda dan bertanya.
"Mengapa kamu bisa berada di sini,,?" Tanya Reza dengan nada suara yang sangat pelan, sambil menatap Melda dengan kedua tangannya di atas punggung Melda.
"Aku di culik. Tapi kamu juga mengapa bisa berada di sini,,? Apa kamu yang merencanakan semua ini,,?" Kata Melda dengan nada suara yang sedikit kencang sambil menatap Reza dengan tatapan yang sangat tajam.
Akhirnya karena takut ada yang dengar dari luar kamar, Reza pun langsung menutup mulut Melda, dengan telapak tangannya sambil berkata.
"Kalau kamu ingin bebas dari sini, kamu harus ikuti apa yang aku katakan. Aku tidak tahu apa-apa mengenai penculikan ini." Kata Reza sambil menatap Melda yang juga sedang menatapnya, dengan wajah yang penuh dengan air mata.
"Sudah,,! Sekarang kamu tenang dulu,,! Aku berjanji akan membawamu pergi dari sini." Tambah Reza sambil melepaskan tangannya dari mulut Melda.
Setelah itu, Reza membawa Melda untuk kembali duduk di tepi ranjang. Sedangkan Melda tidak henti-hentinya menangis, dan Reza yang melihatnya jadi merasa kasihan, dan tanpa berkata apa-apa, Reza pun langsung memeluknya kemudian berkata.
"Jangan menangis lagi,,! Sebentar malam aku akan membawamu pergi dari sini." Kata Reza sambil mendekap Melda dalam pelukannya.
"Tapi bagaimana caranya,,? Sedangkan sebentar malam nanti aku akan di bawa untuk di jual." Kata Melda dengan nada suara yang sangat bergetar karena pengaruh menangis.
"Sekarang ini kamu berada di dalam rumah Bos aku. Dan aku yang di tugaskan untuk membawamu sebentar malam nanti. Tapi kamu jangan berfikir macam-macam tentangku,,! Aku tidak tahu apapun tentang semua ini." Kata Reza.
"Kita harus secepatnya keluar dari sini, biar kita bisa menyelamatkan Om dan Tante aku yang sedang di sekap dan akan di bunuh." Kata Melda yang membuat Reza bingung juga kaget.
"Maksud kamu,,?" Tanya Reza sambil melepaskan pelukannya dari Melda.
"Orang tua Mas Faris masih hidup, mereka sedang di sekap dan akan di bunuh." Kata Melda dengan penuh ketakutan.
"Mereka di sekap di mana,,?" Tanya Reza dengan mata yang terbuka lebar.
"Mereka di Indonesia." Makannya aku harus secepatnya keluar dari sini, biar aku bisa memberitahukan semuanya kepada Mas Faris." Kata Melda.
"Ya sudah, kamu sekarang bersikap seperti biasanya,,! Tidak boleh ada yang tahu kalau kita sudah saling kenal." Kata Reza dan Melda hanya mengangguk dengan wajah yang penuh dengan air mata.
"Aku harus pergi sekarang. Nanti malam baru aku kembali." Kata Reza dan langsung berdri, namun Melda dengan segera meraih tangannya dan berkata.
"Aku takuuut." Kata Melda dengan wajah yang terlihat ketakutan.
"Tapi aku tidak bisa lama-lama di sini, nanti ada yang curiga." Kata Reza.
"Aku tidak bisa membawamu sekarang. Kalau kamu kayak gini, nanti kita bisa ketahuan." Kata Reza yang sudah kembali duduk di depan Melda, karena Melda tidak mau melepaskan tangannya.
"Aku mohoon, jangan tinggalkan aku sendiri di sini." Rengek Melda lagi.
Reza jadi bingung sendiri menghadapi Melda, dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Dan di saat dia ingin kembali berbicara, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan itu panggilan masuk dari Bosnya. Dengan segera Reza langsung melepaskan tangan Melda kemudian berkata.
"Bos aku nelfon,, aku angkat dulu." Kata Reza dan segera menjawab telepon dari Pak Rendra.
("Halo Pak,,") Sapa Reza.
("Kamu sudah berkenalan dengan wanita itu,,?") Tanya Pak Rendra.
("Sudah Pak.") Jawab Reza.
("Dia cantik kan,,?") Tanya Pak Rendra.
("Iyaa, lumayan.") Jawab Reza.
("Ko lumayan,,?) Kata Pak Rendra lagi.
("Maksud aku cantik bangat.") Kata Reza.
("Dan kecantikannya itu, sehingga membuat aku jadi ingin melihat sesuatu yang lebih darinya.") Kata Pak Rendra yang membuat Reza jadi bingung.
("Maksud Bapak,,?") Tanya Reza bingung.
("Kamu tahu kebiasaan aku kan,,?) Tanya Pak Rendra yang membuat mata Reza seketika terbelalak saking kagetnya. Sedangkan Pak Rendra sudah memutuskan sambungan teleponnya.
Reza begitu terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan sama Pak Rendra. Dan dia seketika langsung merasa khawatir, karena dia suda tahu apa maksud Pak Rendra tadi, dengan mengatakan ingin melihat sesuatu yang lebih dari Melda.
Pak Rendra memang orang yang sangat baik, terutama kepada Reza. Tapi ada satu kebiasaan buruknya yang tidak di ketahui banyak orang. Yang mengetahui kebiasaannya itu, hanya Reza dan beberapa anak buahnya, yang sering dia pakai untuk memenuhi kebiasaan buruk dan keinginan anehnya itu.
Pak Rendra mempunyai keinginan yang aneh, di saat dia melihat wanita yang cantik dan polos seperti Melda. Kalau ada wanita cantik dan masih polos yang di kirim padanya, dia tidak langsung menjual mereka. Sebelum dia menjual mereka, dia terlebih dulu, menyuruh anak buahnya untuk meniduri mereka di depan matanya. Itulah kebiasaan buruknya yang tidak di ketahui banyak orang, bahkan keluarganya sendiri tidak mengetahuinya.
Reza yang sudah kepikiran dengan apa yang di katakan Pak Rendra tadi, hanya terdiam sambil berdiri menghadap pintu. Reza sedang memikirkan cara untuk membawa Melda dari tempat itu secepatnya, sebelum Pak Rendra datang. Kemudian dengan tampang yang terlihat sangat aneh, Reza melangkah ke arah jendela dan melihat ke bawah.
Reza ingin mencari jalan untuk bisa membawa Melda, Tapi tidak ada cara untuk Reza bisa keluar membawa Melda, karena di dalam rumah maupun di luar rumah itu, ada banyak penjaga yang selalu berjaga 24 jam.
Melda yang melihat tampang Reza yang terlihat aneh, menjadi bingung juga cemas. Karena raut wajah Reza terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat penting. Karena merasa penasaran, akhirnya Melda pun bertanya.
"Ada apa,,?" Tanya Melda sambil menatap Reza yang sudah berdiri menghadapnya.
"Aku sedang mencari cara untuk bisa membawamu keluar dari sini sekarang juga. Tapi kayaknya tidak bisa, karena penjaga ada di mana-mana." Kata Reza sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri.
Mendengar apa yang di katakan oleh Reza, membuat Melda jadi bingung, karena baru beberapa menit yang lalu, Reza sendiri yang tidak mau membawanya pergi, tapi sekarang dia malah pusing mencari jalan keluar.