
Kecantikan wanita jelita itu, membuat beberapa pasang mata yang sedang menatapnya, seakan-akan tidak ingin untuk berkedip sama sekali, terutama Reza si kutub Utara. Dari cara tatapan mereka kepada Melda yang sedang melangkah dari arah sana, menunjukan betapa mereka sangat mengagumi kecantikannya.
Kekaguman yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
"Eh Mel,, kenalin ini teman-teman Abang." Reno memperkenalkan teman-temannya kepada Melda, yang sudah berdiri di samping tempat duduk Reza.
"Hay,, aku Melda." Sapa Melda dengan senyum manisnya.
Melihat kecantikan wanita yang ada di depan mereka, juga suara yang terdengar begitu indah, membuat kedua teman laki-laki Reno langsung berdiri dan menjulurkan tangan ke arah Melda, tanda ingin berkenalan.
"Namaku Arif." Kata salah seorang teman laki-laki Reno sambil menatap Melda dengan tatapan kagumnya.
"Aku Feri." Kata yang satunya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Tatapan Feri sangatlah terlihat aneh, dan hal itu membuat Melda jadi merasa sangat tidak nyaman. Tapi di sisi lain, Ririn yang sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, langsung tersenyum sinis di saat melihat tatapan Feri yang terkesan menuntut.
Keinginan mendapatkan laki-laki beku yang sejak tadi hanya terdiam di sampingnya, membuat Ririn merencanakan sesuatu untuk Melda, sejak dalam perjalanan ke rumah Tante Mawar tadi. Dan yang berperan dalam rencana yang sudah dia atur itu adalah Feri.
Sejak di pasar tadi pagi, Ririn sudah merasa sangat tidak suka dengan sosok Melda, walaupun dia belum melihat dan mengenali orangnya. Semua itu karena perhatian yang begitu besar dari laki-laki yang sudah mencuri hatinya kepada sosok Melda. Reza melakukan sesuatu yang mungkin tidak bisa di lakukan laki-laki lain. Tanpa ada rasa malu, dia membelikan pakaian dalaman wanita di depan umum. Semua itu dia lakukan hanya demi Melda.
Tanpa ada yang tahu, Ririn sudah mempromosikan Melda kepada Feri, kalau Melda itu gadis kota yang datang ke kampung itu, untuk mencari uang dengan menjual tubuh indahnya. Dan Feri yang memang di kenal sebagai laki-laki yang suka menikmati wanita-wanita seksi, langsung tergiur.
Sungguh tidak di sangka bukan?
"Duduk saja di sini Mel!" Feri dengan segera langsung menarik tangan Melda untuk duduk di sampingnya, dan Melda pun hanya menurut tanpa bersuara.
Teman-teman Reno itu tidak tahu siapa wanita cantik itu sebenarnya, karena Reno juga belum memberitahukan siapa Melda sebenarnya. Mereka hanya menilai Melda dari caranya berpakaian. Dalam pikiran mereka, Melda hanyalah wanita yang mempergunakan fisiknya untuk memikat laki-laki berduit seperti Reza, yang mereka tahu sebagai Bosnya Reni. Karena sudah menjadi suatu kebiasaan orang-orang kampung, yang selalu menilai buruk orang yang berpakaian seksi. Padahal itu hal yang biasa untuk orang-orang kota seperti Melda.
Bukan hanya memiliki kecantikan saja, tapi Melda yang memang terlahir dari keluarga terpandang, tentu memiliki kepribadian yang baik juga sopan santun dalam bersikap juga bertutur kata, karena itu yang selalu di ajarkan dalam keluarganya, untuk selalu menghargai niat baik orang lain. Dan itu yang membuatnya langsung menurut, walaupun apa yang di lakukan oleh Feri terkesan sedikit memaksa juga kurang sopan.
