CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 91. Hasrat Dalam Kesedihan.


Melda memilih untuk duduk di bangku bagian belakang, karena dia merasa kurang nyaman duduk di samping Reza, yang tidak bersuara ataupun meliriknya sama sekali. Di dalam perjalanan, Reza hanya fokus menyetir tanpa memperdulikan Melda yang duduk di bangku bagian belakang.


Sedangkan Melda pun sama, dia tidak memperdulikan Reza sama sekali. Melda memilih untuk melihat foto keluarganya di saat sudah menjadi mayat, yang sempat di ambil tadi sama Boy. Dengan seketika, air mata Melda kembali menetes, di saat dia melihat wajah orang tuanya di dalam ponsel yang berada di tangannya itu.


Melda terus menerus melihat gambar orang tuanya, juga Oma Rita dan Opa Indra di saat mereka sudah terbujur kaku. Karena tadi, di saat dia tidak sadarkan diri, Boy sempat mengambil ponselnya, untuk mengambil gambar keluarganya sebelum di kafani.


Boy mengambil gambar ke enam orang yang sangat mereka sayangi itu, begitupun dengan Faris, Aleta dan Tante Leni. Tapi Melda hanya melihat gambar orang tuanya, juga Oma Opanya bergantian, karena dia tidak sanggup melihat gambar Om dan Tantenya.


Melda tidak sanggup melihat gambar Mama Alira dan Papa Fahri, karena wajah Om dan Tantenya itu hangus terbakar hampir seratus persen. Semua itu terjadi, karena Om dan Tantenya tidak sempat keluar, di saat mobil terbakar, itu kata para Polisi yang turun ke dasar jurang, sedangkan mayat yang lainnya mereka temukan berjarak beberapa meter dari mobil, termasuk Almira yang masih bisa di selamatkan.


Sampainya di rumah, Melda langsung keluar dari mobil, dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Reza. Melda yang merasa kecapean memutuskan untuk langsung mandi, sedangkan Reza dia memilih untuk duduk di ruang depan, sambil mengotak ngatik ponsel di tangannya.


Melda yang sudah selesai mandi dan berpakaian, sedang duduk di atas tempat tidur sambil melamun. Melda kembali menangis mengingat kenangannya bersama orang tuanya, yang begitu menyayanginya. Dia belum sanggup menerima dengan semua yang terjadi pada keluarganya.



"Maaa,, Paaa,, aku merindukan kalian. Bagaimana hidupku ke depan tanpa kalian,,? Semoga kalian bahagia di sana, aku juga akan berusaha untuk bahagia, karena aku tidak ingin membuat kalian sedih dengan melihatku selalu bersedih." Melda berkata-kata dengan berlinang air mata


***********


Sedangkan Faris dan Aleta yang sedang berada di rumah sakit, baru selesai mandi. Karena itu rumah sakit milik keluarganya, membuat Faris dan Aleta sangat terjamin, begitupun dengan perawatan Almira.


Faris dan Aleta menginap di kamar yang di sediakan khusus hanya untuk keluarga Permana. Selesai mandi, Faris duduk di tepi ranjang, sambil mengenang masa-masa indah bersama keluarganya sebelum kejadian itu. Tapi Faris lebih sedih lagi di saat membayangkan wajah kedua orang tuanya, yang hangus terbakar di saat kecelakaan itu.


Faris yang tidak ingin menangis lagi, kembali menangis karena bersedih mengingat kedua orang tuanya, yang meninggal dengan begitu tragis. Dengan hanya memakai handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya, Faris menatap tanpa arah dengan berlinang air mata.



Tanpa Faris sadari, Aleta yang tadi minta izin keluar untuk menengok Almira sebentar, sudah kembali dan sedang melihatnya dari depan pintu, dengan air mata yang berlinang



Aleta sangat sedih melihat keadaan suaminya, dia tidak sanggup melihat laki-laki yang begitu kuat dan sangat dia cintai, begitu hancur dan terpuruk seperti itu. Tapi tidak beberapa lama, Aleta langsung buru-buru menghapus air matanya, dan berpura-pura mengetuk pintu.


Faris yang masih terus melamun juga bersedih langsung kaget, setelah mendengar suara ketukan pintu, dan dia tahu kalau itu Aleta yang sudah kembali. Faris pun sama, dia dengan cepat langsung menghapus air matanya, karena dia tidak ingin Aleta melihatnya lemah seperti itu.


"Maas,, kamu sudah mandi,,?" Tanya Aleta berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Aal,, kamu bisa ngga layani aku malam ini,,?" Tanya Faris sambil menatap bagian depan Aleta yang selalu membuatnya tidak tahan.



"Bisa ko Maas. Tapi aku mandi dulu ya,,?" Kata Aleta.


"Ngga usah,,! Ini sudah malam, ngga baik mandi malam buat orang yang sedang mengandung." Kata Faris.


"Tapi aku keringatan bangat Maas,, aku ngga percaya diri." Kata Aleta.


"Aal,, aku lebih menyukai aroma tubuh kamu dari pada aroma sabun atau lotion." Kata Faris sambil menarik Aleta untuk berdiri tepat di depannya.


Tanpa menunggu lama, dan tanpa berkata apa-apa, Faris langsung melepaskan semua pakaian Aleta, termasuk pakaian dalamnya. Setelah semua pakaian Aleta terlepas, mata Faris langsung tertuju di bagian-bagian tertentu istrinya, yang terlihat semakin padat dan berisi.


Melihat bentuk tubuh Aleta, membuat Faris semakin tidak bisa untuk menahan lebih lama lagi. Dengan segera, Faris langsung menarik Aleta dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian Faris dengan tatapan memangsa, segera melahap bagian-bagian tertentu istrinya dengan begitu rakusnya.


Aleta yang sangat menyukai permainan suaminya, begitu menikmati semuanya dengan desahan yang memenuhi seluruh ruangan itu. Untung saja ruangan khusus keluarga Permana itu, berada sendiri di lantai paling atas tanpa ada ruangan yang lain, jadi tidak ada yang mendengar ataupun mengetahui apa yang sedang mereka lakukan.


Puas melahap bagian-bagian tertentu istrinya,


Faris langsung bangkit dan mulai mengarahkan senjatanya yang selalu membuat sasarannya lecet itu dengan begitu tidak sabarnya. Faris berpacu dengan begitu gilanya, dan itu membuat Aleta mendesah dengan begitu kerasnya.


Faris yang sedang menggila itu, tiba-tiba kaget setelah dia menyadari kalau istrinya itu sedang mengandung. Tapi karena hasrat yang sudah tidak bisa di kendalikan, membuat Faris tidak bisa untuk menghentikan semuanya, tapi dia malah bertanya kepada Aleta, tanpa menghentikan permainannya.


"Sayaang,, kamu kesakitan,,?" Tanya Faris dengan nafas yang terengah-engah.


"Iya Maas,, tapi aku suka. Ini nikmat bangat Mas." Jawab Aleta dengan suaranya yang terdengar begitu manja dan seksi di telinga Faris.


"Tapi Mas takut terjadi apa-apa dengan kandungan kamu sayaaang,," kata Faris lagi sambil menatap Aleta dengan tatapan memangsa.


"Aku sudah mengkonsumsi obat penguat kandungan Maas,, Maaaas,, aaaaah,, Maaaas. Aleta berkata-kata, sambil berteriak karena dia sudah sampai pada puncaknya.


Mendengar apa yang di katakan Aleta, dan melihat Aleta yang sudah berteriak sambil meremas lengannya, membuat Faris semakin berhasrat dan berpacu dengan lebih kencang sampai pada akhir permainannya.