
Sampainya di cafe yang berada tepat di samping kantor pusat milik Pak Rendra, Reza dan Pak Rendra langsung duduk di meja yang paling pojok. Kemudian tanpa menunggu lama, Pak Rendra segera memesan dua gelas kopi untuk mereka berdua.
Pak Rendra adalah orang yang sangat baik hati, tapi ada satu bisnisnya yang sangat tidak Reza sukai. Selain menjadi memiliki perusahaan besar, Pak Rendra juga punya bisnis prostitusi, dan dia memiliki pendapatan yang lumayan besar dari bisnis tersebut.
Setiap minggu, Pak Rendra selalu mendapatkan kemasukan dari bisnis menjual wanita, yang di kirim dari beberapa rekan bisnisnya dari berbagai Negara, termasuk Indonesia. Wanita-wanita yang dia beli itu, di jualnya kembali ke rekan-rekan bisnisnya yang sesama pengusaha, atau ke bar-bar besar yang sudah menjadi langganannya.
Reza selalu siap membantu Pak Rendra dalam urusan perusahaan, tapi kalau mengenai bisnis jual beli wanita, Reza sama sekali tidak pernah terlibat, karena dia tidak pernah mau biar di paksa oleh Pak Rendra.
Tidak beberapa lama, pesanan kopi mereka pun datang. Sambil meminum kopi, Pak Rendra mulai membuka percakapan, mengenai tugas yang akan di kerjakan oleh Reza. Sebenarnya Reza tidak ingin melakukan itu, tapi demi mendapatkan izin satu bulan, akhirnya Reza terpaksa harus melakukannya.
"Zaa,, besok malam, tempat jam 8 kamu sudah harus mengatar wanita itu ke bar langganan saya." Kata Pak Rendra memulai percakapan.
"Sebenarnya saya merasa sedikit kasihan dengan wanita itu, karena dia terlihat seperti wanita baik-baik. Dia tidak berhenti menangis selama beberapa hari ini. Tapi saya tetap harus menjualnya, karena langganan saya di bar itu, menawarkan harga yang sangat tinggi." Kata Pak Rendra sambil tersenyum.
"Memangnya dia samgat cantik ya Pak,,? Sampai mereka berani bayar dengan harga yang tinggi." Tanya Reza.
"Dia sangat cantik, tapi bukan hanya itu yang membuat harganya tinggi dari pada yang lain. Mereka berani membayar mahal, karena wanita itu masih polos." Kata Pak Rendra sambil tersenyum menatap Reza.
"Jadi besok kamu harus membawanya,,! Biar saya bisa menerima uangnya." Kata Pak Rendra sambil tersenyum bahagia.
"Baik Pak,,!" Jawab Reza sambil menatap Pak Rendra dengan tampang yang sedikit aneh.
Mendengar apa yang di katakan Pak Rendra, membuat Reza sangat penasaran dengan wanita yang akan di jual Bos nya itu. Karena selama ini, Pak Rendra tidak pernah merasa kasihan dengan wanita-wanita yang dia jual. Dan Reza juga bingung, mengapa sehingga wanita baik-baik bisa sampai di tangan Pak Rendra dan bersedia untuk di jual.
Reza yang duduk tepat di hadapan Pak Rendra, jadi melamun memikirkan wanita yang sedang mereka bahas itu. Tanpa Reza sadari, Pak Rendra yang lagi menikmati kopinya, sedang memperhatikannya.
"Kenapa kamu melamun seperti itu,,?" Tanya Pak Rendra sambil menatap Reza dengan tatapan ingin tahu.
"Ngga ada apa-apa ko Pak." Jawab Reza berbohong.
Tapi Pak Rendra yang sudah sangat kenal dengan sifat Reza, tidak percaya dengan jawaban Reza barusan. Dan Pak Rendra pun seperti tahu apa yang sedang Reza fikirkan. Tanpa menunggu lama, Pak Rendra pun langsung meraih isi fikiran Reza.
"Apa kamu penasaran dengan wanita yang sedang saya bicarakan tadi,,?" Tanya Pak Rendra yang membuat Reza tidak bisa untuk menyembunyikan, apa yang ada di dalam fikirannya.
