
Setiap hari Faris hampir tidak punya waktu untuk beristirahat, dia selalu berusaha untuk mencari tahu tentang keberadaan Melda yang hilang tanpa ada jejak, juga tentang kematian keluarganya. Sudah satu minggu Faris dan anak buahnya berusaha mencari, tapi belum juga ada tanda-tanda yang mereka temukan.
Sedangkan Reza, dia selalu berada di rumah untuk menemani Aleta menjaga Almira, bersama beberapa orang anak buah Faris. Sebenarnya Reza juga ingin membantu Faris mencari Melda, tapi Faris memintanya untuk menemani Aleta di rumah. Karena Faris lebih merasa aman, kalau Reza yang menjaga Aleta selama dia tidak ada di rumah.
Pukul 10 malam, Faris, Aleta, Reza, Boy juga Tante Leni berada di ruang keluarga. Mereka sedang membahas tentang semua masalah yang sedang mereka hadapi. Faris meminta Boy dan Tante Leni untuk mengurus perusahan selama dia tidak berada di kantor. Sedangkan Reza, Faris memintanya untuk berhenti dari tempat kerjanya di Malaysia, dan bergabung di perusahaan Faris, biar Reza bisa membantunya menjaga Aleta.
"Tante,, mungkin sementara aku belum bisa ke kantor, dan aku serahkan semua urusan kantor buat Tante dan Boy. Nanti kalau ada apa-apa, Tante atau Boy bisa menghubungi aku." Kata Faris.
"Kamu tenang saja Ris, itu biar jadi tanggung jawab Tante dan Boy. Kamu tidak perlu khawatir." Kata Tante Leni.
"Makasih Tante. Aku tidak tahu kalau tidak ada kalian, bagaimana jadinya aku." Kata Faris.
"Kita ini keluarga, jadi sudah semustinya saling membantu." Kata Tante Leni.
"Zaa,, kalau kamu tidak keberatan, aku mau kamu menetap di Indonesia dan bergabung dalam perusahanku, biar kamu bisa menjaga Aleta selama aku tidak berada di rumah." Kata Faris sambil menatap Reza.
"Maafkan aku Faris, bukan aku tidak mau bergabung dengan perusahanmu, tapi aku punya tanggung jawab besar di perusahaan tempat aku bekerja sekarang. Tapi aku akan meminta cuti selama satu bulan ke depan, biar aku bisa membantumu menjaga Aleta." Kata Reza.
"Makasih banyak ya Za. Kamu sudah mau membantuku." Kata Faris.
"Tidak perlu berterimakasih, Aleta adalah orang yang paling penting dalam hidupku. Jadi keselamatannya sangat berarti bagiku." Kata Reza.
Di saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba ponsel Reza berdering, dan itu panggilan masuk dari Papanya di Malaysia. Dengan segera Reza pun langsung berdiri, kemudian menjauh dari Faris dan yang lain, sambil menjawab telepon.
("Halo Pa,,") Sapa Reza.
("Zaa, ini aku Mira.") Suara seorang wanita dari seberang sana.
Mira adalah tetangga Reza sekaligus teman sekolahnya. Mira adalah orang yang sangat baik terhadap Reza juga keluarganya. Di Malaysia, Reza tidak tinggal bersama keluarganya, dia memilih tinggal di apartemen, dan Mira yang sering mengunjunginya, juga membawa makanan buatnya di apartemennya, walaupun dia tidak memintanya, karena Mira sangat tergila-gila dengan Reza sejak dulu.
("Ada apa Mir,,? Ko kamu bisa pake telfon Papa,,?") Tanya Reza.
("Zaa,, kamu segera pulang yaa,,! Soalnya Papa kamu baru saja meninggal.") Kata Mira yang membuat Reza langsung kaget.
("Apaaa,,? Papa aku meninggal,,?") Tanya Reza dengan nada suara yang lumayan keras, dan membuat Faris, Aleta dan lainnya ikut kaget.
("Iya Za. Papa kamu tiba-tiba serangan jantung, dan kita tidak sempat membawanya ke rumah sakit.") Kata Mira.
