
Alira terdiam serentak, di saat benturan yang berasal dari dalam lift itu tiba-tiba hilang. Dalam diam Alira mulai berfikir, kemungkinan Faris dan Aleta sudah di celakakan oleh orang jahat atau perampok, dan pemikirannya itu membuat dia jadi ketakutan, akhirnya dia berfikir untuk pulang ke rumahnya, memberitahukan suaminya karena dia lupa membawa ponsel. Tapi belum sempat dia melangkah pergi, pintu lift tiba-tiba terbuka, dan Alira langsung berteriak sambil menutup matanya.
"Aaaaaaa,, tolooooong,,!" Teriak Alira.
"Maa,," teriak Faris yang membuat Alira dengan perlahan-lahan membuka matanya.
Alira menatap Faris dan Aleta dengan tatapan bingung, karena penampilan mereka berdua terlihat sangat berantakan terutama Aleta, dan wajah Faris di penuhi keringat. Melihat tatapan Mamanya yang begitu aneh, membuat Faris langsung bersuara, sedangkan Aleta yang berdiri di sampingnya sudah sangat salah tingkah.
"Ada apa Ma,,?" Tanya Faris.
"Tadi kalian yang di dalam,,?" Tanya balik Alira.
"Iya,, memangnya kenapa Ma,,?" Tanya Faris lagi.
Mendengar jawaban dari Faris, dan melihat keadaan mereka berdua, membuat Alira seketika faham, dengan apa yang baru saja terjadi di dalam lift. Alira juga bingung dan tidak habis fikir, kalau putranya yang begitu pendiam bisa senakal itu, sampai-sampai melakukan hal itu tidak mengenal tempat, tapi dia juga berfikir, kalau kelakuan Faris itu turun dari Papanya.
Sedangkan Aleta yang berada tepat di samping Faris, hanya mematung, dengan wajah yang sangat memerah karena menahan malu, melihat ekspresi Mama Mertuanya itu. Melihat keadaan istrinya, juga Mamanya yang seperti sedang memikirkan sesuatu, membuat Faris dengan segera, langsung beralasan kalau dia sudah lapar, dan ingin segera makan.
"Ayo kita makan,,! Aku udah lapar ni,,'' kata Faris dan langsung melangkah pergi.
"Ayo Ma,, kita makan sama-sama,," Aleta berkata kepada Alira dengan malu-malu, sambil melangkah menyusul Faris yang sudah duluan pergi.
Tanpa berkata apa-apa, Alira pun melangkah menuju dapur, sampainya di dapur, Alira melihat Faris dan Aleta sudah duduk di depan meja makan, dan tanpa menunggu lama, Alira pun ikut duduk. Alira melihat betapa sempurnanya Aleta sebagai seorang istri, karena selain cantik, Aleta juga sangat pandai dalam mengurus semua kebutuhan suaminya, termasuk memasak dan menyajikan makanan.
"Mau makan apa Ma,,? Biar aku ambilin,," kata Aleta, setelah selesai mengambilkan makanan buat Faris.
"Mama udah makan sayang,, justru Mama ke sini buat ajak kalian makan di rumah Mama, karena Mama fikir, kalian belum ada persediaan makanan,," jawab Alira.
"Tadi siang dia sudah pesan semua persediaan makanan,," sambung Faris.
"Mama duduk di sini dulu sampai kalian selesai makan,," kata Alira.
Alira melihat Faris dan Aleta yang sedang menikmati makanan, dengan perasaan yang sangat bahagia. Alira merasa sangat bahagia, karena semenjak menikah dengan Aleta, Faris sudah banyak berubah. Faris tidak seperti yang dulu lagi, yang hampir tidak pernah tersenyum dan lebih banyak diam.
Setelah Faris dan Aleta selesai makan, Alira segera pamit untuk pulang, dan setelah Alira pulang, mereka berdua langsung naik ke kamar mereka, yang terdapat di lanti atas. Sampainya di kamar, Faris langsung meraih laptopnya, dan naik ke atas tempat tidur. Faris memilih untuk duduk di atas tempat tidur, dan mengerjakan pekerjaannya, yang belum sempat dia selesaikan tadi di kantor.
