CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 122. Kabar Bahagia.


Sampainya di RS, Faris langsung melangkah masuk menuju ruang rawat orang tuanya, yang sudah pindah pagi tadi ke ruang ICU. Karena orang tuanya baru saja di pindahkan ke ruang ICU, sebelum Faris sampai di RS. Faris tadi sedikit terlambat, karena dia singgah sebentar di rumah Opa Indra, tempat tinggal mereka sekarang, untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih rapi.


Langkah Faris tiba-tiba tertahan di depan pintu ruang rawat orang tuanya, di saat dia melihat pemandangan, yang begitu hangat di dalam sana. Melihat kehangatan dan kasih sayang yang tulus, istrinya kepada Almira, membuat Faris merasa sangat terharu.


Tidak hanya kecantikan yang bisa Faris banggakan, dari wanita yang sangat dia cintai itu. Tapi kelembutan dan ketulusan hatinya, yang membuat Faris merasa kagum dan semakin mencintainya. Faris merasa dialah laki-laki yang paling beruntung, karena mendapatkan cinta dari seorang bidadari, yang berhati malaikat seperti Aleta.


Di dalam sana, Aleta yang terlihat begitu cantik, sedang memangku Almira sambil mengusap-usap kepala Almira, dan terus mengobrol dengannya, walaupun Almira tidak menjawab apa-apa. Aleta terlihat begitu sabar dan sangat dewasa, dalam menghadapi Almira yang sampai saat itu, masih belum bisa banyak bicara.


"Sayaang,, kita tu harus bersyukur dan bahagia, karena Tuhan sangat menyayangi kita, sampai dia kembalikan Papa dan Mama di tengah-tengah kita lagi. Terutama kamu, kamu harus lebih semangat lagi, biar Papa sama Mama juga semangat untuk bisa sembuh, dan berkumpul lagi sama kita." Aleta berkata-kata sambil terus mengusap-usap rambut Almira, dan sesekali mengecup pipinya.


"Apalagi sebentar lagi kamu nanti punya keponakan kecil. Jadi kamu harus cepat sembuh, biar bisa sekolah dan menjadi Tante kecil yang pintar. Karena kalau kamu pintar, keponakan kecil kamu akan bangga, punya Tante kecil yang pintar." Tambah Aleta yang membuat Almira langsung bersuara.


"Mbaa,, kalau keponakan kecil aku sudah ada, apa Mas Faris masih menyayangiku,,?" Tanya Almira yang membuat Faris yang sedang berdiri di depan pintu, semakin terharu.


"Iya sayaang,, kamu kan adik Mas Faris satu-satunya. Jadi Mas Faris akan tetap menyayangimu." Sambung Tante Leni yang sedang duduk di samping mereka.


"Tantee,, bukan aku saja adik Mas Faris, Bma Melda juga adik Mas Faris. Jadi adik Mas Faris itu ada dua, aku dan Mba Melda. Dan Mba Melda bilang sama aku, kalau Mas Faris itu, Super Hero buat kita semua." Kata Almira yang membuat Aleta juga Tante Leni dan Faris jadi tersenyum.


Faris yang berada di depan pintu ruang ICU, sangat bersyukur dan bahagia, melihat Almira yang sudah bisa berkata-kata dengan begitu lancar. Walaupun itu hanya sesekali dia lakukan.


Almira yang sedang bercerita dengan Aleta dan Tante Leni, tiba-tiba ingin minum. Dan Tante Leni dengan segera langsung berdiri, untuk mengambilkan air untuknya. Dan Tante Leni yang sudah berdiri dari tempat duduknya, langsung bersuara setelah melihat keberadaan Faris di depan pintu.


"Riis,, ngapain kamu di situ sayang,,?" Tanya Tante Leni sambil melangkah menuju meja, untuk mengbil air minum buat Almira.


Tanpa menjawab apa-apa, Faris pun langsung melangkah masuk. Dan Almira yang sudah melihat Faris, tidak pakai lama langsung turun dari pangkuan Aleta, dan kembali bersuara.


"Maas,, apa benar, kalau keponakan kecil aku lahir, Mas akan tetap menyayangiku,,?" Tanya Almira dengan tampang yang terlihat sangat lucu, dan menggemaskan.


Mendengar pertanyaan dari Almira, membuat Faris tiba-tiba merasa sedih. Dia merasa sedih memikirkan nasib Almira, kalau saja waktu itu kedua orang tuanya, benar-benar ada dalam kecelakaan yang di buat Pak Frengki dan rekan-rekannya itu. Faris terdiam sejenak sambil menatap wajah polos adiknya itu, dengan tatapan penuh haru.



