CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 124. Kecantikan Yang Sempurna.


Cahaya bulan yang begitu cerah di malam itu, tidak kalah cerahnya dengan wajah wanita-wanita yang datang ke rumah Tante Mawar. Dengan senyum yang di paksakan semanis mungkin, mereka melangkahkan kaki memasuki rumah Tante Mawar, yang begitu sederhana. Dan orang rumah yang sudah menanti kedatangan mereka, dengan begitu ramah, mempersilahkan mereka untuk masuk dan bergabung di ruang depan.


Dan yang datang ke rumah Tante Mawar, bukan hanya ketiga wanita itu saja. Tapi mereka datang bersama dua orang taman laki-laki Reno, yang juga sudah lama tidak bertemu dengannya. Mereka begitu bersemangat, karena itu pertemuan pertama mereka dengan Reno setelah lama terpisah.


Kerinduan antara sahabat yang sudah lama berpisah.


Ririn yang sudah sangat tergila-gila dengan ketampanan Reza, dengan begitu agresif langsung duduk di samping Reza, dengan gayanya yang terlihat begitu genit. Ririn yang memiliki paras sedikit lebih cantik dari kedua temannya, membuat dia begitu percaya diri dan banyak bertingkah.


Kecantikan Ririn yang sedikit lebih, membuat dia semakin percaya diri untuk mendekati Reza.


Kelakuan Ririn yang terkesan berlebihan, membuat Reza jadi merasa jenuh dengan keberadaan Ririn di sampingnya. Melihat ekspresi Reza, membuat Tante Mawar juga suaminya, jadi tersenyum sambil saling menatap satu sama lain.


Reza yang merasa terjepit dengan keberadaan Ririn yang semakin merapat ke arahnya, langsung berdiri dan beralasan ingin mengambil air minum di dapur. Tapi Ririn yang tidak ingin kehilangan kesempatan, untuk dekat-dekat dengan lelaki tampan di sampingnya itu, dengan segera langsung mencari alasan, yang membuat Reza terpaksa kembali duduk di sampingnya.


"Reno, kamu kan tuan rumah ini, sudah seharusnya menyiapkan minum dong." Ririn berkata-kata dengan gaya yang begitu genit.


"Sudah aku siapkan ko. Tunggu sebentar aku ambilkan." Jawab Reno dan langsung berdiri dari duduknya.


"Biar Tante saja yang ambilkan." Sambung Tante Mawar yang kebetulan mau melangkah menuju dapur.


Akhirnya Reno kembali duduk tepat di samping Teri, dan melanjutkan obrolannya bersama teman-teman lamanya itu. Tidak berapa lama, Tante Mawar pun keluar dengan membawa beberapa gelas, juga minuman yang sudah di siapkan sejak tadi di dapur.


"Tante ngga gabung?" Tanya Teri setelah Tante Mawar memberikan apa yang dia bawa, kepada Reno untuk di letakan di atas meja.


"Ngga usah. Ini kan perkumpulan anak muda, lagian Tante, Om dan jagoan Tante mau ke rumah saudara dan menginap di sana." Tante Mawar berkata-kata dengan senyum yang begitu ramah.


Tante Mawar dan suaminya adalah orang tua yang berjiwa muda. Mereka sangat mengerti apa yang di inginkan anak muda. Dan karena itu, mereka memilih pergi ke rumah saudara dan menginap di sana, bersama anak laki-laki mereka. Kebetulan saudara mereka itu sudah mengundang mereka, untuk membantu menyiapkan persiapan hajatan yang akan di langsungkan besok hari.


Sebelum pergi meninggalkan rumah, Tante Mawar menyempatkan diri untuk melihat Melda di kamarnya. Melihat penampilan Melda yang begitu sempurna, membuat Tante Mawar jadi mematung sambil menatap Melda, dengan mulut yang terbuka tanpa bisa berkata apa-apa. Melihat ekspresi Tante Mawar, membuat Melda jadi bingung.


