
Karena ketakutan, juga kaget dengan melihat bayangan yang ada di belakang lewat layar ponselnya, membuat ponsel Boy langsung terlepas dari tangannya. Dan dengan segera, Boy menarik tangan Aleta dan berlari menuju pintu apartemen.
Bukan hanya Boy yang melihat bayangan itu, tapi Aleta pun melihatnya. Karena tadi di saat Boy mau menyalakan ponselnya untuk menelfon Faris, Aleta juga ikut menatap layar ponsel Boy, dan melihat bayangan di belakang mereka.
Boy dan Aleta berlari menuju pintu apartemen, sambil tangan Boy memegang tangan Aleta dengan begitu kencangnya. Tapi tiba-tiba Aleta mengeluarkan suara yang cukup keras, dan dia langsung terjatuh.
"Aaaaaah,,! Teriak Aleta dan dia langsung jatuh ke lantai.
Boy sangat terkejut di saat melihat Aleta sudah terjatuh, dan lengan sebelahnya sudah mengeluarkan banyak darah. Dengan segera Boy langsung berbalik ke belakang, dan dia melihat seorang laki-laki mengenakan pakaian serba hitam, juga penutup muka. Dan di tangannya ada pisau yang sudah penuh dengan darah.
Boy yang sudah berhadapan dengan laki-laki itu, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk bersuara saja dia tidak bisa saking ketakutan. Sedangkan Aleta yang sedang menahan kesakitan karena lengannya sudah terluka, langsung berteriak minta tolong, dengan begitu kencangnya sambil menutup mata, di saat dia melihat laki-laki yang memakai ninja itu, sudah mengangkat pisaunya kepada Boy.
"Tolooooo,,!" Teriak Aleta sambil memejamkan mata.
Aleta yang sudah memejamkan mata sambil menangis, dengan segera langsung membuka matanya di saat dia mendengar pertengkaran di hadapannya. Di saat Aleta membuka mata, dia melihat Faris sudah menghajar laki-laki itu tanpa ampun. Sampai-sampai laki-laki bertopeng itu tersungkur ke lantai dan tidak bisa untuk berdiri.
Di saat laki-laki itu sudah tidak bisa untuk bangun, Faris langsung menarik penutup mukanya, dan menyebut sebuah nama, yang membuat mata dan mulut Aleta juga Boy terbuka dengan lebar saking kagetnya.
"Braaam,,!" Suara Faris menyebutkan nama Bram.
Mendengar nama Bram, Aleta langsung terkejut dan sangat terpukul, karena apa yang dia fikirkan sejak tadi memang benar. Seketika Aleta pun merasa pusing, Aleta memegang kepalanya sambil memanggil nama Faris, dengan nada suara yang terdengar sangat lemah.
"Maaas,, Mas Fariiis,," suara Aleta memanggil nama Faris sambil memegang kepalanya.
Melihat keadaan Aleta, Boy cepat-cepat langsung memeluknya sambil berkata.
"Fariiis,, darah Aleta keluar sangat banyak,,!" Kata Boy yang membuat naluri monster Faris langsung keluar.
Dengan segera Faris meraih pisau yang tadi Bram gunakan untuk melukai Aleta, yang sudah berada di atas lantai. kemudian dengan tatapan mematikan, Faris menatap Bram yang sudah terbaring tak berdaya di bawah sana, dan mengangkat tangannya yang sudah memegang pisau sambil berkata.
"Kamu akan mati hari ini juga Bram,,!" Kata Faris dan hendak menancapkan pisau kepada Bram.
Melihat apa yang akan di lakukan Faris, membuat Aleta juga Boy langsung berteriak dengan kencangnya.
"Jangaaaaan,,!" Teriak Aleta dan Boy bersamaan sambil menatap Faris sambil menangis.
Melihat wajah Aleta yang sudah sangat lemas dan di penuhi dengan air mata, membuat Faris tidak jadi melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Kemarahan Faris semakin memuncak dan hampir tidak terkendali setelah melihat kondisi Aleta, yang sangat lemah dan lengannya mengeluarkan banyak darah karena perbuatan Bram. Dia hampir saja menancapkan pisau yang ada di tangannya kepada Bram. Tapi mendengar teriakan Aleta membuat dia tidak jadi melakukannya.
