
Pukul 9 malam waktu Amerika, Faris yang baru selesai makan malam, dan sedang nonton siaran TV di dalam kamar hotel tempatnya menginap, memilih untuk menghubungi Aleta, namun nomor Aleta di luar jangkauan. Akhirnya Faris memutuskan untuk berbaring di tempat tidur, sambil menunggu waktu yang tepat untuk menghubungi Aleta, karena dia tahu, kalau Aleta pasti sedang menerima mata kuliah.
Mungkin karena kecapean, Faris yang tadinya niat hanya berbaring, sudah terlelap di atas tempat tidur.
Pukul 11:30 siang waktu Indonesia, Aleta yang baru keluar dari ruangan, dan sedang melangkah menuju kantin bersama teman-temannya, segera mengaktifkan ponselnya, dengan harapan ada pesan masuk dari Faris. Tapi seketika dia langsung murung,
karena tidak ada pesan sama sekali dari Faris.
Sambil melangkah dengan wajah penuh kekecewaan, Aleta kembali berfikiran macam-macam tentang suaminya. Aleta seperti itu bukan karena dia tidak percaya dengan cinta juga kesetiaan suaminya, tapi dia begitu hawatir dengan keadaan Faris.
Sampainya di kantin, Melda dan teman-temannya yang lain, langsung memesan makanan terkecuali Aleta. Karena terlalu banyak pikiran, sehingga membuat Aleta tidak berselera untuk makan, dia hanya duduk terdiam sambil menatap gambar dia dan Faris di layar ponselnya.
Melda yang sudah memperhatikan Aleta sejak tadi, jadi merasa khawatir dengan Aleta yang terlihat sangat tidak bersemangat. Dan di saat Melda mau menanyakan keadaan Aleta, Cika yang juga sejak tadi memperhatikan Aleta, sudah duluan bertanya.
"Al,, kamu kenapa,,?" Tanya Cika yang membuat teman-temannya yang lain, langsung menatap ke arah Aleta.
"Aku ngga apa-apa,," jawab Aleta berbohong sambil tersenyum, kepada Cika dan yang lainnya.
Karena tidak ingin membuat teman-temannya
merasa khawatir dengannya, akhirnya Aleta memilih untuk berbohong, dan kembali bersikap biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi itu tidak membuat Melda yang lebih mengenal Aleta, dari teman-temannya yang lain percaya begitu saja. Melda yakin kalau Aleta sedang berbohong.
Selesai makan, Aleta, Melda dan teman-teman mereka, memilih untuk kembali ke ruangan, karena masih ada satu mata kuliah lagi yang mau mereka terima. Tapi belum sempat mereka memasuki ruangan, mereka sudah di beri tahu sama salah satu teman satu ruangan mereka, kalau Dosen yang akan memberikan mata kuliah selanjutnya berhalangan hadir.
Setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh teman mereka itu, Aleta dan semua teman satu ruangannya bergegas untuk pulang, karena itu mata kuliah terakhir mereka pada hari itu.
Aleta dan Melda pulang di jemput oleh supir pribadi Opa Indra. Walaupun mereka berdua sudah pandai menyetir mobil, tapi Oma Rita juga Opa Indra tidak mengizinkan mereka, pergi ke Kampus menyetir mobil sendiri, padahal ada beberapa mobil mewah yang di anggurin di dalam garasi.
Sampainya di rumah, Melda langsung menarik tangan Aleta menuju lantai atas. Melda membawa Aleta masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Aleta sangat bingung dengan apa yang di lakukan oleh Melda, dan di saat dia ingin bertanya, Melda yang sudah bertanya duluan. Dan pertanyaan Melda membuat Aleta kembali termenung.
"Al,, sebenarnya ada apa sama kamu,,? Kamu selalu termenung dan tidak bersemangat sama sekali,," tanya Melda yang membuat Aleta yang sejak tadi menatapnya, jadi menundukan kepalanya tanpa menjawab apa-apa.
"Kamu kangen sama Mas Faris,,?" Tanya Melda lagi tapi Aleta tetap tidak menjawab malah dia meneteskan air mata.
