
Selesai berbicara dengan Faris, Aleta langsung buru-buru melangkah menuju ruangannya, setelah membaca pesan masuk dari Melda, kalau Dosen yang akan memberikan mata kuliah sudah berada di dalam ruangan mereka.
Pukul 11 siang, Aleta, Melda dan teman-teman mereka yang lain melangkah menuju kantin, dan di kantin sudah ada banyak mahasiswa dan mahasiswi yang lain, termasuk Melisa dan teman-temannya juga teman-teman Faris.
Semua yang ada di situ menatap Aleta dengan tatapan berbeda-beda, ada yang menatapnya sambil tersenyum ramah, ada juga yang menatapnya dengan tatapan sinis karena tidak menyukainya, yang tidak lain adalah, para wanita-wanita halu yang tergila-gila pada susminya, terutama Melisa.
Tapi Aleta tidak sama sekali memperdulikan tatapan orang-orang itu, dengan santainya dia melangkah bersama Melda dan yang lainnya, menuju meja kosong yang berada di sudut sana.
Sedangkan Melisa yang melihat ekspresi Aleta semakin kesal, apalagi dia mendengar beberapa orang yang ada di situ, berbisik memuji-muji kecantikan Aleta. Melisa sangat kesal karena dia merasa tersaingi oleh Aleta, di tambah lagi dengan status Aleta yang sudah menjadi istri dari laki-laki terpopuler di Kampus itu.
"Sombong bangat tu cewek,,!" Kata salah satu teman Melisa.
"Biarin saja,, sebentar lagi dia akan menangis bombay, kalau Faris sudah berada di dalam pelukanku,,!" Kata Melisa dengan begitu percaya dirinya.
Sedangkan Aleta tidak sama sekali memperdulikan mereka, yang hampir mati karena kehadirannya di kantin itu, Aleta hanya fokus mengobrol dengan Melda dan teman-temannya yang lain, setelah selesai makan, dan tiba-tiba suasana di kantin itu seketika jadi heboh, di saat mereka semua melihat Faris sedang melangkah dari sana, dengan gagahnya sambil melepaskan kaca mata hitamnya.
Semua heran dan terkejut dengan kedatangan Faris di kantin itu, karena selama ini mereka tidak pernah melihat Faris datang di kantin, apalagi makan di sana, selama kuliah di situ, Faris tidak pernah berlama-lama di Kampus, setiap selesai menerima mata kuliah, Faris langsung pergi dari Kampus.
Begitulah Faris, menjadi seorang pengusaha muda memang sangat menyita waktu, apalagi dia adalah laki-laki yang sangat pekerja keras, dia tidak punya waktu untuk bermain-main seperti teman-temannya yang lain, sejak masih SMP, dia sudah sibuk dengan segala bisnis keluarganya.
Tapi Faris tidak pernah merasa terbebani ataupun mengeluh, dia sangat bersemangat melakukan semua itu, karena dia tidak ingin berpangkuh tangan dan menikmati harta keluarganya, dan dengan prinsip seperti itu, sehingga di umur yang masih mudah dia sudah punya segala-galanya.
Semua wanita-wanita yang ada di kantin memandang Faris tanpa berkedip sama sekali, dan Faris yang sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan seperti itu, hanya melangkah dengan santainya menuju tempat duduk teman-temannya.
"Hay bro,,!" Sapa Kelvin sambil menyalami Faris, begitupun dengan yang lain termasuk Alex dan pacar-pacar mereka.
Sedangkan Aleta yang berada di sudut sana, hanya mengobrol dengan Melda dan yang lain tanpa memperdulikan suaminya, yang juga tidak perduli padanya, di dalam hati kecilnya, dia ingin sekali di perdulikan oleh Faris di saat-saat seperti itu, biar para
wanita-wanita halu itu tahu kalau Faris sangat mencintainya, tapi Aleta juga sadar, semua itu hanyalah harapan yang tidak mungkin terjadi, karena suaminya itu laki-laki yang tidak suka mengumbar kemesraan di depan orang.
