
Reza yang tadinya kesal dengan Melda, jadi merasa tidak tega di saat melihat Melda menangis kesakitan. Dan Melda yang memang sudah di manjakan sejak kecil, apalagi di saat sakit seperti itu, tidak berhenti menangis. Dia menangis bukan hanya karena rasa sakit di perut dan pinggulnya, tapi dia sangat merindukan perhatian kedua orang tuanya di saat sedang sakit seperti itu.
Reza jadi bingung harus berbuat apa. Dia hanya berdiri di samping tempat tidur sambil menatap Melda yang sedang terisak di atas tempat tidur. Dan sejak tadi, Reza sudah meminta maaf tapi Melda tidak menjawab apa-apa. Akhirnya Reza melmilih untuk meletakkan kantong plastik di tangannya, di samping Melda kemudian berkata.
"Ayo cepat mandi,,! Ini pakaian buat kamu, tadi aku ke pasar untuk membelinya." Kata Reza dan langsung melangkah menuju pintu.
Setelah Reza pergi, Melda segera menutup pintu dan langsung memakai baju mandinya, kemudian melangkah menuju kamar mandi yang ada di bagian dapur. Di saat Melda melewati dapur, dia sempat melirik ke arah meja makan, dan di sana ada Reza dan Reno yang sedang makan. Dan Reno yang melihat Melda, dengan segera langsung bersuara.
"Mel,, sarapan dulu sama kita,,!" Kata Reno sambil menatap Melda.
"Duluan Baang,,! Aku mau mandi dulu." Jawab Melda malu-malu dan langsung melangkah pergi menuju kamar mandi.
Hampir satu jam Melda berada di dalam kamar mandi. Sedangkan Reno dan Reza, sudah berada di ruang depan bersama Tante Mawar dan suaminya. Mereka sedang mengobrol mengenai kabar keberadaan Reza dan Melda, yang sudah Reza sampaikan untuk keluarga Melda di Indonesia lewat pesan WhatsApp.
Reza sudah berusaha menelfon nomor keluarga Melda di Indonesia, termasuk Aleta, tapi tidak ada satupun yang bisa di hubungi. Nomor mereka semua di luar jangkauan, akhirnya Reza memilih untuk mengirim pesan melalui WhatsApp tapi belum juga ada balasan, dari semua pesan yang dia kirim.
Di saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Tante Mawar menanyakan Melda, yang membuat mereka semua langsung terdiam dan saling menatap bingung.
"Melda masih di kamarnya,,?" Tanya Tante Mawar, yang membuat mereka langsung terdiam. Tapi tidak lama Reno langsung menjawab.
"Tadi dia masuk ke kamar mandi, dan sampai sekarang kayanya belum juga keluar." Jawab Reno.
"Sudah lama apa barusan,,?" Tanya Tante Mawar lagi.
"Sudah satu jam kayanya." Jawab Reno. Dan Reza yang tadinya terdiam, langsung berdiri sambil berkata.
"Aku ke belakang dulu sebentar untuk melihat dia." Kata Reza dan segera melangkah menuju kamar mandi, yang ada di dekat dapur.
Sampainya di belakang, Reza langsung mendekati pintu kamar mandi, dan kemudian mengetuk pintu sambil memanggil-manggil nama Melda.
"Tok,,tok,,,tok,, Meldaa,, Melda." Teriak Reza tapi Melda sama sekali tidak menjawabnya.
Karena tidak mendengar suara Melda juga suara air dari dalam kamar mandi, Reza jadi merasa khawatir. Dia jadi berfikir mungkin terjadi apa-apa sama Melda di dalam kamar mandi. Dengan nada suara yang terdengar panik, Reza kembali mamanggil nama Melda.
"Meldaaa,, Melda kalau kamu tidak menjawab, aku akan dobrak pintu kamar mandi." Kata Reza yang sudah mulai panik.
"Aku ngga apa-apa." Jawab Melda dengan nada suara yang terdengar sangat tidak bersemangat.
"Trus ngapain kamu selama itu di dalam kamar mandi,,?" Tanya Reza lagi.
"Aku mau bersihin ini, tapi aku ngga tahu bagaimana caranya." Jawab Melda dari dalam kamar mandi.
Mendengar apa yang di katakan oleh Melda, membuat Reza mengerti, apa yang sedang Melda lakukan sejak tadi di dalam kamar mandi. Akhirnya Reza berfikir kalau dia harus membantu Melda, karena dia yakin Melda pasti tidak akan bisa melakukan, apa yang sedang dia kerjakan walaupun sampai malam dia berada di dalam kamar mandi.
"Apa kamu sudah selesai mandi,,?" Tanya Reza.
"Sudah dari tadi." Jawab Melda.
"Kalau begitu buka pintunya,,!" Kata Reza.
"Buat apaa,,?" Tanya Melda.
