CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 87. Kenyataan Yang Pahit


Faris, Aleta, dan yang lainnya menunggu di dekat jurang itu sampai pagi, dengan perasaan sedih bercampur cemas. Salah seorang polisi yang sejak semalam turun ke dasar jurang, sudah naik ke atas dan memberitahukan kaadaan keluarga Faris, sejak pukul 3 dini hari tadi kepada komandan mereka. Dan komandan mereka memilih untuk tidak memberitahukannya dulu, kepada Faris dan yang lainnya.


Di saat Faris dan yang lainnya bertanya, Komandan Polisi itu hanya mengatakan, kalau mereka belum berhasil di temukan, karena di bawah sana sedang ada kabut tebal, dan mereka pun langsung percaya apa yang di katakan Komandan Polisi itu, dan meminta untuk terus mencari.


Pukul 8 pagi tepat, mobil Papa Fahri berhasil di tarik ke atas. Faris, Aleta dan yang lainnya segera berlari menghampiri mobil Papa Fahri, dengan tangisan yang tiada henti.


Tapi setelah berada di dekat mobil Papa Fahri,


mereka semua langsung kaget, karena di dalam mobil yang sudah hancur hampir 80 persen itu, tidak terlihat siapapun di dalamnya. Dan itu membuat Faris tiba-tiba berfikiran buruk.


Pemikiran buruk Faris tiba-tiba datang, setelah dia melihat keadaan mobil Papanya itu. Tanpa menunggu lama, Faris pun langsung bertanya kepada Komandan Polisi, yang sedang berdiri tepat di sampingnya.


"Pak,, di mana keluarga saya,,?" Tanya Faris dengan tampang yang begitu tegang.


"Anak buah saya akan naik bersama mereka sebentar lagi." Kata Komandan Polisi itu.


"Terus bagaimana keadaan mereka,,? Mereka selamat kan,,?" Tanya Faris lagi dengan penuh ketakutan.


Sedangkan Aleta, Melda, Tante Leni dan Boy, sedang berdiri di samping Faris, sambil menangis dan tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka semua semakin bersedih setelah melihat keadaan mobil yang sudah sangat hancur itu.


"Pak,, bagaimana keadaan mereka,,?" Tanya Faris lagi sambil menggoyangkan lengan Komandan Polisi itu.


"Maaf Pak,, keluarga anda hanya satu orang yang masih hidup, dan yang lainnya sudah tidak bernyawa." Kata Komandan Polisi itu sambil menatap Faris dengan tatapan sedih.


Mendengar perkataan Komandan Polisi itu, Faris, Aleta, Melda, Tante Leni dan Boy langsung menangis histeris, Faris Menangis dan ingin segera berlari menuju tepi jurang yang dalam itu, tapi Aleta segera memeluknya sambil menangis.



Faris menangis sampai terduduk ke tanah, dan Aleta tidak melepaskannya, Aleta terus memeluk Faris sambil menangis. Faris menangis sambil memanggil-manggil Mama dan Papanya.


"Mamaaa,,, Papaaaa,, Maaaaa,, aku tidak mau kehilangan kalian. Jangan pergi tinggalkan kamiii,, hiks,,,, hiks,,,,hiks.


Sedangkan Melda, dia sudah pingsan setelah mendengar apa yang di katakan Komandan Polisi tadi, dan dia sedang di urus oleh Tante Leni dan Boy. Kali ini Melda pingsan cukup lama, dia seperti itu, mungkin karena dia terlalu terpukul mendengar kabar keluarganya.


Beberapa warga yang melihat keadaan Melda,


langsung membantu Tante Leni untuk menyadarkan Melda. Dan akhirnya Melda pun sadar setelah di gosok dengan minyak angin milik salah seorang warga.


Faris memeluk Melda dengan eratnya, dan dia juga berbisik di telinga Melda untuk bisa tenang dan menerima semuanya. Faris mencoba untuk menguatkan Melda walaupun dia sendiri tidak mampuh untuk menguatkan dirinya sendiri.


