CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 41. Salah Faham Yang Berlanjut.


Setelah Aleta hampir menghilang dari pandangannya, dengan segera Faris langsung bergegas menyusulnya, Faris tidak mau meninggalkan Aleta sendirian di aprtemennya, karena dia sudah trauma dengan penculikan Aleta waktu itu.


Sampainya di depan pintu apartemen, Aleta yang tidak mampuh untuk menahn sakit hati, menangis sejadi-jadinya dan membuat tangannya gemetar, sampai-sampai dia tidak mampuh untuk menekan tombol yang ada di samping pintu.


Dan Faris yang berada tidak jauh di belakangnya melihat semua itu, dengan segerah Faris langsung mendekatinya dan memeluknya dari arah belakang sambil berkata.


"Aletaa,, aku mohon maafkan akuu,,! Aku sangat mencintaimu,,!" Kata Faris sambil memeluk dan mengecup pundak Aleta.


Aleta yang di peluk tidak menolak apa yang sedang Faris lakukan padanya, tapi air matanya terus meluncur membasahi wajah cantiknya, dengan perlahan Aleta melepaskan tangan Faris yang melingkar di perutnya sambil berkata.


"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, tolong tinggalkan aku,,! Aku ingin sendiri,,!" Kata Aleta tanpa menatap Faris.


Dengan tampang kekecewaan, Faris menekan tombol yang ada di samping pintu apartemen dan pintu itu pun terbuka, kemudian dia berbalik dan hendak melangkah pergi, tapi sebelum dia melangkah, dia kembali berkata.


"Jangan lupa makan sebelum kamu tidur,,! Ada makanan di dalam kulkas,,!" Kata Faris yang membuat Aleta bertambah sedih.


Dengan air mata yang bercucuran Aleta masuk dan menutup pintu apartemen, dia tersandar di pintu sambil menangis, Aleta sangat sedih karena keadan itu membuat dia teringat dengan ke dua orang tuanya. Aleta sangat tidak sanggup untuk kehilngan orang yang dia sayangi untuk yang kesekian kalinya, apalagi di Indonesia, dia tidak punya siapa-siapa selain Faris dan kelurganya.


Sedangkan Faris yang berada di luar, memilih untuk tidur di dalam mobilnya, dia tidak bisa pergi meninggalkan Aleta sendirian di tengah malam seperti itu.


Faris tidak tidur semalaman karena dia terus memantau apartemennya dari dalam mobil, dan setelah waktu sudah menunjukan pukul 5:30 pagi, baru Faris bergegas untuk pulang ke rumah, sampainya di rumah, Faris memilih untuk tidur karena dia merasa sangat ngantuk.


Sedangkan Aleta yang berada di apartemen masih terlelap, dia baru bisa tidur setelah pukul 4 dini hari tadi. Aleta tidak bisa tidur karena selain memikirkan masalah yang sedang dia hadapi, dia juga merasa sangat takut, sebab dia tidak mengetahui kalau Faris sedang menjaganya dari luar sana.


Pukul 7:30 Faris baru terbangun setelah di bangunkan mamanya. Alira merasa bingung dan hawatir, di saat asisten rumahnya membetitahukan dia, kalau pagi tadi Faris pulang sendirian tanpa istrinya, akhirnya dengan buru-buru Alira melangkah ke kamar Faris dan langsung membangunkannya.


"Ris,, di mana Aleta,,?" Tanya Alira setelah Putranya sudah bangun dan duduk di hadapannya dengan tampang yang masih sangat mengantuk.


Faris yang tidak bisa berbohong kepada orang tuanya


terutama Mamanya, langsung menceritakan semua yang sedang terjadi antara dia dan istrinya, dan dari ekspresi Faris berbicara, Alira sangat yakin kalau Putranya itu sangat mencintai istrinya. Dengan penuh kasih sayang, Alira meraih tangan Putranya sambil berkata.