"Ngga usah,,! Aku ngga mau." Jawab Melda dari dalam kamar mandi.
"Terus sampai kapan kamu mau berada di dalam kamar mandi,,?" Tanya Reza dan Melda tidak bisa menjawab apa-apa.
"Ayo buka,,!" Kata Reza lagi.
Akhirnya Melda langsung membuka pintu kamar mandi, dan dia tidak berani menatap Reza yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi. Melda yang hanya memakai baju mandinya, berdiri di depan pintu sambil menundukan kepalanya.
"Minggir sana,,!" Kata Reza yang hendak melangkah ke dalam kamar mandi. Tapi dengan segera Melda langsung menahan dada bidang Reza sambil berkata.
"Kamu mau apaa,,?" Tanya Melda.
"Ya mau masuk ke dalam." Jawab Reza dengan tampang dinginnya.
"Tapi di dalam lagi berantakan." Kata Melda sambil menatap Reza dengan tatapan malu-malu.
"Makanya itu aku mau masuk ke dalam untuk membersihkannya." Kata Reza.
"Tapi itu pamali kata Mamaku." Kata Melda.
"Ya memang pamali, tapi kalau aku ngga lakuin, siapa yang mau lakuin,,?" Tanya Reza yang membuat Melda langsung terdiam, dan menurunkan tangannya dari dada bidang Reza.
Dengan segera Reza langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dan sampainya di dalam, matanya langsung terbelalak saking kagetnya melihat apa yang terjadi di dalam kamar mandi.
Reza sangat kaget setelah melihat darah sudah ada di mana-mana. Dan celana Aleta yang penuh dengan darah, juga sudah ada di atas lantai kamar mandi. Reza sangat kaget juga bingung melihat semuanya, dan dia tidak menyangkah ada wanita yang tidak bisa melakukan apapun seperti Melda.
Untung saja Reza orang yang tidak pernah geli dengan apapun, dan dengan terpaksa dia memutuskan untuk melakukan semuanya, walaupun itu sangat tidak pantas untuk dia melakukannya, karena dia dan Melda tidak punya hubungan apa-apa. Dan Reza juga tidak ingin merepotkan Tante Mawar untuk hal itu, karena menurut dia itu sesuatu yang sangat tidak sopan.
Sambil menarik nafas panjang, Reza pun mulai berjongkok menghadap sesuatu yang terlihat sangat jorok itu. Tapi di saat dia mau menyentuhnya, dengan segera Melda yang sudah ada di belakangnya, langsung buru-buru menahan tangannya sambil berkata.
"Jangan,,! Biar aku saja yang melakukannya. Kamu tinggal bilang saja bagaimana caranya,,!" Kata Melda sambil menarik Reza untuk berdiri.
"Apa kamu yakin bisa,,?" Tanya Reza dengan tatapan mencari tahu.
"Yakin ngga yakin aku harus melakukannya. Karena kata Mamaku, laki-laki tidak pantas untuk menyentuh darah haid wanita, yang bukan istrinya, bahkan melihatnya saja ngga bisa. Dan aku minta maaf sudah membuatmu melihat semua ini, karena aku tidak tahu harus bagaimana." Kata Melda sambil menatap Reza dengan tatapan malu-malu.
"Ya sudah,, aku akan membantumu, untuk memberitahukan caranya." Jawab Reza.
Dengan begitu kaku, Melda mulai membersihkan darahnya yang ada di celana juga di lantai kamar mandi, dengan mengikuti panduan dari Reza yang sedang berdiri di belakangnya. Dan di saat dia mau membersihkan celana dalamnya, dia langsung meminta Reza untuk keluar dari kamar mandi, karena dia sangat malu dan tidak ingin Reza melihatnya.
"Kamu keluar saja,,!" Kata Melda tanpa berbalik menatap Reza.
Mendengar apa yang Melda katakan, Reza dengan segera langsung keluar. Reza yang sudah sangat dewasa, sudah mengerti apa yang ada di dalam fikiran Melda. Dia tahu kalau Melda merasa malu untuk membersihkan celana dalam di depannya.
Setelah Reza keluar, Melda dengan buru-buru langsung membersihkan celana dalamnya. Tapi tidak lama dia langsung meneteskan air mata sambil berkata-kata.
"Maaa,, Paaa,, kalau masih ada Mama dan Papa, nasibku tidak akan seburuk ini. Aku sangat merindukan kalian, tanpa kalian hidupku sangat menderita. Hiks,,, hiks,,, hiiis." Melda berkata-kata sambil menangis.
Tanpa Melda sadari, Reza belum pergi, dan dia sedang berdiri di depan kamar mandi. Reza yang berada di luar, mendengar tangisan Melda juga kata-kata yang Melda ucapkan barusan. Reza sangat tidak tega melihat Melda yang begitu menderita, karena biar bagaimanapun, dia juga memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi, yang tidak lain adalah Aleta.