"Maaas,, ada apa sama kamu,,? Apa Mas di sakiti orang,,?" Tanya Almira dengan tatapan mencari tahu ke arah Faris.


Mendengar pertanyaan adiknya, Faris dengan segera melangkah maju, dan langsung menggendong Almira kemudian berkata.


Tante Leni dan Aleta yang sedang menatap mereka, langsung meneteskan air mata tanpa berkata apa-apa, karena merasa haru dengan kehangatan Faris terhadap Almira. Dalam diam Aleta merasa sangat beruntung memiliki Faris. Dan dia yakin, di balik sikapnya yang dingin dan kaku, Faris adalah laki-laki terbaik, yang memiliki segudang kasih sayang yang tulus.


Aleta begitu yakin dengan cinta dan kasih sayang suaminya itu, karena dia selalu ingat kata-kata Mamanya di saat dia masih kecil. Kalau seorang laki-laki sangat menyayangi Mamanya, juga saudara perempuannya, berarti dia juga akan sangat menyayangi pendamping hidupnya.


Sambil menggendong Almira, Faris pun melangkah dan duduk tepat di samping Aleta, menghadap tempat tidur Mama Alira. Sedangkan Tante Leni duduk di samping tempat tidur Papa Fahri.


Faris yang sangat menyayangi orang tuanya, selalu merasa sedih di saat menatap wajah mereka dalam kondisi seperti itu. Melihat ekspresi Faris, membuat Aleta dan Tante Leni jadi mengerti, apa yang sedang Faris rasakan. Dan tidak lama Tante Leni pun memberitahukan, perkembangan orang tuanya, yang tadi di sampaikan oleh Dr yang menangani merek.


"Riis,, perkembangan Papa sama Mama kamu sudah lebih baik dari tadi pagi. Dan karena itu mereka di pindahkan ke ruangan ini. Dan ada satu lagi yang ingin Tante beritahu sama kamu. Besok, mereka yang di Bandung akan datang untuk membantu menjaga orang tua kamu." Kata Tante Leni panjang lebar.


"Tapi Kakek kan lagi sakit Tante." Kata Faris sambil menatap Tantenya dengan tatapan bingung.


"Kakek kamu sudah sembuh, setelah mendengar kabar orang tuamu. Dan besok pagi mereka sudah berangkat dari Bandung." Jawab Tante Leni.


"Apa sudah ada hasil pemeriksaan Papa sama Mama Tante,,?" Tanya Faris lagi.


"Iya sudah ada. Ini hasil pemeriksaan mereka." Kata Tante Leni sambil memberikan selembar kertas buat Faris.


Dengan segera Faris langsung membaca tulisan yang ada di dalam kertas itu, kalau keadaan orang tuanya sudah jauh lebih baik 80 persen, dari sebelumnya. Dan semua itu di luar perkiraan Dr. Dan kemungkinan mereka akan segera sadar dari komanya.


Air mata Faris hampir saja tumpah saking bahagianya mengetahui hal itu. Dia memeluk erat Almira yang masih berada di pangkuannya itu, dan mengecup pipi adiknya itu sambil berkata.


"Mama dan Papa akan segerah sembuh, jadi kamu tidak usah takut memikirkan apapun,,! Karena selain ada Mas, ada Mama dan Papa yang akan selalu menjaga dan melindungi mu." Kata Faris sambil mencium pipi Almira.


"Iya Maas,, aku tidak akan takut lagi. Tapi bagaiman sama Mba Melda,,?" Tanya Almira karena dia sangat rindu dengan saudara perempuannya itu.


"Mba Melda sebentar lagi akan pulang. Mas sudah menyuruh orang untuk mencarinya di sebuah perkampungan di Malaysia. Karena Bang Reza sudah mengirim pesan buat Mas." Kata Faris yang membuat Almira, Aleta, Tante Leni dan Boy yang baru saja datang, langsung tersenyum bahagia.


Faris terus memangku Almira sambil bercerita tentang segala hal kepada Aleta, Tante Leni, juga boy mengenai kabar keberadaan Reza dan Melda. Dan dia juga menceritakan tentang orang-orang, yang telah melakukan kejahatan kepada keluarga Permana.


Mendengar apa yang di ceritakan Faris, membuat mereka bertiga yang sejak tadi hanya jadi pendengar, sangat terkejut. Apalagi Faris juga memberitahukan apa yang sudah dia lakukan, kepada penjahat-penjahat itu. Tapi mereka tidak ingin melarang Faris, karena menurut mereka, orang-orang itu pantas menerima semua itu. Asalkan Faris tidak melakukan dengan tangannya sendiri, karena mengingat Aleta yang sedang mengandung.