
Faris berubah jauh setelah Aleta masuk ke dalam kehidupannya, dia yang hampir tidak pernah tertawa lebar, sudah sering tertawa, dia yang tidak pernah peka dengan wanita, sudah mulai sedikit mengerti dan memahami, dan dia yang tidak pernah mengerti dengan perasaan cinta, kini sudah bertekuk lutut karena cintanya kepada Aleta yang begitu besar.
Dengan masih terus terkekeh, Faris meletakan Aleta di tepi ranjang. Dan Aleta sudah mulai kesal dengan tingkah suaminya itu, sambil menatap Faris dengan kening yang berkerut Aleta pun berkata.
"Kamu gila ya Mas,,?" Tanya Aleta dengan nada kesalnya.
"Yaa,, aku hampir gila karena kamu,,!" Jawab Faris, dan langsung melangkah mengambil pakaiannya, yang terletak di atas meja samping tempat tidur.
"Ayo cepat siap-siap,,!" Kata Faris. Dan tanpa menjawab Aleta langsung berdiri dari duduknya kemudian melangkah ke samping Faris.
Aleta maraih lotion yang ada di atas meja, dan mengoleskanny ke seluruh badan, selesai itu dia langsung memakai dres merah, yang tadi di bawanya dari mol, begitupun dengan Faris.
Selesai berpakaian, Aleta duduk di depan cermin besar yang ada di kamar itu, dan mulai memoles wajahnya dengan segala peralatan kecantikannya, sedangkan Faris yang berdiri di belakangnya , hanya menatap ke arah cermin sambil menyeprotkan, farfum di beberapa bagian tubuhnya.
Aleta memoles wajahnya dengan make up, tanpa memperdulikan Faris yang berdiri di belakangnya, karena dia masih sangat malu menatap wajah tampan suaminya itu.
Setelah sudah siap, Faris memilih untuk duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel di tangannya, dan tiba-tiba dia teringat dengan sesuatu yang ingin dia tanyakan di Dr Rani.
"Cepat,,! karena setelah ini, kita harus ke tenpat Dr Rani dulu." Kata Faris yang membuat Aleta langsung berdiri, dan menatap Faris tajam kemudian berkata.
"Untuk apa kita ke sana,?" Tanya Aleta dengan tatapan mencari tahu.
"Aku harus ambil obat,,!" Jawab Faris sambil terus mengetik pesan untuk Dr Rani.
"Apaaa,,? Obaaat,,? Memangnya kamu belum puas juga,,?" Tanya Aleta sambil menatap Faris dengan penuh keheranan.
"Bukan buat aku, tapi buat kamu,,!" Jawab Faris sambil terus fokus ke ponsel di tangannya.
"Maaas,, menurut aku ngga perlu deeh,,! Nanti Dr Rani akan tahu semuanya, aku kan maluu,,!" Kata Aleta sambil menundukan kepalanya.
Mendengar perkataan Aleta, Faris segera menghapus pesan yang sudah selesai di ketiknya, dan dia pun langsung melangkah menghampiri Aleta, yang masih saja menunduk. Sampainya di sampjng Aleta, Faris langsung melingkarkan sebelah tangannya, di bagian pinggang Aleta sambil berkata.
"Ya sudaah,, Mas ngga akan minta obat sama Dr Rani, tapi apa kamu bisa menahannya,,?" Tanya Faris sambil menatap Aleta yang masih terus menunduk.
"Bisa ko Maas,,! Lagian kan, ini hal yang biasa buat wanita, nnti juga akan sembuh sendiri." Jawab Aleta sambil menatp Faris yang juga sedang menatapnya.
"Ko kamu bisa tahu,,?" Tanya Faris binggung sambil terus memeluk pinggang Aleta.
"Ya tahu laah,, ini kan bukan yang pertama, kamu buat aku sampai kaya gini,,! Yang pertama juga kaya gini, malahan lebih parah dari ini,,!" Ketus Aleta sambil membuang muka dari Faris.
Mendengar kata-kata Aleta, membuat Faris sangat merasa bersalah, apalagi karena kejadian itu, sampai datangnya Malaikat kecil di dalam rahim Aleta. Dan sekarang, Malaikat kecil itu hanya menjadi kenangan, yang tak pernah bisa di lupakan untuk mereka berdua.
"Maafkan aku,,! Aku memang tidak berguna sebagai seorang laki-laki." Kata Faris penuh bersalah.