Melihat semua itu membuat Ririn semakin tersenyum, karena apa yang sudah dia rencanakan mulai berjalan dengan baik. Apalagi orang yang dia percayakan untuk mendekati Melda itu, memang sudah di kenal di kampung itu sebagai laki-laki yang tidak pernah gagal, dalam mengincar sasarannya.
Keadaan di dalam ruangan itu mulai terdengar begitu ramai, dengan suara canda tawa Reno dan beberapa sahabatnya itu. Mereka terlihat begitu bahagia di saat membahas masa-masa sekolah mereka, tapi tidak untuk Reza dan Melda. Melda semakin merasa tidak nyaman dengan sikap Feri yang mulai berani menyentuh tangannya, juga samping pahanya.
Sedangkan Reza yang melihat semua itu, hanya bisa menarik nafas panjang, sambil menatap Melda dengan tatapan yang membuat Melda jadi bingung. Reza ingin sekali Melda segera pergi dari situ, tapi Melda gadis yang masih polos itu, tidak mengerti arti tatapan Reza padanya.
Itulah yang membuat mengapa sehingga Melda tidak berkomentar apapun. Sebab dia juga tidak terlalu fokus dengan apa yang di lakukan Feri, tapi dia malah fokus dengan tangan Ririn di sebelah paha Reza.
Apakah Reza mulai cemburu terhadap Melda?
Feri yang sudah semakin merapat ke arah Melda, mulai menatap paha Melda yang sedikit terbuka, dan mengatakan sesuatu hal yang membuat Reza langsung menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Beginilah gadis kota, mereka sangat mulus dan putih, sehingga membuat para lelaki selalu tergoda." Feri berkata-kata sambil menatap paha Melda, dengan tatapan yang sangat tidak pantas.
Mendengar apa yang di katakan barusan oleh laki-laki kurang ajar itu, membuat Reza langsung menatap Melda dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Tapi Melda yang sudah di bakar api cemburu, tidak sama sekali bergeming, tapi dia malah membalas perkataan Feri dengan kata-kata yang terkesan begitu genit.
"Ooo gitu ya Bang?" Pertanyaan Melda yang membuat Reza langsung berdiri, dan melangkah pergi tanpa berkata apa-apa.
Apa yang terjadi dengan Reza sebenarnya?
Tidak lama dari situ, tiba-tiba ponsel Melda yang juga baru di belikan Reza, berbunyi tanda ada pesan masuk. Dan ternyata itu pesan yang di kirimkan oleh Reza.
*"Ikut aku di taman belakang! Ada pesan dari anak buah Faris yang harus kamu baca." Isi pesan singkat dari Reza.
Membaca pesan Reza, membuat Melda pun langsung tersenyum bahagia. Dan ekspresinya itu membuat beberapa orang yang ada di situ jadi bingung.
"Ada kabar bahagia apa Mel?" Tanya Reno yang sedang memperhatikan Melda.
"Sudah ada kabar dari anak buah Mas aku. Mungkin besok atau lusa kita sudah bisa kembali ke Indonesia." Melda berkata-kata dengan tampang yang terlihat begitu bahagia.
"Syukurlah kalau gitu, aku turut bahagia." Reno berkata-kata sambil tersenyum.
Melda begitu bahagia dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia sudah tidak sabar ingin berkumpul dengan keluarganya, dan mengunjungi makam orang tuanya, juga Oma Opanya. Kebahagian yang begitu besar, membuat Melda sudah melupakan rasa cemburunya terhadap Reza. Dengan senyum yang lebar di wajah cantiknya, Melda pun langsung berdiri kemudian berkata.
"Aku ke belakang sebentar ya." Kata Melda dan segera melangkah pergi.
Sedangkan Reza yang sudah berada di taman bagian belakang rumah sederhana itu, sedang menunggu Melda dengan tampang yang begitu datar. Dan Ririn yang sudah mulai gelisah karena melihat Melda melangkah ke arah yang sama dengan Reza, mulai merasa tidak tenang.