"Maaas,, aku mohon jangan lakukan itu,,!" Teriak Aleta yang membuat Faris tidak jadi melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Faris berdiri dan langsung melemparkan pisau yang ada di tangannya ke lantai. Kemudian, sambil menatap Bram dengan penuh amarahnya dia pun berkata.
"Kamu harus bersukur, karena kamu masih bisa melihat mata hari, dan menikmari hari esok walaupun di dalam tahanan. Sebentar lagi polisi akan datang untuk membawamu,,!" Kata Faris dengan tampang kemarahan.
"Semustinya kamu yang berada di dalam penjara, bukan aku. Karena kamu sudah melenyapkan nyawa wanita yang aku cintai dengan begitu kejamnya." Kata Bram dengan nada suara yang bergetar.
"Kamu fikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan,,? Setelah kamu pergi meninggalkan gedung itu, aku langsung datang, karena aku melacak keberadaan Fina dari ponsel aku. Sampainya di sana, aku melihat Fina sudah sekarat, dan sebelum dia meninggal, dia sempat menyebut namamu." Kata Bram lagi.
"****** itu memang pantas untuk mati, karena kalau aku tidak melenyapkannya, berarti dia akan melenyapkan banyak orang termasuk kamu." Kata Faris yang membuat Bram kaget juga bingung.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu,,?" Tanya Bram.
"Wanita itu adalah penjahat, yang sudah masuk dalam daftar pencarian orang di beberapa negara, termasuk Indonesia dan Amerika. Jadi pihak yang berwajib, akan berterimakasih padaku karena sudah membantu mereka menghabisinya." Kata Faris dengan begitu santainya.
"Dan satu lagi, kamu adalah salah satu laki-laki yang menjadi korbannya. Dia tidak perah mencintaimu, dia hanya ingin memanfaatkanmu." Tambah Faris.
"Tidak mungkin,,! Kamu pasti ingin membohingiku." Kata Bram.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Wanita yang kamu cintai itu, sangat tergila-gila padaku. Sampai-sampai dia rela memberikan tubuhnya untuku, tapi sayangnya, aku tidak berselerah dengan ****** seperti dia." Kata Faris.
"Dan aku melenyapkannya, karena dia dan anak buahnya sudah menculik Aleta dan hampir saja mencelakainya." Tambah Faris tapi Bram masih tetap tidak percaya.
Selesai Faris berkata-kata, tiba-tiba muncul beberapa orang polisi Amerika untuk menangkap Bram, karena Faris sudah menelfon mereka di saat dia masih berada di parkiran tadi.
Sebelum Aleta melihat sosok yang mencurigakan di pesta tadi, Faris yang sudah duluan melihatnya, semenjak malam pertama dia berada di Amerika. Karena pada malam itu, Faris melihat ada bayangan hitam yang sedang mengintipnya, dari balkon kamar hotel tempatnya menginap.
Malam berikutnya pun seperti itu. Dan karena hal itu sampai Faris memilih untuk pindah ke apartemennya, karena dia tidak ingin membuat keributan di hotel tempatnya menginap. Dan Faris pun sangat yakin, kalau sosok misterius itu, punya rencana buruk padanya, dan akan mengikutinya kemanapun dia pergi.
Kemudian di pesta tadi, Faris juga melihatnya sebelum Aleta, dan Faris juga tahu kalau Aleta juga melihatnya. Tapi Faris pura-pura tidak tahu, agar sosok misterius itu tidak merasa curiga. Faris yang sudah biasa dengan situasi seperti itu, tidak mudah masuk dalam perangkap musuh.
Tapi Faris akui kalau Bram cukup cerdas, karena tadi Bram menghentikan semua lift, dan itu membuat Faris harus naik melewati tangga. Akhirnya Faris pun terlambat, sehingga membuat dia tidak bisa menolong istrinya di saat Bram melukainya.