Sedangkan Faris yang hanya menatap Aleta dengan mata sayunya, langsung memeluk tubuh langsing itu dengan penuh kasih sayang, dan Aleta pun langsung membalas pelukan suaminya itu, sambil tersenyum bahagia.
Setelah itu, Faris dan Aleta langsung bergegas menuju rumah orang tua Faris, dan sampainya di depan rumah, mereka jadi bingung di saat melihat Mamanya, melangkah dari arah rumah, sambil mengomel seperti Mbah Dukun yang lagi baca mantra.
Faris dan Aleta yang tetap berada di dalam mobil, merasa bingung melihat Mama mereka yang masih tetap cantik dan awet itu, melangkah sambil mulutnya komat-kamit, dengan wajah yang penuh kekesalan.
"Ada apa Ma,,?" Tanya Faris setelah Mamanya sudah berdiri di samping mobil mereka.
"Mama kesaal sama Papa kamu,,! Di suruh untuk bercukur, dia ngga mau,,!" Ketus Alira sambil berdiri di samping mobil Faris, menunggu suaminya yang masih berada di dalam rumah.
"Trus Om Refan sama Tante, dan Melda di mana Ma,,?" Tanya Faris.
"Mereka sudah duluan pergi,,! Soalnya mereka mau ke rumah Oma dulu." Jawab Alira dengan tampang datarnya sambil terus menatap ke arah rumah.
"Maaa,, Mama ko ninggalin aku siih,,!" Kata Almira yang baru saja berlari dari arah rumah, menghampiri Mamanya.
"Mana Papa kamu yang breokan itu,,?" Tanya Alira kepada Almira.
"Mama tu ngga boleh bilang kaya gitu,,! Karena Papa aku itu, Biar breokan tapi ganteng,," Jawab Almira dengan gaya centilnya.
"Ganteng apaan,,? Papa kamu tu, sudah seperti si buta dari goa hantu,,!" Ketus Alira.
Dan tidak lama Papa Fahri pun keluar dari pagar depan, menghampiri supir yang baru selesai memarkirkan mobil mewahnya, di depan pagar rumah. Melihat suaminya yang sudah tampan dengan
wajah yang sudah tidak ada breokan, membuat Alira yang tadinya marah-marah, seketika langsung tersenyum sambil berkata.
"Almiraa,, Papa kamu tu lamaa,, ternyata dia ikutin apa yang Mama katakaan,, tu lihat Papa kamu,,! Dia tampan bangaaat." Kata Alira sambil tersenyum, dan menunjuk ke arah Fahri yang sedang berbicara dengan supir pribadi mereka.
"Maaa,, Mama tu harus bersukur, punya suami kaya Papa yang ngga suka bergaya,,! Ngga bergaya aja, banyak perempuan yang sudah ngejar-ngejar Papa, apalagi bergaya seperti itu,,!" Kata Faris sengaja membut Mamanya kesal, sambil mengedipkan sebelah mata kepada Almira dan Aleta.
"Dengar tu Ma,, apa yang di katakan Mas,,!" Tambah Almira yang langsung membuat senyum Mamanya hilang seketika.
Sedangkan Aleta yang sejak tadi hanya terdiam, langsung tersenyum melihat ekspresi Mama Mertuanya, yang terlihat sangat lucu. Dan rencana Faris pun berhasil, Mamanya yang sedang terdiam sambil berfikir, kembali berkata-kata dengan penuh kekesalan.
"Iya Ris,, benar juga apa yang kamu katakan,,! Tapi Mama ngga akaan, kasih ampun sama Papa kamu, kalau sampai dia berani macam-macam." Ketus Alira yang membuat anak-anaknya langsung tersenyum.
Alira juga Fahri masih sangat tampan juga cantik, walaupun umur mereka sudah tidak muda lagi, tapi mereka berdua terlihat sangat awet, karena mereka begitu santai dalam menjalani hidup.
Apalagi Fahri, dia selalu santai dalam menghadapi istri dan anak-anaknya, sedangkan Alira, walaupun umurnya sudah tidak muda lagi, tapi jiwanya masih seperti anak kecil, yang sering ngambek, cemburu, juga manja kepada suaminya yang kaku itu. Dan suaminya juga selalu mengikuti semua kemauannya, begitupun dengan kemauan anak-anaknya, selama itu masih dalam hal yang wajar.