CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 46. Penderitaan Faris.


Selesai mengobrol dengan Orang Tuanya, Faris dan Aleta langsung bersiap-siap, sebab mereka berdua akan pergi ke mol bersama Mama Alira, Almira, Tante Meymey juga Melda, krena keluarga kecil Melda juga akan menghadiri acara itu.


Sampainya di depan mol milik Papanya, Faris langsung memarkirkan mobil, dan setelah itu mereka semua langsung melangkah masuk ke dalam mol besar itu. Semua para kariawan di dalam mol menyambut mereka dengan penuh hormat, karena mol besar itu milik Papa Fahri.


Mereka melangkah masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai atas, karena pakaian-pakaian berkelas terdapat di lantai paling atas. Faris dan Aleta masuk duluan ke dalam lift jadi mereka berdiri di bagian paling belakang.


"Al,, Cika sama yang lain lagi nanya ni,,!" Kata Melda setelah membaca pesan yang baru masuk di ponselnya.


"Tanya apa,,?" Tanya Aleta sambil memeluk Faris.


"Mereka nanya,, tugasnya mau di kerjakan di rumah siapa,,?" Jawab Melda.


"Kalau aku terserah kalian saja,,! Asalkan kerja tugas,, ngga ngerumpi,,!" Kata Aleta sambil tersenyum, sedangkan Melda, dia langsung tertawa mendengar kata-kata Aleta.


Dan Faris yang di peluk Aleta sejak tadi sudah berekspresi aneh, Faris menatap Aleta dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, namun Aleta yang masih terus tersenyum, tidak menyadarinya sama sekali.



Tapi tiba-tiba senyum Aleta seketika hilang, di saat dia menyadari, sebelah tangan Suaminya sudah mengusap-ngusap pinggulnya. Perasaan Aleta seketika jadi takaruan, karena di situ bukan hanya ada mereka berdua saja.


Aleta jadi bingung memikirkan keadaan Suaminya itu, dan di saat dia sedang berfikir, tangan Faris sudah turun ke bawah dan meremas bopongnya sedikit kencang. Aleta yang kaget dengan apa yang di lakukan Faris, lngsung berbalik menatap Faris dan hendak mengingatkannya.


Tapi belum sempat mulut Aleta terbuka, Faris sudah membungkamnya dengan ciuman yang begitu rakus, jantung Aleta hampir berhenti berdetak dengan apa yang di lakukan Faris, dia sangat takut kalau beberapa orang yang ada di depan mereka, mengetahui apa yang sedang terjadi.


Akhirnya Aleta memilih untuk memalingkan mukanya menatap ke depan, sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, sedangkan Faris yang sudah hampir hilang kendali, memilih menyandarkan wajahnya di belakang kepala Aleta sambil berbisik.


"Aku tidak bisa,,!" Kata Faris yang membuat Aleta jadi


kepikiran, karena dia sangat merasa kasihan melihat Suaminya dengan keadaan seperti itu.


Aleta tidak berkata apa-apa kepada Faris sampai pintu lift terbuka, dia sengaja tidak memperdulikan Faris biar Faris tidak terlalu terpancing, dan Faris pun menyadari sikap Aleta terhadapnya, akhirnya dengan sekuat tenaga Faris berusaha untuk mengendalikan dirinya, sampai-sampai tadi di dalam lift, dia sempat menggigit pundak Aleta, tapi tidak terlalu kuat, jadi tidak berbekas.


Sampainya di ruangan yang mereka tuju, Faris memilih untuk duduk di sofa yang ada di depan, sedangkan para wanita, sudah sibuk dengan beberapa kariayawan yang menemani mereka, untuk memilih pakaian yang mereka inginkan.


Alira, Meymey, Melda juga Almira sangat bersemangat memilih gaun untuk acara nanti malam,


apalagi semua gaun yang ada di situ terlihat sangat indah, sampai mereka sendiri jadi bingung untuk memilih, sedangkan Aleta yang berada tepat di belakang Alira, sangat tidak bersemangat.


"Ko kamu ngga pilih si sayang,,?" Tanya Alira setelah melihat Aleta yang hanya terdiam di belakangnya.


"Aku ngga tahu mau pilih yang mana ma,,! Biar Mba ini saja yang pilih buat aku,,!"Jawab Aleta.


"Ya sudah kalau gitu,,!" Kata Alira.


"Baik Bu,,!" Jawab kariawan itu dengan penuh hormat.


Selesai memilih dan mencoba gaun mereka masing-masing, Alira, Meymey, Melda juga Almira, memilih untuk duduk bergabung bersama Faris, sedangkan Aleta sedang berada di kamar ganti untuk mencoba beberapa pakaian, yang di pilih kariawan yang menemaninya tadi. Dan tidak berapa lama, Aleta pun keluar, dengan memakai dress berwarnah merah yang sangat seksi.



"Waaaoo,, cantik bangat,,!" Kata Alira dan yang lainnya setelah Aleta berdiri di hadapan mereka.


Sedangkan Faris yang sedang duduk tepat di samping mamanya, hanya menatap Aleta dengan tatapan dinginnya.


"Bagaimana Ris,,? Cantik kan,,?" Tanya Alira kepada Putranya.


"Ngga,,!" Jawab Faris singkat.


Akhirnya Aleta kembali masuk ke kamar ganti, dan kemudian tidak berapa lama, dia kembali keluar dengan memakai dress berwarna hijau yang juga sangat seksi.



Faris yang melihat penampilan Istrinya dengan dua buah dress yang sudah dia coba, membuat nafasnya tidak beraturan, rasa-rasanya Faris ingin membawa Aleta dengan penampilan seperti itu, ke tempat yang sangat sepi dan langsung melahapnya. Sambil menatap Istrinya yang terlihat sangat seksi, isi otak Faris sudah di penuhi dengan fikiran-fikiran liar, tapi tiba-tiba suara Mamanya membuat dia tersadar.


"Bgaimana dengan yang itu Ris,,?" Tanya Alira sambil menatap Aleta.


"Ngga,,!" Jawab Faris yang membuat Alira jadi kesal.


"Ko dari tadi ngga terus,,! Trus mau kamu yang mana,,?" Tanya Alira yang sudah mulai kesal dengan Putranya.


"Mba,, ada ngga yang sepasang buat aku sama Istriku." Kata Faris kepada kariawan yang sedang berdiri di samping mereka.


"Ada pak,,! Sebentar aku ambil,,!" Jawab kariawan itu dan segera bergegas mencari yang seperti Faris minta.


Setelah menemukan apa yang Faris minta, kariawan itu langsung meminta Aleta untuk mencobanya terlebih dulu, dan Aleta hanya menurut, kemudian Aleta keluar dengan dres merah yang sangat cantik dan pas di tubunnya yang indah itu.



"Waaaaoo,,! Cantik bangat kamu Al,,! Kata Melda memuji Aleta, begitupun dengan ke dua Mamanya juga Almira.


Sedangkan Faris yang sedang menatap Istrinya itu, dengan segera langsung menundukan wajahnya, dan mengusap wajahnya sambil menarik nafas dalam-dalam. Faris sangat gelisah, wajahnya yang putih mulai berubah menjadi kemerah-merahan karena berusaha menahan hasratnya.


Dan Aleta yang menyadari ekspresi suaminya, memilih untuk kembali masuk ke dalam ruang ganti dan melepaskan dres yang dia pakai.


Sedangkan di luar sana, Faris yang sudah gelisah karena Faris kecilnya sudah sangat menegang, memilih untuk keluar tanpa berkata apa-apa, Faris sangat tersiksa dengan apa yang di alaminya hari itu.