
Aleta sudah mulai gelisah karena memikirkan sosok laki-laki yang dia lihat tadi. Dia mulai tidak merasa nyaman berada di pesta. Aleta sangat yakin kalau laki-laki misterius tadi, pasti mengenalinya, karena kalau tidak, dia tidak akan memperhatikannya seperti itu.
Aleta mulai merasa khawatir dengan keselamatan dia juga Faris. Karena dia mulai berfikir, kalau laki-laki misterius tadi, mungkin saingan bisnis Faris yang tidak suka dengannya, dan ingin mencelakai mereka berdua.
Selama acara berlangsung, Aleta tidak bisa memberitahukan apa yang tadi dia lihat kepada Faris. Aleta tidak punya kesempatan untuk mengobrol dengan suaminya, karena Faris sangat sibuk dengan rekan-rekan bisnisnya, juga para tamu-tamu penting yang hadir di acara besar itu.
Aleta yang tidak ingin mengganggu suaminya, memilih untuk bergabung dengan istri-istri dari beberapa rekan bisnis Faris, yang baru saja dia kenal. Aleta dan beberapa wanita itu, duduk mengelilingi sebuah meja sambil mengobrol dan menikmati minuman, juga kue-kue yang ada di depan mereka. Sedangkan suami-suami mereka, sedang duduk di meja yang letaknya tidak terlalu jauh, dari tempat mereka duduk.
Pukul 10:30 malam, semua yang hadir di acara besar itu, mulai bergegas pulang, karena acaranya sudah selesai. Boy pulang bersama mobil Faris. Di saat mereka sudah dalam perjalanan, Aleta pun tetap tidak punya kesempatan untuk memberitahukan, apa yang mengganggu fikirannya sejak tadi.
Aleta tidak punya kesempatan, karena Faris dan Boy tidak henti-hentinya membahas segala urusan bisnis mereka. Akhirnya Aleta memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Faris, setelah mereka sampai di apartemen. Aleta tidak berani mengganggu Faris di saat dia sedang mengobrol dengan orang lain, karena itu yang Aleta pelajari dari Mama Alira, yang tidak pernah mengganggu Papa Fahri di saat sedang mengobrol dengan orang lain.
Faris dan Boy mengobrol sampai mereka lupa, kalau mereka sudah jauh melewati hotel tempat Boy menginap. Di saat Boy sadar kalau mereka sudah melewati hotel, tempat dia menginap dan memberitahukannya kepada Faris, Faris malah tidak menanggapinya. Akhirnya Boy pun tidak berkata apa-apa lagi.
"Ya ampun Ris,, ini kan udah lewat hoteeel,," kata Boy tapi tidak mendapat respon apa-apa dari Faris.
Karena tidak mendapat respon dari Faris, akhirnya Boy pun memilih untuk diam. Boy dan semua anggota keluarga, sudah sangat faham dengan sifat Faris si kutub utara itu. Kalau mereka membicarakan sesuatu dengannya tapi tidak di respon, itu berarti dia sedang memikirkan sesuatu hal, dan mereka tidak berani untuk mengganggunya.
Sedangkan Aleta yang sejak tadi memikirkan laki-laki yang dia lihat di pesta, sudah tidak fokus dengan dua orang yang duduk di depannya itu. Aleta hanya menatap ke arah luar melewati kaca mobil, dengan perasaan yang sudah bercampur aduk, sambil bertanya-tanya dalam hatinya.
"Siapa laki-laki tadi,,? Apa mungkin itu Bram,,? Bram kan sudah meninggal, atau jangan-jangan itu arwahnya Bram,,?" Aleta bertanya-tanya dalam hatinya sambil menggigit jari telunjuknya saking ketakutan.
Aleta semakin ketakutan dengan femikirnnya sendiri, yang sudah berfikir ke mana-mana. Dan di saat dia menyadari kalau Faris dan Boy sudah tidak mengobrol lagi, tanpa menunggu lama, dia pun langsung bersuara, karena dia sudah tidak sanggup untuk menahan sampai di apartemen.
"Mas,, aku ingin mengatakan sesuatu." Kata Aleta tapi tidak di respon sama sekali oleh Faris.
Walaupun tidak di respon, Aleta ingin kembali bersuara, tapi tiba-tiba Boy menatapnya sambil mengedipkan sebelah matanya, dan itu membuat Aleta langsung terdiam. Karena Aleta sudah mengerti apa yang Boy maksud.
Sampainya di dekat apartemen, Faris langsung meminta Boy, untuk mengantar Aleta ke depan pintu apartemen, sedangkan dia memilih menunggu di dalam mobil.
"Baik Ris,, aku senang bangaat, aku fikir aku akan menginap di sini, tidur di sofa dan meninggalkan kamar hotelku yang mewah,," kata Boy bersemangat dan langsung keluar dari mobil.
Sebenarnya Aleta tidak mau sendirian di apartemen, karena dia masih takut dengan sosok laki-laki yang dia lihat di pesta tadi. Tapi terpaksa dia pun mengikuti apa yang di katakan suaminya, apalagi dia melihat Boy begitu bersemangat, untuk kembali ke kamar hotel tempat dia menginap.
Dengan perasaan takut dan tatapan mata yang sedikit liar ke sana kemari, Aleta melangkah memasuki lift untuk menuju apartemen mereka, yang terdapat di lantai dua, dan Boy yang sejak tadi hanya fokus dengan ponsel di tangannya, tidak menyadari ekspresi Aleta yang terlihat ketakutan itu.
Apartemen mewah itu terdapat enam lantai, dan semuanya milik Faris. Apartemen itu adalah salah satu dari beberapa aset Faris yang ada di Amerika.
Sampainya di lantai dua, pintu lift pun terbuka. Dengan segera Aleta dan Boy langsung keluar dan melangkah menuju apartemen, yang di tempati oleh Faris dan Aleta. Boy yang sudah memasukan ponsel ke dalam saku celananya, mulai menyadari ekspresi Aleta yang terlihat ketakutan. Dan tanpa menunggu lama, Boy yang mulai merasa khawatir dengan saudara iparnya itu, langsung membuka suara.
"Aal,, kamu kenapa,,? Kamu terlihat seperti orang yang sedang ketakutan." Tanya Boy sambil menatap Aleta dengan tatapan khawatir juga bingung.
"Iya Boy,, aku tu lagi takut, soalnya tadi di pesta, ada seorang laki-laki yang memperhatikanku, tapi di saat aku melihatnya, dia langsung buru-buru pergi." Jawab Aleta dengan nada suara yang sangat pelan, yang membuat Boy ikut ketakutan.
"Aduh Al,, kamu jangan buat aku takut Doong,,"
kata Boy sambil melirik ke sana ke mari.
"Benar Boy aku ngga bohong,," kata Aleta.
"Bulu kuduk aku ko tiba-tiba berdiri ya Al,," kata Boy dengan tampang ketakutan.
"Aku juga Boy, cepat Boy telfon Mas Faris,,!" Kata Aleta.
Dengan tergesa-gesa, Boy segera mengambil ponselnya dari dalam saku celana, tapi tiba-tiba ponsel langsung terlepas dari tangannya, di saat dia melihat di layar ponselnya, ada bayangan orang yang sudah berada tepat di belakang mereka.