CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 52. Ketakutan Faris.


Di dalam perjalanan, Faris merasa sedikit aneh, dengan sikap Aleta yang hanya terdiam sejak tadi, apalagi di dalam mobil, Aleta hanya duduk termenung sambil menatap ke arah luar melewati kaca mobil, dan diamnya Aleta itu, membuat Faris jadi sedikit hawatir. Akhirnya, tanpa menunggu lama Faris pun langsung bertanya.


"Kamu kenapa sayang,,?" Tanya Faris sambil terus fokus ke depan.


"Ngga apa-apa Mas,, cuman lagi mikir sesuatu aja,,!" Jawab Aleta.


"Apa yang kamu fikirkan,,?" Tanya Faris lagi.


"Sampai di rumah aja baru kita bahas,, Mas fokus aja nyetirnya,,!" Jawab Aleta sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil.


Tidak memakan waktu lama, mereka pun sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobil, Faris juga Aleta langsung melangkah masuk, kemudian naik ke lantai atas menuju kamar mereka. Sedangkan Orang Tuanya juga Almira, masih berada di rumah Opanya.


Setelah berada di dalam kamar, Aleta yang berada tepat di depan Faris, dengan posisi membelakangi Faris, segera berbalik dan langsung memeluk Faris, dan Faris yang di peluk sngat bingung dengan tingkah istrinya itu, namun dia pun langsung membalas pelukan istrinya itu sambil bertanya.


"Ada apa sayang,,?" Tanya Faris.


"Maaas,, kamu benaran cinta kan, sama aku,,?" Tanya Aleta dengan nada suara yang sangat bergetar, karena dia sudah mulai menangis.


Mendengar pertanyaan Aleta, Faris langsung melepaskan pelukannya, kemudian dia menatap wajah cantik istrinya, yang sudah basah dengan air mata, sambil berkata.


"Mengapa kamu menanyakan itu lagi,,?" Tanya Faris sambil menatap mata indah yang sudah di penuhi air mata itu.


"Aku sudah mendengar semua tentang masa lalu kamu, dan semua yang telah terjadi dengan keluargamu juga Nenekku." Jawab Aleta.


"Kamu dengar dari siapa,,?" Tanya Faris dengan nada yang sudah terdengar aneh.


"Dari Melda,,! Tapi itu karena aku yang memaksanya,,! " Jawab Aleta yang sudah mulai merasa takut dengan


ekspresi Faris.


"Mengapa sampai kamu bisa memaksanya,,? Apa yang membuatmu bisa mengetahui hal itu,,?" Tanya Faris dengan tatapan mencari tahu.


Akhirnya Aleta pun menceritakan semua yang terjadi di pesta tadi mengenai Melisa, yang tidak di ketahui oleh Faris, karena pada saat itu, Faris sedang mengobrol bersama beberapa orang rekan bisnis keluarganya.


"Jadi sekarang, apa yang sedang kamu fikirkan,,?" Tanya Faris sambil menatap tajam istrinya.


Melihat tatapan tajam dari Faris, Aleta langsung menundukan kepalanya, dan dia tidak bisa untuk berkata apa-apa, karena dia tahu, kalau suaminya itu sudah tahu apa yang sedang dia fikirkan.


"Aletaa,, aku tahu kamu pasti berfikir, kalau aku menikahimu hanya karena balas budi aku terhadap Mbah, yang telah berkorban untuku, dan bukan karena aku mencuntaimu,, iya kan,,?" Tanya Faris, dan Aleta yang sedang menunduk hanya mengaguk.


"Aleta, sejak aku masih kecil, setiap aku bersama Mbah, hanya kamu dan Orang Tua kamu yang selalu dia ceritakan padaku, begitupun kepada Melda juga Almira." Kata Faris.


"Dan mengapa sampai Mbah selalu menceritakanmu padaku,,? Karena aku selalu memintanya untuk bercerita tentangmu,,! Dan mengapa sampai aku memintanya,,? Itu karena aku sudah ada rasa tertarik padamu, walaupun di usiaku yang masih remaja dan aku pun belum pernah melihatmu.


"Jadi jangan pernah kamu berfikir, kalau aku menikahimu hanya semata-mata untuk membals budi,,! Karena pernikahan itu adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup aku, dan aku membutuhkan cinta untuk melakukan itu,,!" Jelas Faris panjang lebar yang membuat Aleta, langsung memeluknya dengan erat sambil berkata.


"Maafkan aku Maas,, aku kaya gini, karena aku sangat


Faris yang mendengar kata-kata Aleta barusan, langsung mendekap erat Aleta dalam pelukannya, sambil mengecup pucuk kepala Aleta berulang-ulang. Kemudian setelah beberapa menit berpelukan, Faris dengan penuh kasih sayang, menghapus air mata Aleta dengan ke dua tangannya sambil berkata.


