CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 69. Pertempuran Yang Sangat Sengit.


Faris yang sudah terlelap, kembali terbangun seperti biasa tepat pukul 4:30 dini hari, dan rasa sakit yang di rasakannya semakin bertambah parah. Faris yang sudah tidak tahu harus berbuat apa untuk menghilangkan rasa sakitnya, hanya berbaring di atas tempat tidur sambil menggigit gulingnya.


Sedangkan Aleta yang sudah tiba sejak beberapa menit yang lalu, langsung menaiki mobil jemputan Tante Lili. Dan setelah semuanya sudah siap di dalam mobil, pak sopir pun langsung melajukan mobilnya, menuju hotel tempat Faris menginap.


Kebetulan Papa Fahri sudah memberitahukan


nama hotel tempat Faris menginap, jadi tidak sulit untuk mereka menemukannya. Apalagi Aleta, juga Tante Lili sudah sangat hafal dengan setiap sudut kota itu.


Faris yang berada di hotel, sudah tidak bisa untuk mengendalikan diri lagi. Sekujur tubuhnya sudah di basahi keringat. Dia sudah tidak mampuh untuk berbuat apa-apa. Faris hanya berbaring sambil memeluk guling erat-erat di atas tempat tidur.


Sedangkan Aleta yang masih berada di dalam perjalanan, menuju hotel tempat Faris menginap, merasa sangat gelisah, perasaannya sangat tidak tenang memikirkan suaminya. Aleta sangat takut terjadi apa-apa dengan Faris.


Untung saja jarak dari bandara menuju hotel tempat Faris menginap sangat dekat. Jadi hanya memakan waktu setengah jam, mereka sudah sampai di depan hotel berbintang itu.


Dengan buru-buru Aleta segera keluar dari mobil, dan langsung berpamitan kepada Tate Lili dan anaknya. Dan setelah mobil Tate Lili hilang dari pandangan matanya, tanpa menunggu lama, Aleta langsung melangkah masuk ke dalam hotel mewah itu.


Aleta yang sudah biasa hidup di Amerika, tidak merasa takut ataupun sungkan, apalagi dia sangat lincah dalam berbahasa Inggris. Aleta melangkah menuju meja resepsionis, dan langsung menanyakan nomor kamar suaminya.


Faris yang kesempurnaan fisiknya bisa di katakan sempurna, baru beberapa hari menginap di hotel itu, tapi dia sudah sangat di kenal oleh pegawai hotel, terutama pegawai yang perempuan. Jadi tidak butuh waktu untuk mencari di daftar buku tamu, resepsionis itu langsung memberitahukan nomor kamar Faris, setelah Aleta katakan kalau dia adalah istri Faris.


Setelah itu, tanpa menunggu lama Aleta langsung melangkah mengikuti salah satu, pegawai hotel laki-laki yang di suruh sama resepsionis, untuk mengantarkan Aleta ke kamar Faris yang berada di lantai atas.


Aleta sudah tidak sabar untuk memberi kejutan kepada suaminya, dia melangkah dengan begitu bersemangat. Tapi di sisi lain, perasaan kekhawatiran Aleta terhadap Faris masih tetap ada.


Sampainya di depan pintu kamar Faris, pegawai hotel laki-laki itu langsung berpamitan kepada Aleta, setelah menunjukkan kamarnya Faris kepada Aleta.


Tanpa menunggu lama, Aleta yang sudah tidak sabar, langsung mengetuk pintu kamar Faris berulang-ulang tanpa bersuara.


Faris yang semakin kesakitan di atas tempat tidur, hanya berbaring sambil berusaha mengendalikan hasratnya, yang sudah hampir dua jam membuatnya tersiksa. Dengan bersusah payah Faris berusaha turun dari tempat tidur, kemudian melangkah menuju pintu sambil berkata.


"Tunggu sebentar,," kata Faris dengan suara yang sangat serak.


Mendengar suara suaminya, Aleta langsung merasa legah, karena suaminya baik-baik saja. Sedangkan Faris yang sedang melangkah perlahan-lahan menuju pintu, segera berfikir untuk meminta bantu kepada orang yang berada di luar, untuk membelikan obat yang biasa dia ambil dari Dr Rani dulu. Karena dia tahu, kalau yang ada di luar itu pasti pegawai hotel.