("Iya baik. Aku akan memboking tiket pesawat sekarang juga.") Kata Reza dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Aleta yang begitu terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar, langsung berdiri kemudian melangkah mendekati Reza, dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Aleta merasa sangat sedih mendengar kabar duka itu, karena dia sangat menyayangi Pamannya itu, walaupun beliau tidak terlalu memperdulikannya setelah kepergian orang tuanya.
"Baang,, apa benar Paman meninggal,,?" Tanya Aleta dengan air mata yang sudah meluncur dari bola matanya.
"Bagaimana Zaa,,?" Tanya Faris yang sudah berada di belakang Reza bersama Aleta dan Boy.
"Iya Aal. Ris, aku harus pulang malam ini juga,
karena Papa aku meninggal beberapa menit yang lalu. Tapi aku janji akan segera kembali." Kata Reza kepada Faris.
"Iya Zaa. Kamu pulang dulu,,! Soal Aleta, kamu tidak perlu khawatir, aku akan menjamin keselamatannya." Kata Faris meyakinkan Reza.
Reza berangkat dengan pesawat jam 4 dini hari. Di saat Reza mau ke bandara tadi, Aleta sempat memeluknya sambil menangis, dan itu membuat Reza merasa sedikit berat pergi meninggalkan Aleta, apalagi dengan keadaan keluarga Faris yang sedang banyak masalah. Tapi Reza meyakinkan Aleta, kalau dia akan segera kembali setelah berada satu minggu di Malaysia.
Sudah dua hari Reza berada di Malaysia, dan dia tidak berhenti menghubungi Aleta untuk menanyakan kabar Aleta, dan keluarganya di Indonesia melewati nomor telepon salah satu anak buah Faris. Reza tidak menghubungi nomor Aleta ataupun Faris, karena dia mengikuti apa yang Faris katakan.
Faris melakukan semua itu, karena dia tidak ingin melibatkan Reza dalam masalah keluarganya. Dia tidak mau Reza menjadi sasaran musuh yang ingin mencelakai keluarganya satu persatu.
Malam itu malam ke tiga meninggalnya Papa Reza. Setelah Papanya di makamkan, malamnya Reza memutuskan untuk langsung kembali ke apartemennya, karena dia tidak suka melihat Ibu tirinya juga anak-anaknya di dalam rumah Papanya itu.
Karena merasa sudah ngantuk, Reza langsung memilih untuk tidur, dan tidak lama dia pun terlelap. Pukul 4 dini hari, Reza tiba-tiba terbangun dan langsung terduduk di atas tempat tidur, dengan wajah yang di penuhi keringat.
Reza seperti itu, karena dia baru saja bermimpi tentang Melda. Dia sendiri jadi bingung mengapa sampai Melda bisa datang dalam mimpinya. Dan di dalam mimpi itu, Melda meminta tolong padanya, dan Melda juga mengatakan, kalau Reza saat ini yang berada sangat dekat dengannya. Dengan tampang kebingungan Reza pun bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apa arti dari mimpi itu,,?" Gumam Reza dengan tampang kebingungan.
Rasa ngantuk Reza langsung hilang karena memikirkan mimpinya barusan. Mimpi itu membuat dia jadi kepikiran dengan Melda, yang sampai saat ini tidak di ketahui keberadaannya. Dan karena itu sehingga membuat Reza tidak bisa tidur sampai pagi.
Pukul 7 pagi, Reza sudah selesai mandi dan sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Reza memutuskan untuk ke kantor hari itu, karena dia ingin meminta cuti selama satu bulan ke depan. Reza sangat khawatir memikirkan keadaan Aleta, jadi dia ingin segera meminta cuti biar secepatnya dia bisa berangkat ke Indonesia.
Reza sampai di kantor pusat tepat pukul 8. Selesai memarkirkan mobilnya, dia segera melangkah masuk, Reza yang memiliki kedudukan penting di kantor, di sambut dengan penuh hormat oleh para pegawai di kantor itu.
