
Semua keluarga Faris sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Aleta. Terutama Mama Alira, dia sangat heboh dan sangat bahagia, sampai dia meneteskan air matanya. Dengan air mata yang sudah berlinang, Mama Alira melangkah mendekati Aleta, dan sampainya di hadapan Aleta, Mama Alira langsung memeluknya sambil berkata.
"Mama sangat bahagia sayang. Terima kasih, kamu sudah memberikan sesuatu yang membuat kami semua bahagia." Kata Mama Alira sambil memeluk Aleta.
Setelah Mama Alira, anggota keluarga yang lain pun, turut memberi selamat kepada Aleta. Dan Mama Alira juga tanpa menunggu lama, segera menelfon Oma Rita, juga Nenek Faris di Bandung untuk memberitahukan Kabar bahagia itu. Keluarga besar Faris sangat bahagia, karena kehamilan Aleta adalah sesuatu yang sedang mereka nanti-nantikan selama ini.
Setelah semuanya sudah memberikan selamat kepada Aleta, mereka langsung bergegas menuju tujuan mereka masing-masing. Sebelum ke kantor, Faris menyempatkan diri untuk mengantarkan Aleta dan Melda ke Kampus terlebih dahulu.
Sampainya di Kampus, tanpa menunggu lama Melda langsung heboh, memberitahukan teman-teman dekatnya tentang kabar kehamilan Aleta. Semua teman-teman Aleta ikut bahagia mendengar kabar kehamilan Aleta. Mereka semua langsung memberikan selamat kepada Aleta.
Pukul 12 siang tepat, Faris yang sudah selesai mengerjakan pekerjaannya di kantor, langsung bergegas pergi menuju Kampus untuk menjemput Aleta, karena Aleta sudah mengirim pesan sejak beberapa menit yang lalu, kalau mata kuliah terakhir yang mereka terima sudah hampir selesai.
Faris buru-buru menjemput Aleta, karena dia tidak mau Aleta menunggunya terlalu lama. Semenjak tahu kalau Aleta hamil, Faris seketika menjadi suami yang super siaga. Faris seperti itu, karena yang sangat penting dalam hidupnya saat ini, adalah Aleta juga anak dalam kandungannya.
Faris sampai di Kampus tempat pukul 12:27, Faris keluar dari dalam mobil dan melangkah buru-buru sambil mengirimkan pesan kepada Aleta, tapi Aleta tidak membalasnya. Akhirnya dia memilih untuk menunggu di depan ruangan Aleta, sambil mengobrol dengan salah seorang teman wanitanya, yang sudah lama tidak bertemu, dan temannya itu juga sangat tergila-gila padanya.
Teman wanita Faris itu bernama Feli. Dia belum tahu kalau Faris sudah menikah, karena setelah lulus kuliah, dia langsung pergi ke Medan ikut kedua orang tuanya yang bekerja di sana. Dan saat ini dia baru kembali untuk melanjutkan S2 nya.
Feli yang melihat Faris langsung berbasa-basi dengan gayanya yang sedikit centil. Feli mamang cantik, tapi kepribadiannya tidak secantik wajahnya. Kepribadian Feli sangat buruk, dia sangat suka berganti-ganti pasangan.
"Haloo Ris,, sudah lama kita tidak bertemu. Apa kabarmu,,?" Tanya Feli dengan gaya genitnya.
"Kabarku baik. Trus kamu,,?" Tanya Faris.
"Aku juga baik. Ni aku baru mau mengambil S2 aku." Jawab Feli.
"Kamu udah ambil S2,,?" Tanya Feli lagi.
"Iya,, Tahun depan mungkin udah selesai." Jawab Faris santai.
********
Setelah menerima dua mata kuliah pada hari itu, Aleta yang baru keluar dari ruangan, seketika merasa mual, dan Faris yang sedang mengobrol dengan temannya itu, langsung berlari menghampiri istri cantiknya itu dengan tampang yang begitu panik sambil berkata.
"Kamu kenapa sayang,,?" Tanya Faris sambil mengusap-usap punggung Aleta.
Aleta tidak menjawab pertanyaan suaminya sama sekali, dia seperti itu karena dia merasa kesal, melihat Faris mengobrol dengan wanita yang dia tidak kenal itu. Apalagi penampilan Feli begitu seksi, dan gayanya sangat genit di saat berbicara dengan Faris.
Feli yang melihat kedekatan Faris dengan Aleta menjadi bingung juga kaget, karena selama ini, dia tidak pernah melihat laki-laki tampan itu sedekat itu dengan wanita. Dengan tampang kebingungan, Feli melangkah menghampiri Faris dan Aleta kemudian berkata.
"Ada apa Ris,,?" Tanya Feli bingung.