Faris benar-benar tidak mampuh untuk menahan hasratnya, yang membuat dia sangat kesakitan selama dua malam ini. Dan dia berfikir mengkonsumsi obat yang biasa dia ambil dari Dr Rani, adalah jalan satu-satunya.


Faris rela menanggung efek samping dari obat itu, demi memegang janji setianya kepada Aleta. Tapi setelah pintu terbuka, mata Faris langsung terbelalak melihat Aleta sudah berdiri di hadapannya.




Senyum Aleta tiba-tiba menghilang, di saat dia betul-betul memperhatikan wajah Faris, yang terlihat begitu pucat dan di penuhi keringat. Dengan nada suara panik, Aleta pun bertanya.


"Mas,, kamu kenapa,,? Wajah kamu terlihat pucat bangat. Apa kamu sakit,,?" Tanya Aleta sambil meraba wajah juga leher Faris.


"Iya aku sakit, dan hampir sekarat,," jawab Faris sambil meraih tangan Aleta.


Mendengar perkataan Faris, Aleta seketika jadi panik juga merasa sangat cemas. Dan di saat dia ingin kembali bertanya, Faris sudah menarik tangannya untuk masuk ke dalam kamar. Kemudian Faris langsung menutup pintunya dan berbalik menatap Aleta, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.



"Mas,, kamu kenapa sebenarnya,,? Jangan buat aku takuuut,," Aleta berkata dengan nada suara yang terdengar begitu manja, di telinga Faris.


"Aku hampir mati Aleta,, aku tidak bisa mengendalikan hasrat ku sendiri. Aku sadar, kalau aku tidak bisa jauh-jauh darimu,," kata Faris yang membuat Aleta langsung mengerti


keadaan suaminya.


"Aku tahu itu Mas,, dan karena itu aku memilih untuk menyusulmu ke sini,," kata Aleta sambil menempelkan tangannya di dada bidang Faris.


Apa yang Aleta lakukan itu, membuat hasrat Faris semakin menggila dan tidak terkendali. Dengan nafas yang memburu, Faris langsung meraih dres Aleta di bagian leher dengan kedua tangannya, kemudian tanpa berkata apa-apa, Faris yang sudah seperti orang kesurupan, langsung menarik dres Aleta sampai robek terbelah dua.


Aleta yang sudah biasa dengan kegilaan suaminya itu, tidak terlalu terkejut dengan apa yang di lakukan suaminya. Aleta malah tersenyum sambil berusaha melepaskan baju kaos putih, yang masih menempel di tubuh Faris. Dan apa yang Aleta lakukan itu, membuat Faris semakin hilang kendali.


Tanpa menunggu lama, Faris kembali menarik sisa pakaian yang ada di tubuh Aleta, sampai tubuh Aleta benar-benar terpampang nyata di hadapannya. Melihat isterinya yang sudah tanpa sehelai benang pun, membuat nafas Faris semakin memburu seperti orang yang sedang lomba lari maraton.


Melihat keadaan suaminya, Aleta langsung tersenyum sambil melangkah mundur, dan naik ke atas tempat tidur. Setelah berada di atas tempat tidur, Aleta kemudian terlentang, sehingga membuat bagian ********, terbuka menantang tempat di hadapan Faris.


Melihat semua itu, membuat Faris tidak bisa untuk menahan diri lebih lama lagi. Sambil menatap pemandangan indah di hadapannya, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, Faris dengan segera langsung beranjak naik, kemudian dia segera melahap sesuatu yang membuatnya hampir gila dua malam ini, dengan begitu rakusnya.


Aleta yang juga sudah merindukan hal itu, langsung menekan kepala Faris semakin dalam di bawah sana, sambil berteriak dan meminta lebih kepada suaminya, yang sedang menggila di bawah sana.


Faris mencicipi setiap sudut dari makanan lezatnya itu, tanpa ada yang terlewatkan. Dia melepaskan cairan yang membuat dia kesakitan selama dua malam ini, berulang-ulang ke tempat di mana dia harus melepaskannya.


Hampir dua setengah jam mereka bertempur, dan Faris langsung tumbang di samping Aleta dengan senyum kepuasan yang terukir di wajah tampannya. Sedangkan Aleta, dia sudah lemas tak berdaya di samping Faris.