"Iya Pak. Saya sangat penasaran dengan wanita itu. Kalau memang dia wanita baik-baik, mengapa dia mau untuk di jual,,?" Tanya Reza.
"Kayanya itu bukan karena kemauannya. Sepertinya dia terpaksa melakukan itu." Jawab Pak Rendra.
"Untuk apa Pak,,?" Tanya Reza bingung.
"Untuk sekedar kenal ajaa. Biar besok, dia tidak merasa canggung pergi denganmu."Kata Pak Rendra yang membuat Reza terdiam.
Dalam diam Reza berfikir, kalau tidak ada salahnya dia mengenali wanita itu, sebelum dia membawanya ke tempat terkutuk itu. Apalagi dia sangat penasaran dengannya setelah mendengar cerita dari Pak Rendra.
"Bagaimana Zaa,,? Ko terus melamun,,?" Tanya Pak Rendra sambil menatap Reza.
"Iya Pak, saya ingin berkenalan dengannya terlebih dulu, biar di saat saya membawanya besok malam, dia tidak merasa asing atau canggung dengan saya, seperti yang Bapak katakan tadi." Kata Reza sambil menatap Pak Rendra.
"Ya sudah,, kalau gitu, kamu bisa pergi menemuinya setelah dari sini." Kata Pak Rendra.
Selesai menikmati kopi di cafe itu, Pak Rendra dengan segera mengajak Reza untuk pergi, karena masih ada urusan yang harus di selesaikan. Sampainya di parkiran kantor, Reza segera masuk ke dalam mobil, setelah berpamitan kepada Pak Rendra.
Tanpa menunggu lama, Reza yang sudah duduk di balik kemudi, segera melajukan mobilnya. Dan Pak Rendra pun segera masuk ke dalam kantornya. Reza langsung pergi menuju tempat di mana wanita itu berada.
Entah kenapa, tapi Reza sangat penasaran ingin melihat wanita malang yang di ceritakan Bos nya itu. Dia seperti tidak tega membawa wanita yang belum dia kenalnya itu untuk di jual. Reza samakin tidak tega di saat dia teringat dengan saudari perempuannya. Dia tidak bisa membayangkan apabila Aleta yang ada di dalam posisi wanita malang itu.
Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya Reza sampai juga di halaman rumah yang cukup besar. Rumah itu adalah salah satu rumah milik Pak Rendra, yang biasa di pakai untuk menaruh wanita-wanita yang akan di jual ke bar, atau ke pengusaha-pengusaha sukses.
Selesai memarkirkan mobil, Reza langsung melangkah masuk ke dalam rumah besar itu. Setiap pintu dan ruangan di rumah itu terdapat penjaga. Reza masuk tanpa di cegah ataupun di tanya sedikit pun oleh para penjaga, karena mereka semua sudah kenal dengan Reza. Dan sebelum Reza sampai ke sana, Pak Rendra sudah mengabari orang di rumah itu, kalau Reza akan ke sana untuk melihat wanita yang akan dia antar besok malam ke bar.
"Di mana kamar wanita itu,,?" Tanya Reza kepada salah seorang penjaga.
"Wanita yang mana Pak,,? Soalnya ada hampir sepuluh wanita yang ada di setiap kamar." Tanya balik penjaga kepada Reza.
"Wanita yang akan aku antar besok malam ke bar." Jawab Reza dengan santainya.
"Oooo,, dia ada di lantai atas kamar paling ujung." Jawab penjaga.
"Ya sudah, aku ke atas dulu untuk menemuinya." Kata Reza dan langsung melangkah menuju tangga.
Sampainya di lantai atas, Reza langsung melangkah menuju kamar paling ujung. Semakin dia mendekati kamar itu, jantungnya semakin berdetak kencang seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi dia kembali berfikir kalau itu hanya perasaannya saja, karena mungkin dia tidak tega dengan wanita malang itu.
Apapun yang di perintahkan oleh Pak Rendra saat itu, Reza akan siap untuk melakukannya, semua itu dia lakukan, agar bisa di beri cuti selama sebulan ke depan. Reza ingin secepatnya kembali ke Indonesia, sebab dia sangat kepikiran dengan Faris dan juga Aleta, yang sedang menghadapi masalah besar, dan belum ada titik terangnya.