"Ngga apa-apa, istriku cuman mual." Jawab Faris.
"Istri,,? Kamu sudah menikah,,?" Tanya Feli kaget.
"Iya,, dan sekarang dia lagi hamil." Jawab Faris.
"Oooo,, kirain kamu belum menikah." Kata Feli.
Mendengar pertanyaan Aleta, Faris langsung kaget. Dia tidak menyangka, istrinya yang begitu sopan dengan orang bisa sesinis itu. Faris tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menatap Aleta dengan tampang kebingungan.
Sedangkan Feli seketika jadi malu, juga salah tingkah dengan pertanyaan Aleta. Dia tidak tahu harus jawab apa,,? Dengan wajah yang sudah merah karena malu, Feli pun menjawab.
"Ngga apa-apa ko Mba. Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu ya Ris." Kata Feli dan langsung melangkah pergi.
Setelah Feli pergi, tanpa menunggu lama Faris langsung menggendong Aleta dan melangkah menuju parkiran. Semua mata tertuju kepada mereka, dan itu membuat Aleta jadi sangat malu.
Walaupun merasa malu, Aleta tetap terdiam. Aleta melingkarkan tangannya di leher Faris, sambil menundukan wajahnya ke dada bidang suaminya itu. Setelah wajahnya berada tepat di dada Faris, Aleta merasa sangat legah, aroma tubuh Faris seketika membuat rasa mulanya langsung hilang secara tiba-tiba.
Farfum Faris memang sangat harum dan tidak menyengat di hidung. Dan Aleta sangat menyukainya. Apalagi setelah dia hamil, dia sangat suka menghirup aroma tubuh suaminya.
Faris menurunkan Aleta di samping mobil. Kemudian dia membuka pintu mobil dan Aleta langsung masuk, dan duduk di dalam mobil dengan tampang datarnya. Setelah itu Faris segera menutup pintu mobilnya, dan langsung berjalan memutar kemudian masuk dan duduk di balik kemudi.
Sedangkan dari sudat sana, ada sepasang mata yang sedang melihat mereka dengan tatapan tidak suka, dan orang itu adalah Feli. Feli sangat tergila-gila sama Faris bahkan sampai sekarang. Feli sangat tidak suka melihat Aleta yang sekarang berstatus sebagai istrinya Faris.
Hati Feli sangat sakit melihat ada wanita lain di samping Faris. Feli yang begitu tidak suka dengan Aleta, sudah memiliki rencana untuk merebut Faris. Karena Faris adalah laki-laki yang sangat sempurna di mata Feli. Bukan hanya ketampanan Faris yang membuat Feli, dan wanita-wanita lainnya tergila-gila sama Faris, tapi kekayaannya yang menjadi Faktor utama, yang membuat Feli juga para wanita-wanita matre itu ingin memilikinya.
Di dalam perjalanan, Aleta memilih untuk menatap ke luar melewati kaca mobil, dia seperti itu karena dia sangat kesal melihat suaminya yang begitu akrab dengan wanita lain tepat di hadapannya. Sebenarnya Aleta tidak terlalu sensitif seperti itu, tapi mungkin karena pengaruh kehamilannya, sehingga dia menjadi seperti itu.
Faris yang melihat ekspresi istrinya, merasa sangat bingung. Dia tidak tahu mengapa sehingga istrinya jadi diamin dia, dan tidak ingin menatapnya. Sambil fokus menyetir, Faris pun langsung membuka suara.
"Sayang kamu kenapa,,?" Tanya Faris tanpa menatap Aleta.
"Ngga apa-apa,,!" Ketus Aleta.
"Ngga apa-apa tapi kamu ko aneh,,?" Kata Faris lagi.
"Aku tu ngga suka ya Mas,, kamu dekat-dekat dengan wanita itu lagi,,!" Kata Aleta dengan tampang datarnya.
"Wanita manaa,,?" Tanya Faris sambil berbalik menatap Aleta, dengan tatapan kebingungan.
"Wanita yang tadi itu,,! Aku lihat dia tu punya rasa sama kamu." Kata Aleta.
"Kamu ngga usah terlalu kaya gitu sayang." Kata Faris.
"Ngga usah gitu gimana,,? Dianya aja genit gitu." Ketus Aleta.
"Sayang,, terserah mereka mau punya rasa atau apapun itu, kamu harus tetap yakin, kalau hati aku hanya milik kamu." Kata Faris yang membuat Aleta langsung luluh.
Mendengar kata-kata suaminya, Aleta langsung tersenyum. Aleta sangat percaya, kalau suaminya itu bisa di percaya, apalagi tatapan Faris saat berbicara menunjukan kejujuran dalam dirinya.