"Nak, Aleta seperti itu karena dia sangat mencintai kamu, dia marah di saat ada orang lain mendekatimu,


maka dari itu, kamu ngga boleh terlalu muda dekat dengan wanita lain,,! Aplagi di tempat sepi." Kata Alira kepada Putranya.


"Iya Ma,,!" Jawab Faris.


"Dan satu lagi sayang, wanita seperti Melisa itu bukan wanita baik-baik,,! Karena wanita baik-baik tidak akan dekat dengan suami orang walau dengan alasan seperti apapun.


"Wanita seperti itu hanya ingin menghancurkan rumah tangga orang, juga ingin mengejar laki-laki yang berharta seperti kamu,,!" Kata Alira.


"Ma,, mengapa Aleta sampai saat ini masih tetap ragu sama aku,,? Padahal aku sudah menjadi suaminya." Kata Faris.


"Dia bilang aku ngga benar-benar mencintainya, dan dia juga bilang kalau dia sudah tidak mau untuk mengandung anaku lagi,,!" Kata Faris yang membuat kening Alira jadi berkerut.


"Mengandung anakmu lagi,,? Tanya Alira bingung dan membuat Faris langsung kaget, karena tanpa sadar dia sudah mengatakan apa yang tidak di ketahui oleh siapapun selain dia dan Aleta.


"Apa maksud perkataanmu tadi Faris,,? Tanya Alira cari tahu setelah melihat ekspresi Putranya yang tiba-tiba terlihat aneh.


Akhirnya dengan terpaksa Faris pun jujur, dia menceritakan semua yang terjadi di antara dia dan Aleta, dari awal pertemuan pertama mereka di hotel pada saat di Amerika, sampai Aleta hamil dan yang lainnya, dan Alira yang mendengar penjelasan putranya, sangat kaget sampai matanya terbelalak juga mulutnya terbuka lebar-lebar.


"Ma,, Kenapa mulut kamu terbuka seperti itu,,?" Tanya Fahri yang baru datang dan sedang berdiri di depan pintu.


"Pa sini Pa,,!" Panggil Alira pada suaminya.


"Kenapa,,?" Tanya Fahri bingung dan juga hawatir.


"Putramu ini ternyata sudah pernah menghamili anak gadis orang Pa,,!" Kata Alira yang membuat suaminya


langsung kaget.


"Apaaaa,,? Siapa yang kamu hamili Faris,,?" Tanya Fahri yang sudah mulai emosi.


"Aleta Pa,,!" Jawab Faris dengan tampang datarnya.


"Oooo Aleta sudah hamil,,? Jago bangat Putra Papa. Kata Fahri.


"Jago apanya,,? Putramu itu menghamili Aleta dengan cara memperkosa,, dan itu kejadian tiga tahun yang lalu,,! Kata Alira sedikit kesal.


"Trus di mana anakmu,,?" Tanya Fahri sambil menatap Faris.


"Aleta keguguran waktu itu Pa,,!" Jawab Alira.


"Berarti karena itu sampai kamu mau menikahinya,,?" Tanya Fahri.


"Ngga Pa,,! Aku menikahinya karena aku benar-benar mencintainya,,!" Jawab Faris.


"Dan kamu mencintainya karena kejadian itu, iya kan,,?" Tanya Fahri dan Faris hanya mengangguk.


"Tapi seandainya kejadian itu tidak pernah terjadi, aku akan tetap menikahinya walaupun aku tidak mencintainya,,! Karena aku sudah berjanji kepada Bi Ina sebelum beliau meninggal,,!" Kata Faris yang membuat Aleta yang baru muncul di depan pintu seperti tersambar petir.


Aleta yang baru sampai di depan pintu seperti tersambar petir mendengar kata-kata Faris yang terakhir. Aleta yang hanya mendengar sebagin dari penjelasan Faris tambah salah Faham, dia semakin yakin kalau suaminya itu tidak mencintainya sama sekali, dan hanya untuk memenuhi janji sampai Faris mau menikahinya bukan karena cinta.