Sebelumnya Reza hanya pegawai biasa di kantor pusat milik seorang Pengusaha yang bernama Rendra, yang sekarang sedang dia datangi itu. Rendra adalah Direktur di perusahaan tempat Reza Beker itu.
Rendra termasuk salah satu pengusaha yang sangat sukses di Malaysia. Selain sukses, dia juga adalah orang yang berhati malaikat. Karena kebaikannya itu sehingga dia mengangkat Reza sebagai minejer di perusahaan cabangnya.
Awalnya Reza sangat bingung dan dia tidak langsung menerima keputusan Pak Rendra, yang menjadikannya menejer di perusahaan cabangnya, sebab dia merasa dirinya tidak pantas menduduki jabatan sebesar itu. Tapi setelah Pak Rendra menjelaskan alasannya mengambil keputusan itu, baru Reza mau menerimanya.
Alasan Pak Rendra menjadikan Reza sebagai pemimpin di perusahaan cabangnya, karena anak laki-lakinya masih berusia 14 tahun, dan juga, dia tidak mempercayai orang lain selain Reza.
Menurut Pak Rendra, Reza adalah orang yang sangat pantas menjadi menejer di perusahaan cabangnya, karena selain rajin, Reza adalah orang yang sangat disiplin, pekerja keras, dan memiliki semangat yang luar biasa.
Sampainya di depan pintu ruang Direktur, Reza langsung mengetuk pintu sambil memberi salam. Kemudian dia segera masuk, setelan Pak Rendra yang berada di dalam mempersilahkannya. Pak Rendra yang sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya, segera menutup telfonnya dan menatap Reza dengan tampang kebingungan, kemudian bertanya.
"Tumben pagi-pagi kamu mengunjungiku Za,,? Biasanya jam segini kamu lagi sibuk di kantor kamu." Kata Pak Rendra sambil menatap Reza.
"Aku ke kantor pusat karena ada yang ingin akuu,," Perkataan Reza langsung tertahan, karena ponsel Bosnya itu berdering tanda ada panggilan masuk.
"Aaah,, menggagu saja,,! Dasar boodoh,,! Masa tugas seringan itu tidak bisa di kerjakan." Kata Pak Rendra sambil mengecilkan bunyi ponselnya.
"Ada apa Pak,,?" Tanya Reza bingung.
"Ni anak buah ****,, tugas yang begitu ringan,
sama sekali dia tidak bisa menyelesaikannya,,!" Kata Pak Rendra penuh kekesalan.
Mendengar apa yang di katakan oleh Pak Rendra barusan, membuat Reza mendapatkan ide untuk mengambil hati Bosnya itu. Reza berfikir untuk menawarkan diri, menyelesaikan tugas yang tidak bisa di selesaikan oleh anak buah Pak Rendra, agar dia bisa lebih mudah mendapatkan izin selama sebulan ke depan.
"Biar saya saja yang menyelesaikannya Pak,,!" Kata Reza.
"Benar kamu mau,,?" Tanya Pak Rendra sambil menatap Reza.
"Iya Pak,,!" Jawab Reza penuh keyakinan, dan berhasil membuat Pak Rendra tersenyum bahagia.
"Kamu memang selalu bisa di andalkan." Kata Pak Rendra.
"Tugas apa yang harus saya kerjakan Pak,,?" Tanya Reza bersemangat.
"Tugasnya begitu sangat mudah. Kamu hanya mengantarkan seorang wanita ke bar langganan saya." Kata Pak Rendra yang membuat Reza langsung kaget.
"Maksud Bapak,,?" Tanya Reza dengan tampang Semakin kebingungan.
"Nanti sebentar malam baru saya beritahu apa yang harus kamu lakukan." Kata Pak Rendra.
"Mendingan, sekarang kamu menemaniku minum kopi di cafe di sebelah kantor." Tambah Pak Rendra dan langsung berdiri, kemudian melangkah menuju pintu dan di ikuti oleh Reza dari belakang, dengan wajahnya yang masih terlihat sangat bingung.