"Tu lihat,,! Faris tidak memperdulikannya sama sekali,,! Kasihan bangat jadi istri yang tidak di perdulikan." Bisik Melisa kepada teman-temannya, dan serempak mereka langsung tertawa.
Aleta yang sedang memperhatikan tugas kelompok, yang di tunjukan oleh Cika yang berda di sampingnya, tidak memperdulikan mereka sama sekali, waupun di dalam hatinya terasa sakit mendengar tawa mereka yang terdengar mengejek.
Tapi tiba-tiba, tawa wanita-wanita gila itu terhenti serentak, di saat mereka melihat Faris melangkah menuju tempat duduk Aleta. Selesai bersapa juga bersalaman dengan teman-temannya, Faris kemudian melangkah ke arah Aleta.
Sampainya di samping Aleta, dan tanpa berkata-kata, Faris langsung meraih jaket di samping tempat duduk Aleta, kemudian menutupinya ke pundak Aleta, dan hal itu membuat Aleta seketika langsung terkejut, dan mengangkat mukanya menatap suaminya.
Semua wanita yang ada di situ, sangat irih melihat Aleta terutama Melisa. Dan tidak hanya itu saja, setelah menutup pundak Aleta dengan jaket, Faris kembali menunduk dan mencium pipi Aleta dengan begitu mesranya sambil berbisik.
"Sebentar malam kita menginap di vila,, dan kamu harus siap untuk itu,,!" Bisik Faris yang membuat bulu kuduk Aleta langsung bangkit.
Setelah itu Faris langsung mengangkat mukanya, dan menatap Melda yang sudah senyum-senyum sendiri sambil menatap mereka.
"Iiiiih,, Mas aku romantis bangat deh,," Kata Melda yang membuat Faris langsung menarik hidungnya.
Kemudian Faris kembali menghampiri teman-temannya dan duduk bergabung di sana. Sedangkan Aleta yang sudah sangat malu atas perlakuan suaminya, tidak bisa untuk mengangkat wajahnya, apalagi semua yang ada di situ masih terus menatapnya, di tambah lagi dengan Melda juga teman-temannya yang lain, yang tidak henti-henti mengodanya.
Pukul 2:30 tepat, Faris melajukan mobilnya menuju rumah bersama Aleta dan Melda, Faris buru-buru pulang ke rumah, karena dia dan Aleta akan ke puncak sore itu juga, sampainya di depan rumah, Faris dan Aleta segerah turun dan melangkah masuk, sedangkan Melda, dia pun langsung melangkah menuju rumahnya, yang berada tepat di samping rumah Papa Fahri itu.
Tapi semua berjalan tidak sesuai dengan rencana mereka, sampainya di dalam rumah, mereka sudah di
sambut oleh kedua orang tua Faris, yang sedang
duduk di ruang keluarga.
"Ris,, ayo kalian ke sini dulu,,! Ada yang ingin Papa sampaikan." Kata Fahri.
"Ada apa Pa,,?" Tanya Faris setelah duduk di hadapn orang tuanya.
"Malam ini kita semua di undang ke acara teman Papa,,! Dan kita semua harus pergi,,! Karena setiap acara kita, beliau juga selalu datang bersama keluarganya." Kata Papa Fahri yang membuat Faris langsung lemas, namun dia tidak bisa untuk menolak.
"Iya pa,,!" Jawab Faris.
Sedangkan Aleta hanya terdiam, Aleta sangat menghawatirkan keadaan suaminya, apalagi kata Dr Rani tadi, Kalau Faris akan tersiksa kalau hasratnya tidak terpenuhi, terkecuali dia mengkonsumsi obat yang ada di Dr Rani, tapi Aleta tidak mau kalau Faris tergantung dengan obat itu, soalnya obat itu bisa mengakibatkan mandul untuk laki-laki yang sering mengkonsumsinya.