"Ada apa Tante? Apa penampilanku berlebihan? Tadi aku sudah ganti rok aku sama yang ini. Soalnya tadi aku pakai rok berwarna hitam, jadi aku ganti karena kelihatan seperti orang yang mau ikut ujian meja" Melda berkata-kata panjang lebar dengan tatapan mencari tahu ke arah Tante Mawar.


"Sayang kamu sempurna bangat. Kamu tidak pantas meragukan penampilan kamu di depan Tante! Karena Tante yang hanya orang kampung, tidak pantas menilai penampilan gadis kota, yang berasal dari keluarga kaya raya sepertimu." Tante Mawar berkata-kata dengan merendahkan dirinya, karena melihat penampilan Melda yang begitu luar biasa sempurna di matanya.


"Tante ko ngomongnya kaya gitu? Walaupun aku ini dari kota dan berasal dari keluarga kaya, tapi aku ini hanya anak ingusan yang butuh pendapat orang tua yang berfikiran bijak seperti Tante." Melda berkata-kata sambil menggenggam tangan wanita baik hati di hadapannya itu.


"Tante yakin sayang, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk gadis sebaik kamu. Percayalah, di balik musibah yang kita alami, sudah ada kebahagian yang sedang menanti kita." Kata-kata Tante Mawar yang membuat mata Melda langsung berkaca-kaca.


Melda merasa sangat terharu, mendengar kata-kata seorang ibu di depannya itu. Kerinduannya akan sosok Mamanya, sedikit terobati dengan adanya Tante Mawar yang selalu memberinya semangat.


Air mata yang sudah membendung dan hampir saja tumpah membasahi paras yang cantik, seketika tertahan oleh kata-kata Tante Mawar. Ketulusan hati Tante Mawar terhadap gadis malang di hadapannya itu, selalu perih di saat melihat mata indah itu, mengeluarkan butiran kristal bening.


"Jangan biarkan air matamu menghapus kecantikan mu. Karena ada laki-laki tampan di luar sana yang sedang menunggu kedatanganku. Dan Tante ingin mereka semua melihat wajah indah ini, tanpa adanya bekas tetesan air mata." Tante Mawar berucap sambil menyentuh wajah cantik Melda dengan kedua tangannya.


Setelah itu Tante Mawar dengan segera langsung melangkah keluar kamar, meninggalkan Melda yang sedang menghapus sisa-sisa air matanya, yang tadi hampir saja tumpah karena merasa terharu dengan kata-kata, yang di ucapkan oleh Tante Mawar. Melihat Tante Mawar yang keluar tanpa Melda, membuat Reno langsung bertanya.


"Melda lagi buat apa Tante?" Tanya Reno dan membuat yang lainnya ikut menatap Tante Mawar, dengan tatapan mencari tahu.


Sosok Melda yang membuat penasaran para tamu yang ada.


Setelah beberapa detik Reno menanyakan Melda, tiba-tiba orang yang di tanyakan langsung muncul dari arah sana, dengan penampilan yang berhasil menghipnotis semua yang ada di ruang depan itu, terutama Reza. Bola mata Reza yang indah, sama sekali tidak berkedip setelah melihat sosok cantik, yang sedang melangkah dari arah sana dengan langkah bak seorang model.


Ke tiga wanita teman Reno itu, sangat tidak menyangka, wanita yang sejak kemari membuat mereka penasaran, adalah wanita berparas bidadari. Di tambah lagi dengan gayanya yang begitu moderen, membuat ketiga wanita genit itu seketika merasa minder, terutama Ririn yang sejak tadi sudah banyak bertingkah, karena merasa dia yang paling cantik dari yang lainnya.


Sedangkan Tante Mawar yang sudah begitu menyayangi Melda seperti anak sendiri, merasa puas melihat ekspresi para wanita genit itu. Dengan senyum yang terukir di wajahnya yang mulai keriput itu, Tante Mawar pun berpamitan kepada Melda.


"Mel, kami pergi dulu ya sayang!"


"Iya Tante. Hati-hati di jalan ya." Jawab Melda yang sedang berdiri di arah sana, dengan senyum manisnya.