Sedangkan Aleta, dia duduk terdiam di samping tempat tidur, sambil memikirkan Mama Mertuanya tadi. Aleta sangat yakin kalau Mama Mertunya, pasti mengetahui apa yang dia dan Faris lakukan di dalam lift tadi, dan Aleta sangat malu atas semu itu, dan Faris yang tidak sengaja melihatnya lngsung bertnya.
"Kamu kenapa,,?" Tanya Faris sambil mentap Aleta.
"Mas, aku tu malu bangat sama Mama tadi,," jawab Aleta yang sudah menatap suminya.
"Malu kenapa,,?" Tanya Faris yang sudah kembali fokus dengan laptopnya.
"Tadi pasti Mama mengetahui apa yang kita lakukan di dalam lift,," jawab Aleta.
"Ko jawaban kamu gitu sih Mas,,?" Tanya Aleta sedikit kesal.
"Terus mau kamu aku harus apa,,? Lagian Mama tu bukan anak kecil lagi, jadi wajar kalau dia tahu,," jawab Faris.
"Kamu ngga perlu memikirkan itu,yang harus kamu fikirkan sekarang, bagaimana caranya biar kamu cepat-cepat hamil,," kata Faris yang membut Aleta langsung terdiam.
Sebenarnya Aleta belum siap untuk hamil, karena dia masih kuliah, dan dia juga mahasiswi baru di Kampus. Aleta mau hamil dan punya anak, kalau nanti dia sudah menyelesaikan kuliahnya, tapi Aleta tidak bisa menyampaikan apa yang menjadi keinginannya itu, karena dia tidak ingin mengecewakan suaminya.
Tanpa berkata apa-apa, Aleta segera naik ke atas tempat tidur, dan berbaring membelakangi Faris, sambil memikirkan apa yang menjadi keinginan suaminya itu, dengan tampang yang terlihat sedih.
Faris yang sedang fokus dengan laptop di pangkuannya, merasa sedikit aneh juga bingung melihat sikap Aleta, dia yakin kalau istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya, dan tanpa menunggu lama, dia langsung bertanya kepada Aleta yang sedang membelakanginya itu.
"Kamu kenapa,,?" Tanya Faris sambil terus mengotak-ngatik laptopnya.
"Ngga apa-apa Mas,," jawab Aleta.
"Kamu ngga usah bohong, aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku,," kata Faris yang membuat Aleta tidak bisa untuk mengelak lagi.
Karena sudah tidak bisa untuk berbohong lagi, akhirnya Aleta bangun dan duduk di samping Faris, kemudian mengatakan semua yang sedang dia rasakan saat itu.
"Maas,, sebenarnya aku belum siap untuk hamil, aku kan baru saja melanjutkan kuliah aku, kalau aku hamil, mau dan tidak mau aku harus cuti,," kata Aleta.
Mendengar perkataan istrinya, dengan segera Faris langsung menghentikan pekerjaannya, dan menatap Aleta dengan tatapan yang tidak bisa di artikan sambil berkata.
"Apa yang kamu katakan,,? Apa kamu sudah berfikir, sebelum mengatakan semua itu,,?" Tanya Faris dengan nada yang terdengar sudah sangat aneh.
"Maas, aku mau selesaikan kuliah aku dulu,," jawab Aleta.
"Aletaa,, walaupun kamu itu seorang mahasiswi, tapi kamu jangan lupa kewajiban kamu sebagai seorang istri,,! Aku menikah bukan karena hanya cinta padamu, tapi aku juga ingin memiliki anak darimu,," kata Faris.
"Aku tahu kewajibanku Maas, tapi kita kan bisa menunggu sebentar, sampai aku menyelesaikan kuliah dulu,," kata Aleta.
"Apaaa, sebentar kata kamu,,? Aletaa,, dua tahun itu bukan waktu yang sebentar, dan aku tidak bisa menunggu selama itu,,! Kata Faris.
"Tapi kan Mas,,," suara Aleta seketika langsung tertahan.
"Tapi apaa,,? Apa aku harus menunggu sampai semua orang tahu, kalau aku tidak bisa punya anak karena mandul,,? Iyaaaa,,?" Faris berkata-kata dengan
penuh emosi, yang membuat Aleta langsung ketakutan dan tidak bisa berkata-kata.
Dengan penuh amarah, Faris meletakan laptopnya ke atas tempat tidur, dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Aleta sendirian di dalam kamar.