
Sampainya di kamar, Reza langsung meletakan Melda ke atas tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sedangkan Aleta, dia lagi mengambil minyak angin di kamar Oma Rita setelah membuka pintu kamar untuk Reza tadi.
Tidak berapa lama Aleta pun kembali dan langsung memberikan minyak angin yang ada di tangannya kepada Abangnya sambil berkata.
"Bang,, tolong gosok minyak angin ini kepada Melda, soalnya aku harus kebawah menemani Mas Faris mengurus yang lainnya." Kata Melda dan melangkah pergi keluar dari kamar.
Reza yang belum kenal dengan Melda sama sekali, merasa sangat canggung juga bingung. Dia tidak tahu harus bagaimana melakukan apa yang di minta oleh Alata tadi. Reza hanya berdiri di samping tempat tidur sambil menatap Melda sambil berkata-kata dalam hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan,,? Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman kalau tiba-tiba dia sadar. Kita kan tidak saling kenal." Gumam Reza sambil menatap Melda yang masih belum sadarkan diri.
Melda yang dulu sangat beda dengan yang sekarang, sekarang Melda sudah sangat cantik dan kulitnya yang dulu kecoklatan, sekarang sudah sangat putih. Semua itu terjadi di saat Melda pulang ke Korea beberapa tahun yang lalu bersama Mamanya.
Waktu itu Meymey pulang ke Korea untuk mengunjungi keluarganya di sana. Sampainya di sana, Meymey kenalakan salah seorang sahabatnya yang berprofesi sebagai Dr kecantikan kepada putrinya itu.
Di saat mereka sedang berbincang-bincang mengenai produk kecantikan, tiba-tiba Meymey langsung berfikiran untuk meminta sahabatnya itu, melakukan perawatan khusus kepada Melda, dan dengan senang hati sahabatnya itu pun langsung mengiyakan apa yang di minta oleh Meymey.
Dengan produk kecantikan yang begitu luar biasa, juga beberapa tehnik yang di lakukan oleh sahabatnya itu, sehingga membuat Melda menjadi putih dan cantik seperti sekarang ini.
Wajah Melda yang dulu tidak terlalu cantik, juga kulitnya yang kecoklatan, kini sudah berubah drastis. Perubahan Melda itu membuat keluarganya juga teman-tannya hampir tidak mengenalnya.
************
Dengan ragu-ragu Reza duduk di samping Melda dan mulai menggosokkan minyak angin ke bagian leher juga telinga dan hidung Melda. Di saat Reza sedang menggosok minyak angin di hidung Melda, tiba-tiba Melda sadar dan langsung berteriak dengan kerasnya saking kagetnya dia melihat orang yang tidak dia kenal di hadapannya.
Melda yang begitu terkejut dan ketakutan, langsung bangun dan mundur ke belakang sambil berteriak dan memeluk dadanya sendiri. Apa yang di lakukan Melda itu membuat Reza jadi panik dan berusaha untuk menutupi mulutnya dengan telapak tangannya sambil berkata.
"Tenang,, jangan berteriak,,! Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya di suruh Aleta untuk menggosokkan minyak angin ini, karena kamu tadi pingsan." Kata Faris tanpa melepaskan tangannya dari mulut Melda.
Melda yang masih bingung dengan sosok laki-laki yang tidak dia kenal itu, masih merasa ragu dengan apa yang baru saja dia dengar. Tapi setelah itu dia kembali berfikir, kalau memang laki-laki itu orang jahat, mengapa sampai dia bisa tahu dengan nama Aleta. Setelah berfikir, Melda melepaskan tangan Reza dari mulutnya dan bertanya.
"Aku Reza, Abangnya Aleta dari Malaysia. Aku datang kemari karena Aleta mengabariku kalau keluarga Faris mengalami kecelakaan." Jawab Reza yang sudah berdiri di samping tempat tidur.
Mendengar apa yang Reza katakan, Melda kembali menangis mengingat apa yang sedang menimpa mereka saat itu. Dengan segera Melda langsung turun dari tempat tidur dan hendak berlari menuju pintu. Tapi tiba-tiba dia merasa pusing dan langsung memegang pintu sambil menundukkan kepalanya.
Melihat keadaan Melda, Reza dengan segera langsung mendekatinya dan memegang pundaknya dari arah belakang sambil berkata.
"Kamu jangan bergerak dulu,,! Kamu itu baru sadar dari pingsan." Kata Reza.
"Hiks,,,hiks,,,hiks,,, aku tidak bisa berdiam diri di sini, aku ingin melihat kedua orang tuaku dan keluargaku yang lain, sebelum mereka di makamkan. Tolong antar aku kebawah." Melda berkata-kata sambil terisak-isak.
Mendengar apa yang di katakan Melda, membuat Faris berfikir kalau Melda ini adalah adik kandung Faris. Dan dengan segera Reza pun menuruti apa yang Melda inginkan. Reza terus memegang pundak Melda, sampai masuk ke dalam lift.
Sebenarnya Reza ingin turun melalui tangga kare dia tidak tahu kalau rumah mewah itu ada luft di dalamnya. Tapi Melda yang memintanya untuk turun menggunakan lift karena dia tidak mampuh menuruni anak tangga.
Reza merasa sangat kagum dengan kekayaan keluarga Faris yang begitu luar biasa. Reza memang sudah sering lihat banyak rumah mewah, bahkan dia pun sudah memiliki rumah mewah di Malaysia, tapi baru kali ini, dia melihat rumah yang kemewahannya sudah seperti hotel berbintang.
Di dalam lift Melda terus menangis sambil memanggil-manggil Mama dan Papanya. Melda terlihat begitu hancur dan terpuruk, sampai-sampai dia seperti tidak ada tenaga untuk melangkah sekalipun.
Di saat keluar dari lift, tanpa menunggu Reza, Melda langsung berlari sambil menangis, tapi dengan kondisi yang begitu lemah, Melda tersungkur dan kepalanya terbentur di sudut sofa, sehingga membuat keningnya mengeluarkan banyak darah. Mereka semua yang ada di situ, sangat kaget melihat keadaan Melda, terutama Faris.
Dengan segera mereka berlari menghampiri Melda. Reza yang duluan berada di samping Melda dengan buru-buru mengangkatnya, tapi kemudian Faris mengambil melda dan membawanya dalam pelukannya dan meminta Boy untuk mengbil tisu.
"Sini Za,,!" Kata Faris sambil mengangkat kepala Melda dari pangkuan Reza.
"Boy,,! Tolong ambilkan kotak obat." Teriak Faris dengan nada yang sangat panik setelah melihat banyak darah yang keluar di kening Melda.
Faris sangat panik melihat keadaan Melda, dia sangat takut terjadi apa-apa sama Melda, karena Faris sangat menyayangi Melda seperti dia menyayangi Almira. Tapi tiba-tiba Faris langsung naik darah di saat Melda menolak untuk lukanya di obati, setelah Boy datang membawa kotak obat.