"Ayo kita tidur,,! biar kamu ngga telat ke Kampus besok,,!" Kata Faris dan Aleta hanya mengngguk.


Mereka berdua langsung memilih untuk tidur, setelah selesai membersihkan wajah dan mengganti pakaian mereka, dan mungkin karena pengaruh kecapean, sehingga tidak berapa lama, mereka pun terlelap.


Pukul 6:30 Aleta yang sudah terbiasa bangun pagi, sudah membuka matanya namun dia belum mau untuk turun dari tempat tidur, dia memilih untuk menatap wajah tampan, yang masih terlelap di sampingnya itu sambil tersenyum.



Aleta sangat bahagia memiliki Faris, karena di balik sifatnya yang cuek, kaku, dan tidak banyak bicara, tapi Faris adalah laki-laki yang bisa membuatnya merasakan kebahagiaan, yang selama ini tidak dia rasakan, semenjak kepergian kedua Orang Tuanya.


"Maaas,, aku sangat mencintaimu, dan aku harap, kita


akan selalu bahagia di hari-hari berikutnya." Aleta berkata dalam hatianya, sambil mengusap-ngusap wajah Faris dengan sebelah tangannya.


Tapi tiba-tiba Aleta langsung kaget, di saat Faris membuka mata dan menatapnya sambil tersenyum, dan Aleta pun langsung membalas senyuman suaminya yang tampan itu.


"Kamu bangun dari tadi,,?" Tanya Faris sambil meraih tangan Aleta yang berada di pipinya itu, kemudian mengecupnya dengan mesra.


Aleta yang mendapatkan perlakuan romantis dari suaminya, langsung tersenyum memeluk tubuh kekar Faris, yang bertelanjang dada tanpa berkata apa-apa, dan Faris dengan penuh kasih sayang, mengecup pucuk kepala istrinya, kemudian memeluknya sambil memejamkan mata, begitu pun dengan Aleta.



Mereka berdua dengan posisi seperti itu hampir setengah jam, dan Aleta yang sudah menjadi kebiasaannya membantu para Bibi di dapur setiap pagi, segera melepaskan pelukan Faris sambil berkata.


"Maaas,, aku ke dapur dulu ya,,!" Kata Aleta setelah melepaskan tangan Faris yang tadi memeluknya.


"Untuk apa kamu ke dapur setiap pagi,,?" Tanya Faris dengan wajah kesalnya.


"Untuk bantu buatin sarapan,,!" Jawab Aleta.


"Kan ada Bibi,,!" Sambung Faris.


"Maas, di dapur sana bukan hanya ada Bibi, tapi Mama juga setiap pagi ada di dapur, bantuin para Bibi buatin sarapan,,! Masa Mama buatin sarapan, sedangkan aku hanya di kamar,,?" Kata Aleta.


"Kamu sama Mama itu sama aja,, kalau Mama ngga masalah ninggalin Papa di kamar, karena mereka kan


sudah punya aku dan Almira, tapi kita kapan punya anaknya kalau kaya gini,,!" Kata Faris dengan wajah ngambeknya, dan itu membuat Aleta yang sudah turun dari tempat tidur langsung terkekeh.


Aleta melangkah pergi dari kamar sambil terkekeh, sebab dia merasa lucu dengan tingkah suaminya yang seperti anak kecil itu, tapi di sisi lain, dia pun jadi memikirkan kata-kata suaminya itu, karena dia berfikir, cinta mereka berdua tidak akan terlalu kuat, juga tidak akan indah, tanpa hadirnya seorang anak.


Sedangkan Faris yang masih terlentang di atas tempat tidur, sedang berfikir untuk membeli sebuah rumah untuk dia dan Aleta tempati, biar mereka bisa punya waktu untuk berlama-lama di dalam kamar, karena Faris sudah mengerti, kalau Aleta selalu merasa tidak enak hati, kalau dia tidak melakukan apa-apa di rumah itu, walaupun dia tidak pernah di suruh, atau pun di minta untuk melakukan apapun.


Sebenarnya Faris juga tidak terlalu ingin, memaksakan Aleta untuk hamil dalam waktu cepat ini, tapi ada sebab yang membuatnya ingin secepatnya Aleta hamil, dan penyebanya itu bukan dari Aleta, tapi dari dia sendiri, tanpa Aleta ketahui, Faris sangat takut kalau nanti dia tidak bisa punya anak, karena dia sudah sangat lama mengkonsumsi obat yang di berikan Dr Rani.