Melihat Aleta yang sudah menangis, membuat Melda jadi tambah bingung bercampur cemas. Melda tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan Aleta. Apalagi dia belum tahu penyebab yang membuat Aleta jadi seperti itu. Dan di saat Melda ingin kembali bertanya, Aleta sudah duluan berkata-kata, akhirnya Melda hanya terdiam sambil mendengarkan apa yang di katakan oleh Aleta.
"Mel,, Aku tu khawatir bangat sama Mas Faris,," kata Aleta dengan berlinang air mata.
"Aal,, Mas Faris itu sangat mencintai kamu, jadi kamu ngga perlu khawatir,," kata Melda.
"Aku tahu Mel,, tapi aku takut Mas Faris tidak bisa untuk menahan diri,," kata Aleta yang membuat Melda jadi bingung.
"Aku ngga mengerti maksud kamu Al, tapi aku yakin, Mas Faris ngga akan macam-macam di belakang kamu,," kata Melda.
"Apaaa,,? Kelainaan,,?" Suara Oma Rita dari depan pintu, yang membuat Aleta juga Melda terkejut, dan langsung menatap ke arah pintu.
"Omaaa,," panggil Aleta dan Melda bersamaan.
"Sayang,, maksud kamu Faris punya kelainan apa,,?" Tanya Oma Rita sedikit keras setelah duduk di hadapan Aleta.
Apa yang barusan Oma Rita katakan itu, membuat Alira yang baru muncul bersama Meymey di depan pintu, hampir pingsan. Alira memegang kepalanya yang terasa pusing tiba-tiba sambil berkata.
"Apa yang terjadi dengan putraku,,?" Tanya Alira dari depan pintu yang membuat Oma Rita, Aleta juga Melda terkejut.
"Lira,, kalian di sini,,?" Tanya Oma Rita.
"Kita baru saja sampai Ma,, tapi apa yang aku dengar tadi Ma,,?" Tanya Alira sambil melangkah mendekat ke arah tempat tidur bersama Meymey.
"Mama juga belum tahu, makannya Mama tanya sama Aleta.
"Mas Faris memiliki libido Ma,," jawab Aleta yang membuat Alira dan yang lainnya langsung menutupi mulut mereka, yang terbuka lebar dengan telapak tangan saking kagetnya.
Mendengar apa yang di katakan Aleta, Meymey dengan segera langsung menyuruh Melda untuk keluar dari kamar. Karena Melda sendiri yang belum berumah tangga di antara mereka, jadi dia belum pantas mendengar semuanya walaupun dia sudah dewasa.
Setelah Melda keluar dari kamar, tanpa menunggu lama, Alira kembali bertanya kepada Aleta.
"Al,, benar apa yang kamu katakan tadi,,?" Tanya Alira.
"Iya Ma,, dan kata Dr Rani, itu pengaruh dari obat perangsang yang pernah di konsumsi Papa dulu,," jawab Aleta.
Mendengar penjelasan Aleta, Oma Rita, Alira juga Meymey langsung saling menatap satu sama lain, karena mereka semua mengetahui tentang Bela yang menjebak Fahri dengan perangsang waktu dulu.
"Trus kenapa kamu menangis,,? Apa semua itu menyakitimu,,?" Tanya Alira sambil mengusap-usap kepala Aleta.
"Kalau untuk itu aku ikhlas Ma,, karena aku sangat mencintai Mas Faris. Aku menangis karena aku takut, aku takut Mas Faris tidak bisa menahan diri di sana,," kata Aleta dengan bercucuran air mata.
Mendengar perkataan Aleta, membuat Oma Rita, Alira dan Meymey langsung tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, karena mereka merasa sangat terharu, dengan cinta Aleta yang begitu besar kepada suaminya.
"Kamu ngga perlu khawatir, semuanya kan sudah di urus sama Faris sebelum dia pergi, jadi kamu bisa berangkat kapan saja. Kalau kamu mau, besok malam kamu berangkat menyusulnya,," kata Alira yang membuat Aleta langsung bersemangat.
"Benar Ma,,?" Kata Aleta sambil memegang kedua tangan Alira.
"Iya sayang,," jawab Alira sambil tersenyum kepada menantunya itu.
Dengan segera Aleta langsung memeluk Mama mertuanya dengan erat saking bahagianya, dan Alira pun membalas pelukan Aleta sambil mengusap-usap punggung menantu cantiknya itu.