Mendengar kata-kata Faris di telinganya, akhirnya Melda pun mulai sedikit tentang. Tapi tidak berapa lama, mereka semua langsung histeris, setelah beberapa Polisi naik dari jurang dengan membawa orang-orang yang mereka sayangi sudah tidak bernyawa.


Di antara mereka semua yang mengalami kecelakaan, hanya Almira yang masih bernafas, Sedangkan yang lainnya sudah terbujur kaku. Melda yang melihat kedua orang tuanya sudah tidak bernyawa, kembali histeris.


Sedangkan Faris dan yang lainnya, hanya bisa menangisi orang-orang yang mereka sayangi, yang sudah pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Tanpa menunggu lama, Faris segera meminta Tante Leni untuk naik ke mobil ambulans yang sudah siap melarikan Almira ke Rumah Sakit.


Setelah mobil ambulans yang membawa Almira pergi, Faris dan Aleta pun langsung naik di salah satu mobil, yang akan membawakan jenazah keluarganya, menuju rumah utama keluarga Permana.


Faris dan Aleta naik di mobil jenazah, yang membawa jasad Papa Fahri dan Mama Alira. Sedangkan Boy dan Melda, naik dengan mobil


jenazah yang membawa orang tua Melda. Dan yang mengikuti mobil yang membawa jasad Opa Indra dan Oma Rita, adalah keluarga Alira yang baru tiba dari Bandung pukul 4 dini hari tadi.


Orang tua Alira sangat terpukul dengan kejadian itu, karena tidak ada tanda apa-apa sebelum kejadian itu terjadi. Hanya ada satu hal yang aneh, keanehan itu, di saat kakeknya Faris tidak ingin merayakan ulang tahun, Alira dan Fahri malah memaksa, dan mereka juga ingin merayakannya dengan begitu mewah.


Orang tua Alira menangis, karena mereka tidak sanggup kehilangan anak perempuan mereka satu-satunya, juga menantunya yang sangat baik itu. Apalagi Alira dan Fahri tidak pernah membedakan antara orang tua kandung dan mertua.


Faris menggenggam tangan kedua orang tuanya yang sudah dingin dan kaku itu, sambil terus menangis. Dia tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup tanpa keluarganya. Apalagi saat ini, tinggal dia sendiri yang akan bertanggung jawab atas semuanya.


Aleta yang berada di sampingnya pun tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Aleta sangat merasa kehilangan, karena dia sudah menganggap keluarga suaminya itu, seperti keluarga kandungannya sendiri.


Aleta sangat kasihan melihat keadaan suaminya yang terpuruk, atas kepergian orang-orang yang dia sayang. Tapi Aleta tetap berusaha untuk mengutkan Faris. Sambil mengusap-usap punggung Faris, Aleta pun berkata.


"Kamu harus kuat Mas,, karena kamu adalah harapan keluargamu. Kamu juga harus ikhlas atas kepergian orang-orang yang kamu sayang." Kata Aleta dengan berlinang air mata.


"Ini sudah waktunya mereka pergi Mas,, Tuhan sudah menghendaki semuanya. Aku yakin, mereka semua yang sudah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya, tahu kalau kamu bisa menggantikan peranan mereka dengan sebaik mungkin.


"Bukan aku saja yang membutuhkan kamu Mas,, Melda juga Almira sangat membutuhkanmu saat ini. Jadi kamu itu harus kuat demi aku dan mereka berdua. Kalau kamu terus bersedih, Mama Papa, Oma Opa, juga Om dan Tante pasti akan bersedih juga." Kata Aleta yang membuat Faris langsung menghapus air matanya sambil berkata.


"Maaa,, Paaa,, jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Aku akan menjadi Mas sekaligus Ayah buat Almira dan Melda. Aku akan menyayangi dan menjaga mereka seumur hidupku." Kata Faris dengan berderai air mata.


"Aku juga berjanji untuk membuat Papa sama Mama bangga, dan aku tahu, ini jalan yang sudah di atur oleh Tuhan. Aku harap, kalian semua akan bahagia di alam sana." Kata-kata Faris yang membuat Aleta tambah bersedih.


Dengan segera, Aleta langsung memeluk Faris dan menangis dengan begitu sedihnya. Faris pun membalas pelukan Aleta dengan air mata yang berderai.